Drama JADI RAJA

JADI RAJA
Drama disadur dari “Lalakon” karya Fier Hilari,
Mangle, 2061, 6-12 April 2006,
oleh Prana D. Iswara

Tokoh
1. Raja
2. Menteri 1
3. Menteri 2
4. Menteri 3
5. Menteri 4
6. Tukang Baso
7. Pengawal 1
8. Pengawal 2

BABAK I
MALAM
RAJA: (SOLILOKUI, MENGGUMAM) Dalapan bulan menjadi pejabat raja, mengganti bapa almarhum, telinga ini mulai mendengar kabar-kabar angin. Kata kabar angin, rakyat kurang makan, harga bahan pokok dan barang-barang mahal, anak-anak bodoh-bodoh karena biaya sekolah mahal, orang sakit tak bisa berobat. Pokoknya berita yang masuk ke telinga barang-barang serba mahal. Mula-mula kabar-kabar itu hanya selewat saja, lama-lama bertambah ramai kabar itu. Benar harga-harga itu mahal? Padahal rasanya kurang apa pemerintah menyenangkan rakyat. Orang yang tidak punya pekerjaan disumbang, ingin menyekolahkan anak, itu tempatnya, itu bangkunya, itu bukunya bebas SPP, orang sakit tinggal berobat, obatnya disadiakan gratis, tinggal nunggu kapan orang mau sakit? Apa kurangnya! Berita itu membuat panasaran saja ….

BABAK II
SIANG
MENTERI DIUNDANG. MENTERI-MENTERI BERDATANGAN SAMBIL MENGACUNGKAN SEMBAH BERGANTIAN. ACARA INI SENGAJA TIDAK SEGERA DIBUKA, RAJA MENATAP MENTERI-MENTERI YANG BERKUMPUL DENGAN PANDANGAN TAJAM. HINGGA MENTERI-MENTERI YANG BERKUMPUL SEDIKIT GELISAH.
RAJA: (MEMERINTAH) Kita mulai dengan laporan, silakan maju menteri yang mengurus kehidupan rakyat! (MENTERI BERINGSUT MERANGKAK, MENYERET BADANNYA KE DEPAN RAJA, IA KEREPOTAN KARENA BADANNYA YANG GEMUK. IA MEMBERI LAPORAN, SINGKATNYA KATANYA RAKYAT MAKMUR, CUKUP SANDANG, CUKUP PANGAN.)
RAJA: Kata siapa berita itu, Mang? (SOLILOKUI) Aku ‘kan raja, emang saja nyebut Pa Menteri itu.
MENTERI 1: Dari bawahan yang mengurus itu, Tuanku Raja!
RAJA: Emang selalu memeriksa ulang pekerjaan itu?
MENTERI 1: Tentu, Baginda Raja! Malah uang sumbangan sudah dibagi-bagi, semuanya mendapat bagian karena itu rakyat makmur!
RAJA: (KERUNG) Sebentar, Mang! Kenapa dibagikan semua, bukankah uang itu hanya untuk masyarakat miskin!
MENTERI 1: Mungkin begini, Baginda. Begitu masyarakat tahu ada pembagian uang sumbangan, jumlah masyarakat miskin jadi bertambah. Makin banyak orang yang ingin disebut miskin. Bahkan yang punya kuda dua juga ingin disebut miskin. Waktu ditanya, jawabnya memang punya kuda, tapi kan makan tak cukup dengan mencium bau kuda!
Begitu, Tuan, karena itu bagi rata saja daripada jadi pertengkaran masyarakat!
RAJA: (SOLILOKUI) Wah, tak beres ini!
Barang-barang di pasar tersedia?
MENTERI 1: Ada, Baginda, tak akan kekurangan barang-barang di pasar lengkap! Di jongko, di warung!
RAJA: Harga-harganya mahal tidak?
MENTERI 1: Tidak, Tuan, menurut timbangan pribadi saya harga-harga itu murah, Tuan!
RAJA: (SOLILOKUI) Ini dia, murah menurut timbangan pribadinya. Bagi rakyat lain lagi ceritanya, bukan begitu?

TOK-TOK, TOK-TOK! DARI LUAR TERDENGAR SUARA TUKANG BASO MEMUKUL TELINGA. RAJA BERPALING MENDENGAR SUARA ITU.

RAJA: (TELUNJUKNYA MEMERINTAH AJUDAN) Panggil ke sini!

AJUDAN MESKI IA TAK MENGERTI ALASAN TUKANG BASO DIPANGGIL SEGERA IA PERGI KE LUAR. IA KEMBALI BERSAMA SEORANG YANG KURUS. TERBUNGKUK-BUNGKUK MENDEKAT SAMBIL MEMBAWA DAGANGANNYA.

TUKANG BASO: Pesan berapa mangkuk, Tuan?
RAJA: Tidak, Mang! Coba Emang bicara, zaman sekarang makin susah atau makin senang?
TB: Makin repot, Tuan. Zaman sekarang, uang tak mampu membeli barang-barang. Segala barang tak terbeli!
RAJA: Kurang orang yang dagang?
TB: Orang yang dagangnya banyak, tapi uang untuk membelinya tak ada alias tak punya!
RAJA: Mengapa begitu, ‘kan zaman sekarang dapat uang pembagian?
TB: Emang tidak terbagi karena Emang berjualan baso tahu!
RAJA: Mengapa begitu?
TB: Katanya orang jualan baso tahu begini tak akan kurang makan, Tuan!
RAJA: Sekarang Emang sudah makan?
TB: Sudah!
RAJA: Nah, dengan apa lauknya, Mang? (MENELITI)
TB: Tentu saja dengan baso tahu, karena sudah lama tidak masak nasi!
RAJA: Setiap hari makan baso tahu?
TB: Ya, benar.
RAJA: (SOLILOKUI) Waduh! Bila orang dagang abu, mana mungkin ia makan abu, ck…ck…ck…. (MENGGELENG-GELENG KEPALA) Mumpung sedang omong dengan rakyat. Ajudan, segera bawa kursi dan sirup.

BEGITU TAHU RAKYAT AKAN DIINTEROGASI, PARA MENTERI JADI SEMAKIN GELISAH. MENDADAK KURSI TERASA GATAL SEPERTI DUDUK DI ATAS DURI. APALAGI MENTERI PENGURUS KEHIDUPAN RAKYAT, CEMAS DAN TAK BISA DIAM! AIR SIRUP DATANG.

RAJA: Minum dulu, Mang. Cicipi, rasanya segar! (GELAS SIROP DISODORKAN)

TB RAGU-RAGU MENGAMBIL GELASNYA. MUNGKIN IA HERAN KARENA ADA SIROP WARNA BIRU. DICICIPI SEDIKIT, MATANYA KELILIPAN. DICICIP-CICIP LAGI, AKHIRNYA GLEK DIMINUM SAMPAI HAMPIR HABIS SETENGAH GELAS. LALU IA SENDAWA.

RAJA: Anak-anak ada yang bersekolah?
TB: (SAMBIL MENYUSUT BIWIR) Ada, yang kecil di tingkat dasar satu kelas dua, yang sulung di tingkat dasar dua kelas satu.
RAJA: Sukur, sekarang tak perlu iuran sekolah ‘kan?
TB: Anak yang kecil saja yang tidak iuran sekolah, Tuan, sekolah si Sulung tetap harus membayar iuran! Sudah tiga bulan ia belum bayar iuran!
RAJA: (SOLILOKUI) Ah, sudah kacau lagi ini! (MATANYA BERALIH MEMANDANG TAJAM KEPADA MENTERI-MENTERI YANG BERKUMPUL. MENTERI YANG MENGURUS PENDIDIKAN NASIONAL BERSEMBUNYI DI BELAKANG KEPALA MENTERI LAIN.)
RAJA: Silakan ke depan, Mang! (BERINGSUT-INGSUT KE DEPAN, LALU MENYEMBAH)
RAJA: Bagaimana ini, Mang, masih ditarik iuran katanya?
MENTERI 2: Iya, Tuan, Hamba juga tidak mengerti!
RAJA: Tidak mengerti bagaimana? ‘Kan sudah jelas subsidi setiap anak! Setiap anak dapat subsidi! (TAJAM)
MENTERI 2: Sudah dilaksanakan itu juga, hanya saja uang iuran sekolahnya malah tambah membengkak!
RAJA: Coba ceritakan supaya jelas!
MENTERI 2: Sebelum ditalangi kerajaan, besar iuran dua puluh sen ditarik setiap bulan! Setelah ditalangi kerajaan iuran malah naik jadi empat puluh sen tiap bulannya! Jadi tetap saja anak-anak harus membayar kekurangannya!
RAJA: Jadi dobel sekolah dapat uangnya?
MENTERI 2: Ya, tentu!
RAJA: (SOLILOKUI) Pintar! (MENGGELENG-GELENG KEPALA LAGI)
RAJA: Begini saja sekarang. Sekolah yang masih mengajukan kekurangan langsung pecat dari pekerjaannya! Mengajar dan mendidik itu bagian dari ibadah, bukan semata mencari uang. Uang saja yang dikejar orang! Lekas bereskan sejak sekarang. Tiga hari mesti beres. Kalau masih terdengar ada iuran, Emang Menteri yang dipecat saat itu juga. Sanggup?
MENTERI 2: (GANCANG) Sanggup!
TB: (NYERENGEH, SOLILOKUI) Menteri takut tak lagi menjabat, takut balik jadi rakyat ….
RAJA: (KA TB) Nah sekarang kalau Emang sakit, masih harus membayar ke puskesmas atau rumah sakit?
TB: Entah tentang bayar di puskesmas, Emang tak tahu! Kalau sekedar demam panas-dingin Emang cukup dengan obat kampung saja, Tuan!
RAJA: (MELIRIK DENGAN SUDUT MATA KEPADA MENTERI URUSAN KASEHATAN RAYAT. MENTERI MENARIK NAFAS PANJANG, WAJAHNYA PUCAT MENDADAK SEGAR LAGI.
RAJA: Di kampung masyarakat masih mampu membeli beras?
TB: Beras sih banyak di warung, tetapi lebih sedikit yang mampu membelinya!
RAJA: Mahal atau tak punya uang?
TB: Mahal dan tak punya uang. Kalau punya uang mahal-mahal juga tentu akan terbeli!
RAJA: (SOLILOKUI) Benar! Tapi mengapa beras mahal dan rakyat tiba-tiba tak punya uang. Jangan-jangan…. (MELIRIK KEPADA KUMPULAN MENTERI)
RAJA: Silakan ke depan, Mang! (MENTERI 3 AGAK TERBUNGKUK-BUNGKUK)
RAJA: Mengapa seperti orang yang takut. Coba terangkan oleh Mang Menteri, jadi kurang uang dan harga mahal itu apa alasannya! Apakah karena Emang menaikkan harga bahan bakar minyak dan minyak sayur?
MENTERI 3: (MELIHAT KIRI-KANAN SEPERTI MENCARI DUKUNGAN) Itulah, Baginda, harga bahan bakar minyak naik selalu diikuti harga barang-barang lain, padahal menurut perhitungan hanya minyak yang dinaikkan harganya!
RAJA: Buktinya semua harga naik. Minyak dapat dibeli masyarakat sekarang, Mang?
MENTERI 3: Sekarang di kampung-kampung mulai membuat kompor kayu bakar dan arang, Tuan!
RAJA: Apa tak salah yang kudengar, kembali lagi menggunakan arang dan kayu bakar?
MENTERI 3: Benar, Tuan!
RAJA: (SOLILOKUI) Aduh, celaka dua belas! Disimpan di mana wajah ini. Rakyat kerajaan tetangga membeli kompor gas, rakyat di sini malah menggunakan arang dan kayu bakar. Kembali lagi pada zaman nenek moyang! Jangan-jangan …. (KEPADA MENTERI 3, MARAH) Berarti Mang Menteri mau hasud, menaikkan harga minyak, supaya aku malu kepada raja-raja tetangga lain?
MENTERI 3: Ampun, tidak sama sekali, Tuan! Tak ada niat hasud!

MELIHAT RAJANYA MARAH, AJUDAN BERINISIATIF MENDEKATI MANG MENTERI SAMBIL MENODONGKAN TUMBAKNYA. MENTERI 3 SEMAKIN MENGGIGIL.

RAJA: Begitulah karena pekerjaan Emang. Sekarang Emang harus menyusur setiap lembur, runtuhkan lagi dapur kayu bakarnya, ganti masing-masing dengan minyak lima liter! Umumkan harganya diturunkan lagi, bahkan lebih murah daripada harga sebelum naik! Jangan dulu pulang sebelum gubuk kayu bakarnya belum semua runtuh! Sekarang pergi! Minta pengawal agar tak ada yang tuntutan lancar! (TELUNJUK MENUNJUK GERBANG.)

MENTERI 3 PERGI BERSAMA PENGAWAL. MATA RAJA BERALIH KEMBALI MENATAP TAJAM KEPADA KUMPULAN MENTERI. AGAK LAMA MENATAP MENTERI YANG GEMUK. ORANG YANG DITATAP MENUNDUK MINTA DIKASIHANI.

RAJA: Coba, Mang, berdiri di sini!
MENTERI 4: Saya, Tuan?
RAJA: Ya, berdiri ni, di sini! (KEPADA TB) Coba Emang juga berdiri, berjajar di sini!
DUA ORANG BERDIRI DI DEPAN RAJA. DIAMATI.
RAJA: (KEPADA TB) Emang sekarang silakan duduk lagi! (KEPADA MENTERI 4) Bagaimana sekarang, Mang? Buktinya boro-boro cukup sandang pangan, kenyataannya banyak yang kelaparan pada zaman sekarang ini! Sekarang karena Emang sudah mealaikan amanat rakyat, Emang saya tugasi menjadi tukang baso dulu agar tahu kehidupan masyarakat yang sebenarnya. Jangan lupa setiap hari makan hanya baso tahu.
TB: Tuan, saya nanti jualan apa? (KAGET)
RAJA: Diam dulu, Mang! Silakan tanggung sekarang, mudah-mudahan laris!
MENTERI 4: (SERAK) Berapa lama hamba mesti jualan baso tahu, Tuan?
RAJA: Tiga bulan! Silakan, mulai dari ekarang!
MENTERI KEREPOTAN MENGANGKAT TANGGUNGAN, MELANGKAH TERHUYUNG-HUYUNG.)
RAJA: (SOLILOKUI) Belum lagi tiga bulan harus makan hanya baso tahu, nanti datang lagi pasti akan pangling.
RAJA: (KA TB) Emang tahu menteri-menteri yang menyimpang dari aturan pemerintahan ini?
TB: Jelas sekali, Tuan, karena Emang mengalami sendiri. Segala masalah tak akan selesai bila tak ada uang pelicin!
RAJA: Sekarang karena Emang tahu, Emang diangkat jadi menteri yang mengawasi berjalannya aturan pemerintahan. Tangkap orang-orang yang menyimpang, yang mencuri uang rakyat, tak usah ragu, tangkap! Bila ada menteri yang terlibat juga tangkap. Cari orang-orang jujur, orang-orang taat agama dan mengerti halal-haram untuk membantu menangkap koruptor dan orang-orang tak jujur! Sanggup, Mang?
TB: Sanggup! (TEGAS)
DIANGKAT SUMPAH LALU BERGANTI BAJU DENGAN BAJU KEMENTERIAN.
RAJA: Nah sekarang sudah resmi, Mang! (MEMASANGKAN BROS BINTANG DI KEMEJA MENTERI)
TB: Apakah bisa mulai sekarang menangkap orang itu, Tuan?
RAJA: Ya! Memang Emang mau menangkap siapa?
TB: Yang memegang keamanan! Orang-orang dagang selalu dimintai uang kebersihan, kusir pedati dan sado juga selalu diperas, katanya untuk uang jalan dan keamanan!
RAJA: Menteri keamanan maju! (BERINGSUT-INGSUT MENTERI KEAMANAN KE DEPAN.) Benarkah demikian, Mang? Tiap bulan ‘kan sudah menerima macam-macam tunjangan! (MELOTOT. MENTERI 5 BERKATA BALABAB-BELEBEB.) Jeploskn ke bui! Aku tak ingin mendengar lebih panjang lagi. Pantas sawah dan kebon di tiap kecamatan ditambah rumah beberapa buah, barusan menjawabnya juga tak jelas sama sekali!
RAJA: Ada lagi yang lainnya, Mang?
TB: Banyak!
RAJA: Besok saja menangkap yang lainnya, Mang. Sekarang Emang pulang dulu saja, beri tahu istri sambil beres-beres. Rumah telah disediakan bersama isinya, semua ditanggung kerajaan! Tinggal kerja yang benar, Mang!
TB: Baik, terima kasih, Tuan! (PAMITAN. TERGESA-GESA KELUAR.)
MENDADAK GELAP GULITA. RAJA MELANGKAH PERGI.
PENGAWAL 1: Mengapa gelap ini, mati listrik ya?
PENGAWAL 2: Iya, hati-hati kepala raja ketendang!
MENTERI 1: Kau bawa korek api?
MENTERI 2: Ga, rokok juga tak punya!
PENGAWAL 1: Negara ini gara-gara be-be-em naik, listrik juga jadi sering padam!
PENGAWAL 2: Kan barusan oleh raja sudah diturunkan lagi harganya!
PENGAWAL 1: Raja jadi-jadian itu sih! Ooy! Siapa yang punya korek!
PENGAWAL 2: Korek terus yang diurus, dah jelas jatuh koreknya, nah ini dia!
MENYALAKAN KOREK. BERKALI-KALI MENGGOSOK KOREK. KOREK MENYALA. TAK LAMA KOREK MATI LAGI.
MENTERI 1: Hey, mengapa kau matikan korek itu?
MENTERI 2: Panas! Wah habis nih pentul koreknya juga!
MENTERI 1: Celaka, kaga bakal tamat ini latihan kalau terus mati listrik!
MENTERI 2: Biar lah, sekedar latihan sandiwara ini!

Sumedang, 22 April 2006

One thought on “Drama JADI RAJA

Leave a Reply