Sajak JAKARTA, SEPTEMBER 2004 (II)

Iswara
JAKARTA, SEPTEMBER 2004 (II)

Bumi banjir darah
oleh ledakan bom. Tidakkah kau lihat
kebencian di wajahku karena
kerusakan yang tak henti-hentinya
meledak di bumi ini. Aku melihat
seekor kambing terpanggang
hitam dan terhina
lalu jiwanya merasuk ke dalam tubuh Baasyir
yang suaranya parau karena membela kebebasan
Di setiap tempat, semua orang bermata sayu
dan terkejap-kejap, mendengar suara-suara parau
tetapi semuanya berlalu, berlalu…
seperti tiada apa-apa

Sementara itu,
dencingan gelas menyelingi ucapan-ucapan selamat
atas meledaknya bom serta akibat yang mengiringinya

O, bumi yang subur, tanah yang makmur
manusia yang sujud di tanah kepada Tuhannya
kini menjadi sasaran kebrutalan agen-agen intelektual
yang memutar dunia dengan angkara

Selesai dahi-dahi manusia
menempel di tanah kepada Tuhannya
kembali mereka bekerja
menjadi sekrup dari sebuah mesin raksasa
untuk menggulingkan negeri ini.

Dahi-dahi manusia tercerai-berai,
saling melaknat imam
mereka meminta jaminan yang kecil
atas nasibnya sendiri.
Setelah sedikit permintaannya terkabul
dia pun kembali bekerja
menggali lubang kuburnya sendiri

Serang, 17 September 2004