Cerita Nabi GHADIR KHUM

GHADIR KHUM

Pada bulan 18 Dzulhijah, ketika Nabi saw perjalanan pulang dari Haji Wada menuju Madinah, beliau mendapat wahyu dari Allah swt. Wahyu Allah swt turun kepada nabi untuk memerintahkan nabi menyampaikan amanat yang sangat penting bagi umat yang ketika itu ribuan orang bersama Nabi. Ayat itu memerintahkan Nabi untuk menyampaikan wasiat pelanjut kepemimpinan nabi yang dikenal sebagai khalifah rasulullah, khulafa rasyidin, dua belas pemimpin, aali Muhammad, ittrah nabi, atau ahlul bait nabi. Jika engkau, wahai Nabi, tidak menyampaikan hal ini, seolah engkau tidak pernah berdakwah sama sekali. Allah tidak khawatir terhadap kejahatan manusia. Dalam berbagai kesempatan Nabi selalu menyampaikan hal ini bahkan ketika awal dakwah beliau, hal ini telah disampaikan. Namun peristiwa Ghadir Khum merupakan peristiwa penting yang diperintahkan oleh Allah swt karena banyak mukminin yang hadir pada hari itu.

Di sebuah lembah yang disebut Ghadir Khum, Nabi memerintahkan sahabat-sahabatnya untuk berhenti. Nabi memerintahkan agar orang-orang yang ada pada barisan belakang agar menyegerakan sampai di Ghadir Khum dan memerintahkan agar orang-orang yang telah mendahuluinya untuk kembali ke Ghadir Khum.

Nabi saw lalu naik ke atas panggung yang dibuat secara mendadak. Nabi saw naik bersama Ali bin Abu Thalib. Di atas panggung itu Nabi lalu mengangkat tangan Ali hingga terlihat ketiaknya yang putih, sambil berkata, “Barangsiapa aku pemimpinnya, maka Ali pemimpinnya pula.” Nabi mengungkapkan pemimpin sebagai maula. Kata maula di sini bukan berarti teman karena peristiwa Ghadir Khum adalah peristiwa penting dan Ali memang teman kaum mukminin saat itu. Nabi pun menyelesaikan khutbahnya yang disebut dengan khutbah Ghadir Khum.

Dengan disampaikannya khutbah Ghadir Khum, maka orang-orang jahat bersedih karena tidak bisa merampas wilayah dari Nabi saw. Pada kesempatan lain, Nabi saw bersabda berkenaan dengan ahlul baitnya, “Putra-putraku ini adalah pemimpin baik mereka berdiri (berkuasa) ataupun duduk (tidak berkuasa).” Karena itu sekalipun khilafah diambil dari tangan Ali bin Abu Thalib, demi kemaslahatan, Ali membiarkan hal itu. Ali bin Abu Thalib tetap menjadi pemimpin di hati kaum mukminin.

Leave a Reply