Penelitian MELAKUKAN DAN MELAPORKAN PENELITIAN

Iswara
MELAKUKAN DAN MELAPORKAN PENELITIAN

Tulisan ini disarikan dari ceramah Prof.Dr. Yus Rusyana di kelas Pascasarjana UPI Bandung pada tanggal 19 Maret 2008.

BAB II
Penelitian sebenarnya bisa dimuai dari Bab II karena seorang peneliti harus melakukan studi terhadap ilmu-ilmu terdahulu. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan merupakan anak cucu dari ilmu pengetahuan yang telah dibuktikan sebelumnya. Peneliti harus memperhatikan kemungkinan untuk mengutip ilmu terdahulu, bukan hanya menyimpulkan dari ilmu terdahulu itu. Dengan mengutip, peneliti tersebut dapat membedakan antara pendapat peneliti dengan pendapat pendahulunya. Misalnya peneliti membutuhkan sejumlah definisi dari ilmu-ilmu terdahulu. Peneliti itu akan mengumpulkan sejumlah definisi dari sejumlah pakar. Bila sebuah kursi didefinisikan maka peneliti akan memperoleh sejumlah definisi kursi. Contoh definisi kursi adalah sebagai berikut. Kursi adalah alat untuk duduk. Kursi terbuat dari besi dan kayu. Kursi adayang mempunyai sandaran dan ada yang tidak. Dari definisi-definisi ini peneliti bisa menarik kesimpulan. Dengan demikian, kesimpulan bukanlah dari definisi terakhir atau dari satu definisi saja.

BAB I
Setelah melakukan studi terhadap ilmu-ilmu terdahulu, penelti akan dapat merumuskan masalah yang boleh jadi masalah itu belum diselesaikan oleh ilmuwan atau guru-guru terdahulu. Masalah itu menjadi pekerjaan rumah yang belum diselesaikan para pendahulu. Dengan demikian, peneliti tersebut berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah para pendahulu itu.

BAB III
Selanjutnya peneliti menentukan metode dan data penelitian. Metode penelitian dipilih untuk memecahkan masalah itu. Data penelitian harus ditentukan dengan cermat. Bila peneliti akan melakukan penelitian fonologi, maka data yang diambil adalah data fonologi, misalnya rekaman. Bila peneliti melakukan penelitian membaca maka data yang diambil adalah bacaan yang diujikan, hasil uji membaca.
Berkenaan dengan hasil uji membaca, peneliti mesti cermat mendeskripsikan data. Dengan demikian, peneliti tidak menaksir kemampuan si teruji berupa hasil akhir (angka-angka) saja. Peneliti harus dapat menjelaskan makna dari angka 5, 7 atau 9.

BAB IV
Setelah data diperoleh, maka data dianalisis. Analisis kualitatif memungkinkan bagi peneliti untuk melakukan penggolongan dan klasifikasi dari data yang diperolehnya. Analisis itu bisa saja dengan memilah unsur-unsurnya. Bila manusia dianalisis, maka manusia terdiri atas tangan, kepala, kaki, badan, telinga, otak dan sebagainya. Bila tumbuhan dianalisis maka tumbuhan terdiri atas daun, batang, ranting, bunga, buah, akar, dan sebagainya. Seseorang yang akan memasak sayur lodeh boleh jadi menganalisis bahan-bahannya seperti menganalisis kelapa agar diketahui kelapa yang baik dan berkualitas. Mungkin saja menganalisis dengan membelah atau mencincangnya. Sebaliknya, analisis kuantitatif menuntut peneliti untuk menjelaskan makna dari angka-angka.

BAB V
Setelah data dianalisis maka data disimpulkan. Simpulan itu bukan berarti mengambil lagi data yang sudah ada. Gambaran dari simpulan ialah seseorang yang telah memasak sayur lodeh. Bila telah masak, maka itulah kesimpulannya. Mesti diingat untuk tidak lagi memasukkan data mentah ke dalam simpulan. Bila sayur lodeh terdiri atas bahan mentah kelapa, buncis, kacang merah, gula, asam; bahan mentah itulah yang disebut data.

Leave a Reply