Sajak Tahun 61H

Kita hidup di zaman itu
Ketika Imam Husain mazlum, dizalimi
Dan kita diam saja

Kita hidup di zaman itu
Ketika kezaliman merajalela
Namun kita diam saja

Kita hidup di zaman kini

Ketika orang-orang berbuat zalim
Dan kita diam saja
Tidak menolong orang tertindas
Tidak berteriak minta tolong
Dan hanya memikirkan diri sendiri

Kita hidup di zaman itu
Ketika prajurit dajal masuk kota-kota kita
Dan kita bersembunyi di rumah-rumah
Menemani istri dan anak-anak
Dan berdoa agar terlepas dari kezalimannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika dajal memekikkan kebohongannya
Di atas mimbar dan media massa
Sementara kita diam seribu bahasa
Dan membiarkan kebohongannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika orang baik dizalimi
Dan kita mendukung, menolong orang zalim
Untuk mencapai tujuannya

Kita hidup di zaman itu
Ketika istri-istri kita menarik kita
Dari medan perang
Karena takut dirinya menjadi janda

Kita hidup di zaman itu
Ketika seseorang berteriak minta tolong

“Hal min nashirina yanshuruni?”
Dan kita pura-pura tidak mendengarnya

Kita hidup di zaman itu
Ketika corong masjid dikuasai monyet-monyet
Media massa memutarbalikkan fakta
Dan kita berharap ada orang lain yang mengkritiknya

Kita hidup di zaman itu
Ketika kita mengandalkan syukur, sabar, dan salat
Sementara ketidakadilan terjadi di sekelilingnya

Kita hidup di zaman itu

Ketika orang-orang berbaiat kepada para penindas

Karena takut pada ancamannya

Kita hidup di zaman itu
Yang hanya bisa menangis di malam sepi
Sementara Pangeran Husain dibantai

Tanpa ada penolongnya

Prosa PREMAN

Baru satu hari Wiwi menganggur setelah melakukan tindakan indisipliner dari korps miternya. Sebagian orang tahu bahwa kadang-kadang militer juga ingin punya uang tambahan untuk keperluan insidental, investasi, keperluan keluarga, dan sebagainya.

Sebagian orang juga tahu bahwa kadang-kadang polisi dan prajurit juga ngobjek di perusahaan swasta. Kadang-kadang menjadi beking di perusahaan besar itu menguntungkan. Tips dan honornya besar. Cukup besar untuk berikhtiar naik pangkat dengan sedikit ikut operasi polisi atau militer.

Untuk naik pangkat memang perlu prestasi. Prestasi macam Pak Tito, punya agenda, jadwal, dan anggaran. Lalu sigap dalam melakukan operasinya. Pimpinan polri yang melihat anak buah berprestasi nungkin akan mempromosikan orang macam Tito dengan jabatan baru. Kalau presiden yang melihat prestasi kita, kita bisa diangkat menjadi kapolri.

Namun naik jabata harus disertai naik pangkat. Kadang-kadang bila rezim ini masih korup, naik pangkat mesti dengan amplop. Kenaikan pangkat tidak seperti dosen yang prestasinya bisa dipajang di internet. Prestasi polisi dan militer harus dirahasiakan agar penjahat tidak mudah mengincar aparat.

Mungkin tidak hanya Wiwi saja yang pernah melakukan tindakan indisipliner. Ada polisi dan militer yang kesambet jualan narkoba, jualan psk, jualan untuk wakil rakyat, ngobjek di pertambangan milik konglomerat Cina, ikut memukul dan menendang bapak dan ibunya sendiri yang betdemo di pertambangan, juga ngobjek di partai politik.

Kesambet. Semua itu karena kebutuhandunia yang tak ada habisnya dan tak peduli bahwa dompet aparatur sipil negara (ASN) di akhir bulan acap menipis.

Sebenarnya dengan perubahan mekanisme proyek pekerjaan pada masa sekarang, ASN agak sejahtera. Namun kebutuhan itu seperti neraka, tak pernah cukup. Ketika neraka ditanya, sudah penuhkah? Neraka malah menjawab, masih adakha yang mau masuk?

Ringkad cerita, saya harus cari kerja lagi karena dipecat dari ASN. Menangis dan menyesal berkepanjangan tak akan berguna. Mungkin sawah di kampung bisa digarap lagi. Mungkin ada yang mau memberi modal ternak untuk digembalakan. Apapun mesti dilakukan untuk menyambung hidup.

Ketika masih berpikir dan menimbang-nimbang, seseorang datang. Dia mungkin tidak tahu bahwa saya sedang sedikit gusar dan kalut gara-gara dipecat dari ASN.

“Mas Wiwi, saya tahu Mas baru dipecat. Karena itu saya mau menawari Mas pekerjaan.”

Girang juga hati ini. Ternyata ada yang perhatian bahwa saya baru kehilangan pekerjaan. Dia mau kasih saya proyek pekerjaan apa?

“Saya tahu Mas ahli dalam penanganan sipil dan semi militer. Karena itu, ini adalah tugas rahasia. Pokoknya Mas cuma tahu tugasnya melalui japri, uang tugas ditransfer melalui bank sms.” Ia menambahkan tanpa beban. “Mas terima?”

Aku mengiyakan.

“Tugasmu mungkin merekrut orang gila, mungkin memukuli ulama, mungkin merekrut orang untuk membuat cerita. Kamu mau ‘kan?”

Aku sedikit tercekat. Tapi tak ada yang bisa keluar dari mulut ini kecuali menyetujuinya. Saya harus beroperasi lagi seperti saya masih di ASN.

“Kalau kamu setuju, kamu akan ditempatkan jadi aset kami, kamu akan mendapatkan tugas beserta transfer uangnya.”

“Untuk tugas kali ini, tidak berat, kau tidak melakukan tugas yang jahat. Kau harus mengawasi penebar berita bohong di masyarakat dan penyakit masyarakat lain.”

Aku lega. Tugas ino tidak melanggar aturan dan undang-undang. Mungkin untuk sementara.

Dalil Kenabian

Allah tidak menciptakan makhluk dengan sia-sia.
Allah menetapkan tujuan dalam penciptaan manusia.
Manusia dalam mencapai kesempunaan harus berikhtiar, mencari maslahat menghindari mudarat.
Akal dan indra manusia tidak mencukupi sebagai sarana dalam mencapai kesempurnaan dalam ikhtiarnya.
Wajib hukumnya Allah mengutus para nabi untuk membimbing manusia.
Pohon mangga mencapai kesempunaannya tanpa ikhtiar seperti manusia.
Pohon mangga tidak mempunyai pilihan (melainkan determinisme) untuk mencapai kesempurnaannya.

Manusia berpotensi berselisih satu sama lain. Maka nabi diutus untuk memutus perselisihan di antara manusia.

Adakah Islam Nonmazhab? (Lapor Twitter)

@lapor1708
@kempanrb
@ombudsmanri137
@jokowi

Sebagian orang mengklaim Islam mereka adalah Islam tanpa mazhab. Mungkinkah Islam tanpa mazhab? Boleh saja. Asal tak boleh alergi bila melihat orang lain berbeda mazhab (amalan).

1. Kenyataan yang terjadi sekarang adalah adanya mazhab Syafii, Hambali, Maliki, Hanafi, Jafari (Syii). Munculnya mazhab disebabkan ulama tidak sepakat tentang suatu masalah. Misalnya batalkah wudu ketika bersentuhan dengan perempuan?

2. Perbedaan tak akan terjadi bila hanya ada Rasulullah yang memberi hukum. Rasulullah pun mengangkat kodi (hakim) di berbagai tempat dan menyuruh warga taat kepadanya.

3. Pertanyaannya, mengapa pemerintah tidak mengamgkat hakim (kodi) di semua kota untuk setiap mazhab? Supaya warga tidak bertengkar tentang perbedaan amaliah. Banyak alumnus perguruan tinggi agama yang bisa diseleksi pemerintah untuk mendamaikan warga. Sementara ini MUI tidak mengakomodir perbedaan mazhab (?). Akibatnya masyarakat resah dan terpecah-belah.

4. Bila ada ulama atau kodi yang berbuat salah atau tidak terpuji, pemerintah bisa memberhentikannya (mencopotnya). Warga bisa meninggalkan kodi ini dan beralih kepada kodi lain. Warga tidak akan minta putusan hukum dari kodi seperti ini.

5. Berbeda dengan DPR yang sekalipun berbuat maksiat, memukul orang, bicara ngawur, pesta narkoba, menggelapkan pajak, menjual miras, berkawan dengan presiden musuh Islam, namun tetap maju terus pantang mundur karena merasa terpilih selama empat tahun. Yang me-recall-nya hanyalah partai.

6 Hakim kodi dapat diberhentikan bahkan jika sedikit punya cela. Pemerintah harus memberhentikan kodi seperti ini. Warga pun akan meninggalkan kodi seperti ini. Warga tidak akan minta putusan hukum dari kodi seperti ini.

7. Pemerintah pun harus punya pengadilan ulama. Di satu sisi, pengadilan ini menghormati ulama. Kesalahan ulama tidak boleh seperti kesalahan orang awam. Cela sedikit saja bisa membuat mereka terpental dari makom ulama.

8. Ulama yang “berkeliaran” hanya menggunakan celana pendek dan kaos oblong bisa dicopot dari makom ulama. Apalagi yang berbuat maksiat, bicara ngawur, mencuri.

Sajak Dua, Tiga, atau Empat Rakaat

Dua, tiga atau empat rakaat dalam salat
Adalah kebutuhan kami setiap hari
Senantiasa kami renungkan manfaat ibadah kepada-Mu, mengapa mesti dua hingga empat rakaat
Yang dua, tiga atau empat ini acap lupa bilangannya.
Mungkin karena terlalu sering makan syubhat dan haram yang menyebabkan lupa
Atau lupa karena acap besar hati dengan sedikit amal dan merasa setara dengan para nabi, wali, dan manusia suci