Penelitian VARIASI POLA KALIMAT

PENELITIAN VARIASI POLA KALIMAT BAHASA INDONESIA DAN KETERBACAANNYA DI SMA KORPRI / LABSCHOOL UPI BANDUNG

Latar Belakang
Sejumlah materi penting pembelajaran kalimat dalam pertimbangan standar kompetensi mesti dikuasai pembelajar bahasa. Beberapa materi itu diperas dari kompetensi kebahasaan yang mesti dikuasai pembelajar; di antaranya (1) penguasaan kalimat aktif-pasif, (2) penguasaan kalimat berdasarkkan kategori predikat, (3) penguasaan pola kalimat, (4) kalimat majemuk.

Penguasaan (mastery) pelajaran kalimat berdasar pada keempat pembagian di atas menjadi sangat ampuh untuk memahami bahasa Indonesia. Tentu saja penguasaan itu bukan tanpa syarat dan tanpa kekurangan karena penguasaan morfologi menjadi syarat pemahaman pelajaran kalimat dan penguasaan semantik menjadi pelengkap bagi penguasaan kalimat itu.

Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), kampus Sumedang adalah bagian dari Universitas Pendidikan Indonesia yang merupakan lembaga pendidikan tenaga keguruan (LPTK). Program PGSD sesuai namanya merupakan institusi yang bertugas menelurkan pengajar di tingkat sekolah dasar. Dari segi jenjang, program PGSD selama ini menelurkan lulusan ahli muda (diploma dua) sesuai dengan kebutuhan pengajar di sekolah dasar dan mulai tahun 2006 ditingkatkan menjadi asisten ahli madya (sarjana strata satu) untuk meningkatkan kualitasnya.

Penguasaan kalimat yang diajarkan di kampus Sumedang merupakan pelajaran yang relevan dengan uraian Badudu (1990) dan Ramlan (1981). Chomsky (dalam Chaer, 1994) mengungkapkan bahwa tata bahasa memang dikembangkan untuk membantu pembelajar memahai bahasa. Demikianlah falsafah bahasa yang sejak dahulu berkembang di tangan Plato dan Aristoteles. Tata bahasa dikembangkan untuk memudahkan pembelajar dalam memahami bahasa.

Penguasaan kalimat bagi pengajar di sekolah dasar merupakan penguasaan yang penting untuk dimiliki. Penguasaan kalimat merupakan salah satu standar kompeteni pembelajar. Di setiap tingkat pengajaran kaimat disampaikan sesuai dengan taraf perkembangan pembelajarnya. Acap kali kurangnya kemampuan penguasaan kalimat menjadi penyebab rusaknya “pemahaman” pembelajar berkenaan dengan bahasa Indonesia. Lebih lanjut pengaruh rusaknya “pemahaman” pembelajar itu berdampak pada keterampilan lainnya seperti berbicara dan menulis. Dengan kata lain, pemahaman kalimat akan membantu pengajar menyampaikan materi di kelas rendah dan di kelas tinggi.

Masalah
Masalah yang dirumuskan dalam penelitian ini dibagi menjadi dua taraf. Taraf pertama berkenaan dengan tingkat hubungan antara pengujian kalimat dengan teknik klos dan pemahaman pola. Dua variabel yang diteliti dalam penelitian ini adalah (1) pengujian kalimat dengan teknik klos dan (2) pengujian pemahaman pola. Taraf kedua penelitian variasi pola kalimat ini berkenaan dengan teknik pengajaran kalimat di PGSD UPI Kampus Sumedang. Dengan kata lain, penelitian taraf kedua ini berkenaan dengan efektifitas pengajaran kalimat dengan materi-materi tertentu.

Metode
Metode penelitian yang digunakan terdiri atas dua bagian. Kedua metode ini dilakukan karena penelitian ini mengalami dua tahap dari dua waktu dan tempat yang berbeda. Tujuan penelitian kedua penelitian ini berbeda sekalipun materi pembelajarannya sama yaitu pembelajaran kalimat. Pada penelitian yang pertama, digunakan teknik korelasi untuk mengetahui hubungan antara tes klos wacana dengan tes pemahaman pola kalimat. Pada penelitian yang kedua, digunakan penelitian tindakan kelas yang relevan dalam membenahi pengajaran-pengajaran kalimat di kelas. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk meningkatkan taraf keberhasilan pengajaran kalimat di kelas dengan mengidentifikasi dan meredusi kekurangan-kekurangannya.

Kalimat dalam Tinjauan Pustaka
Penelitian terdahulu berkenaan dengan kalimat cukup melimpah. Sumber-sumber rujukan berkenaan dengan kalimat (sintaksis) pun menunjukkan perkembangan yang pesat dari penelitian kalimat. Sumber-sumber rujukan yang menguraikan pola kalimat, di antaranya Moeliono (1988), Parera (1988), Wojowasito (1976), Badudu (1990), dan Ramlan (1981). Dalam pembahasannya, para ahli mengemukakan pendapat yang berbeda-beda berkenaan dengan pola kalimat. Dengan demikian, diperlukan kecermatan untuk membedakan dan argumentasi yang mendasar agar penentuan pola kalimat yang menjadi dasar pembahasan dalam penelitian ini dapat diterima.

Moeliono (1988) mengungkapkan satu istilah yang menarik sebagai bagian dari rujukan untuk penelitian ini. Moeliono mengungkapkan istilah pola dasar kalimat inti. Istilah pola dasar kalimat inti ini berbeda dengan yang diungkap Badudu (1990).

Dalam memahami materi kalimat, terdapat beberapa syarat yang mesti dikuasai pembelajar di antaranya penguasaan kategori kata (kelas kata). Pembahasan kelas kata lebih banyak diperoleh pada materi morfologi. Pembahasan kalimat berdasarkan kategori kata pun di bahas oleh Badudu (1990), Chaer (1994) juga Kridalaksana (1994).

Pembahasan kalimat yang diuraikan para pakar mendorong kemungkinan pengembangan penelitian kalimat. Berdasarkan pembahasan dalam kajian pustaka inilah penelitian ini dilanjutkan.

Hasil Penelitian
Pada penelitian tahap pertama, pengujian kalimat dengan teknik klos mempunyai hubungan yang signifikan sebesar r = 0,5183 dengan pemahaman pola. Nilai hubungan sebesar r = 0,5183 berarti bahwa hubungan antara dua variabel (teknik klos dan pemahaman pola). Melalui penelitian ini pula diperoleh sejumlah varian dari delapan pola dasar Badudu (1990).

Hasil penelitian lainnya diperoleh dari penelitian hatap dua yaitu berupa (1) pengajaran kalimat aktif-pasif, (2) pengajaran kalimat berdasarkan kategori predikat, (3) pengajaran pola kalimat, dan (4) pengajaran kalimat majemuk. Berikut ini adalah penjelasan hasil penelitian itu.

Kalimat Aktif-Pasif
Pembahasan kalimat aktif-pasif akan berkaitan dengan verba dan verba transitif. Dalam pembahasan kalimat aktif akan berhubungan dengan objek karena objek berkaitan dengan verba transitif. Berikut ini pembahasan ringkas berkenaan dengan hasil temuan pengajaran kalimat aktif-pasif.

No. Aktif Pasif
1. Ia minum susu. Susu diminum olehnya.
Susu diminumnya.
2. Saya membeli buku. Buku dibeli oleh saya.
Buku saya beli.
3. Kami mencari mereka. Mereka dicari (oleh) kami.
Mereka kami cari.
4. Mereka mendapati kami. Kami didapati (oleh) mereka.

Kalimat Berdasarkan Kategori Kata
Pembahasan ringkas dari Chaer (1994) dan Parera (1988: 10) yang menguraikan kalimat berdasarkan kategori kata. Parera (1988: 10) menentukan ada lima pola dasar kalimat inti sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. NP + NP Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
2. NP + AP Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
3. NP + VP Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
4. NP + VP + NP Petani mencangkul kebun.
Kami belajar linguistik.
Kakak mengendong adik.
5. NP + VP + NP + NP Ibu membelikan adik boneka
Paman memberikan bibi rumah

Uraian Parera sebenarnya sangat menarik untuk dibahas. Namun dalam kesempatan ini hanya akan dibahas pola dasar kalimat inti Badudu (1990: 32). Temuan dalam penelitian ini lebih relevan dengan uraian Badudu sebagai berikut.

No. Kategori Predikat Contoh Kalimat
1. Verba Kakak berbaring.
Petani mengeluh.
2. Nomina Bapa bidan.
Babi binatang.
Bibi babu.
Beta buruh.
3. Ajektiva Bandung sunyi.
Bajunya sempit.
Bartol sakit.
4. Numeralia Harganya seribu rupiah.
IPK-nya 3,60.
5. Preposisi Ia dari Bali.
Uang itu pada saya.
Bapak ke kantor.

Pola Kalimat
Sekalipun tata bahasa yang dipilih seorang pengajar bisa saja berbeda dengan tata bahasa yang dipilih pengajar lain, tata bahasa yang diajarkannya harus memenuhi kriteria ilmiah yaitu empiris. Empiris itu berarti tata bahasa harus bisa dibuktikan secara ilmiah, oleh setiap oraang, di setiap tempat dan pada setiap waktu.

Pengajaran fungsi kalimat merupakan pengetahuan standar yang diajarkan dalam kelas-kelas bahasa bahkan mulai di sekolah dasar, sekolah menengah, sampai perguruan tinggi. Berdasarkan pola dasarnya, Badudu (1990: 32) mengungkapkan pola (1) S-P, (2) S-P-O, (3) S-P-Pel, (4) S-P-K, (5) S-P-O-Pel, (6) S-P-O-Pel-K, (7) S-P-O-K, dan (8) S-P-Pel-K. Kedelapan pola dasar itu, dapat diturunkan menjadi varian yang tak terbatas sebagaimana dari 26 huruf latin diturunkan menjadi kata tertulis bahasa Indonesia yang tak terbatas.

Contoh kalimat berdasarkan pola dasar Badudu (1990: 32) ialah sebagai berikut.

No. Pola Contoh Kalimat
1. S-P Dudi berenang.
Ia menangis.
Harimau binatang buas.
2. S-P-O Libi minum susu.
Binatang itu memanjat pohon.
3. S-P-Pel Ia menangis tersedu-sedu.
Adik bermain bola.
4. S-P-K Cincin itu terbuat dari emas.
Bapak pergi ke kantor.
5. S-P-O-Pel Saya sedang mencarikan adik saya pekerjaan.
Mereka menamai anak itu Sarah.
6. S-P-O-Pel-K Setiap pagi ibu membuatkan kami nasi goreng.
Ia mengirimi ibunya uang setiap bulan.
7. S-P-O-K Libi minum susu setiap pagi.
Binatang itu memanjat pohon untuk tidur.
8. S-P-Pel-K Ia menangis tersedu-sedu ketika mendengar berita itu.
Adik bermain bola di lapangan.

Banyak sumber yang mewakili teori fungsi kalimat bahasa Indonesia di antaranya adalah buku Sugono (1986) dan Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (TBBBI) (1998), Ramlan (1981), Badudu (1990), Parera (1988) dan Alisyahbana (1953).

Kalimat Majemuk
Pengajaran kalimat majemuk akan lebih mudah dijembatani dengan pengajaran konjungsi (kata sambung). Melalui pengajaran konjungsi itu, pembelajar diperintahkan untuk membuat kalimat. Kalimat yang dibuat pembelajar itu diuraikan klausanya, selanjutnya diuraikan pula polanya.

No. Konjungsi Kalimat Pola
1. dan Ia pergi dan takkan kembali S-P//P
2. walau Walau lelah dilakukannya juga pekerjaan itu. #P#(K)//P-S
3. bahwa Ia berkata bahwa ia mencintaiku. S-P-(Pel)#S-P#
4. bahkan Ia tidak hanya membentak bahkan juga memukul S-P-(K)#P#
5. karena Ia tidak hadir karena hujan turun. S-P-(K)#S-P#

Pengajaran kalimat, di samping sangat penting juga sangat menarik untuk diajarkan di setiap jenjang pendidikan. Penguasaan kalimat akan mempermudah pemahaman serta mengurangi kekeliruan dalam berbahasa. Hilangnya suatu fungsi dalam kalimat akan menyebabkan kalimat yang dibentuk penutur menjadi keliru. Karena itu penguasaan kalimat akan mengurangi kekeliruan dalam berbahasa.

Rekomendasi
Pembahasan ihwal perilaku pelengkap merupakan penelitian lebih lanjut yang direkomendasikan karena dalam penelitian ini diperoleh perilaku pelengkap yang menarik untuk diamati. Sekalipun beberapa peneliti telah melakukan kerja ilmiahnya berkenaan dengan perilaku pelengkap, penelitian ihwal perilaku pelengkap tetap memberikan peluang bagi setiap pengajar bahasa untuk menelitinya. Masih ada peluang untuk menutupi kekurangan dari penelitian sebelumnya untuk menyempurnakan teori kebahasaan yang berkembang dari khazanah perilaku berbahasa masyarakat.

Daftar Pustaka
Alisyahbana, S.T. (1953) Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Rakyat.
Alwasilah, A.C. (2002) Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Bandung: Dunia Pustaka Jaya – Pusat Studi Sunda. ISBN: 979-419-298-8.
Arikunto, S. (1999) Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Edisi Revisi. Jakarta: PT Bumi Aksara. ISBN: 979-526-467-2.
Badudu, J.S. (1990) Buku Panduan Penulisan Tata Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa-Depdikbud (diktat dalam penerbitan).
Brown, H.D. (1980) Principles of Language Learning and Teaching. New Jersey: Prentice-Hall.
Chaer, A. (1994) Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Fokker, A.A. (1960) Pengantar Sintaksis Indonesia (terjemahan Djonhar). Jakarta: Pradnya Paramita.
Iswara, P.D. (2000) Variasi Pola Kalimat dan Keterbacaannya. Tesis pada Program Pascasarjana UPI Bandung.
Moeliono, A. (ed) (1998) Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (edisi ketiga). Jakarta: Balai Pustaka.
Nurgiyantoro, B. (1988) Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE.
Parera, J.D. (1988) Sintaksis (edisi kedua). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Purwo, B.K. (Ed) (1985) Untaian Teori Sintaksis 1970-1980an. Jakarta: Arcan.
Ramlan, M. (1981) Ilmu Bahasa Indonesia: Sintaksis. Yogyakarta: CV. Karyono.
Sakri, A. (1994) Bangun Kalimat Bahasa Indonesia (edisi kedua). Bandung: Penerbit ITB.
Semiawan, C.R. (Et.Al.) (1988) Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. ISBN: 979-514-139-2.
Slametmulyana (1956) Kaidah Bahasa Indonesia I. Jakarta: Djambatan.
Sugono, D. (1997) Berbahasa Indonesia dengan Benar (edisi revisi). Jakarta: Puspa Swara.
Wojowasito, S. (1961) Linguistik: Sejarah Ilmu (Perbandingan) Bahasa. Jakarta: Gunung Agung.
Wojowasito, S. (1972) Ilmu Kalimat Strukturil. Malang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKSS, IKIP Malang.
Wojowasito, S. (1972) Perkembangan Ilmu Bahasa (Linguistik) Abad 20 sebagai Dasar Pelajaran Bahasa (Hidup). Malang: Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKSS, IKIP Malang.
Wojowasito, S. (1976) Pengantar Sintaksis Indonesia (Dasar-dasar Ilmu Kalimat Indonesia). Bandung: Sintha Dharma.
Yusuf, T; S. Anwar (1995) Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. ISBN: 979-421-448-5.

Drama JADI RAJA

JADI RAJA
Drama disadur dari “Lalakon” karya Fier Hilari,
Mangle, 2061, 6-12 April 2006,
oleh Prana D. Iswara

Tokoh
1. Raja
2. Menteri 1
3. Menteri 2
4. Menteri 3
5. Menteri 4
6. Tukang Baso
7. Pengawal 1
8. Pengawal 2

BABAK I
MALAM
RAJA: (SOLILOKUI, MENGGUMAM) Dalapan bulan menjadi pejabat raja, mengganti bapa almarhum, telinga ini mulai mendengar kabar-kabar angin. Kata kabar angin, rakyat kurang makan, harga bahan pokok dan barang-barang mahal, anak-anak bodoh-bodoh karena biaya sekolah mahal, orang sakit tak bisa berobat. Pokoknya berita yang masuk ke telinga barang-barang serba mahal. Mula-mula kabar-kabar itu hanya selewat saja, lama-lama bertambah ramai kabar itu. Benar harga-harga itu mahal? Padahal rasanya kurang apa pemerintah menyenangkan rakyat. Orang yang tidak punya pekerjaan disumbang, ingin menyekolahkan anak, itu tempatnya, itu bangkunya, itu bukunya bebas SPP, orang sakit tinggal berobat, obatnya disadiakan gratis, tinggal nunggu kapan orang mau sakit? Apa kurangnya! Berita itu membuat panasaran saja ….

BABAK II
SIANG
MENTERI DIUNDANG. MENTERI-MENTERI BERDATANGAN SAMBIL MENGACUNGKAN SEMBAH BERGANTIAN. ACARA INI SENGAJA TIDAK SEGERA DIBUKA, RAJA MENATAP MENTERI-MENTERI YANG BERKUMPUL DENGAN PANDANGAN TAJAM. HINGGA MENTERI-MENTERI YANG BERKUMPUL SEDIKIT GELISAH.
RAJA: (MEMERINTAH) Kita mulai dengan laporan, silakan maju menteri yang mengurus kehidupan rakyat! (MENTERI BERINGSUT MERANGKAK, MENYERET BADANNYA KE DEPAN RAJA, IA KEREPOTAN KARENA BADANNYA YANG GEMUK. IA MEMBERI LAPORAN, SINGKATNYA KATANYA RAKYAT MAKMUR, CUKUP SANDANG, CUKUP PANGAN.)
RAJA: Kata siapa berita itu, Mang? (SOLILOKUI) Aku ‘kan raja, emang saja nyebut Pa Menteri itu.
MENTERI 1: Dari bawahan yang mengurus itu, Tuanku Raja!
RAJA: Emang selalu memeriksa ulang pekerjaan itu?
MENTERI 1: Tentu, Baginda Raja! Malah uang sumbangan sudah dibagi-bagi, semuanya mendapat bagian karena itu rakyat makmur!
RAJA: (KERUNG) Sebentar, Mang! Kenapa dibagikan semua, bukankah uang itu hanya untuk masyarakat miskin!
MENTERI 1: Mungkin begini, Baginda. Begitu masyarakat tahu ada pembagian uang sumbangan, jumlah masyarakat miskin jadi bertambah. Makin banyak orang yang ingin disebut miskin. Bahkan yang punya kuda dua juga ingin disebut miskin. Waktu ditanya, jawabnya memang punya kuda, tapi kan makan tak cukup dengan mencium bau kuda!
Begitu, Tuan, karena itu bagi rata saja daripada jadi pertengkaran masyarakat!
RAJA: (SOLILOKUI) Wah, tak beres ini!
Barang-barang di pasar tersedia?
MENTERI 1: Ada, Baginda, tak akan kekurangan barang-barang di pasar lengkap! Di jongko, di warung!
RAJA: Harga-harganya mahal tidak?
MENTERI 1: Tidak, Tuan, menurut timbangan pribadi saya harga-harga itu murah, Tuan!
RAJA: (SOLILOKUI) Ini dia, murah menurut timbangan pribadinya. Bagi rakyat lain lagi ceritanya, bukan begitu?

TOK-TOK, TOK-TOK! DARI LUAR TERDENGAR SUARA TUKANG BASO MEMUKUL TELINGA. RAJA BERPALING MENDENGAR SUARA ITU.

RAJA: (TELUNJUKNYA MEMERINTAH AJUDAN) Panggil ke sini!

AJUDAN MESKI IA TAK MENGERTI ALASAN TUKANG BASO DIPANGGIL SEGERA IA PERGI KE LUAR. IA KEMBALI BERSAMA SEORANG YANG KURUS. TERBUNGKUK-BUNGKUK MENDEKAT SAMBIL MEMBAWA DAGANGANNYA.

TUKANG BASO: Pesan berapa mangkuk, Tuan?
RAJA: Tidak, Mang! Coba Emang bicara, zaman sekarang makin susah atau makin senang?
TB: Makin repot, Tuan. Zaman sekarang, uang tak mampu membeli barang-barang. Segala barang tak terbeli!
RAJA: Kurang orang yang dagang?
TB: Orang yang dagangnya banyak, tapi uang untuk membelinya tak ada alias tak punya!
RAJA: Mengapa begitu, ‘kan zaman sekarang dapat uang pembagian?
TB: Emang tidak terbagi karena Emang berjualan baso tahu!
RAJA: Mengapa begitu?
TB: Katanya orang jualan baso tahu begini tak akan kurang makan, Tuan!
RAJA: Sekarang Emang sudah makan?
TB: Sudah!
RAJA: Nah, dengan apa lauknya, Mang? (MENELITI)
TB: Tentu saja dengan baso tahu, karena sudah lama tidak masak nasi!
RAJA: Setiap hari makan baso tahu?
TB: Ya, benar.
RAJA: (SOLILOKUI) Waduh! Bila orang dagang abu, mana mungkin ia makan abu, ck…ck…ck…. (MENGGELENG-GELENG KEPALA) Mumpung sedang omong dengan rakyat. Ajudan, segera bawa kursi dan sirup.

BEGITU TAHU RAKYAT AKAN DIINTEROGASI, PARA MENTERI JADI SEMAKIN GELISAH. MENDADAK KURSI TERASA GATAL SEPERTI DUDUK DI ATAS DURI. APALAGI MENTERI PENGURUS KEHIDUPAN RAKYAT, CEMAS DAN TAK BISA DIAM! AIR SIRUP DATANG.

RAJA: Minum dulu, Mang. Cicipi, rasanya segar! (GELAS SIROP DISODORKAN)

TB RAGU-RAGU MENGAMBIL GELASNYA. MUNGKIN IA HERAN KARENA ADA SIROP WARNA BIRU. DICICIPI SEDIKIT, MATANYA KELILIPAN. DICICIP-CICIP LAGI, AKHIRNYA GLEK DIMINUM SAMPAI HAMPIR HABIS SETENGAH GELAS. LALU IA SENDAWA.

RAJA: Anak-anak ada yang bersekolah?
TB: (SAMBIL MENYUSUT BIWIR) Ada, yang kecil di tingkat dasar satu kelas dua, yang sulung di tingkat dasar dua kelas satu.
RAJA: Sukur, sekarang tak perlu iuran sekolah ‘kan?
TB: Anak yang kecil saja yang tidak iuran sekolah, Tuan, sekolah si Sulung tetap harus membayar iuran! Sudah tiga bulan ia belum bayar iuran!
RAJA: (SOLILOKUI) Ah, sudah kacau lagi ini! (MATANYA BERALIH MEMANDANG TAJAM KEPADA MENTERI-MENTERI YANG BERKUMPUL. MENTERI YANG MENGURUS PENDIDIKAN NASIONAL BERSEMBUNYI DI BELAKANG KEPALA MENTERI LAIN.)
RAJA: Silakan ke depan, Mang! (BERINGSUT-INGSUT KE DEPAN, LALU MENYEMBAH)
RAJA: Bagaimana ini, Mang, masih ditarik iuran katanya?
MENTERI 2: Iya, Tuan, Hamba juga tidak mengerti!
RAJA: Tidak mengerti bagaimana? ‘Kan sudah jelas subsidi setiap anak! Setiap anak dapat subsidi! (TAJAM)
MENTERI 2: Sudah dilaksanakan itu juga, hanya saja uang iuran sekolahnya malah tambah membengkak!
RAJA: Coba ceritakan supaya jelas!
MENTERI 2: Sebelum ditalangi kerajaan, besar iuran dua puluh sen ditarik setiap bulan! Setelah ditalangi kerajaan iuran malah naik jadi empat puluh sen tiap bulannya! Jadi tetap saja anak-anak harus membayar kekurangannya!
RAJA: Jadi dobel sekolah dapat uangnya?
MENTERI 2: Ya, tentu!
RAJA: (SOLILOKUI) Pintar! (MENGGELENG-GELENG KEPALA LAGI)
RAJA: Begini saja sekarang. Sekolah yang masih mengajukan kekurangan langsung pecat dari pekerjaannya! Mengajar dan mendidik itu bagian dari ibadah, bukan semata mencari uang. Uang saja yang dikejar orang! Lekas bereskan sejak sekarang. Tiga hari mesti beres. Kalau masih terdengar ada iuran, Emang Menteri yang dipecat saat itu juga. Sanggup?
MENTERI 2: (GANCANG) Sanggup!
TB: (NYERENGEH, SOLILOKUI) Menteri takut tak lagi menjabat, takut balik jadi rakyat ….
RAJA: (KA TB) Nah sekarang kalau Emang sakit, masih harus membayar ke puskesmas atau rumah sakit?
TB: Entah tentang bayar di puskesmas, Emang tak tahu! Kalau sekedar demam panas-dingin Emang cukup dengan obat kampung saja, Tuan!
RAJA: (MELIRIK DENGAN SUDUT MATA KEPADA MENTERI URUSAN KASEHATAN RAYAT. MENTERI MENARIK NAFAS PANJANG, WAJAHNYA PUCAT MENDADAK SEGAR LAGI.
RAJA: Di kampung masyarakat masih mampu membeli beras?
TB: Beras sih banyak di warung, tetapi lebih sedikit yang mampu membelinya!
RAJA: Mahal atau tak punya uang?
TB: Mahal dan tak punya uang. Kalau punya uang mahal-mahal juga tentu akan terbeli!
RAJA: (SOLILOKUI) Benar! Tapi mengapa beras mahal dan rakyat tiba-tiba tak punya uang. Jangan-jangan…. (MELIRIK KEPADA KUMPULAN MENTERI)
RAJA: Silakan ke depan, Mang! (MENTERI 3 AGAK TERBUNGKUK-BUNGKUK)
RAJA: Mengapa seperti orang yang takut. Coba terangkan oleh Mang Menteri, jadi kurang uang dan harga mahal itu apa alasannya! Apakah karena Emang menaikkan harga bahan bakar minyak dan minyak sayur?
MENTERI 3: (MELIHAT KIRI-KANAN SEPERTI MENCARI DUKUNGAN) Itulah, Baginda, harga bahan bakar minyak naik selalu diikuti harga barang-barang lain, padahal menurut perhitungan hanya minyak yang dinaikkan harganya!
RAJA: Buktinya semua harga naik. Minyak dapat dibeli masyarakat sekarang, Mang?
MENTERI 3: Sekarang di kampung-kampung mulai membuat kompor kayu bakar dan arang, Tuan!
RAJA: Apa tak salah yang kudengar, kembali lagi menggunakan arang dan kayu bakar?
MENTERI 3: Benar, Tuan!
RAJA: (SOLILOKUI) Aduh, celaka dua belas! Disimpan di mana wajah ini. Rakyat kerajaan tetangga membeli kompor gas, rakyat di sini malah menggunakan arang dan kayu bakar. Kembali lagi pada zaman nenek moyang! Jangan-jangan …. (KEPADA MENTERI 3, MARAH) Berarti Mang Menteri mau hasud, menaikkan harga minyak, supaya aku malu kepada raja-raja tetangga lain?
MENTERI 3: Ampun, tidak sama sekali, Tuan! Tak ada niat hasud!

MELIHAT RAJANYA MARAH, AJUDAN BERINISIATIF MENDEKATI MANG MENTERI SAMBIL MENODONGKAN TUMBAKNYA. MENTERI 3 SEMAKIN MENGGIGIL.

RAJA: Begitulah karena pekerjaan Emang. Sekarang Emang harus menyusur setiap lembur, runtuhkan lagi dapur kayu bakarnya, ganti masing-masing dengan minyak lima liter! Umumkan harganya diturunkan lagi, bahkan lebih murah daripada harga sebelum naik! Jangan dulu pulang sebelum gubuk kayu bakarnya belum semua runtuh! Sekarang pergi! Minta pengawal agar tak ada yang tuntutan lancar! (TELUNJUK MENUNJUK GERBANG.)

MENTERI 3 PERGI BERSAMA PENGAWAL. MATA RAJA BERALIH KEMBALI MENATAP TAJAM KEPADA KUMPULAN MENTERI. AGAK LAMA MENATAP MENTERI YANG GEMUK. ORANG YANG DITATAP MENUNDUK MINTA DIKASIHANI.

RAJA: Coba, Mang, berdiri di sini!
MENTERI 4: Saya, Tuan?
RAJA: Ya, berdiri ni, di sini! (KEPADA TB) Coba Emang juga berdiri, berjajar di sini!
DUA ORANG BERDIRI DI DEPAN RAJA. DIAMATI.
RAJA: (KEPADA TB) Emang sekarang silakan duduk lagi! (KEPADA MENTERI 4) Bagaimana sekarang, Mang? Buktinya boro-boro cukup sandang pangan, kenyataannya banyak yang kelaparan pada zaman sekarang ini! Sekarang karena Emang sudah mealaikan amanat rakyat, Emang saya tugasi menjadi tukang baso dulu agar tahu kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Jangan lupa setiap hari makan hanya baso tahu.
TB: Tuan, saya nanti jualan apa? (KAGET)
RAJA: Diam dulu, Mang! Silakan tanggung sekarang, mudah-mudahan laris!
MENTERI 4: (SERAK) Berapa lama hamba mesti jualan baso tahu, Tuan?
RAJA: Tiga bulan! Silakan, mulai dari ekarang!
MENTERI KEREPOTAN MENGANGKAT TANGGUNGAN, MELANGKAH TERHUYUNG-HUYUNG.)
RAJA: (SOLILOKUI) Belum lagi tiga bulan harus makan hanya baso tahu, nanti datang lagi pasti akan pangling.
RAJA: (KA TB) Emang tahu menteri-menteri yang menyimpang dari aturan pemerintahan ini?
TB: Jelas sekali, Tuan, karena Emang mengalami sendiri. Segala masalah tak akan selesai bila tak ada uang pelicin!
RAJA: Sekarang karena Emang tahu, Emang diangkat jadi menteri yang mengawasi berjalannya aturan pemerintahan. Tangkap orang-orang yang menyimpang, yang mencuri uang rakyat, tak usah ragu, tangkap! Bila ada menteri yang terlibat juga tangkap. Cari orang-orang jujur, orang-orang taat agama dan mengerti halal-haram untuk membantu menangkap koruptor dan orang-orang tak jujur! Sanggup, Mang?
TB: Sanggup! (TEGAS)
DIANGKAT SUMPAH LALU BERGANTI BAJU DENGAN BAJU KEMENTERIAN.
RAJA: Nah sekarang sudah resmi, Mang! (MEMASANGKAN BROS BINTANG DI KEMEJA MENTERI)
TB: Apakah bisa mulai sekarang menangkap orang itu, Tuan?
RAJA: Ya! Memang Emang mau menangkap siapa?
TB: Yang memegang keamanan! Orang-orang dagang selalu dimintai uang kebersihan, kusir pedati dan sado juga selalu diperas, katanya untuk uang jalan dan keamanan!
RAJA: Menteri keamanan maju! (BERINGSUT-INGSUT MENTERI KEAMANAN KE DEPAN.) Benarkah demikian, Mang? Tiap bulan ‘kan sudah menerima macam-macam tunjangan! (MELOTOT. MENTERI 5 BERKATA BALABAB-BELEBEB.) Jeploskn ke bui! Aku tak ingin mendengar lebih panjang lagi. Pantas sawah dan kebon di tiap kecamatan ditambah rumah beberapa buah, barusan menjawabnya juga tak jelas sama sekali!
RAJA: Ada lagi yang lainnya, Mang?
TB: Banyak!
RAJA: Besok saja menangkap yang lainnya, Mang. Sekarang Emang pulang dulu saja, beri tahu istri sambil beres-beres. Rumah telah disediakan bersama isinya, semua ditanggung kerajaan! Tinggal kerja yang benar, Mang!
TB: Baik, terima kasih, Tuan! (PAMITAN. TERGESA-GESA KELUAR.)
MENDADAK GELAP GULITA. RAJA MELANGKAH PERGI.
PENGAWAL 1: Mengapa gelap ini, mati listrik ya?
PENGAWAL 2: Iya, hati-hati kepala raja ketendang!
MENTERI 1: Kau bawa korek api?
MENTERI 2: Ga, rokok juga tak punya!
PENGAWAL 1: Negara ini gara-gara be-be-em naik, listrik juga jadi sering padam!
PENGAWAL 2: Kan barusan oleh raja sudah diturunkan lagi harganya!
PENGAWAL 1: Raja jadi-jadian itu sih! Ooy! Siapa yang punya korek!
PENGAWAL 2: Korek terus yang diurus, dah jelas jatuh koreknya, nah ini dia!
MENYALAKAN KOREK. BERKALI-KALI MENGGOSOK KOREK. KOREK MENYALA. TAK LAMA KOREK MATI LAGI.
MENTERI 1: Hey, mengapa kau matikan korek itu?
MENTERI 2: Panas! Wah habis nih pentul koreknya juga!
MENTERI 1: Celaka, kaga bakal tamat ini latihan kalau terus mati listrik!
MENTERI 2: Biar lah, sekedar latihan sandiwara ini!

Sumedang, 22 April 2006

Drama Sunda LALAKON

LALAKON
Drama disadur ti “Lalakon” karya Fier Hilari,
Mangle, 2061, 6-12 April 2006,
ku Prana D. Iswara

Tokoh
1. Raja
2. Mantri 1
3. Mantri 2
4. Mantri 3
5. Mantri 4
6. Tukang Baso
7. Gulang-gulang 1
8. Gulang-gulang 2

BABAK I
PEUTING
RAJA: (SOLILOKUI, NGAGERENTES) Dalapan bulan nyekel predikat raja, ngaganti bapa almarhum, kana ceuli mimiti cuw-cew beja. Majar rayat kurang dahar, hahargaan mahal, barudak barodo da biaya keur ngadidiknya sarua mahal, nu gering sarua teu kaubaran. Pokona sarua mahal we nu asup kana ceuli teh. Ukur hawar-hawar asalna mah lila-lila asa beuki saheng. Enya kitu? Padahal asa kurang kumaha hayang nyenangkeun rayat teh. Nu teu boga disumbang, hayang ngadidik budak, tah tempatna, bangkuna tah bukuna bari teu kudu udunan, nu gering tinggal ngubaran, obatna geus disadiakeun gratis, tinggal daek geringna wungkul! Kurang kumaha geura! Panasaran ku eta beja ….

BABAK II
BEURANG
MANTRI DIULEM. JUL-JOL MANTRI CUNG-CONG. TEU GANCANG DIBUKA ACARA TEH, ANGGUR NGADON MELONG HEULA RIUNGAN SALILA-LILA NEPI KA RIUNGAN RADA ELEKESEKENG.
RAJA: Urang kawitan ku laporan heula, mangga mantri nu ngurus kahirupan rayat! (MANTRI NGESOD-ESOD KA HAERUP, RADA HARARESE KAHALANGAN AWAK NU SAKITU BAYUHYUHNA. LAPORAN KITU-KITU CENAH, SINGKETNA MAH RAYAT HIRUP MAKMUR, CUKUP SANDANG, CUKUP PANGAN.)
RAJA: Beja ti saha eta, teh, Mang? (SOLILOKUI) Bubuhan raja, emang we nyebut Pa Mantri teh.
MANTRI 1: Sun, muhun ti bawahan nu purah ngaroris!
RAJA: Ku Emang sok diroris deui?
MANTRI 1: Yaktos! Malihan artos sumbangan tea tos dibagikeun, sadayana tos kabagi manawi rayat makmur ge!
RAJA: (KERUNG) Ke heula, Mang! Naha make dibagi kabeh, kapan duit eta mah keur nu teu baroga wungkul!
MANTRI 1: Manawi, Gamparan. Terang bade dibagi artos mah janten nyeueuran nu hoyong disebat miskin teh. Nu gaduh kuda dua ge angger we hoyong disebat miskin, majarkeun teh muhun gaduh kuda, tapi maenya ari neda ukur ngaletakan kuda mah!
Kitu, Gamparan, matak dibagi we tinimbang janten papaseaan mah!
RAJA: (SOLILOKUI) Teu eucreug!
Ari beulieun aya?
MANTRI 1: Sun, moal kakirangan pesereun mah! Di jongko, di warung paragpag dagangeun!
RAJA: Marahal henteu?
MANTRI 1: Henteu, pangaosna marirah we timbangan jisim abdi mah!
RAJA: (SOLILOKUI) Tah ieu, murah soteh ceuk manehna. Keur rayat mah lain deui carita?

TOK-TOK, TOK-TOK! TI LUAR KADENGE SORA TUKANG BASO NAKOLAN CEULI. RAJA CURINGHAK.

RAJA: (CURUK MARENTAH GULANG-GULANG) Geroan sina ka dieu!

GULANG-GULANG BARI TEU NGARTI GE LEOS KA LUAR. DATANG DEUI BARI NGIRINGKEUN WARUGA BEGANG. RUMPAD-REMPOD NYAMPEURKEUN BARI NANGGUNG DAGANGANANA.

TUKANG BASO: Bade ngadamel sabaraha hiji, Aden?
RAJA: Moal, Mang! Cing ceuk Emang kumaha jaman ayeuna, beuki susah atawa senang?
TB: Tambih repot, Aden. Ayeuna mah, tos sagala teu kapeser!
RAJA: Kurang nu daragangna lain?
TB: Ari nu dagangna mah teu kirang-kirang, mung kanggo meserna nu teu aya teh!
RAJA: Naha, pan meunang duit bagian meureun!
TB: Numawi pedah icalan baso tahu janten teu kabagi Emang mah!
RAJA: Naha?
TB: Saurna ari icalan kieu mah moal kirang tedaeun, Gamparan!
RAJA: Ari ayeuna geus dahar?
TB: Parantos!
RAJA: Tah geuning, jeung naon dahar teh, Mang? (TETELEPEK)
TB: Ah nya sareng baso tahu we, da tos lami tara nyangu!
RAJA: Unggal poe tateh?
TB: Sumuhun.
RAJA: (SOLILOKUI) Edas! Teu kacipta kumaha nu dagang lebu, asa piraku rek dahar lebu mah. (GOGODEG) Meungpeung adu hareupan jeung rayat, gulang-gulang dititah mawa korsi jeung cai sirop.

NYAHO RAYAT TEH REK DIINTROGASI, RIUNGAN MANTRI RADA UBYAG. NGADAK-NGADAK ARELEKESEKENG JIGA NU NGADIUKAN DURUKAN. KOMO MANTRI NU NGURUS KAHIRUPAN RAYAT MAH, UGAL-UGIL TEU NGEUNAH CICING! CAI DATANG.

RAJA: Sok diinum heula bisi halabhab! (GELAS SIROP DIPAJUKEUN)

TB RADA ASA-ASA NYOKOT GELASNA TEH. TAYOHNA HERANEUN AYA SIROP PULAS BIRU. DIICIP-ICIP SAEUTIK, PANONA MEUREUDEUY. DIICIP-ICIP DEUI, LEGUK WE DIUYUP NEPI KA AMPIR BEAK SATENGAH GELAS. EUREULEU TEURAB.

RAJA: Ari budak aya nu sakola?
TB: (BARI NYUSUTAN JURU BIWIR) Aya, nu alit di tingkat dasar hiji kelas dua, nu cikal di tingkat dasar dua kelas hiji.
RAJA: Sukur, teu ieuran ayeuna mah nya?
TB: Sun, nu alit wungkul teu ieuran mah, nu cikal mah angger we ditarik iuran! Tos tilu sasih sareng ayeuna teu acan kabayar!
RAJA: (SOLILOKUI) Tah geus lieur deui yeuh! (PANON MURELENG KA LEBAH RINGAN. MANTRI NU KABAGEAN NGURUS ATIKAN JEUNG DIDIKAN NYEMPOD TUKANGEUN SIRAH BATUR.)
RAJA: Ka haerup, Mang! (ESOD-ESOD KAHAREUP, CONG NYEMBAH)
RAJA: Kumaha ieu teh, geuning ditarik keneh iuran cenah?
MANTRI 2: Numawi, Gamparan, teu kahartos ku jisim abdi ge!
RAJA: Teu kaharti kumaha? Kapan geus diitung sasirah budak sabaraha-sabarahana! (NYURELENG)
MANTRI 2: Parantos eta oge, mung janten ngaarageungan iuran teh!
RAJA: Coba parelekeun ambeh puguh!
MANTRI 2: Muhun sateuacan ditanggel ku karajaan, dua puluhsen ditarik iuran sasasihna teh! Tah saatos ditanggel bet naek janten opat puluh sen sasasihna teh! Janten angger we barudak kedah mayar kakiranganana!
RAJA: Jadi dobel meureun meunang duitna?
MANTRI 2: Yaktos!
RAJA: (SOLILOKUI) Pinter! (GOGODEG DEUI)
RAJA: Geus kieu we ayeuna mah. Nu angger ngasongkeun alesan kakirangan keneh, langsung eureunkeun gawena! Ngatik jeung ngadidik mah sarua keneh jeung ibadah lain kana piduiteuna wae nu digedekeun teh! Beberes deui ti ayeuna, dibere waktu tilu poe. Mun angger keneh aya nu dipenta iuran, Emang Mantri rek dieureunkeun gawe. Sanggup?
MANTRI 2: (GANCANG) Sanggup!
TB: (NYERENGEH, SOLILOKUI) Mantri kasieunan jadi rayat….
RAJA: (KA TB) Tah ayeuna lamun emang gering, sok mayar keneh di tempat uubarna?
TB: Duka tah perkawis eta mah! Upami sakadar muriang panas tiris mah, cekap ku ubar kampung we, Den!
RAJA: (NGARERET KU JURU PANON KA MANTRI URUSAN KASEHATAN RAYAT. MANTRI NGARENGHAP PANJANG, BEUNGEUTNA NU GEUS PIAS NGADADAK GETIHAN DEUI.
RAJA: Ari di lembur loba keneh kabeuli beas?
TB: Numawi seueur keneh beasna tinimbang nu meserna!
RAJA: Mahal atawa teu barogaeun duit?
TB: Awis sareng teu garaduheun artosna, upami gaduh mah awis-awis ge kapeser we, Den!
RAJA: (SOLILOKUI) Bener! Tapi naha make mahal jeung ngadadak teu barogaeun duit. Moal kitu? (RET KA RIUNGAN MANTRI)
RAJA: Ka hareup, Mang! (MANTRI 3 RADA RUNGKAG-RENGKOG)
RAJA: Bangun nu sieun geuning. Cing kumaha tah ceuk Mang Mantri, jadi seuseut duit jeung marahal hahargaan ayeuna teh! Moal pedah Emang naekeun harga minyak?
MANTRI 3: (LAIN NGAJAWAB KALAH CULANG-CILEUNG JIGA NU NEANGAN DUKUNGAN) Nyaeta, Gamparan, minyak naek teh nu sanes oge ngiringan naek geuning, da numutkeun etangan mah minyak wungkul nu naek teh!
RAJA: Buktina kabeh nararaek. Ari minyakna kabareuli keneh, Mang?
MANTRI 3: Numawi ayeuna di lembur teh nuju dug-deg ngadaramel hawu sareng nyiar pisuluheun, Aden!
RAJA: Kumaha, baralik deui kana hawu dedengean teh?
MANTRI 3: Sumuhun!
RAJA: (SOLILOKUI) Beu, cilaka dua belas ieu mah! Rek dikamanakeun yeuh beungeut. Ari rayat karajaan tatangga mareuli kompor gas, ari rayat sorangan kalah nyarieun hawu. Balik deui ka jaman uyut kabuyutan! Moal kitu? (KA MANTRI 3, AMBEK) Rek hasud geuning Mang Mantri mah nitah naekkeun harga minyak teh, ambeh aing era ku raja tatangga lain?
MANTRI 3: Teu pisan-pisan, Gamparan, gaduh maksud awon!

NINGAL NU JADI RAJA BENDU, GULANG-GULANG HIDENG NYAMPEURKEUN MANG MANTRI BARI NGASONGKEUN RUMBAKNA. MANTRI 3 BEUKI NGELEPER.

RAJA: Bongan polah Emang keneh, ayeuna Emang kudu mapay unggal lembur, rugrugkeun hawuna gantian ku minyak lima leter sewang! Bewarakeun hargana diturunkeun deui leuwih murah malah tina harga samemeh naek! Tong waka balik lamun hawuna can dirugrugkeun kabeh! Jig ayeuna geura indit, menta nu ngawal bisi aya nu ngarah-ngarah! (CURUK NUNJUK LAWANG.)

MANTRI 3 NGALENGHOY DIKAWAL GULANG-GULANG. PANON RAJA MURELENG DEUI KANA RIUNGAN. RADA LILA MELONG MANTRI BAYUHYUH. NU DIPELONG NGELUK PIKARUNYAEUN.

RAJA: Cingan, Mang, nangtung di dieu!
MANTRI 4: Sun, ka jisim abdi, Juragan?
RAJA: Enya, nangtung tah di dieu! (KA TB) Sok Emang oge nangtung, ngarendeng di dieu!
DUA JELEMA AJEG HAREUPEUN RAJA. DITILIK-TILIK.
RAJA: (KA TB) Emang mah diuk deui we! (KA MANTRI 4) Kumaha tah, Mang? Buktina mah geuning boro-boro cukup sandang pangan, loba nu kalaparan we nu puguh mah! Tah ku lantaran emang geus nawoworakeun amanat, saheulaanan kapaksa jadi tukang baso tahu heula, ambeh nyaho kumaha kahirupan rayat nu sabenerna. Ulah poho unggal poe dahar ukur jeung baso tahu!
TB: Sun, ari abdi engke icalan naon, Den? (REUWAS)
RAJA: Cicing we, Mang! Sok geura tanggung ayeuna mah, mudah-mudahan sing laris!
MANTRI 4: (PEURA) Sabaraha lami jisim abdi kedah icalan teh?
RAJA: Tilu bulan! Jig dimimitian ti ayeuna!
MANTRI TIBEBEREGEG NGANGKAT TANGGUNGAN, NGALENGKAH RUMANGGIEUNG)
RAJA: (SOLILOKUI) Encan salila tilu bulan ukur dahar baso tahu, mun engke datang deui teh abong mun teu pangling.
RAJA: (KA TB) Emang nyaho nu teu balener ngajalankeun aturan kaula?
TB: Langkung ti terang, Aden, margi Emang nu ngalamanana pisan. Sagala teu laju upami teu nganggo artos leuleueur mah!
RAJA: Tah ku lantaran Emang mah nyaho, Emang diangkat jadi mantri nu ngawaskeun jalanna aturan kaula! Tewakan nu teu balener ngajalankeunana, nu nyimpang-nyimpangkeun duit rayat, tong asa-asa berok! Bisi aya mantri nu kabaud sarua cangkalak. Keur nu ngabantu mah neangan, asal nu jujur jeung bener, nyaho halal haram jeung bisa ngabedakeun nu meunang ku agama! Sanggup teu, Emang?
TB: Sanggem! (TANDES)
DIANGKAT SUMPAH TERUS DISALIN MAKE BAJU KAMANTRIAN.
RAJA: Tah geus resmi ayeuna mah, Mang! (MASANGKEUN BROS BINTANG KANA KAMEJANA)
TB: Kawitan ti ayeuna wae newak jalmi teh, Aden?
RAJA: Enya! Rek newak saha kitu?
TB: Anu nyepeng kaamanan! Nu daragang teh sok disuhunkeun wae artos, kusir padati sareng sado ge sami we sok dipundut, kanggo uang jalan sareng kaamanan saurna!
RAJA: Mantri kaamanan maju! (ESOD-ESOD MANTRI KAAMANAN KA HAREUP.) Enya tateh, Mang? Unggal bulan pan nampa bisluit! (MOLOTOT. MANTRI 5 BALABAB-BELEBEB.) Abuskeun ka bui! Kuring teu hayang ngadenge papanjangan deui. Paingan sawah jeung kebon di ditu di dieu ditambah imah sabaraha suhunan, da ngajawabna ge teu pararuguh geuning!
RAJA: Aya deui teu, Mang?
TB: Seueur keneh!
RAJA: Isukan we nu sejenna mah. Ayeuna mah Emang balik we heula, bejaan pamajikan bari sakalian beberes. Imah geus disadiakeun katut eusina, kabeh ditanggung ku karajaan! Tinggal digawe bener we Emang mah!
TB: Yaktos diestokeun pisan! Hatur nuhun atuh, Aden! (AMITAN. RURUSUHAN KALUAR.)
NGADADAK POEK MONGKLENG. RAJA NGOJENGKANG INDIT.
GULANG-GULANG 1: Ku naon ieu teh euy, pareum listrik lain?
GULANG-GULANG 2: Heueuh, kade siah sirah raja katajong!
MANTRI 1: Mawa korek teu maneh?
MANTRI 2: Korek naon, roko oge teu boga!
GULANG-GULANG 1: Ieu dayeuh gara-gara be-be-em nake, listrik oge jadi mindeng pareum!
GULANG-GULANG 2: Pan bieu geus diturunkeun deui hargana ku raja!
GULANG-GULANG 1: Raja kajajaden eta mah! Saha atuh nu boga korek euy!
GULANG-GULANG 2: Korek-korek we, geus puguh murag, tah ieu geuning!
CEKES-CEKES, BURINYAY HURUNG, TEU LILA PES DEUI PAREUM!
MANTRI 1: Ari maneh make dipareuman?
MANTRI 2: Nyaho panas! Wah beak geuning euy pentulna oge!
MANTRI 1: Cilaka, moal tamat-tamat atuh latihan teh ari hayoh wae pareum listrik mah!
MANTRI 2: Bae lah da ukur sandiwara ieuh!

Sumedang, 22 April 2006

Sajak Anak BENCANA

BENCANA

Bencana apakah yang melanda dunia
kemarau nan panjang dan banjir bandang
yang membuat manusia berduka
dan ingat kepada Tuhan tersanjung?

Tuhan begitu baik kepadaku
Tak pernah dusta dalam pahit sembilu
Manusia sendiri yang memilih jalan keliru

Duka terbesar adalah duka Husain
Ketika terbujur kaku tak ada kawan
Siapakah yang ‘kan turut melawan penindasan?

Membaca SKANING

MEMBACA SKANING

Membaca skaning (scanning) bertujuan untuk mencari informasi spesifik (look for specific information). Bila seseorang membaca sebuah artikel tentang bencana alam di koran, maka ia bisa saja mencari informasi spesifik tentang bencana alam itu, misalnya mencari jumlah korbannya, tempat terjadinya, pertolongan yang telah dilakukan, antisipasi dari bencana alam atau latar belakang terjadinya bencana alam. Pembaca bisa saja menemukan informasi yang dicarinya atau bisa saja tidak menemukan informasi yang dicarinya.

Contoh peristiwa skaning adalah mencari bacaan di internet. Seseorang yang mencari sumber-sumber (bacaan) di internet bisa saja mencari dengan sebuah mesin pencari, misalnya google (www.google.com atau www.google.co.id). Ia akan memasukkan kata kunci atau tema yang dicarinya. Kemudian google akan menampilkan ribuan teks yang berkenaan dengan kata kunci atau tema itu. Saat kita mencari teks yang relevan dengan pencarian kita, itulah proses membaca skaning.

Safar PERINGATAN ARBAIN

PERINGATAN ARBAIN 2009

Bulan Safar adalah bulan setelah Muharam. Pada bulan Safar ini terdapat peristiwa penting dalam sejarah Islam yaitu Arbain. Arbain adalah hari keempat puluh setelah Imam Husain syahid di Padang Karbala. Pada hari syahadah Imam Husain, setelah Imam Husain berperang melawan puluhan ribu tentara musuh, Imam Husain pun syahid di Padang Karbala.

Dalam peperangan itu, tubuh Imam Husain dipotong-potong oleh musuh-musuh Allah. Kemudian, tentara-tentara musuh Allah itu membawa kepala Imam Husain untuk dipersembahkan kepada Yazid bin Muawiyah, khalifah Muslimin saat itu. Kepala Imam Husain dipancang di atas tombak sebagai piala arak-arakan dari kemenangan mereka.

Keluarga Nabi yang suci, putra-putri Nabi yang senantiasa dipingit dari perbuatan-perbuatan buruk hari itu diseret dengan belenggu. Di antara mereka ada Imam Ali Zainal Abidin Assajad, putra Imam Husain yang masih hidup, dalam keadaan sakit, diseret bersama iring-iringan menuju istana Yazid. Selain itu ada pula Zainab, salah seorang adik Imam Husain atau bibi dari Imam Ali Zainal Abidin Assajad.

Setibanya di hadapan Yazid, hampir saja Imam Ali Zainal Abidin Assajad dieksekusi mati, jika saja tidak ada pertolongan Allah melalui lisan pembelaan Zainab yang berani. Berhari-hari, berminggu-minggu mereka menjadi tawanan Yazid. Hingga pada suatu hari Yazid memutuskan membebaskan mereka. Sebagai bekal, Yazid memberi uang kepada keluarga Nabi ini. Keluarga Nabi saw pun pulang ke Madinah dan membagi-bagikan uang yang dibekalkan Yazid.

Sebelum tiba di Madinah, mereka tiba di Karbala dan melihat sisa-sisa pertempuran. Dengan hati yang tersayat, hancur, luluh, keluarga Nabi menyempurnakan jasad Imam Husain yang terbujur kaku. Mereka pun memperingati peristiwa tragis, pembantaian terhadap keluarga Nabi saw oleh sekelompok manusia yang menamakan dirinya penguasa dan memaksa orang lain untuk berbaiat kepadanya. Mereka mensalati jasad Imam Husain, berdoa dan bermunajat pada hari itu. Mereka tinggal di Padang Karbala saat itu sampai beberapa hari.

Peristiwa tibanya keluarga Nabi saw kembali ke Padang Karbala jatuh pada hari keempat puluh setelah peristiwa pembantaian 10 Muharam di Karbala. Karena itu peristiwa ini disebut Arbain yang artinya hari keempat puluh. Setelah itu mereka meneruskan perjalanan mereka ke Madinah untuk menyampaikan berita duka ini kepada kaum mukminin.

Di Indonesia, tahlil acap kali diperingati sorang muslim pada hari ketujuh hingga hari keempat puluh.

Di antara muslimin, ada yang tidak mengenal sejarah tragis terbantainya keluarga suci Nabi saw ini. Mereka bertanya, bagaimanakah partisipasi Hasan dan Husain, cucu Nabi saw sepeninggal Nabi saw? Ketika ditunjukkan kepada mereka sejarah ini, mereka terkejut dan hampir-hampir tak percaya.

Di dalam sejarah, Yazid dikenal sebagai peminum khamr dan orang yang dengan terang-terangan berbuat maksiat. Banyak sumber yang dapat dijadikan rujukan untuk membenarkan peristiwa itu. Namun di Indonesia, umat muslim sama sekali tidak mengetahui hal itu. Ketika ditunjukkan manusia seperti apa Yazid, mereka terkejut dan hampir-hampir tak percaya.

Rasulullah pernah berkata tentang Imam Husain bahwa dalam diri Imam Husain terdapat bara yang tak pernah padam untuk melawan tiran dan penindasan. Kaum muslimin yang turut berduka dengan syahadahnya Imam Husain memperingati syahadah dan arbain dengan duka yang membara. Liputan usai peristiwa Arbain ini dapat dilihat pada video berikut ini.

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=WDY7-jaucLY]

Penelitian TINDAKAN KELAS

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Penelitian tindakan kelas bermula dari masalah yang dialami pembelajar di kelas. Pengajar akan berusaha mengobati masalah itu dengan suatu metode penelitian. Dengan demikian, pengajar berhipotesis bahwa dengan metode yang dia gunakan, masalah-masalah yang dialami di kelas dapat dikurangi atau dihilangkan. Biasanya, masalah yang dialami pembelajar merupakan masalah prestasi dan/atau (manajemen) kelas yang kurang terkontrol.

Penelitian tindakan kelas merupakan penelitian yang relevan dengan pendidikan karena penelitian tindakan kelas berupaya mengatasi masalah yang dialami pembelajar. Sekalipun begitu, penelitian lainnya dapat pula dilakukan misalnya berkenaan dengan eksperimen murni atau kuasi-eksperimen.

Pengajar ini dapat melihat masalah berupa kurangnya prestasi pembelajar atau manajemen kelas yang buruk. Dengan begitu ada data awal berupa rencana pembelajaran dari data awal, catatan lapangan dari data awal dan prestasi pembelajar dari data awal. Dengan begitu dari rencana pembelajaran dapat terlihat kekurangan pengajar dalam merencanakan pembelajarannya. Dari catatan lapangan pun dapat diketahui proses pembelajaran, ributnya pembelajar, atau kurang lengkapnya pengajar menyampaikan prosedur pembelajaran. Dari prestasi data awal dapat diketahui kurangnya prestasi pembelajar.

Dalam penelitian tindakan kelas ada target-target yang dibuat oleh pengajar. Target itu berupa kompetensi yang ada di dalam rencana pembelajaran. Selanjutnya, evaluasi yang ada pada rencana pembelajaran pun harus sesuai dengan kompetensi ini. Dengan begitu rencana pembelajaran merupakan berkas yang penting dalam penelitian tindakan kelas.

Di dalam penelitian tindakan kelas terdapat siklus-siklus seandainya target belum tercapai. Pengajar dapat pula membuat pola spiral dari materi pembelajaran yang disampaikan kepada pengajarnya. Pengajar dapat pula membuat menentukan materi yang setara dengan siklus pertama. Bila pengajar membuat materi yang setara, pengajar harus menghindari kebosanan pembelajar pada setiap siklusnya. Selain itu, ada pula kekhawatiran terjadi bias, yaitu pemahaman pembelajar memang karena materi itu diulang-ulang pada siklus pembelajarannya.

Selanjutnya bab I dari sebuah laporan penelitian akan mengandung masalah-masalah yang akan dipecahkan di dalam penelitian. Masalah-masalah itu diupayakan untuk diobati berdasarkan hipotesis pembelajar tadi. Masalah ini akan menjadi pusat dari pembahasan dari tinjauan pustaka (bab II) dan simpulan (bab V).

Membaca SKIMING

MEMBACA SKIMING

Membaca skiming adalah teknik membaca pemahaman yang bertujuan untuk mencari ide utama (look for main idea). Kadang-kadang seseorang membaca koran, buku, artikel di internet. Bila si pembaca bertujuan untuk mencari ide utamanya, maka pembaca itu akan memperoleh ide utamanya.

Jika seseorang ditanya tentang isi bacaannya, ia akan dapat menjawab garis besar atau ide utama dari bacaan yang ia baca. Skiming merupakan teknik membaca cepat yang mesti dilatih.

Membaca pemahaman identik dengan membaca cepat. Membaca cepat lebih menekankan pada kecepatannya. Sekalipun kecepatan diutamakan, pemahaman tetap harus maksimal. Kemampuan membaca cepat ditandai dengan dua variabel penting yaitu pemahaman dan kecepatan. Membaca tidaklah efisien tanpa kecepatan yang laju. Membaca pun tidak bermanfaat tanpa pemahaman yang maksimal.

Cerita Nabi PERUMPAMAAN NYAMUK

PERUMPAMAAN NYAMUK

Sebagian masyarakat di sekitar Nabi saw merasa iri dengan turunnya Al Quran. Ketika Allah menurunkan suatu ayat mereka selalu mempertanyakan sebab-sebabnya. Allah tidak jarang membuat banyak perumpamaan dalam ayat-ayat yang diturunkannya. Orang-orang yang ingkar terhadap Al Quran bertanya, mengapa Allah menurunkan ayat-ayat yang berisi perumpamaan? Maa dza aradallahu bihadza matsala?

Hal ini berbeda dengan masyarakat mukmin di sekitar Nabi saw. Ketika sebuah ayat turun, masyarakat mukmin ini berkata, kami melihat hikmah dan manfaat dari ayat ini. Allah swt mengatakan bahwa Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan dengan lalat atau lebih kecil dari itu.

Imam Jafar Shadiq pernah ditanya oleh sahabatnya tentang perumpamaan seekor nyamuk. Mengapa Allah swt memberikan perumpamaan seekor nyamuk. Imam Jafar berkata, “Ketahuilah bahwa nyamuk memiliki kelengkapan yang sama dengan seekor gajah.” Bila gajah mempunyai kaki, nyamuk pun mempunyai kaki. Bila gajah mempunyai kepala dan badan, nyamuk pun mempunyai kepala dan badan. Bila gajah mempunyai belalai, nyamuk pun mempunyai belalai. Bahkan nyamuk memiliki kelengkapan yang lain yaitu mempunyai sayap, sedangkan gajah hanya memiliki telinga yang lebar saja.

Rasulullah pernah ditanya sahabatnya tentang perbedaan shirot dan subul (sabil). Kedua kata itu dalam bahasa Arab berarti jalan. Rasulullah lalu membuat perumpamaan. Beliau saw mengambil sebuah ranting. Dengan ranting itu beliau saw membuat sebuah garis vertikal (dari atas ke bawah). Rasulullah saw mengatakan bahwa inilah shirot. Lalu Rasulullah saw membuat garis-garis horizontal di kanan dan kiri garis vertikal itu. Rasulullah mengatakan bahwa inilah subul. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa shirot adalah jalan utama sedangkan subul adalah jalan-jalan kecil.

Allah swt menggunakan begitu banyak perumpamaan. Perumpamaan orang yang berpengetahuan tetapi tidak mengamalkan dan menyampaikan pengetahuannya itu adalah sebagai keledai yang memikul begitu banyak buku.

Allah swt juga membuat perumpamaan bahwa orang yang menyeru tuhan selain-Nya sebagai laba-laba yang membuat rumah. Manusia seperti membangun rumah yang sangat rapuh dan mudah goyah.

Perumpamaan atau contoh merupakan hal-hal yang sering disampaikan Allah, Nabi dan khalifah Rasulullah saw. Pada kesempatan lain Imam Jafar berbicara tentang royal dan kikir. Islam tidak bersifat royal dan kikir. Islam ada di antara keduanya. Ada sahabatnya yang bertanya, apa maksud royal, kikir dan tidak keduanya itu? Lalu Imam Jafar menjelaskan tentang hal itu.

Imam Jafar lalu mengambil segenggam pasir dengan tangannya. Lalu ia membalikkan tangannya sehingga semua pasir itu tumpah dan habis. Imam Jafar berkata, ini adalah royal. Lalu Imam Jafar lalu mengambil segenggam pasir kedua dengan tangannya. Lalu ia menggenggam tangannya dengan erat sehingga tidak ada pasir yang tumpah sama sekali. Imam Jafar berkata, ini adalah kikir. Imam Jafar lalu mengambil segenggam pasir ketiga dengan tangannya. Lalu ia melonggarkan tangannya sehingga sebagian pasir itu jatuh ke tanah. Imam Jafar berkata, ini adalah dermawan. Sikap dermawan adalah sikap di antara royal dan kikir.

Cerita Nabi MUKJIZAT MUSAILAMAH AL KADZAB

MUKJIZAT MUSAILAMAH AL KADZAB

Pada suatu hari Nabi Muhammad saw bersama sahabat-sahabatnya berada di padang sahara. Tidak ada air di sana. Nabi lalu mendapat mukjizat, air menetes dari sela-sela jarinya hingga beliau dan para sahabatnya dapat minum dan berwudu. Nabi dan sahabat-sahabatnya pun minum dan melakukan salat.

Ada seorang yang mengaku-ngaku sebagai Nabi dan mendapat wahyu. Orang itu bernama Musailamah. Musailamah merupakan seorang penyair dan membuat syair yang diakuinya sebagai wahyu. Musailamah pun mempunyai sejumlah orang yang merupakan sahabat-sahabatnya. Tak jarang mereka mendengarkan syair yang diakui Musailamah sebagai wahyu. Namun perilaku Musailamah jauh dari perilaku Nabi. Karena itu Musailamah digelari Musailamah Alkadzab atau Musailamah si pembohong.

Ketika itu sahabat-sahabat Musailamah mendengar mukjizat Nabi saw di tengah padang Sahara. Mendengar hal itu, sahabat-sahabat Musailamah Alkadzab berkata kepada Musailamah, “Hai Musailamah, Muhammad dapat mengeluarkan air dari sela-sela jarinya. Dapatkah kau menjadikan sumur yang kering di desa ini agar keluar airnya?” Musailamah menyanggupi tantangan itu. Ia lalu meludahi sumur itu dan berdoa agar sumur itu keluar airnya. Lalu kepada sahabat-sahabatnya, ia pun berkata bahwa suatu saat sumur itu akan muncul airnya.

Maka mukjizat pun terjadi, sumur yang diludahi Musailamah pun kering dan sama sekali tidak muncul airnya. Itulah mukjizat bagi seorang yang mengaku nabi padahal bukan nabi. Pada zaman Abu Bakar, Musailamah ini dihukum mati.