Hari-Hari Ziarah Haji (13)

Cerita 7

Yang paling tidak sopan di negeri ini (Saudi atau Indonesia?) adalah raja dan pejabat. Mereka bisa memberi makan orang-orang seolah orang-orang itu adalah budaknya. Mereka juga memperlihatkan perilaku menjijikkan seperti mencukil gigi di depan orang lain.

Kusadari nilai yang dianut di tempat ini dan di tempatku berbeda. Di tempat ini, perilaku seperti itu dianggap perilaku tuan, putri, dan para raja. Di tempatku, nilai seperti itu bukan ciri khas raja. Orang memberi bukan hanya raja. Orang memberi bukan berarti raja.

Di tempatku orang enggan diketahui memberi. Bukan karena merasa aib, namun memberi adalah perbuatan yang bisa dilakukan semua orang, baik miskin atau kaya. Ada orang yang pakaian dan tampangnya ndeso, tetapi ia rajin dan tak segan memberi bila orang lain membutuhkan. Begitu pula orang kaya di tempatku segan dikenal sebagai orang dermawan meski ia biasa memberi. Mungkin ia merasa orang lain pemberiannya acap lebih sering dan lebih banyak.

Orang Indonesia yang berhaji kadang-kadang memberi sedekah kepada Si Salman Bangladesh, yang kerjanya sebagai petugas kebersihan hotel; juga kepada sopir bus solawat yang juga kadang-kadang minta sedekah lima real.

Hari-Hari Ziarah Haji (12)

Cerita 6

Di Mekah teh wareg tilu puluh dinten. Unggal dinten dipasihan tuang dua kali, pasisiang sareng wengi. Pakasaban sadidinten ukur ka Haram, tawaf, salat, ibadah, dikir, tafakur, sareng ngaji.

Saparantos tilu puluh dinten di Mekah, jamaah bade teras ka Madinah, ziarah ka Kanjeng Rosul.

Jamaah mupakat ngempelkeun 10 real sewang kanggo sedekah ka Si Salman Bangladesh sareng pagawe sanesna. Aya kirang langkung 200 jamaah di KBIH. Sarealna kirang langkung harita teh 4000 rupia. Janten 2000 real tah kirang langkung 8 juta rupia. Ku KBIH dibagikeun ka pagawe hotel nu purah tepang sareng jamaah.

Salman Bangladesh kacida bungaheun pisan dipasihan ku jamaah teh. Jamaah teh disalaman saurang-saurang. Nu lalaki mah dugi ka ditangkeupan sagala.

Hari-Hari Ziarah Haji (11)

Cerita 5

“Hajah, naon iyeu?” Si Bangladesh nembongkeun runtah hareupeun panto kamar hotel bari molotot. Runtah teh kayaning kertas, pastik, jeung calacah. Si Bangladesh teh petugas servis kamar (room service) di hotel eta. Asana mah ngarana si Salman, urang Bangladesh teh. Sabenerna Si Salman Bangladesh teh teu bisa basa Sunda. Ngan ku isyarah, komunikasi siga kitu bisa wae kaharti ku urang Sunda.

Lol Hajah Epon tina panto. “Teuing atuh.”

Salman Bangladesh angger haseum, “Hayoh ku maneh geura bereskeun. Sakalian piceun ka wadah runtah.”

“Ah, teuing atuh da lain uing.” Ceuk Hajjah Epon bari ngaleos asup deui ka kamar hotel.

Tungtungna bari jamedud si Salman Bangladesh nyokot sapu sikat jeung pengki. Sedot-sedot diberesan.

Puas siah. Padahal teu kudu tatannya, teu kudu ninitah. Hideng we beresan ku sorangan da lain pagawean batur. Eta mah pagawean sia nu purah meresan hotel.

Hari-Hari Ziarah Haji (10)

Berpindah Mazhab dalam Islam.

Syaikh Mahmud Syaltut, seorang mufti (pemberi fatwa) dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dalam fatwanya membolehkan berpindah mazhab. Beliau juga membolehkan seorang muslim mengikuti mazhab Syiah itsna asyariyah (Syiah 12 imam). Mazhab Syiah diakui oleh Syaikh Mahmud Syaltut. Selain fatwa Syaikh Mahmud Syaltut, mazhab-mazhab juga ada dalam Deklarasi Amman, mazhab Syiah Itsna Asyariah diakui dan boleh diikuti oleh seorang muslim. Seorang muslim pun boleh berpindah dari satu mazhab ke mazhab lainnya yang diakui di dalam Islam.

Dengan begitu seseorang bebas berpindah mazhab sesuai dengan kebenaran yang diyakininya. Mungkin ia tidak boleh berpindah mazhab hanya karena suatu mazhab itu ringan atau mudah. Ia hanya bisa mengikuti suatu mazhab bila mazhab itu benar sesuai keyakinannya.

Di Mekah dan Madinah ini banyak sekali muslim dengan berbagai mazhabnya. Tak ada satu pun atau jarang sekali orang yang mempermasalahkan mazhab lain. Orang juga tidak mempermasalahkan mazhab syiah. Jarang ada orang yang mempermasalahkan irsal, niat, basmalah sir, atau perbedaan fikih lainnya.

Seandainya Wahabi adalah mazhab, maka seorang muslim dapat mengikuti mazhab Wahabi. Bila Syiah adalah sebuah mazhab, maka seeorang muslim dapat nengikuti nazhab Syiah. Seorang muslim dapat berpindah dari mazhab Wahabi ke mazhab Syiah, atau sebaliknya. Kepindahannya itu harus didasarkan pada keyakinan akan kebenaran mazhab yang diikutinya, bukan alasan kemudahan atau keringanan belaka.

Sebagian ulama di Indonesia mengatakan bahwa mazhab Syiah itu di luar Islam, misalnya Athian Ali Dai. Sebagian ulama lainnya mengakui Syiah sebagai mazhab misalnya Quraish Shihab, Said Aqil Shiradj, Gus Dur, Muhammad Natsir. Analogi mereka yang mengatakan Syiah di luar Islam adalah bahwa Syiah tidak mengakui Rukun Iman dan Rukun Islam. Syiah menganggap bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam adalah hasil rumusan ulama teologi Asyariyah.

Ada pula yang mengatakan (menuduh) bahwa Syiah punya kitab suci selain Quran. Namun klaim ini tidak bisa dibuktikan oleh penuduh. Quran di Iran sama seperti Quran mushaf Utsmani. Dulu ketika Ali bin Abi Thalib ditanya tentang mushaf Utsman, Ali mengatakan cukup.

Anehnya Syiah Itsna Asariyah tidak menganggap mazhab-mazhab Sunni (Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi) sebagai di luar Islam. Para imam Sunni (Syafii, Malik, Hambal, Abu Hanifah) merupakan murid langsung atau tidak langsung dari imam Syiah (Imam Jafar Shodiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Asyahid bin Ali bin Abi Thalib). Sekalipun Syiah meyakini 12 imam, namun muslim yang tidak mengetahui atau tidak meyakini 12 imam tetap dianggap muslim oleh Syiah Itsna Asyariah. Hal ini terbukti di Mekah dan Madinah, Sunni Syii berbaur tanpa saling mempertanyakan akidah (usuludin) atau fikih (furuudin).

Saya melihat bahwa orang Syiah semacam terancam baik oleh mazhab Wahabi maupun oleh mazhab Sunni lainnya. Hal itu terlihat ketika jemaah haji Iran menjadi korban insiden di terowongan Mina. Pihak Saudi mengatakan bahwa jemaah Iran tidak disiplin dan menyebabkan terjadinya insiden. Iran pun diancam tidak diberi kuota haji. Iran marah dengan mengatakan pemerintahan Saudi tidak becus menyelenggarakan ibadah haji yang menyebabkan jatuhnya korban dari jemaah haji Iran. Iran merekomendasikan penelenggaraan ibadah haji dikelola oleh badan internasional. Iran juga menuntut dibuka rekaman CCTV berkaitan dengan tuduhan insiden itu. Pihak Saudi menolak tuntutan Iran. Demikianlah, jemaah Iran merasa terancam dalam ibadah haji. Keamanan jemaah mereka tidak terjamin. Saya melihat kegetiran di wajah mereka.

Perdebatan akidah dan fiqh menyebabkan perbedaan mazhab. Dalam akidah mazhab Sunni ada yang berpendapat bahwa Allah swt mempunyai wajah, mempunyai tangan, duduk di atas arasy, turun dari arasy, tidak boleh memikirkan zat Allah swt. Ada pula yang meyakini keterbatasan Nabi saw dalam kemaksuman seperti keliru dalam penyerbukan kurma, atau lupa dalam salat. Masalah akidah juga diperdebatkan di dalam Islam. Namun selama seseorang mengakui dua kalimat syahadat, seseorang tak boleh dikeluarkan dari Islam.

Seseorang masuk Islam karena dua kalimat syahadat.

Hari-Hari Ziarah Haji (9)

Mengkafirkan Syiah

Namanya Iskandar. Ia masih sangat muda untuk menjadi seorang ustaz namun ia semacam punya sekolah tingkat SMP-SMA yang program pesantrennya adalah tahfiz Quran (menghafal Quran sampai hafiz) di sebuah kampung Quran. Ia bertemu dengan saya pada hari-hari menjelang kepulangan saya ke tanah air. Kami bertemu di Masjid Nabawi, Madinah.

Ia mempunyai pengalaman yang istimewa yang kurang saya pahami. Ia ikut kloter Lampung padahal ia berdomisili di Sumedang. Ia juga tidak ikut program haji reguler pemerintah yang besarnya untuk tahun 2018 sekitar 35,5 juta termasuk 6 juta biaya hidup (living cost).

Menurutnya, biaya haji yang paling murah adalah haji reguler. Itu karena biaya makan di Mekah, Madinah relatif tinggi. Bila orang Indonesia harus makan nasi, maka satu kali makan tak kurang dari 10 riyal (sekitar 40 ribu), minumnya 5 riyal (sekitar 20 ribu). Bila orang indonesia beli roti saja, mungkin ia bisa beli roti itu dengan harga 5 riyal dan minumnya juga 5 riyal.

Biaya hotel tak kurang dari 1 juta semalam. Mungkin kamar hotel bisa digunakan oleh lima orang sehingga biayanya tidak terlalu besar. Ustaz Iskandar juga ikut menginap di jemaah reguler (dari Lampung) untuk menekan biaya hidup.

Ketika kami sedang berbincang-bincang, lewat seseorang dengan pakaian mullah (ulama Iran). Pakaian itu sangat khas dan tak pernah saya jumpai ulama negeri lain menggunakan pakaian itu. Saya langsung mengisyaratkan mullah itu kepadanya. Respons darinya sungguh mengejutkan (atau seharusnya begitu?).

Ia merespon dengan mengatakan bahwa syiah sesat. Lalu ia mengemukakan argumennya. Katanya Qurannya berbeda. Padahal tak mungkin Quran syiah itu dia temukan berbeda dengan Quran lainnya.

Ia juga mengatakan bahwa syiah meyakini 12 imam. Saya membenarkan bahwa syiah meyakini kemaksuman 12 imam. Namun kemaksuman itu harus terbukti, misalnya lewat sejarah, kumpulan ucapannya, dialognya, nasehatnya, perilakunya, dan sebagainya. Kemaksuman nabi saja ada yang mempertanyakan dan meragukannya. Jadi kemaksuman bukan masalah penting.

Isyarat saya kepadanya adalah bahwa orang Syiah juga bebas salat dan berhaji. Itu menandakan bahwa orang syiah adalah orang Islam. Banyak orang Iran bertebaran di Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Orang Syiah melakukan salat dan haji dengan bebas.

Bagi saya respon Ustaz Iskandar adalah tipikal respon orang Indonesia. Ia mengkafirkan Syiah. Ia mengatakan bahwa akidah syiah berbeda. Syiah bukan mazhab dari Islam melainkan keluar dari Islam. Ia akui juga di kawasan tempat tinggalnya juga banyak orang Syiah. Entah ancaman apa Syiah bagi Sunni menurut Ustaz Iskandar?

Saya tahu bahwa Syiah berhaji. Mereka juga salat di dalam barisan muslimin. Itu sudah cukup membuktikan bahwa Syiah adalah Islam.

Adapun orang yang teriak-teriak dan menuduh Syiah di luar Islam itu pasti orang bodoh. Dia tak tahu bahwa orang Syiah bebas beribadah di Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Atau dia akan menjadi ulama bodoh jika berhadapan dengan ulama Syiah. Karena eksistensinya terancam, itulah sebabnya ia berkoar mengkafirkan Syiah (?).

Ada beberapa contoh sederhana tentang kebodohan Sunni menurut saya yaitu umat mazhab Sunni tidak perhatian terhadap mazhab. Jika ditanya mazhab kamu apa? Ia akan bingung dan mengklaim bahwa dia Islam titik. Namun ketika melihat perbedaan akidah atau fikih, ia terkejut dan menolak perbedaan mazhab. Ini sebenarnya benih intoleransi di negeri ini. Ini kebodohan mazhab Sunni yang harus diberantas.

Bertahun-tahun saya mengikuti pengajian Sunni dan Syiah. Syiah sejak awal diperkenalkan sebagai mazhab, diperkenalkan kepada ulama yang saleh. Syiah juga didorong untuk toleran pada mazhab lain dan agama lain. Syiah juga mendorong umatnya untuk memghormati ulama lain, orang tua yang mungkin mazhabnya berbeda. Tidak ada dorongan untuk memaksakan mazhab kepada orang lain. Syiah juga mendorong umatnya untuk meninggalkan ulama yang buruk.

Menurut saya Ustaz Iskandar harus belajar tentang Syiah dari sumber yang otentik (asli, benar, sahih). Jangan belajar Syiah dari pembencinya. Sunni juga harus dipelajari dari sumber otentiknya (asli). Ia harus menggunakan akalnya untuk mempertimbangkan kebemaran. Kebencian harus didasarkan pada suatu alasan yang jelas. Menurur saya, Syiah tak pantas dibenci. Perbedaan mazhab dalam Islam tak bisa dihindari lagi. Lebih jauh para imam mazhab pun menghormati perbedaan ijtihad imam mazhab lain. Sayangnya di Indonesia masih ada yang menganggap Syiah sebagai sesat.

Saya sering bertemu dengan orang Iran. Video pertemuan saya dengan seorang ulama Iran adalah sebagai berikut.