Cerita Nabi PERUMPAMAAN NYAMUK

PERUMPAMAAN NYAMUK

Sebagian masyarakat di sekitar Nabi saw merasa iri dengan turunnya Al Quran. Ketika Allah menurunkan suatu ayat mereka selalu mempertanyakan sebab-sebabnya. Allah tidak jarang membuat banyak perumpamaan dalam ayat-ayat yang diturunkannya. Orang-orang yang ingkar terhadap Al Quran bertanya, mengapa Allah menurunkan ayat-ayat yang berisi perumpamaan? Maa dza aradallahu bihadza matsala?

Hal ini berbeda dengan masyarakat mukmin di sekitar Nabi saw. Ketika sebuah ayat turun, masyarakat mukmin ini berkata, kami melihat hikmah dan manfaat dari ayat ini. Allah swt mengatakan bahwa Allah tidak malu untuk membuat perumpamaan dengan lalat atau lebih kecil dari itu.

Imam Jafar Shadiq pernah ditanya oleh sahabatnya tentang perumpamaan seekor nyamuk. Mengapa Allah swt memberikan perumpamaan seekor nyamuk. Imam Jafar berkata, “Ketahuilah bahwa nyamuk memiliki kelengkapan yang sama dengan seekor gajah.” Bila gajah mempunyai kaki, nyamuk pun mempunyai kaki. Bila gajah mempunyai kepala dan badan, nyamuk pun mempunyai kepala dan badan. Bila gajah mempunyai belalai, nyamuk pun mempunyai belalai. Bahkan nyamuk memiliki kelengkapan yang lain yaitu mempunyai sayap, sedangkan gajah hanya memiliki telinga yang lebar saja.

Rasulullah pernah ditanya sahabatnya tentang perbedaan shirot dan subul (sabil). Kedua kata itu dalam bahasa Arab berarti jalan. Rasulullah lalu membuat perumpamaan. Beliau saw mengambil sebuah ranting. Dengan ranting itu beliau saw membuat sebuah garis vertikal (dari atas ke bawah). Rasulullah saw mengatakan bahwa inilah shirot. Lalu Rasulullah saw membuat garis-garis horizontal di kanan dan kiri garis vertikal itu. Rasulullah mengatakan bahwa inilah subul. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa shirot adalah jalan utama sedangkan subul adalah jalan-jalan kecil.

Allah swt menggunakan begitu banyak perumpamaan. Perumpamaan orang yang berpengetahuan tetapi tidak mengamalkan dan menyampaikan pengetahuannya itu adalah sebagai keledai yang memikul begitu banyak buku.

Allah swt juga membuat perumpamaan bahwa orang yang menyeru tuhan selain-Nya sebagai laba-laba yang membuat rumah. Manusia seperti membangun rumah yang sangat rapuh dan mudah goyah.

Perumpamaan atau contoh merupakan hal-hal yang sering disampaikan Allah, Nabi dan khalifah Rasulullah saw. Pada kesempatan lain Imam Jafar berbicara tentang royal dan kikir. Islam tidak bersifat royal dan kikir. Islam ada di antara keduanya. Ada sahabatnya yang bertanya, apa maksud royal, kikir dan tidak keduanya itu? Lalu Imam Jafar menjelaskan tentang hal itu.

Imam Jafar lalu mengambil segenggam pasir dengan tangannya. Lalu ia membalikkan tangannya sehingga semua pasir itu tumpah dan habis. Imam Jafar berkata, ini adalah royal. Lalu Imam Jafar lalu mengambil segenggam pasir kedua dengan tangannya. Lalu ia menggenggam tangannya dengan erat sehingga tidak ada pasir yang tumpah sama sekali. Imam Jafar berkata, ini adalah kikir. Imam Jafar lalu mengambil segenggam pasir ketiga dengan tangannya. Lalu ia melonggarkan tangannya sehingga sebagian pasir itu jatuh ke tanah. Imam Jafar berkata, ini adalah dermawan. Sikap dermawan adalah sikap di antara royal dan kikir.

Leave a Reply