Cerita Nabi PENDETA BUHAIRA

PENDETA BUHAIRA

Ketika itu Muhammad masih remaja. Muhammad diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Muhammad lahir dalam keadaan yatim. Ketika ia masih berumur enam bulan dalam kandungan ibunya, ayahnya meninggal. Ibunya pun, Sitti Aminah hanya beberapa tahun saja memelihara nabi. Ketika berumur kurang lebih enam tahun, ibunya meninggal dunia. Pengasuhan Muhammad lalu diserahkan kepada kakeknya yaitu Abdul Muthalib. Abdul Muthalib pun hanya beberapa tahun saja memelihara Muhammad lalu Abdul Muthalib pun meninggal dunia. Pengasuhan Muhammad pun diserahkan kepada pamannya yaitu Abu Thalib.

Abu Thalib ini mewarisi pekerjaan ayahnya yaitu sebagai penjaga Kabah. Selain sebagai penjaga Kabah, Abu Thalib ini pun seorang pedagang. Pada suatu hari Abu Thalib hendak berdagang ke negeri Syam. Abu Thalib lalu mengajak Muhammad yang ketika itu masih remaja untuk pergi berdagang ke negeri Syam. Muhammad setuju menemani pamannya berdagang ke negeri Sya. Berangkatlah kabilah Abu Thalib ke negeri Syam.

Di tengah perjalanan terjadi keanehan pada kabilah Abu Thalib. Kabilah ini ternyata senantiasa dinaungi oleh awan. Dengan demikian, kabilah ini tidak merasa demikian lelah dalam perjalanan mereka. Bila disamakan dengan kartun, peristiwa Muhammad dinaungi oleh awan ini mungkin mirip dengan Avatar. Dalam cerita wayang, Krisna pun demikian.

Sampailah kabilah Abu Thalib di sebuah tempat yang didiami sejumlah penduduk, sebelum tiba di negeri Syam. Salah seorang di antara penduduk itu adalah Pendeta Buhaira. Melihat kabilah Abu Thalib, pendeta itu lalu bertanya, “Siapa pemimpin kalian?” Seseorang menjawab, “Abu Thalib.” Pendeta Buhaira berkata lagi, “Coba panggil ke mari!”. Abu Thalib pun datang bersama Muhammad. Ketika Pendeta Buhaira itu melihat Muhammad, ia lalu bertanya kepada Abu Thalib, “Siapakah pemuda ini?” Mendengar pertanyaan itu, Abu Thalib, karena cintanya kepada Muhammad mengatakan bahwa Muhammad adalah putranya. Tetapi Pendeta Buhaira menjawab, “Tidak. Dia bukan putramu. Tak mungkin dia putramu.” Akhirnya Abu Tahlib mengakui bahwa Muhammad adalah putra saudaranya, Abdullah yang telah meninggal ketika Muhammad masih dalam kandungan.

Pendeta Buhaira mengetakan bahwa ia melihat kabilah yang dinaungi awan. Ia pun mengetahui dari kitabnya bahwa nabi akhir zaman mempunyai tanda-tanda demikian dan akan lahir dalam keadaan yatim. Mendengar itu yakinlah Pendeta Buhaira bahwa Muhammad akan menjadi nabi akhir zaman. Pendeta Buhaira lalu berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga Muhammad karena banyak orang jahat yang berniat membunuhnya.

Karena khawatir akan keselamatan Muhammad, Abu Thalib segera pulang ke Mekah dan tak melanjutkan perjalanan bisnisnya untuk tahun itu.

Leave a Reply