Perjalanan PANTAI SANTOLO, GARUT

PANTAI SANTOLO, GARUT

Perjalanan ke Pantai Santolo, Garut menempuh jalan yang panjang, kurang lebih 150 km dari Kota Bandung. Pantai Santolo berada di Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Garut. Pantai Santolo merupakan pantai yang masih relatif tidak terlalu ramai dibandingkan dengan pantai-pantai wisata lainnya, misalnya Pantai Pangandaran di Ciamis, di sebelah timurnya atau Pelabuhan Ratu di Sukabumi, di sebelah baratnya. Selain Pantai Santolo, terdapat pula Pantai Sayang Heulang yang juga merupakan pantai yang indah di Garut. Perjalanan dari Bandung ke Garut dapat ditempuh dengan mudah, hanya sekitar dua jam tanpa terlalu tergesa-gesa. Sedangkan dari Garut ke Pameungpeuk ditempuh dalam waktu kurang lebih tiga jam. Jalan dari Garut ke Pameungpeuk menempuh Gunung Gelap yang kini tidak lagi gelap karena telah menjadi perkebunan teh. Di pinggir jalan Gunung Gelap pun berdiri warung-warung yang telah dialiri listrik PLN. Penduduk semestinya mendapatkan manfaat dari dibangunnya jalan serta listrik di wilayah ini.

Di Pantai Santolo pun terdapat sebuah tempat peluncuran roket yang merupakan bagian dari institusi LAPAN milik negeri ini.

Di Pantai Santolo pun telah dibangun tempat pelelangan ikan (TPI). Harga ikan kakap merah segar yang ditawarkan di sana adalah Rp 11.000,00 per kilo. Melihat aktifitas pantai yang tidak terlalu ramai, semestinya dari pantai ini bisa dieksploitasi lebih baik lagi bagi kemakmuran penduduk. Hal ini dapat dibandingkan dengan pantai di Cirebon, misalnya yang relatif lebih ramai dan mungkin lebih banyak hasil tangkapan lautnya. Masyarakat tidak akan kekurangan ikan untuk konsumsi mereka. Pelaut-pelaut itu kini menggunakan perahu dengan motor tempel dan sedikit sekali pelaut yang mengandalkan layar dan angin. Di Pantai Santolo, pelaut tidak perlu menggunakan alat Global Positioning Service (GPS) untuk menentukan posisi mereka, seperti pelaut-pelaut Pulau Timor atau Pulau Nusa Tenggara. Pelaut-pelaut itu tidak akan sampai ke perbatasan Australia dan dirampas alat GPS mereka serta dibakar perahu mereka. Jika pelaut-pelaut itu terlalu jauh melaut, mereka hanya menghadapi laut lepas dari Samudera Indonesia yang luas.

Selain terdapat sumber daya laut, tanah Garut yang subur pun ditanami pula coklat, padi, kelapa, dan karet. Tentu saja macam-macam sayuran pun terdapat di sana seperti wortel, kol, blumkol.

Tanah di Gunung Gelap pun ada yang menghasilkan batu-batu yang dapat digunakan untuk bangunan serta batu sejenis onik (marmer). Di Gunung Gelap mengalir mata air. Ada pula air yang mengalir keluar dari sela batu di puncak gunung. Beberapa puncak gunung tertanam batu-batu yang sangat besar, seperti pada posisi 99 km dari kota Bandung. Batu ini digunakan untuk latihan tentara yang melakukan panjat tebing.

Jalan dari Garut ke Pameungpeuk (Pantai Santolo) merupakan jalan yang berkelok-kelok. Gunung Gelap merupakan puncak tertinggi yang dilalui jalan beraspal. Perjalanan ini melewati bukit-bukit di sekitarnya. Pemandangan ini sangat indah sekaligus mencekam.

Jangan lupa, di Garut terdapat satu spesies domba yang unggul karena ukurannya yang cukup besar yaitu domba garut. Tentu saja spesies ini mesti dipelihara dan dikembangbiakkan oleh petani-peternak. Selain dagingnya dapat disate atau dijadikan konsumsi lainnya, kulitnya pun dapat digunakan menjadi bermacam-macam barang luks. Lihat saja industri kulit di kawasan Sukaregang, Garut. Di sana dijual jaket, tas, atau sepatu untuk konsumen yang punya cita rasa luks. Kualitas halus dan dapat diekspor. Bila pembeli mencarinya di pusat pertokoan di kota besar harganya bisa mencapai jutaan, juga bila ada produk impor harganya jutaan; di Sukaregang barang-barang luks ini dapat diperoleh dengan harga kurang lebih sepertiganya. Tentu saja harga ini naik seiring dengan naiknya harga BBM. Bila Pak Ali telah menjadi haji karena menjadi peternak, mengapa orang-orang biasa tidak mencoba untuk menirunya? Hmmm ….

Menurut berita, di Garut ada makam Prabu Siliwangi. Sayangnya tempat ini tidak sempat dikunjungi.

Leave a Reply