Cerpen RATU SEJAGAT

cerpen Iswara
Ratu

Sekalipun gelombang protes menghantamnya bertubi-tubi, Tika tetap ikut kontes ratu-ratuan. Ia menjadi seorang yang kesekian kalinya dihujat dengan tuduhan melecehkan agama setelah goyang sensual penyanyi dangdut dan terbitnya majalah porno terjemahan dari negeri astina. Masyarakat berpikir, setelah lolos seleksi, ia akan ke luar negeri dan memamerkan bikini dengan berpose di bibir kolam.
Juri dalam kontes ini adalah orang-orang yang terpandang dan terhormat. Dalam menilai para kontestan, juri mendapat pengamanan yang sangat ketat. Sekalipun pengamanan juri sangat ketat, tak urung juga nomor telepon juri ada juga yang memberikan sampai ke tangannya. Seorang pelayan, mungkin sopir, yang tampangnya mirip bintang sinetron berkenalan dengannya dan memberikan nomor itu. Katanya itu nomor penting. Beberapa waktu setelah itu ia tahu bahwa nomor itu adalah nomor telepon juri yang bisa ia hubungi bila pun ia mau. Mulanya ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nomor itu. Tetapi agak lama dibiarkan, dengan sendirinya nomor itu berdering di teleponnya.
Tentu saja di antara jadwalnya yang ketat, ia masih punya waktu luang untuk menelepon dan menerima telepon. Ketatnya jadwal membuatnya menggeliat mencari waktu luang agar ia dapat ia melepas penat dari nasehat jagoan-jagoan catwalk, bicara tentang personalitas, tata krama di meja makan, dan pelajaran-pelajaran penting tentang berbusana.
Sementara itu kru televisi-televisi swasta mengambil kontes ratu ini sebagai bagian dari konsumsi publik yang penting untuk disiarkan.
Akhirnya suatu ketika dapat juga Tika keluar dengan juri itu. Tika berpikir kencannya kali ini adalah istimewa. Ia tahu benar bahwa juri ini adalah seorang figur publik yang berperan penting. Mungkin ia akan memompa kariernya di bidang lain setelah kontes melelahkan ini berakhir.
Ia tahu pacarnya juga tidak akan marah. Pacarnya akhirnya mengizinkannya juga ikut kontes ratu. Ia berhasil membujuk pacarnya karena bila ia dinobatkan sebagai ratu, pacarnya tentu akan naik daun menjadi pangeran negeri dongeng dan terpampang di media selebritis di seluruh negeri. Untung ia tidak sempat mengancam putus, sebab itu juga yang akan ia lakukan bila pacarnya melarang-larang melakukan pekerjaannya. Di zaman modern ini semua perempuan sudah ikut emansipasi, seperti negeri amarta. Kenyataannya ia akan putuskan juga pacarnya bila ia sudah terkenal nanti. Jika sudah terkenal, masalah laki-laki adalah masalah enteng. Ia bisa memilih selebritis yang ia sukai dan berganti-ganti pacar seperti berganti baju selepas bosan dengan satu lelaki.
Akhirnya bertemu juga ia dengan Mas Bagong, juri kontes ratu negeri yang berwajah tampan ini.
Ternyata Mas Bagong orangnya luwes, ramah, dan begitu memperhatikan orang lain. Belum apa-apa Tika sudah disambutnya seperti seorang putri. Ia sangat terhormat dengan dandanannya yang modis. Tika diajaknya makan malam tanpa diketahui seorang pun, bahkan dari kalangan wartawan.
Mulanya Tika agak grogi juga berhadapan dengan seorang master etiket di meja makan. Sedikit banyak, pertemuan ini akan mempengaruhi penilaiannya juga dalam kontes ratu-ratuan ini. Salah mengambil garpu akan mengurangi nilainya pada saat kontes. Tetapi ternyata Mas Bagong tidak memperlihatkan lagak penilaian. Ia berbicara sangat lepas layaknya seorang teman lama yang akrab. Sampai ia kaget ketika Mas Bagong berbicara satu hal.
“Tika, maukah kamu saya setubuhi? Kalau kamu mau, kamu akan saya tambah nilainya.”
Tika seperti perempuan yang dilamar, diam bebarapa saat. Rasa terkejutnya, sebagaimana biasa harus ditutupi. Tika tercenung dengan pertanyaan Mas Bagog yang begitu langsung, begitu lugas. Tetapi waktu hanyalah berdetaknya jam yang menghabiskan kesempatan hingga waktu berpikirnya habis. Ia harus menjawab pertanyaan juri yang paling ekstrem sekalipun dengan sebuah jawaban diplomatis. Tika menimbang-nimbang sebuah jawaban.
“Bener nih, kalau ml, saya akan dimenangkan?”
“Iya. Itu bisa diusahakan.”
“Di mana bisanya ada acara?”
“Itu bisa diatur.”
Demikianlah pembicaraan lainnya menjadi tidak begitu penting karena Mas Bagong memang selalu mengingatkan untuk menjaga etiket seorang putri bagi seorang wakil pariwisata seperti Tika.
Setelah perjamuan itu, siang dan malam adalah tagihan janji bagi Tika. Ia tak bisa mengabaikan pembicaraan dalam pertemuan itu. Ia begitu ingat bahwa ajakan untuk bercinta akan segera datang. Jiwanya menari dan sebuah lagu didendangkannya, “making love, out of nothing at all…making love….”
Peristiwa percintaan ini berjalan dengan begitu rapi. Setelah teleponnya berdering, Tika diingatkan bahwa ia akan segera dijemput untuk janji itu. Mobil melesat di jalan dan masuk ke area parkir hotel. Tika melangkah menuju kamar yang sudah diketahuinya. Pintu kamar dimasukinya setelah mengetuk sebagai tanda kedatangannya. Didapatinya makanan dan minuman terhidang di meja kamar, begitu menarik dan menggugah selera. Di dalam kamar itu orang yang sudah dikenalnya dengan sopan menunggu. Pintu dikunci dan Tika mendapati mendapati dirinya bersantai di ruangan yang nyaman itu. Semuanya berjalan dengan sangat rapi karena naluri seekor burung yang telah tanak birahinya hinggap di jiwanya. Naluri ini idak akan meleset sebagaimana biasanya.
Maka Tika pun menikmati cintanya seperti menikmati manisnya sirup di siang hari.
Beberapa saat setelah itu Mas Bagong terpuruk lemah setelah melepaskan cintanya ke dalam tubuh Tika. Mas Bagong bergumam dan rayuannya menjadi asam seperti getah yang lengket di tubuh.
“Tika, kamu sangat cantik ketika bercinta. Begitu pro! Kamu seperti putri yang baru mengenal cinta.”
Tika mengetahui rayuan itu. Tika membalas dengan senyuman. “Jadi Tuan sangat puas dengan pelayananku?”
Mas Bagong kini berganti menyeringai, “Tetapi aku tidak janji kamu jadi juara.”
“Kenapa?”
“Karena mungkin peserta lain juga memberi tubuhnya kepada juri lain.”
“Kalau begitu, rugi aku memberikan tubuhku.”
“Ee… jangan begitu, dong, Sayang.”
“Pokoknya aku akan adukan…” Walau marah, Tika tetap seperti kucing yang manja.
“Tak ada bukti, Nona Manis. Kondom sudah aku amankan ke tempat sampah.”
“Dasar kau.”
Akhirnya keduanya berpisah. Tika meninggalkan ruangan hotel tempat Mas Bagong masih terpuruk. Mas Bagong malas untuk segera mandi setelah bercinta. Ketika Tika melangkah ke pelataran parkir, mobil itu telah siap mengantarnya kembali ke karantina. Tika tak tahu mestikah ia mengingat cinta yang begitu berarti bagi kariernya ataukah melupakannya seperti mimpi sesaat.
Hari-hari Tika pun kembali seperti sedia kala. Kesibukannya dengan persaingan kontes ratu meliputi dirinya. Ia mungkin telah menjual sesuatu dengan harga yang begitu rendahnya untuk sesuatu yang tidak ada prospeknya di masa depan.
Tika memang sampai ke final. Dalam suasana final kontes ratu negeri ini semua penonton mengelu-elukannya. Di antara mereka, hampir semuanya mengirimkan pooling SMS untuk setiap kontestan yang didukungnya. Sekalipun di antara sepuluh finalis hanya ada satu yang juara, ada pula ratu favorit versi pemirsa.
Ia melihat pendukungnya melambai-lambai dan melonjak-lonjak ke arahnya. Tidak hanya dirinya yang akan kecewa bila ia jatuh dari kursi juara satu, tetapi sebagian pendukungnya yang bertaruh melalui SMS pun akan kecewa dengan kejatuhannya dari kursi ratu. Semua memang bisa terjadi. Tika bisa saja menang kontes ini atau pun gugur seperti yang lain. Ia melihat pacarnya pun ada di antara para pendukung yang melambai ke arahnya. Ia memberi dukungan penuh kepada Tika.
Tika ingat, pacarnya itu pernah juga meminta seperti yang diminta Mas Bagong. Tetapi Tika tak pernah memberinya. Ia memang tak pernah memberikan dirinya kepada calon suaminya. Tanpa banyak diketahui orang, bahkan tanpa diketahui pacarnya, ia telah disentuh pacarnya yang dulu sewaktu di sekolah menengah. Ia memang telah tuna, tetapi ia mesti melupakan peristiwa itu. Ia mesti berbuat seperti tidak ada peristiwa penting. Ia harus tetap alim dan tidak menyesali semuanya.
Dengan lagaknya demikian, ia telah cukup menutupi lukanya. Tika memang terluka dan telah sembuh dari lukanya. Tetapi dengan luka ini, kini tidak ada lagi yang dapat melarangnya dari ikut kontes ratu negeri atau bercinta dengan lekaki sesaat yang tak akan menjadi suaminya.
Malam ini, penentuan juara dari para finalis akan segera ditentukan. Penangkaran para calon ratu ini akan segera berakhir. Wakil dari juri tengah berjalan ke atas podium untuk mengumumkan juara satu. Seorang peragawan berjalan perlahan, hilir-mudik di antara para kontestan sambil mengunjukkan mahkota kontes ratu negeri di hadapan hadirin dan para finalis.
Siapakah yang akan juara?***

Iswara
Sumedang

4 thoughts on “Cerpen RATU SEJAGAT

  1. ass…..wow cerpennya sangat menarik sekali,saya seorang maniak cerpen..benar-benar bagus…tanpa harus mengetahui ending ceritanya..kita sudah bisa mendapat gambaran bahwa pemenangnya adalah…yang pasti,yang dapat mempertahankan mahkota(sebagai seorang wanita)oh ya..pak dikelas 1b,ada mahasiswi yang hobinya membuat cerpen,banyak sekali cerpen yang sudah saya baca, dari hasil karyanya..tetapi ia tidak inginmempublikasikan hasil karyanya..sayang sekali, padahal semua ceritanya sangat menarik,menurut saya pantas untuk dimuat,mohon bantuan dari bapak untuk membimbingnya agar lebih maju..dia bernama sofia..terima kasih sebelum dan sesudahnyaby.nita 1b

  2. ass…..”up to date, menarik, hebat”itulah komentar saya setelah membaca cerpen bapak. Dengan ending yang menggantung,semekin menambah daya tarik tersendiri bagi cerpen ini. Setiap orang di tuntut untuk masuk ke dunia cerpen dan menentukan sendiri ending dari cerpen ini.Shinta 1b

  3. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)Oleh Qinimain ZainFEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan. Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan – sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna. Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika). Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).BAGAIMANA strategi Anda?*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

  4. Mau info dunia penulisan yang remaja banget? Perlu lo tongkrongin blog http://elloaristhosiyoga.blogspot.com silahkan klik saja. Alamat penerbit? Alamat Majalah? Beserta email- emailnya? Ada! Info buku apalagi yang Bestseller? Wow Ada! Rangkaian seputar novel, cerpen, teenlit, chiclit and genk-genknya? So pasti ada! Info Sastra dan kawan-kawannya? Ada! Dunia penulisan? Ada! Dunia jurnalistik? Ada! Apa itu sinopsis? Ada! Cara-cara penulisan? Ada! Sekilas tentang musik? Ada! Info blog gratis? Ada! Atau yang paling asyik, mau baca cerpen-cerpen keren yang Gratisan? Or Free? Wow, ada banget, hanya untuk lo. Asli buat lo deh anak nongkrong Blog ini. Pokoke edukatif. Juga ada seabrek info gaul buat lo pecinta dunia penulisan.Sangat menariiik banget!!!! Paling gress deh.

Leave a Reply