Cerita Nabi SHOLAWAT KEPADA NABI & KELUARGANYA

SHOLAWAT KEPADA NABI DAN KELUARGA NABI

Setiap hari kita mengucapkan salawat yang bermakna semoga Allah memberikan salawat kepada nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad. Pertanyaan yang mengemuka dari salawat adalah siapa yang dimaksud dengan keluarga Nabi Muhammad?

Ada satu peristiwa yang disebut peristiwa mubahalah atau tanding doa antara Nabi dengan orang-orang Nasrani dari Najran. Pada suatu masa, Nabi didatangi oleh kabilah dari Nasrani dari Najran. Kabilah ini ingin bertemu dengan Nabi karena mendengar kabar tentang kenabian beliau. Kabilah ini hendak menguji kebenaran berita itu.

Orang dari kabilah itu berkata, “Siapakah ayah Musa?”
Nabi menjawab, “Imran.”
“Lalu siapakah ayah Isa?”
Mendengar pertanyaan itu Nabi lalu menjawab dengan sebuah ayat yang mengatakan bahwa perumpamaan penciptaan Isa adalah sebagaimana penciptaan Adam.
Orang dari kabilah itu terkejut. Lalu berkata bahwa Nabi berbohong.
Nabi bersaksi bahwa perkataannya itu benar, tetapi orang itu tetap tidak mau menerima. Maka dikatakanlah bahwa jika tetap bersikaras pada pendirian masing-masing, maka boleh memohon kepada Allah swt agar orang yang berbohong mendapatkan azab dari Allah. Peristiwa memohon kepada Allah ini disebut mubahalah atau tanding doa. Orang-orang yang dibawa oleh nabi untuk tanding doa ini adalah orang-orang pilihan yaitu Fatimah putri Muhammad, Hasan cucu Nabi, Husain cucu Nabi, dan Ali bin Abi Thalib. Inilah yang disebut ahlul bait nabi, aali Muhammad, dzil kurba, itrah nabi atau keluarga nabi.

Tengang ahlul bait nabi, berikut ini dikutip dari http://al-shia.com/html/id/index.php?p=6∂=1

Setelah Imam Husain cucu nabi terbantai di Karbala, Irak; keluarga Al-Husain (Imam Husain) digiring menuju istana Yazid.

Perawi berkata: Seorang lelaki tua datang mendekati para tawanan keluarga Al-Husain as. dan berkata, “Puji syukur ke hadirat Allah yang telah membinasakan kalian, menjadikan dunia ini aman dari kekacauan yang kalian buat dan memberi kesempatan kepada Amirul Mukminin untuk menghabisi kalian.”

Ali bin Al-Husain as. bertanya kepada orang itu, “Hai syekh, apakah anda pernah membaca Al-Quran ?”

“Ya,”jawabnya.

“Tahukah anda ayat ini:

قل لا أسألكم عليه أجرا الا المودة في القربى

“Katakanlah: Aku tidak meminta sesuatu upahpun dari kalian atas seruanku ini kecuali kasih sayang kalian kepada keluargaku (Q.S. Syuro: 23).”

“Ya, ayat ini sudah pernah aku baca,”jawabnya.

“Kamilah yang keluarga Nabi saw. yang dimaksudkan ayat itu. Hai Syekh, pernahkah kau membaca ayat yang ada di surath bani Israil ini:

وآت ذا القربى حقه

“Berikanlah kepada keluarga dekat hak-hak mereka (Q.S. Bani Israil: 26)?” tanya beliau lagi.

“Ya, aku pernah membacanya,”jawab orang tua itu.

“Kamilah keluarga yang dimaksud ayat itu. Hai Syekh pernahkah kau membaca ayat ini:

واعلموا أنما غنمتم من شيء فأن لله خمسه وللرسول ولذي القربى

“”Ketahulah bahwa sesungguhnya apa saja yang kalian dapatkan sebagai ghanimah, maka seperlimanya adalah milik Allah, Rasul, keluarga dekat Rasul … ( Q.S. Al-Anfal: 41)?” tanya beliau lagi.

“Ya,” sahut si syekh.

“Kamilah keluarga dekat Rasul itu. Hai Syekh, pernahkah kau membaca ayat:

انما يريد الله ليذهب عنكم الرجس أهل البيت ويطهركم تطهيرا

“Sesungguhnya Allah berkehendak untuk menghilangkan dosa kalian, wahai Ahlul bait, dan mensucikan kalian sesuci-sucinya (Q.S. Al-Ahzab: 33)?”

“Ya, aku pernah membacanya,” jawabnya mantap.

Beliau berkata, “Kamilah Ahlul Bait yang telah Allah istimewakan dalam ayat thaharah ini, wahai Syekh.”

Perawi selanjutnya berkata: Pak tua itu terdiam menyesali kata-kata yang telah keluar dari mulutnya itu dan berkata, “Bersumpahlah demi Allah bahwa kalian adalah mereka yang disebutkan dalam ayat-ayat tadi !”

Ali bin Al-Husain as. menjawab, “Demi Allah, tanpa diragukan lagi, kami adalah mereka. Demi kakek kami Rasulullah, kamilah mereka yang dimaksudkan oleh ayat-ayat itu.”

Orang tadi menangis sejadi-jadinya seraya melemparkan serban yang dikenakannya. Lalu mengangkat kepala ke atas dan berkata, “Ya Allah, aku berlepas tangan dari musuh-musuh keluarga Muhammad, baik jin maupun manusia.” Kemudian ia berpaling ke Ali bin Al-Husain as. dan berkata, “Masih adakah kesempatanku untuk bertaubat ?”

Beliau menjawab, “Tentu, jika kau benar-benar mau bertaubat, Allah pasti akan menerimanya dan kau akan bersama kami.”

“Aku kini bertaubat,” ujarnya.

Leave a Reply