Penelitian MELAKUKAN DAN MELAPORKAN PENELITIAN

Iswara
MELAKUKAN DAN MELAPORKAN PENELITIAN

Tulisan ini disarikan dari ceramah Prof.Dr. Yus Rusyana di kelas Pascasarjana UPI Bandung pada tanggal 19 Maret 2008.

BAB II
Penelitian sebenarnya bisa dimuai dari Bab II karena seorang peneliti harus melakukan studi terhadap ilmu-ilmu terdahulu. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan merupakan anak cucu dari ilmu pengetahuan yang telah dibuktikan sebelumnya. Peneliti harus memperhatikan kemungkinan untuk mengutip ilmu terdahulu, bukan hanya menyimpulkan dari ilmu terdahulu itu. Dengan mengutip, peneliti tersebut dapat membedakan antara pendapat peneliti dengan pendapat pendahulunya. Misalnya peneliti membutuhkan sejumlah definisi dari ilmu-ilmu terdahulu. Peneliti itu akan mengumpulkan sejumlah definisi dari sejumlah pakar. Bila sebuah kursi didefinisikan maka peneliti akan memperoleh sejumlah definisi kursi. Contoh definisi kursi adalah sebagai berikut. Kursi adalah alat untuk duduk. Kursi terbuat dari besi dan kayu. Kursi adayang mempunyai sandaran dan ada yang tidak. Dari definisi-definisi ini peneliti bisa menarik kesimpulan. Dengan demikian, kesimpulan bukanlah dari definisi terakhir atau dari satu definisi saja.

BAB I
Setelah melakukan studi terhadap ilmu-ilmu terdahulu, penelti akan dapat merumuskan masalah yang boleh jadi masalah itu belum diselesaikan oleh ilmuwan atau guru-guru terdahulu. Masalah itu menjadi pekerjaan rumah yang belum diselesaikan para pendahulu. Dengan demikian, peneliti tersebut berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah para pendahulu itu.

BAB III
Selanjutnya peneliti menentukan metode dan data penelitian. Metode penelitian dipilih untuk memecahkan masalah itu. Data penelitian harus ditentukan dengan cermat. Bila peneliti akan melakukan penelitian fonologi, maka data yang diambil adalah data fonologi, misalnya rekaman. Bila peneliti melakukan penelitian membaca maka data yang diambil adalah bacaan yang diujikan, hasil uji membaca.
Berkenaan dengan hasil uji membaca, peneliti mesti cermat mendeskripsikan data. Dengan demikian, peneliti tidak menaksir kemampuan si teruji berupa hasil akhir (angka-angka) saja. Peneliti harus dapat menjelaskan makna dari angka 5, 7 atau 9.

BAB IV
Setelah data diperoleh, maka data dianalisis. Analisis kualitatif memungkinkan bagi peneliti untuk melakukan penggolongan dan klasifikasi dari data yang diperolehnya. Analisis itu bisa saja dengan memilah unsur-unsurnya. Bila manusia dianalisis, maka manusia terdiri atas tangan, kepala, kaki, badan, telinga, otak dan sebagainya. Bila tumbuhan dianalisis maka tumbuhan terdiri atas daun, batang, ranting, bunga, buah, akar, dan sebagainya. Seseorang yang akan memasak sayur lodeh boleh jadi menganalisis bahan-bahannya seperti menganalisis kelapa agar diketahui kelapa yang baik dan berkualitas. Mungkin saja menganalisis dengan membelah atau mencincangnya. Sebaliknya, analisis kuantitatif menuntut peneliti untuk menjelaskan makna dari angka-angka.

BAB V
Setelah data dianalisis maka data disimpulkan. Simpulan itu bukan berarti mengambil lagi data yang sudah ada. Gambaran dari simpulan ialah seseorang yang telah memasak sayur lodeh. Bila telah masak, maka itulah kesimpulannya. Mesti diingat untuk tidak lagi memasukkan data mentah ke dalam simpulan. Bila sayur lodeh terdiri atas bahan mentah kelapa, buncis, kacang merah, gula, asam; bahan mentah itulah yang disebut data.

Penelitian E-LEARNING SEBAGAI RANAH PENELITIAN PENDIDIKAN BAHASA DI UPI KAMPUS SUMEDANG

Iswara
E-LEARNING SEBAGAI RANAH PENELITIAN PENDIDIKAN BAHASA DI UPI KAMPUS SUMEDANG

Pengantar
Pada saat ini internet mulai merambah ke segala bidang, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, hobi dan lain-lain. Bila pada sekitar tujuh tahun yang lalu tidak ditemui warung internet (warnet, internet café) di kota-kota, kini warnet telah banyak dijumpai di kota-kota.
Fenomena dikenalnya internet oleh masyarakat tidak terlepas dari keyakinan akan kekuatan internet sendiri di masa depan. Bila pada tahun 1970-an televisi dianggap sebagai barang baru dan mewah, pada tahun 2000-an (tiga puluh tahun kemudian) televisi telah menjadi barang yang biasa bahkan di pelosok-pelosok desa. Bila internet pada tahun 2000-an dianggap baru dan mewah, bukan tidak mungkin pada sepuluh atau lima belas tahun mendatang, pelosok-pelosok desa telah menjangkau internet. Ketika televisi diyakini sebagai alat telekomunikasi pemersatu, negeri ini mengejar penggunaan televisi hingga ke desa-desa. Demikian pula ketika internet diyakini memberi manfaat yang lebih besar daripada televisi, negeri ini mengejar penggunaan televisi hingga ke desa-desa.
Penggunaan internet bisa saja dimassalkan hingga ke desa-desa. Tetapi negeri ini masih mempunyai ganjalan yang cukup besar bagi pengembangannya yaitu adakah masyarakat siap untuk mendukung internet? Bila pertanyaan ini dilontarkan di kota-kota besar jelas jawabannya, ”Ya”. Dengan demikian akan terlihat kota-kota besar telah mempunyai server yang memusatkan administrasinya dengan internet. Tetapi bila pertanyaan ini dilontarkan ke desa-desa, belum tentu jawabannya, ”Ya”.
Berdasarkan pengamatan sepintas, pengguna internet pada saat ini lebih banyak kaum muda daripada orang-orang tua. Munculnya warung internet mendorong pemuda-pemuda untuk mencari tahu wujud internet yang sebenarnya. Berdasarkan jam terbang pun seseorang akan mengetahui berbagai fasilitas yang terdapat di internet seperti browsing, e-mail, chat (misalnya mIRC, yahoo messenger), video chatting, atau voice over internet protocol (VoIP).
Aktifitas browsing mungkin merupakan salah satu aktifitas internet yang paling sering dilakukan. Dengan browsing, seorang pengguna internet akan memperoleh teks yang diinginkannya. Pada saat ini dengan browsing tidak hanya teks yang bisa diperoleh melainkan bisa multimedia (hypertext) seperti foto (jpg, gif) rekaman suara (MP3, wav), film (DAT, 3GP, AVI), animasi (swf) atau dokumen lainnya (doc, xls, pdf, txt).
Seorang administrator (biasanya disingkat admin) situs e-learning tentu dapat melihat potensi penelitian dalam e-learning. Tetapi tidak mereka saja. Orang-orang yang telah menggunakan internet pun (atau menggunakan e-learning) dapat melihat potensi penelitian itu. Ranah penelitian e-learning memang boleh dikatakan masih baru, karena memang munculnya e-learning ini pun ramainya belum sampai belasan tahun. Sekalipun sejak dahulu telah ditemukan berbagai program pembelajaran seperti computer assisted instruction (CAI) dan semacamnya, program pembelajaran seperti itu berkembang pesat setelah ditemukannya internet, bahkan setelah ditemukannya bahasa pemrograman internet seperti active server pages (ASP) dan personal homepages: hypertext preprocessor (PHP).

E-learning berbasis Moodle di Internet
Pada saat ini Moodle sebagai sistem manajemen pembelajaran (course management system) merupakan salah satu program internet yang sangat terkenal karena merupakan program gratis dan terbuka (free, open source software package). Pengguna tinggal men-download-nya dan menginstalnya di server. Pengetahuan dasar yang mesti dimiliki pengguna adalah bahasa pemrograman dasar internet personal homepages: hypertext preprocessor (PHP). Dengan memahami bahasa PHP, seorang pengguna dapat menyetel bahkan mengubah tampilan Moodle (lihat http://moodle.org).
Hingga saat ini sudah banyak situs yang menggunakan program Moodle. Pengguna-pengguna program Moodle dapat dilihat di http://moodle.org/sites/ di antaranya FPMIPA UPI (http://fpmipa.upi.edu/kuliah) dan Universitas Terbuka (http://student.ut.ac.id/), ITB (http://kuliah.itb.ac.id/), Fisika UI (http://e-learning.fisika.ui.ac.id/), FE UGM (http://www.mep.ugm.ac.id/moodle). Beberapa institusi yang terdaftar di situs resmi Moodle bahkan merupakan sekolah menengah dan kursus.

Situs UPI Kampus Sumedang
Mulai pertengahan tahun ini (sekitar bulan Juni 2007) UPI Kampus Sumedang telah mengembangkan situs e-learning. Para pengajar dan pembelajar dapat mengakses situs e-learning ini dari alamat http://kd-sumedang.upi.edu. Situs ini didukung penuh oleh teknologi Moodle (moodle.org). Teknologi Moodle merupakan teknologi e-learning yang dikenal luas oleh pengguna / programer internet berbasis personal home pages (PHP: Hypertext Preprocessor) karena berupa open source program. Sekali program ini terpasang di server, pengguna (pengajar dan pembelajar) dapat melakukan berbagai aktifitas belajar-melajar dengan basis e-learning.
Di UPI Kampus Sumedang sendiri terdapat beberapa pengajar yang berpotensi untuk dapat menggunakan Moodle sepenuhnya (lihat boks angket). Pelajaran-pelajaran bahasa, matematika, ilmu pengetahuan sosial, dan ilmu pengetahuan alam berpotensi dikembangkan di sana. Setidaknya di UPI Kampus sumedang sendiri terdapat dosen teknologi informasi dan komunikasi dan dosen penggunaan komputer bagi pengajar taman kanak-kanak.
Salah satu pertanyaan mengemuka berkenaan dengan internet dan e-learning. Perlukah penguasaan teknologi informasi bagi pengajar sekolah dasar dan taman kanak-kanak? Seorang dosen teknologi informasi dan komunikasi (DTIK) UPI Kampus Sumedang berpendapat bahwa calon pengajar sekolah dasar dan taman kanak-kanak tidak kurang perlunya dalam penguasaan teknologi informasi karena era perdagangan bebas memungkinkan pengajar untuk mempunyai kualitas demikian. Tidak diragukan lagi bahwa komputer tidak hanya diperlukan oleh orang berdisiplin ilmu komputer saja. Komputer bahkan telah menjadi kebutuhan pribadi setiap individu. Idealnya, satu komputer untuk satu orang. Hal ini menjadi salah satu dasar dikembangkannya e-learning di UPI Kampus Sumedang.
Dari tampilan luarnya situs UPI Kampus Sumedang ini dikembangkan dari theme yang berbeda dari default Moodle. Situs UPI Kampus Sumedang menggunakan theme silver sehingga ketika seseorang mengaksesnya, terlihat situs ini didominasi oleh warna perak dengan tulisan yang jelas berwarna hitam. Situs ini masih menggunakan default bahasa Inggris. Sekalipun demikian, pelajaran-pelajaran yang di-upload di sana menggunakan bahasa Indonesia. Program Moodle sebenarnya dapat diinstal dengan berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Halaman awal situs ini menampilkan berita, pemberitahuan dan kolom login.

Pada umur yang relatif muda, situs ini memang baru menampilkan berita, di antaranya berita pelatihan asesor yang diikuti dosen UPI Kampus Sumedang (Agustus), praktik pengalaman lapangan (PPL) kependidikan (Agustus), kuliah kerja nyata UPI Kampus Sumedang (Juli), penerimaan mahasiswa baru (Juni). Pada situs ini pula terdapat beberapa kuis dan survey yang merupakan contoh (demo) bagi pengajar untuk dapat menyusun kuis yang relevan dengan mata kuliahnya masing-masing. Kuis yang ditampilkan sebagai contoh ialah kuis kebersihan (IPS), sastra, dan matematika. Tanpa harus log-in, pengguna dapat mencoba kuis ini. Pengguna kuis ini dituntut untuk mengerjakan soal pilihan jamak (multiple choice) dan esai singkat. Karena hanya contoh, soal yang diberikan tak lebih dari 10 soal. Pengakses soal langsung mendapatkan nilai setelah mengerjakan soalnya. Selain terdapat kuis, sekalipun belum terdapat di situs ini, e-learning berbasis Moodle memungkinkan pengajar dan pembelajar berinteraksi melalui pengiriman tugas-tugas atau memasuki ruang obrol (chat), atau berkirim pesan (offline messages, seperti e-mail).
Di samping berita dan kuis, dalam situs ini pun terdapat link pada situs Moodle lainnya, di antaranya situs FPMIPA UPI Bandung (http://fpmipa.upi.edu/kuliah), FPTK UPI Bandung (http://fptk.upi.edu), dan Universitas Terbuka (http://student.ut.ac.id/). Dengan melihat situs lain dalam link ini, pengajar dan pembelajar dapat melihat potensi pengembangan situs UPI Kampus Sumedang bagi mereka sendiri. Salah seorang dosen UPI Kampus Sumedang telah berkomunikasi dengan dosen FPMIPA berkenaan dengan penggunaan Moodle. Dosen UPI Kampus Sumedang lainnya bahkan diizinkan melihat video presentasi dosen FPMIPA sebagai bagian dari kegiatan Moodlenya. Bertukar informasi, berkirim pesan, mengisi bulletin board merupakan kegiatan yang lazim dilakukan bahkan di situs resmi Moodle (moodle.org).
Selanjutnya, bila seseorang diizinkan log-in ke dalam situs UPI Kampus Sumedang ini, ia dapat mengakses mata kuliah yang ada di dalamnya. Dalam situs ini terlihat beberapa mata kuliah tengah dikembangkan. Mata kuliah ini terlihat masih dalam pengembangan dan tidak terkunci oleh password. Mata kuliah yang terlihat di situs ini adalah (1) Dasar-dasar Teknologi Informasi dan Komunikasi, (2) Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Rendah, (3) Teori dan Sejarah Sastra, (4) Membaca dan Menulis di Sekolah Dasar: Teori dan Praktik, serta (5) Pendidikan Bahasa Indonesia di Kelas Tinggi. Pada mata kuliah Teori dan Sejarah Sastra terdapat beberapa diskusi awal berkenaan dengan beberapa materi kuliahnya berupa link pada beberapa situs sajak dan file pembacaan sajak.
Menurut salah seorang dosennya yang merupakan admin dari situs UPI Kampus Sumedang, penggunaan e-learning ini memungkinkan banyak potensi bagi para pengajar (dosen) dan pembelajar (mahasiswa) UPI Kampus Sumedang. Potensi ini bisa disertakan dalam penelitian pada setiap disiplin ilmu berkenaan dengan e-learning, misalnya berkenaan dengan prosedur, efektifitas dan efisiensi. Modul Moodle sendiri dapat dikembangkan menurut situs resminya. Untuk mendukung penelitian seperti itu, Moodle mempunyai perangkat survey yang telah diinstal di situs UPI Kampus Sumedang.
Di UPI Kampus Sumedang terdapat 25 komputer yang online dengan network internet. Kedua puluh lima komputer itu terdapat dalam satu gedung yang dibagi menjadi dua ruang. Sekalipun rasio jumlah komputer dengan mahasiswa tidak ideal, keberadaan komputer itu amat meringankan dahaga keingintahuan pembelajar tentang teknologi internet. Selain 25 komputer itu, ada pula komputer lain yang dijalankan di luar network yaitu satu buah di gunakan sebagai administrasi perpustakaan, tiga buah di kantor akademik, dan dua buah digunakan di kantor tata usaha. Beberapa laptop digunakan sebagai pesawat portable untuk presentasi di kelas-kelas tertentu dan kelas pascasarjana. Tidak seperti di UPI.net Bumi Siliwangi dan Pascasarjana UPI Kampus Bumi Siliwangi, UPI.net Kampus Sumedang belum memasang hotspot WiFi di kampusnya. Di Sumedang sendiri pada saat ini (di luar Jatinangor) hanya UPI Kampus Sumedang yang merupakan kampus yang online.
Keberadaan situs ini akan bergantung pada potensi pengajar dan pembelajarnya. Menurut Erik, salah seorang pembelajar UPI Kampus Sumedang, penggunaan e-learning bagi pembelajar dapat saja diwajibkan. Pengajarlah yang mempunyai inisiatif untuk menentukan penggunaan media e-learning itu. Menurutnya pula partisipasi pembelajar secara mutlak diperlukan mengingat pentingnya penguasaan komputer seiring tuntutan zaman.
Sebanyak 35 lembar angket yang disebar kepada para pembelajar UPI Kampus Sumedang dan 10 lembar disebar kepada pengajar UPI Kampus Sumedang menunjukkan 53,33% dari responden cukup tertarik pada situs UPI Kampus Sumedang (http://kd-sumedang.upi.edu). Namun, dari pembelajar itu 42,22% dari responden mengaku kurang tertarik pada e-learning. Diketahui pula bahwa selama ini 60,00% dari responden merasa kurang terbantu dengan e-learning (lihat bantuan e-learning dalam pendidikan).

Hasil angket di atas merupakan gambaran bagi pembelajar dan pengajar UPI Kampus Sumedang tentang e-learning dan situs http://kd-sumedang.upi.edu. Harapan bagi pengembangan wawasan pengajar dan pembelajar UPI Kampus Sumedang jelas terbuka lebar mengingat umur situs ini yang masih relatif muda, atau boleh dikatakan masih bayi (dua bulan sejak Juni 2007).

Potensi Penelitian Pendidikan Bahasa
Wilayah penelitian pendidikan berikut merupakan modifikasi dari pendapat Arikunto (1999: 295) berkenaan dengan objek atau sasaran evaluasi program.

Melihat banyaknya wilayah penelitian di atas, seorang calon peneliti tentu dapat melihat wilayah mana yang paling memungkinkan baginya untuk diteliti. Penelitian berkenaan dengan e-learning pada wilayah di atas masih tergolong baru sehingga amat menarik untuk dikembangkan.
Sebagai pembanding dapat digunakan Nurgiyantoro (1988) berkenaan dengan penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra. Nurgiyantoro menguraikan contoh penilaian dalam pembelajaran berdasarkan tingkat kategori Bloom: (1) tingkat ingatan, (2) tingkat pemahaman, (3) tingkat aplikasi, (4) tingkat analisis, (5) tingkat sintesis, (6) tingkat evaluasi. Uraian berikut dimodifikasi dari Nurgiyantoro (1988) di antaranya
1. tes kompetensi kebahasaan
tes struktur tata bahasa
tes kosakata
2. tes kemampuan reseptif
tes kemampuan menyimak
tes kemampuan membaca
3. tes kemampuan produktif
tes kemampuan berbicara
tes kemampuan menulis
4. tes kesastraan
tujuan, bahan dan penilaian dalam pengajaran kesastraan
pendekatan taksonomis tes kesastraan
penilaian ranah kognitif
penilaian ranah afektif
penilaian ranah psikomotor
tingkatan tes kesastraan
tes kesastraan kategori Moody
tes kesastraan tingkat informasi
tes kesastraan tingkat konsep
tes kesastraan tingkat perspektif
tes kesastraan tingkat apresiasi

Penilaian dalam pembelajaran sangatlah penting karena menjadi indikator keberhasilan pembelajaran. Penilaian dalam pembelajaran pun dapat menjadi bagian penelitian e-learning.
Van Dalen (1962) dan McMillan-Schumacher (1989) mengungkapkan dasar pemerolehan pengetahuan melalui penelitian. Selain itu mereka menguraikan sejumlah pembahasan dalam penelitian pendidikan. Van Dalen (1962: 175) mengungkapkan penilaian efektifitas pembelajaran (assessment of teacher effectiveness).

Wawasan berkenaan dengan lingkup penelitian pendidikan akan diungkap McMillan-Schumacher (1989) berkenaan dengan penelitian kuantitatif maupun kualitatif; penelitian evaluasi (evaluation research) dan penelitian komunikasi kependidikan (communication of educational research).
Berdasarkan uraian Arikunto (1999), Nurgiyantoro (1988) atau Van Dalen (1962) di atas, keberadaan e-learning amat relevan dengan penelitian pendidikan. Ranah-ranah yang dapat diteliti pun demikian beragam yang memungkinkan untuk diadakan sebuah penelitian besar yang memayungi penelitian-penelitian lainnya yang lebih kecil.

Daftar Pustaka
Arikunto, S. (1999) Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi). Jakarta: Bumi Aksara.
Arikunto, S. (1989) Manajemen Penelitian. Jakarta: Depdikbud.
http://moodle.org
http://kd-sumedang.upi.edu
McMillan, J.H; S. Schumacher (1989) Research in Education: A Conceptual Introduction (2nd edition). Virginia: Harper Collins.
Nurgiyantoro, B. (1988) Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Van Dalen, D.B. (1962) Understanding Educational Research. New York: McGraw-Hill.

Cerita Nabi PENDETA BUHAIRA

PENDETA BUHAIRA

Ketika itu Muhammad masih remaja. Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Ketika ia masih berumur enam bulan dalam kandungan ibunya, ayahnya meninggal. Ibunya pun, Sitti Aminah hanya beberapa tahun saja memelihara nabi. Ketika berumur kurang lebih enam tahun, ibunya meninggal dunia. Pengasuhan Muhammad lalu diserahkan kepada kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Abdul Muthalib pun hanya beberapa tahun saja memelihara Muhammad lalu Abdul Muthalib pun meninggal dunia. Pengasuhan Muhammad pun diserahkan kepada pamannya yaitu Abu Thalib.

Abu Thalib ini mewarisi pekerjaan ayahnya yaitu sebagai penjaga Kabah. Selain sebagai penjaga Kabah, Abu Thalib ini pun seorang pedagang. Pada suatu hari Abu Thalib hendak berdagang ke negeri Syam. Abu Thalib lalu mengajak Muhammad yang ketika itu masih remaja untuk pergi berdagang ke negeri Syam. Muhammad setuju menemani pamannya berdagang ke negeri Sya. Berangkatlah kabilah Abu Thalib ke negeri Syam.

Di tengah perjalanan terjadi keanehan pada kabilah Abu Thalib. Kabilah ini ternyata senantiasa dinaungi oleh awan. Dengan demikian, kabilah ini tidak merasa demikian lelah dalam perjalanan mereka. Bila disamakan dengan kartun, peristiwa Muhammad dinaungi oleh awan ini mungkin mirip dengan Avatar. Dalam cerita wayang, Krisna pun demikian.

Sampailah kabilah Abu Thalib di sebuah tempat yang didiami sejumlah penduduk, sebelum tiba di negeri Syam. Salah seorang di antara penduduk itu adalah Pendeta Buhaira. Melihat kabilah Abu Thalib, pendeta itu lalu bertanya, “Siapa pemimpin kalian?” Seseorang menjawab, “Abu Thalib.” Pendeta Buhaira berkata lagi, “Coba panggil ke mari!”. Abu Thalib pun datang bersama Muhammad. Ketika Pendeta Buhaira itu melihat Muhammad, ia lalu bertanya kepada Abu Thalib, “Siapakah pemuda ini?” Mendengar pertanyaan itu, Abu Thalib, karena cintanya kepada Muhammad mengatakan bahwa Muhammad adalah putranya. Tetapi Pendeta Buhaira menjawab, “Tidak. Dia bukan putramu. Tak mungkin dia putramu.” Akhirnya Abu Tahlib mengakui bahwa Muhammad adalah putra saudaranya, Abdullah yang telah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan.

Pendeta Buhaira mengetakan bahwa ia melihat kabilah yang dinaungi awan. Ia pun mengetahui dari kitabnya bahwa nabi akhir zaman mempunyai tanda-tanda demikian dan akan lahir dalam keadaan yatim. Mendengar itu yakinlah Pendeta Buhaira bahwa Muhammad akan menjadi nabi akhir zaman. Pendeta Buhaira lalu berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga Muhammad karena banyak orang jahat yang berniat membunuhnya.

Karena khawatir akan keselamatan Muhammad, Abu Thalib segera pulang ke Mekah dan tak melanjutkan perjalanan bisnisnya untuk tahun itu.

Cerita Nabi SHOLAWAT KEPADA NABI & KELUARGANYA

SHOLAWAT KEPADA NABI DAN KELUARGA NABI

Setiap hari kita mengucapkan salawat yang bermakna semoga Allah memberikan salawat kepada nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad. Pertanyaan yang mengemuka dari salawat adalah siapa yang dimaksud dengan keluarga Nabi Muhammad?

Ada satu peristiwa yang disebut peristiwa mubahalah atau tanding doa antara Nabi dengan orang-orang Nasrani dari Najran. Pada suatu masa, Nabi didatangi oleh kabilah dari Nasrani dari Najran. Kabilah ini ingin bertemu dengan Nabi karena mendengar kabar tentang kenabian beliau. Kabilah ini hendak menguji kebenaran berita itu.

Orang dari kabilah itu berkata, “Siapakah ayah Musa?”
Nabi menjawab, “Imran.”
“Lalu siapakah ayah Isa?”
Mendengar pertanyaan itu Nabi lalu menjawab dengan sebuah ayat yang mengatakan bahwa perumpamaan penciptaan Isa adalah sebagaimana penciptaan Adam.
Orang dari kabilah itu terkejut. Lalu berkata bahwa Nabi berbohong.
Nabi bersaksi bahwa perkataannya itu benar, tetapi orang itu tetap tidak mau menerima. Maka dikatakanlah bahwa jika tetap bersikaras pada pendirian masing-masing, maka boleh memohon kepada Allah swt agar orang yang berbohong mendapatkan azab dari Allah. Peristiwa memohon kepada Allah ini disebut mubahalah atau tanding doa. Orang-orang yang dibawa oleh nabi untuk tanding doa ini adalah orang-orang pilihan yaitu Fatimah putri Muhammad, Hasan cucu Nabi, Husain cucu Nabi, dan Ali bin Abi Thalib. Inilah yang disebut ahlul bait nabi, aali Muhammad, dzil kurba, itrah nabi atau keluarga nabi.

Tengang ahlul bait nabi, berikut ini dikutip dari http://al-shia.com/html/id/index.php?p=6∂=1

Setelah Imam Husain cucu nabi terbantai di Karbala, Irak; keluarga Al-Husain (Imam Husain) digiring menuju istana Yazid.

Perawi berkata: Seorang lelaki tua datang mendekati para tawanan keluarga Al-Husain as. dan berkata, “Puji syukur ke hadirat Allah yang telah membinasakan kalian, menjadikan dunia ini aman dari kekacauan yang kalian buat dan memberi kesempatan kepada Amirul Mukminin untuk menghabisi kalian.”

Ali bin Al-Husain as. bertanya kepada orang itu, “Hai syekh, apakah anda pernah membaca Al-Quran ?”

“Ya,”jawabnya.

“Tahukah anda ayat ini:

قل لا أسألكم عليه أجرا الا المودة في القربى

“Katakanlah: Aku tidak meminta sesuatu upahpun dari kalian atas seruanku ini kecuali kasih sayang kalian kepada keluargaku (Q.S. Syuro: 23).”

“Ya, ayat ini sudah pernah aku baca,”jawabnya.

“Kamilah yang keluarga Nabi saw. yang dimaksudkan ayat itu. Hai Syekh, pernahkah kau membaca ayat yang ada di surath bani Israil ini:

وآت ذا القربى حقه

“Berikanlah kepada keluarga dekat hak-hak mereka (Q.S. Bani Israil: 26)?” tanya beliau lagi.

“Ya, aku pernah membacanya,”jawab orang tua itu.

“Kamilah keluarga yang dimaksud ayat itu. Hai Syekh pernahkah kau membaca ayat ini:

واعلموا أنما غنمتم من شيء فأن لله خمسه وللرسول ولذي القربى

“”Ketahulah bahwa sesungguhnya apa saja yang kalian dapatkan sebagai ghanimah, maka seperlimanya adalah milik Allah, Rasul, keluarga dekat Rasul … ( Q.S. Al-Anfal: 41)?” tanya beliau lagi.

“Ya,” sahut si syekh.

“Kamilah keluarga dekat Rasul itu. Hai Syekh, pernahkah kau membaca ayat:

انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

“Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan dosa kalian, wahai Ahlul bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya (Q.S. Al-Ahzab: 33)?”

“Ya, aku pernah membacanya,” jawabnya mantap.

Beliau berkata, “Kamilah Ahlul Bait yang telah Allah istimewakan dalam ayat thaharah ini, wahai Syekh.”

Perawi selanjutnya berkata: Pak tua itu terdiam menyesali kata-kata yang telah keluar dari mulutnya itu dan berkata, “Bersumpahlah demi Allah bahwa kalian adalah mereka yang disebutkan dalam ayat-ayat tadi !”

Ali bin Al-Husain as. menjawab, “Demi Allah, tanpa diragukan lagi, kami adalah mereka. Demi kakek kami Rasulullah, kamilah mereka yang dimaksudkan oleh ayat-ayat itu.”

Orang tadi menangis sejadi-jadinya seraya melemparkan serban yang dikenakannya. Lalu mengangkat kepala ke atas dan berkata, “Ya Allah, aku berlepas tangan dari musuh-musuh keluarga Muhammad, baik jin maupun manusia.” Kemudian ia berpaling ke Ali bin Al-Husain as. dan berkata, “Masih adakah kesempatanku untuk bertaubat ?”

Beliau menjawab, “Tentu, jika kau benar-benar mau bertaubat, Allah pasti akan menerimanya dan kau akan bersama kami.”

“Aku kini bertaubat,” ujarnya.

Poem BECOME A POEM

Iswara
BECOME A POEM

To be with you
all the sorrow that hangs in pillar of day has fade away
worried has gone long time ago
and such worried will never return to fill the time eternally

With this poem I ask you to walk away in this beautiful garden
special menu are available and hunger waits in a heart
and love become special medicine
because you there is very close to this heart

Bow to love is a simple pleasure
that made zionist curse and izrail anger fall apart
no rain and dissaster will drop it down
and arbain prayer become special medicine

March 2008