Artikel PEMERINTAH MENGATASI PREMAN PASAR

MENGATASI PREMAN PASAR DENGAN KEKUATAN PERAN PEMERINAH

Mungkinkah seorang calon eksekutif (bupati, gubernur, atau presiden)atau calon legislatif (dewan perwakilan rakyat) berjanji untuk membuat pasar-pasar yang bersih seperti market. Kemudian pasar itu dapat dimiliki atau disewakan oleh rakyat yang modalnya tidak besar. Hal ini terjadi karena kota-kota besar telah dikuasai oleh pasar-pasar yang notabene pasar milik negara asing.

Ada permasalahan lainnya berkenaan dengan pasar yang ada di Indonesia.

Seseorang yang tinggal di Indonesia acap kali mendengar berita, ketika panen tomat begitu melimpah, tiba-tiba harga tomat di pasaran jatuh. Petani akhirnya tidak memetik panen tomatnya sama sekali dan membiarkan panen tomatnya membusuk di pohon. Ketika petani sedang panen kol, buah kol begitu besar dan berat. Tiba-tiba harga kol di pasaran jatuh.Petani pemilik kebun akhirnya mengumumkan di masjid,bagi para tetangga yang membutuhkan kol, silakan ambil sendiri di kebun milik petani itu. Juga ketika petani panen cabai, tiba-tiba harga cabai jatuh sehingga petani lagi-lagi dirugikan. Setiap petani akan merasakan kekuatan preman pasar dalam menentukanharga. Hukum pasar berbunyi, bila permintaan barang lebih besar daripada penawaran barang, maka harga barang akan naik. Sebaliknya bila jumlah barang banyak dan permintaan sedikit, maka harga barang akan jatuh.

Keadaan-keadaan seperti ini layaknya seperti pasar dikuasai preman. Harga jagung, beras, dan hasil produk pertanian tidak pernah stabil. Akhirnya petani acap kali mengalami kerugian dan tidak pernah berubah nasibnya.

Hal ini diperparah dengan masuknya komuditi asing (impor) dengan harga yang jauh lebih rendah daripada harga barang domestik. Contohnya gula dan beras. Ketika gula produk dalam negeri disaingi produk impor (juga dengan harga yang bersaing alias lebih murah), jelas gula produk dalam negeri akan kehilangan pasar. Orang-orang akan membeli gula impor karena lebih murah dan mungkin sedikit lebih bagus daripada produk lokal. Impor gula ini pernah dilakukan oknum pemerintah atau dewan karena oknum pemerintah atau dewan itu mendapatkan komisi dari masuknyua gula impor itu.

Ketika harga kedelai dunia rendah, pemerintah bahkan melarang para petani menanam kedelai. Pelarangan yang dilakukan pemerintah itu sepertinya menolong petani, padahal pemerintah bukan melindungi tetapi menghancurkan tradisi potensi masyarakat yang semestinya dilindungi. Seharusnya pemerintah memberi alternatif seperti (1) menyetop impor kedelai, (2) memberi bea / pajak impor kedelai, (3) mendistribusikan kedelai lokal bahkan bagi makanan ternak.

Di negara-negara maju, produk-produk dalam negeri senantiasa dilindungi pemerintah. Pemerintah mempunyai sejumlah kepanjangan tangan di kecamatan hingga ke desa-desa untuk dapat memasarkan produk dalam negeri dengan baik. Bila di Jepang produk motornya dilindungi bahkan pemerintah Jepang berupaya memasok produk kendaraan bermotornya di luar negeri, negeri ini justru mematikan potensi pertanian dan industrinya.

Leave a Reply