Hari-Hari Ziarah Haji (42)

Mahasegala, Kepada-Mu Aku Menyeru

Engkau berkata

Serulah Aku di malam yang sunyi

Niscaya aku akan mendengar

Mintalah kepadaku segala hajat-Mu

Niscaya aku kabulkan

Ingatlah Aku di masa sulitmu

Niscaya Aku menolongmu

Tolonglah agama-Nya dengan menolong dan melindungi warga

Niscaya Dia akan menolong dan melindungimu

Hadirkan Dia dalam setiap langkahmu

Niscaya jalanmu akan menjadi terang

Cintailah utusan dan para kekasihnya

Niscaya kau tak akan tersesat

Lihatlah dan dengarlah apa yang utusan dan kekasihnya lihat dan dengar

Niscaya mata dan telingamu akan menjadi mata dan telinga-Nya

Bicaralah sesuai yang dibicarakan utusan dan kekasih-Nya

Bertindaklah sesuai dengan tindakan utusan dan kekasihnya

Bergembiralah saat utusan dan kekasuh-Nya bergembira

Bersedihlah saat utusan dan kekasuh-Nya bersedih

Berperanglah saat kekasih dan utusan-Nya berperang

Berdamailah saat utusan dan kekasih-Nya berdamai

Niscaya kau tak akan menyimpang

Hari-Hari Ziarah Haji (41)

Saat Pertama Melihat Kabah

Sejak kecil saya sering melihat Kabah secara tidak langsung. Saya melihat Kabah di gambar, foto, atau televisi. Teknologi foto atau televisi membuat gambaran Kabah di benak menjadi jelas, sangat jelas. Saya juga melihat orang-orang yang ada di sekitar Kabah secara tidak langsung.

Pada usia sekolah dasar, tetangga Bapak saya pergi haji. Ketika mereka sudah pulang berhaji, saya mampir ke rumahnya. Saya melihat foto tetangga saya dengan latar belakang Kabah. Titik-titik putih di belakang tetangga saya adalah manusia-manusia di sekitar Kabah.

Saya ingat saya juga diberi sesloki air zam-zam. Waktu itu saya heran mengapa hidangan airnya begitu sedikit. Menurut saya, mestinya dicampur air biasa saja, tak apa, agar lebih memenuhi dahaga. Saya juga mencicipi kurma dan kudapan laib yang menurut saya asing atau kurang biasa rasanya.

Saya merasa tak asing dengan Kabah. Namun kali ini saya akan melihat Kabah secara langsung. Menurut sebagian guru dan ulama, sebagian jemaah yang melihat Kabah akan menangis. Terharu atau entah perasaan yang sukar digambarkan dengan kata-kata.

Saya sendiri teringat akan jejak Rasulullah saw. Beliau di kota ini lahir, besar, membawa Islam, menyampaikan Islam kepada manusia, berhati dan bersikap lembut namun keras pada kejahatan.

Mekah (mestinya) dipenuhi dengan jejak Nabi saw. Sungguhpun kini orang Mekah bepergian dengan mobil, mendapat air zam-zam melalui pipa, dikelilingi oleh gedung-gedung yang tinggi, dan sebagainya … Jejak Rasulullah saw ada di sana. Saya sekarang hendak menapaki jejak Rasulullah saw itu, mengikuti teladannya, dan mengambil berkahnya.

Saya membicarakan obsesi saya dengan teman sekamar maktab. Kami sekamar berempat, dan ada pula yang berlima. Saya membicarakan jejak Rasulullah saw meski kami berada di lantai 10 (?), naik turun dengan lift, mencuci baju dengan sabun dan mesin cuci di puncak maktab, bepergian dengan bus salawat, ….

Saya juga melihat ada jemaah yang membentuk barisan lalu berjalan menuju Kabah sambil meninggikan talbiah. Semangat atau gairah ibadah para jemaah sangat tinggi. Mereka berharap keridaan Allah swt melalui teladan Nabi saw.

Ketika saya pertama kali melihat Kabah, saya menguatkam ingatan saya tentang jejak Rasulullah saw di sini. Entah saya ingin menangis atas dosa atau bahagia karena bertemu dengan jejak Rasulullah saw. Saya menguatkan memori Rasulullah sebagai wasilah (perantara) antara saya (makhluk) dengan Allah swt.

Saya juga berusaha melihat jejak Rasulullah saw pada jemaah yang sedang beribadah di Kabah dan Mekah. Saya berusaha melihat jejak Rasulullah saw di mata mereka, pada tindakan mereka, pada ucapan mereka, dan pada diam mereka.

Hingga kini pun saya tetap berusaha melihat jejak itu.

Hari-Hari Ziarah Haji (40)

Sajak Hidayah

Pintu hidayah yang terbuka

Mengeluarkan hidayah tak henti-hentinya

Turun dari langit, muncul dari dalam bumi, keluar dari danau, sungai, dan lautan, serta tumbuh dan berkembang di sekitar

dan ada dalam diri manusia

Hidayah ada di mana-mana

Seseorang tak akan bisa berkelit dan berkata

Aku keberatan disalahkan dan dimasukkan ke dalam neraka

Karena Engkau, Ya Tuhan, tak memberiku hidayah

Aku terlunta-lunta

Sementara engkau beri orang-orang saleh petunjuk dan nikmat iman Islam

Aku engkau abaikan dari hidayah

Aku tidak lagi bisa mengelak

Akulah yang mengabaikan hidayah

Akulah yang meremehkan kebenaran

Akulah yang merasa rugi ketika harus memilih kebenaran daripada kejahatan

Aku merasa beruntung saat melakukan kejahatan dan kemaksiatan

Karena selalu aku berharap pertobatan

Hari-Hari Ziarah Haji (39)

Mental Korup Pegawai Gaya Orba

Pada bagian lain sudah diceritakan tentang sopir bus solawat di Mekah yang terang-terangan memelas minta uang. Sedangkan di Jepang, pemberian tip sekalipun merupakan penghinaan bagi penerimanya (mungkin apalagi pemberinya). Di dalam agama, sebagian tip acap dianggap pemberian terima kasih yang bukan pungli.

Mental semacam ini sudah ada sejak zaman Orba. Saya adalah orang yang mengalami masa Orba karena saya lahir pada tahun 70. Band The Police bilang dalam satu liriknya bahwa, “We were born in the 70’s”, maaf bukan the 50’s. Karena itu saya mengalami masa Orba.

Saat itu banyak pegawai yang bekerja demi pungli (pungutan liar). Ada jabatan basah, ada jabatan kering. Jabatan yang berhubungan dengan manusia dan ditemui banyak manusia yang memerlukan adalah jabatan yang basah. Contohnya, pegawai yang bertugas meloloskan atau mengeluarkan KTP, surat izin, yang punya cap, dan sebagainya. Pegawai itu acap tak mau bekerja kecuali diberi uang persen. Uang persen adalah uang yang diberi atas dasar pungli.

Pungli dilakukan karena pejabat berwenang untuk meloloskan sesuatu. Bila warga butuh KTP, maka warga yang perlu KTP harus membayar pejabat atau staf (atau sejumlah staf) yang meloloskannya. Pada masa lalu bahkan kepala sekolah meminta uang tanda tangan ijasah dan legalisir.

Pada masa Orba, SOP suatu staf tidak jelas. Dia bisa melakukan apa saja. Lalu dia hanya memilih pekerjaan yang basah. Pekerjaan yang kering tak pernah dikerjakan. Namun tukang sapu pun oleh jemaah haji Indonesia diberi uang. Padahal pekerjaan tukang sapu jalan “tidak terlalu dibutuhkan” orang (?).

Pada masa Orba, pegawai pengadilan acap meminta atau mendapat gratifikasi dari setiap kasus yang masuk. Saat itu pegawai rendah di pengadilan bisa punya uang masukan dari gratifikasi yang lebih besar dari gajinya.

Pada masa orba polisi ysng juga bagian dari pengadilan, mencari tambahan pungli dari seriap kasus yang masuk ke pengadilan. Jika kasus sudah masuk polisi, menang pengadilan juga bisa kehilangan uang. Apalagi kalah di pengadilan. Pengadilan merupakan hantu dan bukan tempat untuk mencari keadilan.

Pada masa Orba polisi lalu lintas juga cari duit di jalan. Mereka menyetop pengendara baik pengendara tidak melanggar lalu lintas apalagi melanggar. Mereka menyetop pengendara baik ada operasi resmi maupun tidak. Lalu hasil operasi dibagi-bagi dari polisi jalanan, petugas bawahan sampai pejabat tinggi kepolisian.

Pada masa Orba, pegawai rumah tahanan (rutan) bisa seenaknya meminta kepada narapidana (napi), maupun orang atau keluarganya yang membesuk. Sekarang kementerian hukum dan HAM di era Jokowi pun seperti belum melakukan pembenahan pada rutan dan pegawainya.

Pada masa Orba, BPJS atau KIS dilecehkan karena rumah sakit atau dokter susah mengklaim perawatan. Namun, pelayanan BPJS harus lebih baik lagi.

Pada masa Orba pegawai kenaikan pangkat dan jabatan mesti dengan mudah mendapat pengertian dari pegawai negeri yang ingin naik pangkat atau jabatan. Bila pegawai negeri ini tidak mengerti permainan seperti ini, pegawai kenaikan pangkat bisa membiarkan pegawai ini tidak naik pangkat atau menghilangkan berkas permohonannya. Apakah praktik seperti ini masih ada? Aoakah pegawai hanya akan bekerja bila ada tip? Lalu akan marah jika tidak ada tip?

Pada masa Orba, guru dan dosen yang memegang kunci kelulusan siswa dan mahasiswa bisa saja meminta sesuatu kepada siswa atau mahasiswa. Walaupun pemberian itu sebenarnya hanya sekedar buah tangan yang tidak seberapa harganya. Sekarang praktik itu dianggap gratifikasi.

Saya katakan tidak semua oknum pejabat korup. Gus Dur mengatakan bahwa polisi yang tidak korup di antaranya (hanya) Hoegeng dan mudah-mudahan Tito.

Intinya korup atau tidaknya pejabat bergantung presiden. Jika presiden korup, maka polisi, tentara, kementerian, gubernur, walikota, bupati, dinas, camat, lurah, kepala desa, ketua RW, ketua RT, serta staf di lingkungannya jangan diharap tidak korup.

Kini Presiden Jokowi memberlakukan Saber Pungli sebab pungli itu bisa mengeruk tidak hanya ratusan ribu, bshkan jutaan, puluhan juta, milyaran. Pejabat atau wakil rakyat bisa mendapat uang pungli ratusan juta sampai milyaran. Rizal Ramli di youtube juga mengungkap gratifikasi besar di negeri ini. Pekerjaan pejabat bisa dibayar dengan gratifikasi promosi jabatan. Video tentang Saber Pungli juga ada banyak di youtube.

Pada masa sekarang, prosedur operasional baku (POB, SOP, atau standard operating procedure) dibuat. Kepala sekolah yang POB-nya menanda tangan ijasah dan legalisir tak boleh lagi minta uang pungli dari siswa.

Petugas RT, RW, kelurahan, atau kecamatan yang POB-nya membuat KTP tak boleh lagi meminta uang pungli (amplop, sogok) kepada warga yang mau membuat KTP.

Dosen yang POB-nya membimbing atau menguji skripsi tak boleh lagi meminta uang jasa (bingkisan, gratifikasi) atas bimbingan atau ujian skripsi yang dilakukannya.

Staf yang SOP-nya mengurus kenaikan pangkat guru di dinas pendidikan atau dosen di perguruan tinggi tak boleh meminta imbalan atas pekerjaan yang dilakukannya.

Intinya, pada zaman sekarang, seseorang harus bekerja tanpa memikirkan masukan pungli. Namun bila ada uang pemberian itu adalah gratifikasi.

Hukum agama ada yang membolehkan pemberian kasih sayang. Sementara hukum negara tegas melatangnya. Di sini agama fleksibel. Agama dapat mengikuti tren negara bila memang kasus korup terjadi.

Sungguhpun di Jepang pemberian tip itu menghina, namun situasinya bisa fleksibel. Kami punya cerita saat di Jepang. Saat itu kami sedang ada di kawasan Danau Kawaguchiko antara terminal dan danau. Kami tidak tahu arah. Lalu salah seorang di antara kami bertanya kepada seorang pemuda yang berpapasan jalan dengan kami. Kami berbincang-bincang dengan pemuda itu tentang arah jalan. Ia menunjukkan arahnya. Rupanya karena ia sedang luang, ia lalu mengantar kami berjalan menuju tujuan. Ternyata jaraknya cukup jauh karena ditempuh dengan jalan kaki. Di srla perjalanan, kami mampir di sebuah gerai warung serba ada. Kami meminta dia untuk mengambil minuman dan roti atas nama kami. Ia menolak. Begitulah. Mungkin di Jepang pemberian macam itu seperti suap, sogokan, atau pungli. Kami memaksanya. Akhinya dia menerima. Dia berbisik pada saya, mengapa dia atau kalian baik? Saya mengangkat bahu. Belakangan saya baru tahu bahwa tindakan kami terindikasi pungli. Pemuda Jepang itu hati-hati sekali menerimanya dan nyaris menolak. Menurut saya, bisikannya kepada saya adalah sindiran. Khawatirnya pemberian itu jadi hinaan baginya. Untungnya kami tidak merendahkan dia.

Tulisan ini diharapkan jadi pelajaran agar masa depan lebih cerah lagi. Tulisan ini sama sekali tidak berniat semata merendahkan masa lalu namun bertujuan jadi pelajaran di masa depan.

Hari-Hari Ziarah Haji (38)

Konsep Khilafah HTI Kontra Konsep Islam Lain

Apakah ada di grup ini yang mendukung konsep khilafah ala HTI?

Dapatkah konsep itu diperdebatkan atau hanya dogma yang tak bisa diperdebatkan?

🙏

Bagi saya, konsep khilafah HTI adalah utopia (impian) yang hingga kini diperdebatkan kebenarannya. HTI mengusung khilafah dan semacam dipaksakan kepada warga yang cukup kuat konsep NKRI-nya. Apa yang dijanjikan HTI? HTI mengklaim bahwa khilafah adalah sunah atau wasiat Nabi saw. Dengan begitu HTI berpendapat bahwa satu-satunya cara mencapai negara ilahi adalah khilafah ala HTI. HTI menganggap dirinya sebagai penafsir tunggal dari khilafah nubuwah. Benarkah hanya konsep HTI saja yang ada dalam Islam? Realitasnya negara khilafah ala HTI tak ada (atau belum ada) di dunia sekarang. Negara mana yang dijadikan model oleh HTI? Kerajaan Saudi melarang organisasi HTI. Sejumlah negara lain pun melarang organisasi HTI di negerinya. Sebagai tambahan dan catatan, okoh ormas keras Indonesia yang memasang bendera di rumahnya di Saudi juga diperiksa. Warga Saudi tak berani memasang bendera yang disebut bendera tauhid.

Penafsiran tentang khilafah pun berbeda-beda. Penafsiran syiah tentang khilafah pun berbeda dengan HTI. Iran yang merepresentasikan khilafah ala Syiah tak pernah memaksakan wilayatul faqih kepada orang lain atau negara lain. Sebagai catatan, Iran adalah negara demokrasi dengan mengakui dan melaksanakan pemilihan umum. Sedangkan khilafah ala HTI mulanya anti demokrasi karena menganggap demokrasi sebagai konsep barat. HTI menganggap demokrasi dan buahnya seperti presiden, gubernur, bupati, dan walikota sebagai togut. Bukti bisa dikonfirmasi, bertebaran di jejak elektronik mereka. Mulai dari pimpinan teratas HTI hingga akar rumput terbawah, jejak itu ada. Iran bahkan nenyiapkan warganya dengan pengetahuan wilayatul faqih sebelum konsep ini diberlakukan sebagai kebijakan negara.

Titik bahaya HTI adalah pemaksaan, alih-alih pemikiran. Kelompok lain juga ada yang biasa memaksakan, misalnya memaksakan fatwa. Satu fatwa yang dipaksakan adalah fatwa penista agama, fatwa haramnya Islam nusantara.

Imam Khomeini pernah mengeluarkan “fatwa” hukuman mati bagi Salman Rushdie. Salman Rushdie menista Islam dengan menghinakan figur Nabi Muhammad lewat novel Ayat-Ayat Setan (The Satanic Verses). Lalu orang sukarela melakukan atau menolaknya. Em, adakah yang menolaknya?

Kalaupun konsep khilafah ala HTI itu benar dan bagus, apakah mereka tidak hendak menyadarkan masyarakat dulu, alih-alih memaksakannya? Menapa mereka berpikir pakar-pakar tata negara kita tidak lebih tahu ihwal khilafah? Mengapa nereka tidak pernah menyampaikan bahwa khilafah islamiyah dalam sejarahnya penuh dengan darah dan pedang? Apakah pemilihan Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali adalah pemilihan ideal musyawarah dan demokrasi? Apakah menurut HTI, musyawarah berbeda dengan demokrasi karena musyawarah adalah pemilihan perwakilan dan sedangkan demokrasi adalah pemilihan langsung?

Secara pribadi saya cenderung pada pemilihan langsung dan bukan pemilihan perwakilan. Bila dilakukan pemilihan perwakilan, maka calon hanya tinggal menyuap separuh+1 perwakilannya di dewan/majelis agar dia tetpilih. Beebagai ancaman bisa dilakukan kepada perwakilan untuk memenangkan pemilihan. Pada pemilihan langsung, calon tak mungkin mampu menyuap setengah warga+1 meski tetap saja ada berita tentang penyuapan.

Konsep khilafah seharusnya tidak dipaksakan. Konsep khilafah bisa dibicarakan namun seseorang tak boleh mengancam orang lain yang menolak khilafah.

Ketika Cak Nun dalam videonya yang sejuk, berbicara untuk merangkul HTI, itu adalah konsep yang sangat bagus. Namun jangan sampai dia malah menikam saat dirangkul. Contohnya, ketika bendera HTI dibakar (?) (ini juga jadi perdebatan bagi HTI) oleh Banser Ansor NU, sekelompok orang berdemo di depan kantor NU menuntut pembubaran Banser Ansor NU. Dalam videonya Gus Nuril menghadapi demonstran itu dan menghentikannya. Apakah konsep merangkul ala Cak Nun tidak berbahaya? Bukti menunjukkan bahaya itu. Lalu Banser Ansor NU pun harus waspada. Setiap orang harus waspada. Hingga kini, pembakaran bendera tetap diplintir. Lalu reuni 212 Desember nanti juga sudah diprovokasi untuk bawa bendera “tauhid” walau mereka tidak berani juga pasang bendera “tauhid” di negara Saudi.

Apa ada main paksa lagi?

Apa masih laku main paksa macam itu? Jika ada tentu sangat menyedihkan.