Sucpdi Peminta-Minta

#sucpdi

Ada dua orang peminta-minta berjalan berkeliling. Pemandangan yang tidak asing dilihat mata di perkotaan. Kita tidak kenal siapa dia, dari mana. Mereka berdua sepertinya suami istri atau bersaudara. Yang lelaki matanya terpejam digandeng oleh yang perempuan. Mereka lewat di depanku di warung sate, persis saat saya mau makan. Saat ini sekitar pukul 17.

Aku memberi mereka recehan 2000 perak. Jelas tidak cukup untuk apapun. Untuk makan tidal cukup. Untuk ongkos tidak cukup. Hanya sekedar menyumbang receh. Tetapi begitulah peminta-minta di sini, cuma dapat recehan. Sama seperti pengamen dapat recehan. Namun konon baik pengamen maupun peminta-minta bisa mengumpulkan puluhan ribu tiap harinya. Mungkin melebihi penghasilan yang bekerja. Kuli bangunan sekurangnya dapat 100 ribu usai kerja dari pagi sampai sore. Seniman hajat dapat 100 ribu setelah kerja bermusik seharian. Warung bala-bala atau tahu isi jika dapat keuntungan bruto 50–100 ribu sehari saja sudah pantas bersyukur. Warung bakso yang semangkoknya 10 ribu pantas bersyukur bila ada 50 pelanggan setiap harinya. Keberkahan memenuhi keluarga saat roda ekonomi berputar.

Tulisan ini akan difokuskan pada recehan. Recehan yang kuberikan itu sebenarnya tidak pantas. Tidak cukup untuk apapun. Semestinya kita tanyakan apa yang dia butuhkan. Kalau dia butuh makan, kita beri dia makan. Kalau dia butuh ongkos, kita beri dia ongkos. Kalau dia perlu pekerjaan, mungkin kita bisa memberi dia pekerjaan, misalnya memelihara domba atau sapi. Pekerjaan apapun bisa diberikan asal upahnya pantas. Upah pekerjaan tidak sesedikit upah pengamis. Jika pengemis lapar, memberinya makan di warteg adalah suatu kemewahan atau suatu yang biasa? Apakah dikatakan sedikit memberi sedekah makan nasi warteg yang harga seporsinya 15 ribu? Apakah sedikit memberi upah gratis 15 ribu? Tidak.

Level prminta-minta adalah 1000–2000 rupiah per sekali transaksi. Sepuluh kali transaksi ia sudah bisa pulang. Kadang-kadang orang tidak mau sedekah di pagi hari dengan alasan barang dagangan belum laku dan si pedagang belum punya laba. Sedekah di sore hari pun acap kali tidak diberikan karena si peminta-minta dianggap sudah cukup banyak memperoleh uang. Sayangnya ada anak-anak peminta-minta yang tak tahu makna uang yang sebenarnya. Lebih parah lagi sejumlah anak dieksploitasi orang tua untuk kepentingan orang tua. Bahkan orang tua dan anak-anaknya meminta-minta dengan daerah operasi yang berbeda.

Level pedagang harian adalah yang pendapatannya 20, 50, 100 ribu per hari. Pedagang ini seperti pedagang tahu isi, pedagang bakso.

Level pedagang musiman dan pencitraan adalah pedagang besar, grosiran, kontraktor atau proyekan. Ketika panen, uang terkumpul banyak dari pembeli (bandar). Dia pun bisa memperoleh laba sampingan lainnya. Panen kambing, sapi, atau kerbau bisa terjadi di musim rayagung.

Kejujuran dalam bekerja merupakan salah satu kunci keberhasilan. Allah swt memberkahi seseorang yang pulang ke rumahnya dalam keadaan capek karena mencari nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kerjanya akan memberi nafkah. Seseorang harus yakin bahwa kejujuran membawa berkah baginya. Seeeorang yang tidak jujur akan kehilangan hartanya di dunia ataupun akhirat. Seseorang bisa kehilangan harta berupa kehilangan mata di akhirat karena tidak jujur pada diri sendiri.

Macetnya ekonomi masyarakat disebabkan investor atau pekerja menipu rekan kerjanya. Seseorang yang kerja di toko menipu pemilik toko. Seseorang pekerja menipu temannya sendiri. Atasan menipu dan menindas bawahan. Atasan tidak kasih sayang terhadap bawahannya. Pegawai ternak menipu investor ternak.

Imam Hasan konon ditugasi oleh ayahnya untuk menjamu orang-orang yang membutuhkan sehingga rumahnya seperti restoran tempat orang lapar makan atau penginapan tempat musafir tinggal.

Seorang tamu Imam Hasan membawa makanan untuk dibawanya pulang. Imam Hasan bertanya, mengapa engkau bawa pulang? Engkau bisa datang lagi esok hari ke sini jika lapar.

Orang ini menjawab bahwa ia ingin memberi seorang tua yang tinggal di pinggir kota. Imam Hasan bertanya cir-cirinya dan orang ini membenarkan. Lalu Imam Hasan menangis dan berkata, “Ketahuilah bahwa orang yang engkau sebutkan tadi adalah ayahku, Ali bin Abi Thalib. Ia berada di pinggir kota dan bekerja keras di kebun untuk membiayai semua makanan yang ada di sini.

Apakah ini cukup pantas untuk cerita #sucpdi atau apakah kita tidak lupa bahagia?

Cerita SPION

Spion menjadi bukti bahwa orang Indonesia ganteng-ganteng. Bahkan saya melihat seorang yang tampangnya seperti ikan lohan juga melintir spion motor orang lain demi (me)ngaca.

Seharusnya orang-orang tahu bahwa fungsi spion itu bukan buat mengaca. Tetapi di negeri ini aturan itu diubah. Spion sepertinya tidak begitu penting. Yang lebih penting adalah mengaca biar tampang tidak terlihat memalukan.

Orang juga mengaca di kaca mobil orang lain atau di spion mobil orang lain. Catatan, dia harus yakin bahwa di dalam mobil itu tidak ada orang. Kalau ada orang, mungkin orang di dalam mobil itu akan ketawa atau mencibir orang yang mengaca, “Udah nggak apa-apa. Kamu sudah berusaha ganteng. Jangan kapok ya.”

Akhirnya saya juga mencoba mengaca di spion orang lain. Saya parkir lalu turun dari motor. Sambil menunduk saya memelintir spion motor di samping saya dan mengaca. Spion tak perlu dikembalikan ke posisi semula. Saya merasa masyarakat tak marah spionnya diplintir seperti itu. Itu biasa. Justru sangat aneh bila orang marah untuk urusan itu. Namun ngaca di spion orang juga perlu trik yang meyakinkan sehingga tidak menarik perhatian orang.

Tidak semua orang suka tampang kita atau melihat kita mengaca. Sama jijiknya seperti seseorang memijat jerawat di depan orang lain. Belum lagi bila yang punya motor ada di sekitar. Dia akan ngomong apa? “Udah nggak apa-apa. Kamu sudah berusaha ganteng. Jangan kapok ya.”

Spion sepertinya tidak banyak digunakan dalam berlalu-lintas. Jadi biasa saja. Tak perlu marah. Setiap orang mesti biasa memelintir spion motor tetangganya.

Jangan lupa bahagia.

#sucpdi

Balada BUMN yang (Kapan Bisa Tidak) Bangkrut

Jiwasraya bangkrut, Pertamina bangkrut, Krakatau Steel bangkrut, Garuda bangkrut, rumah sakit bangkrut, pengelola pelabuhan Pelindo bangkrut, IPTN bangkrut, PAL bangkrut, perkebunan negara bangkrut.

Mengapa BUMN-BUMN itu bangkrut? Kalau saya pemilik perusahaan (atau pemilik saham), manajer yang tak bisa memberi keuntungan kepada perusahaan akan saya pecat. Apalagi bila sebenarnya perusahaan saya itu untung, tetapi keintungan itu tidak disetor kepada saya melainkan dibagi-bagi kepada sebagian manajer dan pimpinan perusahaan.

BUMN-BUMN itu boro-boro ngasih untung ke negara atau rakyat, mungkin keuntungannya dibagi-bagi di antara para pejabatnya.

Bisa dibayangkan semacam pertamina yang memompa minyak menggunakan alat dan dana negara, ketika minyak itu dijual, koq malah rugi. Rencana gila macam apa perusahaan semacam itu?

Baguslah presiden memecat para pejabat BUMN. Asal bukan semata diganti oleh kroninya (misalnya dari partai) sehingga cuma berpindah rezim. Kalau pimpinan baru tetap orang korup, pasti perusahaan jadi gabener juga, ling-lung, dan tidak jelas. Presiden harus mengganti pimpinan atau manajer BUMN dengan orang yang bersih dan tegas. Bukan orang yang lembek dan bisa ditipu bawahan.

(Jadi ingat ketika Ignatius Jonan membenahi kereta api sehingga nyaman selain memberi keuntungan. Ingat juga Kopaja, Damri, atau angkutan Ibu Kota dibuat nyaman oleh Gubernur Ahok (?). )

Reklamasi dan normalisasi dibenahi secara terbuka dan transparan. Rakyat bisa menyaksikan pekerjaannya. Pimpinan harus menjamin bahwa perusahaan itu memberi keuntungan, bukan sekedar memberi fasilitas bagi rakyat.

Begitu banyak pekerjaan yang harus dikerjakan presiden atau gubernur. Untung saja presiden punya pembantu seperti menteri dan semacamnya. Untung saja gubernur punya dinas.

Hari-Hari Ziarah Haji (48)

Ngiringan Pangaosan Syiah vs Ontaleran

Lamun urang asup ka pangaosan Syiah, moal aya anu curiga, “Maneh Sunni nya?” Atawa komo, “Maneh Islam nya?” Kacida.

Tapi balik ti pangajian Syiah, bisa jadi batur kalahka mariksa, “Maneh Syiah nya? Geuning balik ti pangajian Syiah.” Ngan henteu we, “Ari maneh Islam keneh?” Atawa, “Cing sahadat, euy.”

Ku sabab kuring teu pati paduli kana mazhab, kuring mah bebas rek kaditu-kadieu. Euweuh nu bisa maksa. Eta pedah cenah aya nu sok mamaksa: kudu khilafah, kudu milih partai anu, salat kudu kieu, teu meunang kitu. Har, ari sia saha? Guru aing lain, dipenta ngawuruk ge henteu. Nyasab sia mah.

Terjemah

Masuk Pengajian Syiah vs Ontaleran

Kalau kita ikut penjajian Syiah, tidak ada Syiah yang bertanya curiga, “Kamu Sunni ya? Ngapain ke sini?” Tidak ada orang Syiah yang mrmpertanyakan, “Kamu Islam?” Kelewatan.

Sebaliknya jika kita baru selesai ikut pengajian Syiah, bisa jadi orang usil malah bertanya, “Kamu Syiah, ya? Ngapain ikut pengajian Syiah?” Apa mungkin ada yang bertanya, “Kamu masih Islam?” Atau, “Coba ucapkan syahadat lagi!”

Karena saya orang bebas, tidak terlalu peduli pada mazhab, saya bebas pergi ke manapun atau ikut pengajian manapun. Tidak ada yang bisa maksa saya, apalagi organisasi khilafah. Tak ada yang boleh memaksa saya harus baiat khilafah, memilih partai anu, harus bersyariat ini-itu, harus meninggalkan syariat ini-itu. Memangnya siapa kamu, koq memaksa-maksa? Kamu ‘kan bukan guruku, bukan ustazku. Kamu cuma orang kesasar yang ingin diikuti, padahal kamu cuma orang awam.