Sejarah INDONESIA DAN DUNIA

Sejarah Indonesia dan Dunia
(Adakah Kaitannya dengan Sejarah Sastra Indonesia?)

Pemerintahan Soekarno adalah pemerintahan yang anti-Amerika. Kalau tidak salah, Imam Khomeini menyebut nama beliau di dalam salah satu bukunya sebagai seorang yang antipenjajahan barat. Sikap Soekarno seperti ini tentu saja bukanlah sikap kooperatif bagi imperialisme barat. Kejatuhan Bung Karno diawali dengan kenaikan harga-harga sehingga Bung Karno mengeluarkan kebijakan 1000-1 rupiah yang sangat merugikan masyarakat. Antrian pembelian sembako berderet-deret terjadi pada sekitar tahun 1966. Pidato pertanggungjawaban Bung Karno yang terkenal dengan nama Nawaksara ditolak MPR yang waktu itu dipimpin oleh Jenderal A.H. Nasution. Bung Karno jatuh dari kursi pemerintahannya dan berganti dengan Soeharto. Mulailah orde baru (new order) menggantikan era sebelumnya yang disebut orde lama.

Pemerintahan Soeharto merupakan pemerintahan yang represif, tegas dan imperatif. Pada saat itu harga rupiah dipatok dengan harga mata uang lain (dolar) dan Badan Urusan Logistik (Bulog) menguasai pasar di Indonesia. Dengan demikian, tak pernah terjadi fluktuasi harga-harga di pasar. Bila hukum pasar mengatakan barang langka maka harga barang naik, barang melimpah maka harga barang murah; hal itu bisa dikontrol dengan baik dengan dipatoknya harga rupiah dan keberadaan Bulog. Di samping itu Undang-undang Dasar 1945 mengatakan bahwa bumi Indonesia serta kekayaan yang ada di dalamnya adalah hak rakyat Indonesia dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Dengan demikian, amatlah lazim Pertamina menguasai minyak di Indonesia, PDAM menguasai dan mengatur air untuk rakyat, PLN mengatur dan mendistribusikan listrik bagi rakyat, banyak tambang berharga yang dikuasai pemerintah untuk kemakmuran rakyat.

Berbeda dengan pemerintahan Soekarno, pemerintahan Soeharto merupakan pemerintahan yang dekat dengan barat. Pinjaman-pinjaman yang diberikan barat membuat pemerintahan ini terlena dan manja. Pada masa orde baru, rakyat terkejut dengan begitu menumpuknya hutang pemerintah yang dibebankan pada rakyat Indonesia. Ketergantungan Indonesia pada hutang ini pula yang kelak akan menjadikan bangsa ini bagai tikus mati di lumbung padi. Orang malas bekerja sekalipun negeri ini sangat kaya. Orang hanya bergantung pada pinjaman dan kerja kantoran. Orang lebih suka melakukan pekerjaan administrasi daripada turun ke lapangan (menambak udang, perkebunan sawit, perkebunan karet, perkebunan kedelai, perkebunan jati, peternakan domba dan sapi).

Di samping hutang luar negeri yang menumpuk, negeri ini pun dibebani dengan rakyatnya yang korup. Salah satu tindakan korupsi yang mencolok adalah kebiasaan pejabat yang keliru mengelola uang aset yang menjadi tanggung jawabnya. Pejabat acap kali menerima parsel dari koleganya sebagaimana ia mengirim parsel kepada atasannya. Perputaran parsel ini menjadikan kolusi dan nepotisme yang keruh pada masyarakat Indonesia. Tak sedikit cerita tentang penggunaan aset negara untuk kepentingan pribadi. Hal ini berlangsung mungkin sejak awal masa orde baru sehingga pejabat yang baru meneruskan tradisi pendahulunya. Tindak korupsi ini boleh jadi dimulai dari ketidaktahuan karena menghindar dari tindak korupsi tidak diajarkan di sekolah dasar, sekolah menengah atau perguruan tinggi. Ketidaktahuan atau kebodohan ini selanjutnya dapat membuat orang menjadi lalai dan melakukan kejahatan yang merugikan orang lain.

Pertengahan tahun 1990-an Rusia runtuh. Keruntuhan Rusia ini pada mulanya memberikan harapan bagi bangsa-bangsa di Timur untuk meraih kemakmurannya. Sebaliknya barat malah menunjuk Timur atau orang Islam sebagai musuh berikutnya setelah Rusia runtuh. Hal itu terbukti dengan banyak peristiwa yang menindas timur dan orang Islam. Menara kembar diledakkan dan orang Islam dijadikan kambing hitam. Orang-orang berjubah pun dianggap sebagai teroris. Inilah imej yang dipropagandakan barat terhadap Islam.

Salah satu peristiwa yang menjatuhkan bangsa Indonesia pada krisis ekonomi adalah peristiwa Soros. Soros sebagai seorang yang menanam dolarnya di Indonesia serta merta menarik dolarnya pada tahun 1998. Bank-bank kehabisan dolarnya. Maka perusahaan-perusahaan yang berhutang dengan dolar tak bisa membayar hutangnya. Banyak perusahaan importir seperti perusahaan importir mobil atau barang elektronik yang bergantung pada dolar gulung tikar pada saat itu. Sebaliknya, perusahan-perusahaan yang berorientasi pada ekspor justru kebanjiran uang, contohnya perusahaan ekspor kayu Kalimantan, eksportir udang serta-merta mendapat keuntungan melimpah.

Pada saat krisis itu, muncullah rentenir dunia yang menamakan dirinya International Monetery Fund (IMF). IMF menawarkan bantuan kepada Indonesia dengan satu syarat: reformasi ekonomi. Apakah yang dimaksud dengan reformasi ekonomi itu? Reformasi ekonomi adalah eufemisme dari sebuah penjajahan baru berupa pelepasan aset-aset nasional kepada privatisasi, juga pelepasan Bulog dari perannya dalam mengontrol barang dan harga.

Dengan demikian, minyak yang ada di Indonesia bukan lagi milik rakyat Indonesia. Bila seseorang mempunyai sebidang tanah, dan di tanahnya mengalir tambang minyak, maka serta merta minyak yang keluar dari tanahnya itu adalah miliknya sendiri. Ia boleh menjualnya kepada pedagang barat sekalipun rakyat atau tetangganya membutuhkan minyak dari tanahnya itu. Boleh jadi pemilik tanah dibunuh oleh orang-orang rakus dan orang rakus itu serta-merta membayar pemerintah untuk membuatkan akta tanah baru yang palsu. Pada saat ini tambang emas di Papua dieksploitasi besar-besaran oleh freeport (sebuah perusahaan asing) tanpa memberikan manfaat yang cukup signifikan bagi rakyat Papua. Demikian pula perusahaan-perusaan merylline (juga sebuah perusahaan asing) serta perusahaan yang menguasai blok cepu, memperlihatkan kerakusannya tanpa rasa belas kasihan.

Dengan dikuasainya tambang-tambang minyak dan aset-aset penting bangsa, wajar saja jika Indonesia terancam menghadapi krisis ekonomi kedua karena harga minyak dunia naik. Alih-alih berpesta-pora karena harga minyak naik, Indonesia justru terancam menghadapi krisis ekonomi kedua. Indonesia seperti tikus mati di lumbung padi. Kaya tetapi dikuasai orang lain.

Mungkin saja peran pemerintah sangat penting dalam kebijakan kemakmuran rakyat. Sebagai contoh, tersebarnya internet jelas selama ini merupakan peran dari pihak swasta. Tetapi bila pemerintah menginstruksikan penggunaan internet di kantor-kantor gubernur, kota, kabupaten, kecamatan, hingga ke sekolah-sekolah tentu ini merupakan terobosan yang sangat brilian. Adakah internet harus dikuasai pemerintah? Tentu saja peran swasta yang adil dan terkontrol akan menjadi sangat bermanfaat.

Ekonom Kwik Kian Gie mengatakan bahwa naiknya harga minyak di dalam negeri sedangkan negeri Indonesia adalah produsen minyak dapat dianalogikan sebagai berikut. Seseorang mempunyai istri. Istrinya selalu memberinya sarapan nasi goreng setiap pagi. Pada suatu ketika si istri mengomel dan berkata, “Saya rugi 15.000 karena memberi Anda (suami) nasi goreng. Bila nasi goreng ini saya jual semua ke hotel berbintang saya akan mendapat 20.000, sedangkan Anda hanya membayar saya 5.000 untuk nasi goreng itu.” Dengan demikian, pemerintah yang mengomel pada rakyat itu seperti seorang istri yang mengomel kepada suaminya. Pemerintah berkata bahwa pemerintah rugi karena menjual minyak di dalam negeri dengan harga murah. Bila minyak ini dijual di pasar internasional tentu akan berlipat keuntungannya. Menurut Kwik Kian Gie, melepas harga rupiah pada pasar juga sangat berbahaya karena ekonomi Indonesia belum stabil. Sekali lagi peran Bulog yang justru dimatikan IMF berdampak besar bagi kemakmuran rakyat.

Seperti ini pula yang terjadi ketika harga minyak goreng naik. Para produsen minyak goreng beramai-ramai mengekspor minyak gorengnya ke luar negeri karena harga minyak goreng di luar negeri naik. Para produsen itu membiarkan kelangkaan minyak goreng di dalam negeri dan tak mendengar kebutuhan rakyat akan minyak goreng.

Bila Indonesia melepas aset-asetnya sesuai dengan saran (perjanjian) dengan rentenir IMF, Venezuela justru bertindak sebaliknya. Presiden Venezuela, Hugo Chavez justru menasionalisasi kembali aset-aset negaranya dan menolak kebijakan barat. Rakyat Filipina juga berdemo untuk menolak kehadiran rentenir IMF yang jelas-jelas menginginkan privatisasi aset-aset negara.

Mungkin beberapa negarawan Indonesia sadar karena dan menyarankan konsorsium bagi tambang minyak. Dengan demikian, tambang minyak tidak dikuasai satu perusahaan saja atau satu negara saja. Mungkin saja Indonesia mesti bekerja sama dan belajar dari sebuah negeri yang adil seperti Iran karena reputasi Iran selama ini yang tak memiliki cacat serta keberanian Presiden Ahmadinejad dalam menentang penjajahan barat. Ada dua presiden yang memiliki latar belakang yang berbeda yang menentang barat yakni Presiden Ahmadinejad dari Iran dan Presiden Hugo Chavez dari Venezuela. Keduanya boleh jadi merupakan contoh yang menarik dari keberhasilan orang-orang dalam menentang penjajahan dan meraih kejayaan.

Pada hari ini, dunia menyaksikan bagaimana negeri para mullah itu terancam oleh Paman Sam. Dunia melihat bahwa ancaman ditebarkan Paman Sam sejak awal. Dengan wajah palsu, Paman Sam berdalih bahwa anak buah para mullah itulah yang mengancam kapalnya di perairan teluk Persia. Dunia menyaksikan orang-orang pembohong dan orang orang jujur. Jika perang ini terjadi, maka tidak ada tempat suci di dunia kecuali medan laga.

Artikel EPOS RAMAYANA DAN REALITA

Iswara
Pementasan Lakon Teater, “Maaf. Maaf. Maaf.” karya N. Riantiarno
EPOS RAMAYANA DAN REALITA

Epos Ramayana yang telah menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia akan selalu menarik untuk disimak sebagaimana menonton pagelaran wayang atau menonton epos Ramayana di televisi. Menonton epos Ramayana karya N. Riantiarno, penonton akan selalu berharap menemukan kaitannya dengan realita dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai yang luhur senantiasa tergambar dalam sebuah karya sastra yang telah terbuang dari menara gadingnya. Hal itu menjadi kenyataan saat epos Ramayana dipentaskan berdasar pada drama karya N. Riantiarno itu. Pementasan itu digelar Lakon Teater UPI Bandung di gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa pada tanggal 12, 13 September lalu dan masih akan dipentaskan pada bulan November sampai Desember akhir tahun ini. Pementasan yang telah diselenggarakan itu menyedot perhatian penonton yang terdiri atas mahasiswa, mahasiswa sekolah pascasarjana dan pemerhati seni di sekitarnya.

Kenikmatan menonton “Maaf. Maaf. Maaf. (Politik Cinta Dasamuka)” akan menggelora karena N. Riantiarno mengolah karyanya ini dalam gaya tragedi komedi. Den Ario yang menjadi tokoh sentral drama ini menganggap dirinya sebagai Dasamuka Raja Diraja dari negeri Alang-alangka setelah mendapat cahaya wangsit. Ia akhirnya dimahkotai Uti / Nenek Ratu Cahaya. Selanjutnya Den Ario memanggil semua keluarganya dengan tokoh-tokoh epos Ramayana. Bandem, abdinya di rumah, dianggapnya sebagai Patih Prahasta. Ibu, istrinya, dianggap sebagai Dewi Shinta. Adiknya dianggapnya sebagai Sarpakenaka. Anak-anaknya dianggap sebagai Trijata, anak Wibisana; Wibisana, Laksmana, Rama, Hanggada, dan Hanoman.

Den Ario amat tergila-gila pada istrinya yang dianggapnya sebagai Dewi Shinta. Istri Den Ario pun menikmati cintanya dengan Den Ario tanpa ada kekhawatiran terjadinya petaka. Ia beranggapan sekalipun suaminya menganggap dirinya sebagai Dasamuka, toh Dasamuka tidak secara realitas memimpin dengan angkara semisal membunuh penduduk dengan lalim, merampas harta benda mereka, merampas anak gadis mereka, dan meneror penduduk dengan ketakutan. Den Ario justru mempropagandakan pembangunan dengan meresmikan MCK Center. Dasamuka meresmikan MCK Center itu di tengah gempita sambutan rakyatnya yang bergembira. MCK atau tempat mandi, cuci dan kakus tentu saja sangat bermanfaat di tengah hingar-bingar pusat perbelanjaan yang maju. Ini menjadi salah satu ironi, yaitu komedi di tengah tragedi. Sebagian penonton tentu memahami politik mercu suar yang dibangun di negeri ini ketika pemerintah sok-sokan membangun freeport, exxon mobile, juga Meryl Line (ML) untuk eksplorasi minyak serta pertambangan dan penebangan hutan yang mengelembungkan isi dompet kapitalis luar alih-alih membangun keadilan bagi rakyat sendiri. Pemerintah saat itu hanya berkepentingan pada segelintir orang yang serakah dan ingin memperkaya diri tanpa peduli akan nasib bangsa dan penjajahan atas negerinya. Ini menjadi pesan moral yang diusung Riantiarno dalam karyanya.

Menanggapi kegilaan Den Ario itu, mula-mula keluarganya tenang-tenang saja dan menikmati perannya. Istri merasa berada dalam cinta yang murni. Demikian pula adik Den Ario, sebagai perawan tua yang haus cinta menikmati perannya sebagai Sarpakanaka yang mencintai pemuda Laksmana. Namun kecemasan mulai merebak ketika dua penyusup masuk ke dalam rumah Den Ario. Serta-merta Den Ario menganggap dua penyusup itu sebagai Hanoman dan Hanggada. Sebagai hukuman, keduanya harus dibakar. Menurut pakem cerita yang diyakini keluarga Den Ario, Hanoman dan Hanggada akan selamat dari hukuman bakar itu. Sebaliknya kerajaan Alang-alangka justru akan terbakar. Karena tidak ingin rumah ‘kerajaan Alang-alangka’ itu terbakar, sandiwara harus disudahi dengan ditangkapnya Den Ario alias Rahwana alias Dasamuka itu.

Di tengah kegilaan Den Ario itu, sandiwara epos Ramayana disisipi dengan adegan pendirian semacam lembaga bantuan hukum buatan pemerintah yang diberi nama Lembaga Manajemen Nafsu. Dengan didirikannya lembaga itu, demonstrasi dan segala kemarahan harus melapor dahulu sebelum melaksanakan aksinya. Maka orang-orang yang marah pun kebelet untuk menumpahkan marahnya, mengantri untuk mendapatkan izin marah. Bandem, abdi Den Ario yang berperan pula sebagai Patih Prahasta memimpin Lembaga Manajemen Nafsu ini. Ia pula yang melakukan pelarangan terhadap penerbitan buku puisi dari penyair yang kritis yang dianggapnya sebagai karya yang tak masuk akal.

Pementasan ini merupakan bagian dari karya besar N. Riantiarno. Karya-karyanya jika diamati lebih lanjut merupakan karya yang sarat dengan nilai yang dekat dengan kehidupan. Notabene, karya-karya Riantiarno sangat kritis terhadap pemerintahan dan berlangsungnya kehidupan pada masanya. Pemberangusan, demonstrasi, pelarangan, kegilaan rezim pemerintah, ditampilkan sebagai sosok idola yang mengesankan.

Drama ini dibuat pada zaman orde baru, pada masa pementasan yang kritis dan radikal amat rentan untuk dapat dipentaskan. Pelarangan-pelarangan yang dilakukan oleh rezim selalu memberangus sastrawan dalam upayanya memperbaiki realita dan menyodorkan kenyataan. Penulis drama tak kurang akal untuk selalu menyodorkan realitas demi memperbaiki keadaan melalui karya-karyanya. Semua itu dapat dibandingkan dengan karya-karya Riantiarno yang lain seperti Trilogi Bom Waktu: Bom Waktu, Opera Julini, dan Opera Kecoa. Juga karya lainnya seperti Opera Ikan Asin.

Jika penonton bertanya pakem, tentu penonton tidak akan dipuaskan dengan pementasan “Maaf.Maaf.Maaf.” ini, sebagaimana tak tercermin di dalam judulnya sekalipun ada embel-embel judul kecil “Maaf.Maaf.Maaf. (Politik Cinta Dasamuka)”. Pakem rasanya menjadi bayang-bayang semu ditingkah kreatifitas Riantiarno. Justru nilai-nilai luhur lainnya dirasakan lebih menerap dalam pementasan ini.

Demikian pula jika penonton berharap pada pementasan wayang orang, karya Riantiarno bukanlah karya ajeg wayang orang. Lebih lanjut karya Riantiarno ini merupakan drama modern sebagaimana pementasan terdahulunya yaitu Pandawa Adu Dadu (1991) karya Wahyu Wibisana, sutradara Godi Suwarna. Segala atribut dan instrumen yang digunakan total sebagai drama modern. Tidak ada pulasan wayang orang kecuali tokoh-tokohnya yang memang tokoh pewayangan.

Epos Ramayana sebagaimana telah ditayangkan pula Epos Mahabarata, dapat kita lihat di televisi lokal Bandung (“Hanoman” di Bandung TV setiap pukul 13.00, 11/2006). Di saluran televisi penonton tentu terpuaskan harapannya akan pakem epos Ramayana yang sebenarnya. Melalui sajian di televisi, penonton mendapati ritual epos Ramayana begitu dalam dengan hidmatnya sebagai cerita sastra yang tinggi nilai-nilainya. Epos Ramayana menunjukkan peradaban yang tinggi, kepahlawanan, kerendahatian, ditingkah kelaliman Rahwana.

Nilai-nilai yang diusung epos Ramayana bisa jadi berkaitan dengan globalisasi ini. Panah-panah diganti rudal-rudal. Pasopati dan bramastra diganti kathyusha. Pemanah ulung berganti menjadi prajurit gerilyawan yang mengusung rudal-rudal pembalas. Penonton akan melihat keadilan akan selalu diserukan oleh orang-orang yang ditindas. Juga orang yang ditindas karena kekayaan alam negerinya dikeruk serta bangsanya dikerdilkan. Penonton akan melihat bahwa orang-orang yang ikut serta dalam membela kebenaran akan menjadi bagian dari penegak kebenaran. Sebaliknya orang-orang membiarkan berlangsungnya kejahatan akan menjadi bagian dari atau sama dengan orang-orang yang melakukan kejahatan itu sendiri. Sebagaimana Balarama atau Baladewa yang tidak berpihak pada satu sisi pun dianggap sebagai bagian dari kejahatan bagi Sri Kresna yang maksum. Ketika Baladewa marah karena Bima memukul bagian terlarang dari muridnya, yaitu paha dan pinggul Duryudana; Sri Kresna menentang kemarahan Baladewa itu dengan bijaknya. Akhirnya kemenangan yang menjadi hak Pandawa pun dapat diperoleh dan sejarah tidak lagi dimanipulasi. Demikian pula Karna atau Radea sekalipun mengetahui dirinya saudara tua Pandawa dan mengetahui kejahatan Duryudana, Radea tetap membela Duryudana. Karna pun akhirnya mendapatkan karmanya untuk mati di tangan Pandawa.

Kemenangan Hamas di Libanon dan pemilu di Irak menunjukkan bahwa rakyat menentang hegemoni penjajah yang angkara. Pendudukan pasukan asing memaksa mendirikan pemerintah boneka penjilat dan menangkapi pejabat-pejabat resmi yang didukung rakyat. Sejarah sedang dimanipulasi dengan begitu kerasnya. Bila Pandawa kalah perang, Pandawa akan tetap dicap sebagai penjahat dan Duryudanalah pembela kebenarannya. Sekalipun jelas-jelas Duryudana merupakan diktator penumpah darah yang berbahaya. Demikian pula pengembangan teknologi nuklir Iran, yang ditentang barat merupakan bukti penjajahan hegemoni asing yang justru mengembangkan nuklir dalam teknologi perangnya. Segala jalan damai ditempuh untuk menuntut hak-hak kemanusiaan, tetapi orang-orang jahat yang merasa dirinya kuat senantiasa ingin memaksakan kehendaknya menindas rakyat. Mereka berusaha memonopoli kekuasaan dan memukul semua kekuatan baru sekalipun didukung oleh keadilan rakyat.

Demikianlah sebuah pementasan akan selalu dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi dalam realitas. Peristiwa-peristiwa dalam pementasan akan menjadi inspirasi bagi apresiannya untuk mengambil hikmahnya. Sebuah pementasan tidak bisa berlepas diri dari realitas. Apalagi pementasan dengan tema-tema besar seperti yang berkaitan dengan kemanusiaan, keadilan atau kesejagatan.

Pementasan Riantiarno merupakan hiburan yang dibumbui dengan komedi sebagai penyegar suasana. Drama-drama di Indonesia, sebagaimaa diungkap Sumarjo, merupakan drama yang semestinya berakar dari drama tradisional seperti longser, ketoprak dan sandiwara; saat pemain bisa berdialog dengan penonton dan penonton dapat menanggapi permainan drama itu. Gaya komedi dari naskah ini kerap kali menggelitik pemirsanya sehingga pementasan ini menjadi sedap untuk ditonton.

Pementasan Lakon Teater Universitas Pendidikan Indonesia ini menjadi menyejuk dahaga dalam dunia pementasan di kota Bandung khususnya di antara pementasan Studiklub Teater Bandung terdahulu yaitu Arturo UI dan pementasan Culture Center Ledeng dan pementasan teater kampus di STSI.

18 November 2006

Cerpen BERAS

Cerpen Iswara
Beras

Alangkah bahagianya mereka kulihat. Tidak ada yang lebih membahagiakan para petani berkenaan dengan pekerjaannya selain ketika memanen padi di sawah. Padi yang sudah menguning dituai dengan arit, dipisahkan dengan antara biji padi dengan batangnya, lalu dijemur, ditumbuk sampai menadi beras dan siap untuk dijual.
Panen yang berlimpah dari ladang yang luas akan memenuhi lumbung-lumbung persediaan kami. Sebagiannya dapat ditukar dengan keperluan lain: lauk-pauk, sandang, keperluan belajar serta keperluan sehari-hari.
Ia dengan bersemangat pergi menuju sawahnya. Dilihatnya hamparan menguning yang menyejukkan hati. Setelah ia ikut mengerjakan panen orang lain, gilirannya memanen tanahnya sendiri. Setelah beres dituai, segera dibanting untuk memisahkan biji padi dengan batangnya. Seikat demi seikat padi dibanting-banting. Suaranya berirama diiringi dengan lagu dan tarikan napas pekerjanya. Lagu yang merintih dan terengah seperti lagu, syair dan tepukan duka Imam Ali Zainal Abidin. Akhirnya semua pekerjaannya beres hari itu juga.
Semilir angin yang sejuk. Awan yang mengandung hujan dan matahari yang mengintip di baliknya. Pemandangan yang lepas ke tempat-tempat jauh. Ada gelap pepohonan hutan di jauh sana. Alam yang masih mengandung misteri yang keramat sebagai bagian dari kekuasaan Tuhannya. Burung-burung kecil melesat dengan cepat menembus angin setelah memetik biji-bijian, melewati sungai-sungai yang mengaliri sebagian sawah yang hampir menguning.
Tuhan yang Maharahman telah menyediakan rezeki bagi setiap makhluk yang ada di dunia. Negeri ini begitu subur tanahnya. Siapa pun yang menanam, akan menuai panen. Tanah kami adalah tanah yang menerima segala tetumbuhan. Bermacam-macam biji-bijian dan buah-buahan keluar dari tumbuh-tumbuhan itu. Sebagian daun-daun dari tetumbuhan itu menjadi pakan bagi ternak-ternak milik para peladang. Di negeri ini tidak ada yang kelaparan karena orang-orangnya menanam tumbuh-tumbuhan.
Malam itu sepulang salat malam disempatkannya mampir di pos ronda. Ia ingin melihat kawan-kawannya yang sedang mengusir nyamuk dengan asap rokok.
“Mumpung merokok belum dilarang ….” katanya sambil melempar sebungkus rokok ke atas papan pos ronda tempat teman-temannya bersila dan bersarung.
“Ini pos ronda, Bung, bukan kampus kelas atau kantor.” Sudin menyambut sambil mengambil sebatang rokok dan menyelipkan di sela-sela bibirnya. Yang lain pun satu per satu mengambil rokok.
“Jadi sudah sah peraturan antimerokok itu?”
“Sudah.”
“Wah, bisa-bisa Serie A, Premier League, dan Bundes Liga batal tayang di teve.”
“Bakal bangkrut perusahaan rokok kita.”
“Tetapi ada yang lebih penting.” Sudin mengepulkan asap rokoknya.
“Apa?”
“Dengar-dengar Fahri sekarang tidak lagi menerima beras.”
“Ah, yang benar saja. Apa alasannya?”
“Entah.”
Sudin beranjak mengumpulkan ranting untuk dibakar. Ia melepas goloknya. Ranting yang besar dan panjang ditetaknya dengan golok. Ranting-ranting yang telah menjadi kecil dinyalakan. Apinya menghangatkan udara. Setiap orang di pos ronda itu menyelimuti tubuhnya dengan sarung.
“Tidak mungkin si Fahri tidak lagi menerima beras. Memangnya sejak kapan orang kita sudah tidak doyan nasi?”
Orang-orang menggerutu ada yang mengetuk si Fahri, ada pula yang mendukung berita si Fahri. Tetapi dari sanad yang ada tiada yang bisa dipercaya; walaupun matannya benar berkenaan dengan pekerjaan si Fahri.
Bintang-gemintang yang memenuhi langit kini menemaninya ke dalam mimpi. Kelap-kelip pada malam yang dingin, langit menurunkan embun di pagi hari. Malam itu hembusan angin amatlah kencang. Angin menembus ke tempat tidur di kamarnya dari sela-sela bilik anyaman bambu. Bara api yang membakar ranting-ranting untuk menghangatkan pos ronda berpijar dan asapnya naik ke udara. Malam makin larut.
Esoknya ia sudah mempersiapkan kepergiannya ke gudang si Fahri. Dari jauh si Sudin berteriak memanggil-manggilnya.
“Hei, kulihat hari ini si Fahri mencarimu.”
“Benarkah? Si Fahri? Ada apa?”
“Entah.”
“Ya. Aku tahu, dia mau membeli berasku. ‘Kan sudah beres aku mengiling beras.”
Bergegaslah ia pergi menuju gudang si Fahri. Rumahnya memang juga di sana, berdampingan dengan garasi mobil bak terbuka, khusus untuk mengangkut beras dan dagangan lainnya.
Fahri adalah orang yang punya harga diri. Di mata orang di kampungnya, Fahri adalah orang kaya. Karena itu ia menjadi orang terpandang di sana.
Jika seseorang hendak berjual beli beras dengannya, orang itu mesti bertransaksi dengan sangat hati-hati. Sebagaimana biasa si Fahrilah yang biasanya mempunyai kunci harga. Orang boleh menawar lebih tinggi, tetapi jatuhnya harga tidaklah terlalu jauh dari yang dipatok di awal. Kalau mau, ambil dengan harga segitu atau angkat kaki. Biasanya kalau sudah ada isyarat angkat kaki, si Fahri menunjukkan keengganannya omong lebih lanjut tentang beras atau tentang yang lain-lainnya. Ia benar-benar orang yang punya harga diri.
Kebetulan si Fahri sedang berdiri di muka rumahnya yang luas. Berdiri mematung seperti menunggu telur menetas di atas kepalanya. Ia seperti sedang menunggu seorang tamu. Setelah menjawab permisinya, Fahri mempersilakan tamunya untuk masuk dan duduk. Sementara ia sendiri masih mematung di depan rumah seperti masih mengharapkan tamu lain. Ia berteriak-teriak menyuruh orang yang ada di dalam rumah untuk membawa air minum. Barulah selang beberapa lama ia masuk dan berlagak memeriksa keperluan tamunya.
Maka diutarakanla maksud kedatangan tamu ini, tiada lain untuk menjual beras yang baru dipanen. Fahri menatap dengan pandangan nyalang seperti biasanya.
“Maaf, Pak, hari ini kami tidak menerima beras Bapak.”
Sebagaimana biasa, tamu si Fahri harus siap dengan kejutan-kejutan. Tetapi kejutan ini terlalu keras bunyinya; lebih keras daripada gelegar guntur di musim hujan. Tetapi kagetnya tamu hanya terlihat dari raut muka saja karena tamu harus tetap berikap tenang dan berwajah dingin seperti batu yang sudah berlumut.
“Mengapa Bapak tidak bisa menerima beras kami?”
“Di pasaran sekarang ini beras harganya sangat murah. Muraaah sekali.”
“Murah sekali? Kenapa?”
“Coba cari ke pasar-pasar. Lihat kualitas beras juga lihat harga berasnya. Murah sekali.”
“Kami tidak mengerti. Mengapa banyak beras di pasaran?”
“Ini bukan ulah petani. Bukan ulah pedagang beras. Aku tak tahu persis ulah siapa ini. Yang jelas semua pasaran kita jadi kacau. Harga beras murah sekali. Tidak ada harganya. Mungkin sebaiknya kita tidak memanen beras atau bahkan membiarkan beras kita untuk pakan ternak.”
Kulihat si Fahri berhenti. Mungkin melihat mataku yang terbelalak. Air mata menggenang di kelopak mata. Aku kecewa. Sangat kecewa. Ia terpaksa menghentikan bacotnya sementara. Tetapi aku tak punya kata-kata untuk diungkapkan. Tak ada kata-kata yang mewakili kesedihan seperti ini. Tak ada gunanya menangis di sini.
“Maaf kami harus menolakmu. Kami punya beras Thailand. Beras ini dipasok untuk kami sebarkan. Ini harus terjadi karena beras ini sangat-sangat murah. Apalagi tidak diragukan lagi kualitasnya tidak kalah dengan beras kita. Pasaran kalian para petani beras sudah musna.”
Aku tertunduk. Kupingku sudah mendengar banyak berita. Sudah lama ia mendengar lagi berita-berita yang isinya bunga-bunga tentang beras itu. Sekarang ia tidak bisa mendengar lagi. Ia sudah pekak dan otakku tidak bisa menerima alasan dibalik itu. Bahwa ia tidak bisa menerima beras-beras kami dengan alasan bla…bla…bla…. ketonggeng hum… pa… pa….
Aku pulang dengan langkah melayang. Tiada bumi, tiada lagi langit. Tak ada lagi yang dapat kurasakan. Aku tak bisa melihat segala yang kulewati karena rasa bingung ini membuatku sedih yang teramat dalam. Dari segala yang kuketahui sudah jelas penyebab kesengsaraan ini. Segala kemelaratan rakyat ini adalah karena pemerintah, orang-orang, para penjual membiarkan sebagian cukong menjual beras Thailand dengan harga sangat miring.

Sumedang, 6 Februari 2006

Cerpen RATU SEJAGAT

cerpen Iswara
Ratu

Sekalipun gelombang protes menghantamnya bertubi-tubi, Tika tetap ikut kontes ratu-ratuan. Ia menjadi seorang yang kesekian kalinya dihujat dengan tuduhan melecehkan agama setelah goyang sensual penyanyi dangdut dan terbitnya majalah porno terjemahan dari negeri astina. Masyarakat berpikir, setelah lolos seleksi, ia akan ke luar negeri dan memamerkan bikini dengan berpose di bibir kolam.
Juri dalam kontes ini adalah orang-orang yang terpandang dan terhormat. Dalam menilai para kontestan, juri mendapat pengamanan yang sangat ketat. Sekalipun pengamanan juri sangat ketat, tak urung juga nomor telepon juri ada juga yang memberikan sampai ke tangannya. Seorang pelayan, mungkin sopir, yang tampangnya mirip bintang sinetron berkenalan dengannya dan memberikan nomor itu. Katanya itu nomor penting. Beberapa waktu setelah itu ia tahu bahwa nomor itu adalah nomor telepon juri yang bisa ia hubungi bila pun ia mau. Mulanya ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nomor itu. Tetapi agak lama dibiarkan, dengan sendirinya nomor itu berdering di teleponnya.
Tentu saja di antara jadwalnya yang ketat, ia masih punya waktu luang untuk menelepon dan menerima telepon. Ketatnya jadwal membuatnya menggeliat mencari waktu luang agar ia dapat ia melepas penat dari nasehat jagoan-jagoan catwalk, bicara tentang personalitas, tata krama di meja makan, dan pelajaran-pelajaran penting tentang berbusana.
Sementara itu kru televisi-televisi swasta mengambil kontes ratu ini sebagai bagian dari konsumsi publik yang penting untuk disiarkan.
Akhirnya suatu ketika dapat juga Tika keluar dengan juri itu. Tika berpikir kencannya kali ini adalah istimewa. Ia tahu benar bahwa juri ini adalah seorang figur publik yang berperan penting. Mungkin ia akan memompa kariernya di bidang lain setelah kontes melelahkan ini berakhir.
Ia tahu pacarnya juga tidak akan marah. Pacarnya akhirnya mengizinkannya juga ikut kontes ratu. Ia berhasil membujuk pacarnya karena bila ia dinobatkan sebagai ratu, pacarnya tentu akan naik daun menjadi pangeran negeri dongeng dan terpampang di media selebritis di seluruh negeri. Untung ia tidak sempat mengancam putus, sebab itu juga yang akan ia lakukan bila pacarnya melarang-larang melakukan pekerjaannya. Di zaman modern ini semua perempuan sudah ikut emansipasi, seperti negeri amarta. Kenyataannya ia akan putuskan juga pacarnya bila ia sudah terkenal nanti. Jika sudah terkenal, masalah laki-laki adalah masalah enteng. Ia bisa memilih selebritis yang ia sukai dan berganti-ganti pacar seperti berganti baju selepas bosan dengan satu lelaki.
Akhirnya bertemu juga ia dengan Mas Bagong, juri kontes ratu negeri yang berwajah tampan ini.
Ternyata Mas Bagong orangnya luwes, ramah, dan begitu memperhatikan orang lain. Belum apa-apa Tika sudah disambutnya seperti seorang putri. Ia sangat terhormat dengan dandanannya yang modis. Tika diajaknya makan malam tanpa diketahui seorang pun, bahkan dari kalangan wartawan.
Mulanya Tika agak grogi juga berhadapan dengan seorang master etiket di meja makan. Sedikit banyak, pertemuan ini akan mempengaruhi penilaiannya juga dalam kontes ratu-ratuan ini. Salah mengambil garpu akan mengurangi nilainya pada saat kontes. Tetapi ternyata Mas Bagong tidak memperlihatkan lagak penilaian. Ia berbicara sangat lepas layaknya seorang teman lama yang akrab. Sampai ia kaget ketika Mas Bagong berbicara satu hal.
“Tika, maukah kamu saya setubuhi? Kalau kamu mau, kamu akan saya tambah nilainya.”
Tika seperti perempuan yang dilamar, diam bebarapa saat. Rasa terkejutnya, sebagaimana biasa harus ditutupi. Tika tercenung dengan pertanyaan Mas Bagog yang begitu langsung, begitu lugas. Tetapi waktu hanyalah berdetaknya jam yang menghabiskan kesempatan hingga waktu berpikirnya habis. Ia harus menjawab pertanyaan juri yang paling ekstrem sekalipun dengan sebuah jawaban diplomatis. Tika menimbang-nimbang sebuah jawaban.
“Bener nih, kalau ml, saya akan dimenangkan?”
“Iya. Itu bisa diusahakan.”
“Di mana bisanya ada acara?”
“Itu bisa diatur.”
Demikianlah pembicaraan lainnya menjadi tidak begitu penting karena Mas Bagong memang selalu mengingatkan untuk menjaga etiket seorang putri bagi seorang wakil pariwisata seperti Tika.
Setelah perjamuan itu, siang dan malam adalah tagihan janji bagi Tika. Ia tak bisa mengabaikan pembicaraan dalam pertemuan itu. Ia begitu ingat bahwa ajakan untuk bercinta akan segera datang. Jiwanya menari dan sebuah lagu didendangkannya, “making love, out of nothing at all…making love….”
Peristiwa percintaan ini berjalan dengan begitu rapi. Setelah teleponnya berdering, Tika diingatkan bahwa ia akan segera dijemput untuk janji itu. Mobil melesat di jalan dan masuk ke area parkir hotel. Tika melangkah menuju kamar yang sudah diketahuinya. Pintu kamar dimasukinya setelah mengetuk sebagai tanda kedatangannya. Didapatinya makanan dan minuman terhidang di meja kamar, begitu menarik dan menggugah selera. Di dalam kamar itu orang yang sudah dikenalnya dengan sopan menunggu. Pintu dikunci dan Tika mendapati mendapati dirinya bersantai di ruangan yang nyaman itu. Semuanya berjalan dengan sangat rapi karena naluri seekor burung yang telah tanak birahinya hinggap di jiwanya. Naluri ini idak akan meleset sebagaimana biasanya.
Maka Tika pun menikmati cintanya seperti menikmati manisnya sirup di siang hari.
Beberapa saat setelah itu Mas Bagong terpuruk lemah setelah melepaskan cintanya ke dalam tubuh Tika. Mas Bagong bergumam dan rayuannya menjadi asam seperti getah yang lengket di tubuh.
“Tika, kamu sangat cantik ketika bercinta. Begitu pro! Kamu seperti putri yang baru mengenal cinta.”
Tika mengetahui rayuan itu. Tika membalas dengan senyuman. “Jadi Tuan sangat puas dengan pelayananku?”
Mas Bagong kini berganti menyeringai, “Tetapi aku tidak janji kamu jadi juara.”
“Kenapa?”
“Karena mungkin peserta lain juga memberi tubuhnya kepada juri lain.”
“Kalau begitu, rugi aku memberikan tubuhku.”
“Ee… jangan begitu, dong, Sayang.”
“Pokoknya aku akan adukan…” Walau marah, Tika tetap seperti kucing yang manja.
“Tak ada bukti, Nona Manis. Kondom sudah aku amankan ke tempat sampah.”
“Dasar kau.”
Akhirnya keduanya berpisah. Tika meninggalkan ruangan hotel tempat Mas Bagong masih terpuruk. Mas Bagong malas untuk segera mandi setelah bercinta. Ketika Tika melangkah ke pelataran parkir, mobil itu telah siap mengantarnya kembali ke karantina. Tika tak tahu mestikah ia mengingat cinta yang begitu berarti bagi kariernya ataukah melupakannya seperti mimpi sesaat.
Hari-hari Tika pun kembali seperti sedia kala. Kesibukannya dengan persaingan kontes ratu meliputi dirinya. Ia mungkin telah menjual sesuatu dengan harga yang begitu rendahnya untuk sesuatu yang tidak ada prospeknya di masa depan.
Tika memang sampai ke final. Dalam suasana final kontes ratu negeri ini semua penonton mengelu-elukannya. Di antara mereka, hampir semuanya mengirimkan pooling SMS untuk setiap kontestan yang didukungnya. Sekalipun di antara sepuluh finalis hanya ada satu yang juara, ada pula ratu favorit versi pemirsa.
Ia melihat pendukungnya melambai-lambai dan melonjak-lonjak ke arahnya. Tidak hanya dirinya yang akan kecewa bila ia jatuh dari kursi juara satu, tetapi sebagian pendukungnya yang bertaruh melalui SMS pun akan kecewa dengan kejatuhannya dari kursi ratu. Semua memang bisa terjadi. Tika bisa saja menang kontes ini atau pun gugur seperti yang lain. Ia melihat pacarnya pun ada di antara para pendukung yang melambai ke arahnya. Ia memberi dukungan penuh kepada Tika.
Tika ingat, pacarnya itu pernah juga meminta seperti yang diminta Mas Bagong. Tetapi Tika tak pernah memberinya. Ia memang tak pernah memberikan dirinya kepada calon suaminya. Tanpa banyak diketahui orang, bahkan tanpa diketahui pacarnya, ia telah disentuh pacarnya yang dulu sewaktu di sekolah menengah. Ia memang telah tuna, tetapi ia mesti melupakan peristiwa itu. Ia mesti berbuat seperti tidak ada peristiwa penting. Ia harus tetap alim dan tidak menyesali semuanya.
Dengan lagaknya demikian, ia telah cukup menutupi lukanya. Tika memang terluka dan telah sembuh dari lukanya. Tetapi dengan luka ini, kini tidak ada lagi yang dapat melarangnya dari ikut kontes ratu negeri atau bercinta dengan lekaki sesaat yang tak akan menjadi suaminya.
Malam ini, penentuan juara dari para finalis akan segera ditentukan. Penangkaran para calon ratu ini akan segera berakhir. Wakil dari juri tengah berjalan ke atas podium untuk mengumumkan juara satu. Seorang peragawan berjalan perlahan, hilir-mudik di antara para kontestan sambil mengunjukkan mahkota kontes ratu negeri di hadapan hadirin dan para finalis.
Siapakah yang akan juara?***

Iswara
Sumedang

Poem HEAVEN THAT WAITS IN THE SKY

Iswara
HEAVEN THAT WAITS IN THE SKY

How beautiful to live within your shadow
to enlight toward my path
Heaven’s gate will always smile happily
it is you stand in wise and beautifully

And in the cellular phone
you lost one by one
chlotes of mighty egotistical
blouse of foolishness containing misery
and all gown painful forgetful mistakes
and change with skin of happiness love
that feels lenient and openness

From the cool silent mountain season
with the warm wind of the shore
and the little rain falls down to earth
tender symphony then arranged from your body
waving within harmony of my heart
this symphony is only for you

Accompanying journey of this lonely stranger
your tender love break down the mighty aggressor
which is so long time become the world’s enemy

O, the gentle of rain become metamorphosis
A worm into a butterfly.
The gentle of love become metamorphosis
A hate into a love.

Sumedang, 8 Januari 2008

Research STUDY ABOUT SPEECH WITH PICTURE FROM INTERNET

Iswara
STUDY ABOUT SPEECH WITH PICTURE FROM INTERNET

This research has done in about the middle year of 2007 to students of Universitas Pendidikan Indonesia. Public speaking such as Pemilihan Dai Cilik Show on a private television station is an interesting phenomena. Such public speaking is very impressive for study language skills. Study public speaking or speech develop in many language classes in this university.
In this research, when the students have in their classroom, they study theory of speech given by their lecturer such as study how to make voice without mistake, how to control audience with eyes, choose good theme relevant to audience, using pronounce for audience and evaluation of speech.
Then student has asked to choose theme which is interest them and relatively interest to the audience later. The theme could be inspired by the picture downloaded from the internet or otherwise the student search picture relevant to theme they are choose. Searching for picture taken for a week. The picture choosen by student such as disaster (flood, volcanic mountain), technology, global warming, sciences, and childhood stories. In this research, teacher has found students got picture not only in internet. Some of the students paint their own picture on the board, and some of the students shows pictures drawn on paper. In this position researcher can say that picture from internet is not an absolute way to help students to guide the speech.
After got picture, students took their speech about theme relevant to the picture. During doing speech, using letter containing speech text was not necessary. Students could prepare their text speech, but they could not use it during speech in class.
Speech or public speaking with picture helps students to become more active developing theme they are choosing. Without text, student develop their speech more active. Most of the student’s speech are interesting. Some of the student showing remarkable performance. With 60 students in class, this speech activity taken about three meeting (3 credits). Students evaluated by their (1) intonation, (2) eyes movement, (3) theme selection relevant to audience, (4) using pronounces for audience, and (5) language ability. This research shows that most of the students can perform speech quite good although still there are some students have difficulties in speech, such as could not finnish their speech and another language mistakes. Through this study of speech with picture from internet, hopefully students will be able to teach speech to their students.

Penelitian BERBICARA DENGAN GAMBAR DARI INTERNET

Iswara
PEMBELAJARAN BERPIDATO DENGAN GAMBAR DARI INTERNET

Penelitian ini dilakukan pada pertengahan tahun 2007 kepada sejumlah mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia. Orasi seperti Pemilihan Dai Cilik di stasiun televisi swasta merupakan fenomena yang menarik dari sisi pembelajaran keterampilan berbahasa. Pembelajaran berorasi atau berpidato merupakan pembelajaran keterampilan berbahasa yang dikembangkan di kelas-kelas bahasa.
Di dalam penelitian ini, pada saat pembelajaran, mahasiswa sebagai pembelajar diberi teori berkenaan dengan berbicara di antaranya pengulangan pelafalan bila ada kekeliruan, pandangan mata, pemilihan tema yang cocok bagi pendengar, menggunakan sapaan (Anda, hadirin) bagi pendengar dan penilaian berpidato.
Setelah itu pembelajar diminta untuk memilih tema yang menarik baginya dan relatif cocok bagi pendengar. Tema itu bisa saja diinspirasi dari gambar-gambar yang ditemui di internet atau sebaliknya tema yang dipilih dicari gambar yang relevan di internet. Pencarian gambar diberi waktu selama seminggu. Gambar-gambar yang dipilih pembelajar di antaranya peristiwa bencana alam (banjir, gunung meletus), teknologi, pemanasan global, ilmu pengetahuan, dan cerita anak-anak. Kenyataannya, ada pembelajar yang mendapatkan gambar bukan dari internet. Ada pembelajar yang menggambar langsung di papan tulis, ada yang menampilkan gambar yang dibuat di atas kertas. Kenyataan ini membuktikan bahwa gambar dari internet tidaklah mutlak.
Setelah pembelajar mendapatkan gambarnya masing-masing, pembelajar diminta berpidato atau berorasi berkenaan dengan tema dan gambar yang dipilihnya. Pidato yang dilakukan pembelajar diharapkan tanpa teks sama sekali. Boleh saja pembelajar mempersiapkan teks pidatonya di rumah, tetapi saat di berpidato di kelas, pembelajar tidak boleh membawa teks.
Berorasi atau berpidato dengan bantuan gambar mendorong pembelajar untuk aktif mengembangkan tema yang dipilihnya. Tanpa bantuan teks, pembelajar mengembangkan pidatonya. Tidak sedikit pidato pembelajar yang menarik. Bahkan beberapa di antara pembelajar menunjukkan performansi pidato yang sangat baik. Dari sekitar 60 pembelajar, pidato beserta penilaiannya secara langsung diselenggarakan dalam tiga pertemuan (dalam 3 sks). Kemampuan berpidato dilihat dari teori berpidato yaitu (1) pelafalan, (2) pandangan mata, (3) pemilihan tema yang cocok bagi pendengar, (4) menggunakan sapaan (Anda, hadirin) bagi pendengar, dan (5) kebakuan bahasa. Rata-rata pembelajar mampu berpidato dengan baik sekalipun ada pula yang tak dapat menyelesaikan pidato atau kekurangan berbicara lainnya. Melalui pembelajaran berpidato dengan gambar dari internet ini pembelajar sebagai calon pendidik diharapkan dapat mengajarkan teknik berpidato bagi pembelajarnya kelak.