Kritik SAJAK JENAKA DARI JOKO PINURBO

SAJAK JENAKA DARI JOKO PINURBO
Cara Memandang Alam sebagai Pelajaran Menulis Puisi

Salah satu daya tarik dari sajak Joko Pinurbo adalah cara memandang suatu tema secara jenaka. Cara pandang suatu tema secara jenaka ini selain berkesan main-main juga ada sisi seriusnya. Penyair Joko Pinurbo dalam beberapa sajaknya bisa dikatakan berhasil mengungkapkan tema-tema yang menarik dari tema-tema yang sederhana.

Sebuah sajak yang berjudul “Pohon Perempuan” merupakan tema sederhana yaitu seseorang yang bersalah kemudian mendapatkan hukuman dari alam. Seluruh alam akan membenci perbuatan-perbuatan jahat seperti pencurian atau perampasan hak orang lain. Jika alam digambarkan sebagai perempuan, dan hukuman yang diberikan kepada terdakwa adalah meminum tetek pohon perempuan, hal itu adalah sangat lucu sekaligus ironis.

Sajak yang berjudul “Dengan Kata Lain” menceritakan seorang yang mempunyai pekerjaan cukup berhasil di Jakarta. Ketika kembali ke desanya, ia menumpang ojeg yang dikemudikan oleh (bekas) gurunya. Peristiwa ini menceritakan betapa seseorang tak bisa membayar segala kebaikan guru atau orang tua. Secara kritis, sajak ini mengandung pelajaran yang sangat berharga dan dapat diajarkan di sekolah-sekolah pada setiap jenjang. Tentu saja kebijakan guru dalam mengolah suatu sajak sebagai pelajaran mesti diperhatikan.

Joko Pinurbo merupakan penyair dari Angkatan 2000. Karya-karyanya yang mengandung sentuhan jenaka ditingkah tema-tema serius merupakan karya-karya yang menarik untuk dikaji. Joko Pinurbo dapat dibandingkan dari penyair lain seperti Ahmad Syubanuddin Alwy, Soni Farid Maulana atau Acep Zamzam Noor dari cirinya yang jenaka. Sekalipun sajak-sajak Joko Pinurbo jenaka, tema-tema yang diusungnya sangat penting dan menarik untuk dikaji. Joko Pinurbo merupakan salah satu penyair yang penting pada Angkatan 2000.

Rendra merupakan penyair pendahulunya dari Angkatan ’66. Sekalipun demikian, ada karya-karya Rendra yang masuk pada Angkatan 2000 karena Rendra masih berkarya hingga tahun 2000. Sajak-sajak Rendra masih mewarnai Angkatan 2000. Sejak dahulu Rendra sudah konsisten dengan kecenderungannya pada tema-tema keadilan. Tema-tema ini dengan goresan Rendra sangat menyentuh pembaca. 

Sajak “Pohon Perempuan” dan “Dengan Kata Lain” merupakan sajak dengan tema yang serius dan cenderung pada tema keadilan. Joko Pinurbo menyentuh pembaca melalui kejenakaan sajak-sajaknya.

Bila dibandingkan dengan Sutardji Calzoum Bachri yang berkembang dari Angkatan ’70 hingga Angkatan 2000, Sutardji mengusung mantra dan permainan kata. Joko Pinurbo menempati jalurnya sendiri. Daya tarik sajak Sutardji Calzoum Bachri sangat kuat karena gaya mantra dan permainan katanya. Daya tarik sajak Joko Pinurbo pun sangat kuat karena kejenakaannya.  Perhatikan sajak Sutardji Calzoum Bachri yang berjudul “Walau.”

Sajak-sajak lainnya dapat dilihat di blog Joko Pinurbo melalui blog ini.

Leave a Reply