Sajak BANDUNG (3)

Iswara
BANDUNG (3)

Dia yang mahaperkasa
suatu saat akan menetapkan
hukumnya pada dunia
dan pergerakan bumi, berhembusnya angin,
turunnya hujan hingga gugurnya daun-daun
tiada satu pun yang luput
dari pengetahuannya.

Tetapi sebagian bencana yang terjadi di dunia
adalah ulah manusia
pembabatan hutan di bogor dan bandung utara
menggenang kota di bawahnya
keserakahan dewan dan lalainya pemimpin
menyulap stabilnya ekonomi
dan uang siluman pengusaha
dari investor asing yang serakah,
penuh rekayasa serta tak peduli nasib bangsa.

Lumpur lapindo yang memenuhi kota
juga runtuhnya menara kembar sebelas september
adalah akibat kelalaian manusia
masyarakat dunia jadi korbannya
atas teror bangsa yang celaka

Tetapi nun jauh sana,
masyarakat di kota dan penjuru desa
tak terbuai, tak lalai dan tak pernah putus asa
akan muncul dan tegaknya
khalifah dunia.

Desember 2006

Sajak BANDUNG (2)

Iswara
BANDUNG (2)
–demo antibush di jalan raya

Kanak-kanak turun ke jalan
menengadahkan tangannya
mengandalkan gitar dan tala
demi sejumlah rupiah.

Orang-orang tua
membiarkan anak-anaknya
menempuh bahaya dan dusta
tanpa jaminan masa depan
dan kasih sayang.

Kebrutalan, kekerasan dan tekad
mendorong pemuda yang beranjak dewasa
untuk selalu merasa kekurangan
dan mementingkan diri sendiri
gaya hidup sekular, material
tumbuh dari iklan dan sinetron televisi.

Negara menciptakan sistem timpang
yang mementingkan sebagian kelompok
medatangkan keuntungan bagi freeport,
exxon mobile dan meryl line.
Milyaran rupiah dari penguasaan blok cepu
dan membungkam hak banyak manusia
yang jelas-jelas amat membutuhkannya.

Dan kedatangan bush yang kedua
tidak lagi memperhatikan suara manusia
yang benci dan menolaknya
pemerintah bergantung padanya
dan menerimanya segala titahnya
dengan sembah, hidmat dan gembira

Anak-anak jalanan yang terabaikan
makin terhina nasibnya
pemerintah makin tak berdaya
dari kerakusan bush yang celaka.

November 2006

Sajak DI KAMAR INI

DI KAMAR INI
–Moh. Wan Anwar

Di sini senantiasa terasa
wujud seekor ular,
hitamnya kegelapan yang kelam
melipat tubuhmu, menelanmu,
menjadikan kengerian bagian dari milikmu,
sedalam kematian.

Abu gharib serta guantanamo
adalah kamar-kamar yang dalamnya
meringkuk ribuan martir
yang putus asa pada kejahatan manusia durjana
dan tetap berpegang pada janji tuhannya,
bahwa keadilan senantiasa akan tegak di dunia
pada akhirnya.

Penangkapan manusia di guantanamo
dan penjara bawah tanah lainnya di eropa
adalah penangkapan di luar amerika
atas dasar prasangka belaka,
tanpa proses peradilan
tak seorangpun tahu status mereka:
tahanan, tawanan perang, tersangka
atau penjahat
tak ada keluarga yang boleh membesuk
disekap di kawasan yang asing
dan jauh dari negerinya
sama sekali tidak ada pengawasan internasional
atas kondisi dan nasib mereka.
Mereka yang menamakannya polisi dunia
justru melakukan hal yang sama.

Tak ada sistem peradilan yang legal
untuk aksi penculikan, penahanan,
dan penyiksaan itu,
namun telinga manusia hilang
dan organisasi dunia tersumbat juga.

O, manusia, selamatkanlah nasib bangsa.

November 2006

Sajak ODE UNTUK SHADR

Iswara
ODE UNTUK SHADR

Lanjutkanlah mulut yang bergumam,
jangan hentikan
menjunjung pemimpin kami
di quds yang suci.
Prajurit-prajurit itu sanggup menahan
roket penjajah astina dengan dadanya.
Kulit yang tipis tiada pilihan
untuk menjadi sasarannya.
Cobalah bila kalian suka!

Invasi bush ke negeri ini ilegal adanya
sekutunya berlumuran darah warga
menjadi tebusan atas dosa pemimpinnya.

Dengan dalih konflik sektarian warga,
dibuatlah pemerintah boneka,
kekacauan warga terjadi di mana-mana,
fitnah dan kejahatan merajalela.

Namun patriotisme akan tetap menyala
melawan hegemoni angkara murka
yang telah lama mencekam dunia.

Siapakah lagi pemuda
yang tidak ingin bersama dia
dengan jaminan hidup mulia
atau syahid di mata tuhannya.

Siapakah yang tidak ingin membantu massa tertindas
mengobarkan semangat merdeka yang tak terhempas
O, kebengisan bala tentara setan astina dan alangka
menjadi lumpuh dan tak berdaya.

Oktober 2006

Sajak WAKTU DI ANYER

Iswara
WAKTU DI ANYER
–Rika

menyisir pantai itu: Soni, Ahda Imran, Arip Sanjaya
aku mengembara dalam perjalanan yang panjang
antara sujud dan ruku. Namun yang kusebut
hanya namamu

pasir dan deburan ombak hanyalah guguran air mata
karena kau hanya gadis biasa yang ingin bahagia
di dalam pelukan.
Beringin, kafé hotel, pembakaran ikan; sedang aku
cuma guratan yang menorehkan luka yang terlupakan
di tubuhmu

malam yang lelap, hati gundah,
tak lagi kuhitung bintang-bintang
saat Godi Suwarna membacakan sajak
tentang akar di keheningan masa silam;
seharusnya bunga-bunga bertebaran bersama
dewa-dewi menyanyikan kawa-kawi
karena taman-taman perdamaian
yang dijaga peradaban. Aku ingin seperti putik bunga
menyebarkan sari-sarinya
tetapi aku di sini

lalu siapa sebenarnya aku?
Anak yang mengingat orang tua ketika
mereka saling memahami atas nama cinta
Aku ingin bersama Dia
saat gugur di tepi sungai Eufrat
lalu melupakan kegelisahan dunia
yang remeh selama ini

Pandeglang, 29 Juli 2004

Sajak JAKARTA, SEPTEMBER 2004 (II)

Iswara
JAKARTA, SEPTEMBER 2004 (II)

Bumi banjir darah
oleh ledakan bom. Tidakkah kau lihat
kebencian di wajahku karena
kerusakan yang tak henti-hentinya
meledak di bumi ini. Aku melihat
seekor kambing terpanggang
hitam dan terhina
lalu jiwanya merasuk ke dalam tubuh Baasyir
yang suaranya parau karena membela kebebasan
Di setiap tempat, semua orang bermata sayu
dan terkejap-kejap, mendengar suara-suara parau
tetapi semuanya berlalu, berlalu…
seperti tiada apa-apa

Sementara itu,
dencingan gelas menyelingi ucapan-ucapan selamat
atas meledaknya bom serta akibat yang mengiringinya

O, bumi yang subur, tanah yang makmur
manusia yang sujud di tanah kepada Tuhannya
kini menjadi sasaran kebrutalan agen-agen intelektual
yang memutar dunia dengan angkara

Selesai dahi-dahi manusia
menempel di tanah kepada Tuhannya
kembali mereka bekerja
menjadi sekrup dari sebuah mesin raksasa
untuk menggulingkan negeri ini.

Dahi-dahi manusia tercerai-berai,
saling melaknat imam
mereka meminta jaminan yang kecil
atas nasibnya sendiri.
Setelah sedikit permintaannya terkabul
dia pun kembali bekerja
menggali lubang kuburnya sendiri

Serang, 17 September 2004