Cerita Nabi DIALOG MUSLIM DENGAN ATEIS

DIALOG MUSLIM DENGAN ATEIS
dari Hasan A.A.

Sorang muslim yang tinggal di sebuah negeri yang ateis (tak bertuhan) diminta berdialog tentang keyakinannya tentang keberadaan Tuhan. Orang muslim ini menyetujui diadakannya dialog. Maka ditentukanlah tempat dan waktu dialog itu.

Pada tempat dan waktu yang ditentukan, berkumpullah orang-orang ateis untuk menyaksikan dialog mereka dengan muslim tadi. Beberapa lama mereka menunggu, orang muslim tadi tidak juga datang. Mulailah mereka curiga, jangan-jangan orang muslim tadi tidak mampu berargumen sehingga terlambat untuk datang. Orang-orang sudah mulai cemas dan tak sabar.

Setelah satu jam berlalu, barulah orang muslim ini datang ke tempat dialog teologi tadi. Orang-orang mencemooh dan memprotes, “Hai orang Islam, inikah ajaran Islam itu, biasa terlambat datang dan membiarkan orang-orang menunggu?”

Orang muslim tadi tidak marah dan berupaya menenangkan. Ia memohon maaf dan berkata bahwa ia menyesal terlambat datang. Ia mengatakan bahwa terlambat datang bukanlah ajaran Islam. Oleh karena itu, ia memohon agar keterlambatannya jangan diidentikkan dengan ajaran Islam.

Orang-orang mulai mengerti pembicaraan orang muslim tadi. Lalu seseorang bertanya, “Mengapa ia sampai terlambat dan orang-orang menyangka ia tidak menghargai forum dialog ini?” Orang muslim ini mulai bercerita. Ia menjawab bahwa ia terlambat datang karena ada halangan ketika akan mencapai tempat dialog ini. Orang Islam itu berkata, “Tuan-tuan, saya terhalang sungai yang memisahkan desa saya dengan desa tempat forum dialog ini diadakan. Maka saya pun menunggu tukang perahu yang biasa memberikan jasa mengantar orang menyebrangi sungai. Sayangnya hari ini hari libur sehingga tukang perahu datang agak siang.”

Orang muslim ini pun melanjutkan ceritanya. “Tuan-tuan, ketika saya sedang menunggu, tiba-tiba pohon yang ada di dekat saya tumbang ke pinggir sungai. Tetapi saya tetap tidak bisa lewat karena pohon tidak menjadi jembatan penghubung di atas sungai itu. Tetapi tiba-tiba lagi batang pohon yang tumbang itu terbelah-belah menjadi potongan kecil yang rapi berupa kusen dan papan. Selanjutnya potongan kusen dan papan itu tiba-tiba merangkai sendiri menjadi perahu. Melihat perahu ini, saya pun naik di atasnya dan menyebrang sungai ini sehingga bisa tiba di tempat ini sekalipun terlambat.”

Orang-orang yang hadir pada forum itu mula-mula heran, tetapi selanjutnya banyak yang tersenyum, akhirnya semua tertawa mendengar cerita yang tak masuk akal itu. Mereka mulai berteriak-teriak mencemooh orang muslim ini. Salah seorang berteriak, “Mana mungkin pohon bisa tumbang dan terpotong-potong sendiri, kemudian merangkai sendiri sehingga membentuk perahu. Itu adalah cerita tahyul yang tak masuk akal. Itu semua omong kosong. Kami tidak bisa ditipu dengan tahyul seperti itu. Engkau adalah orang muslim yang bodoh, karena tak tahu bahwa kami tak bisa dibohongi.”

Melihat orang-orang mencemoohnya, orang muslim ini akhirnya berkata, “Demikianlah dengan alam ini. Sebagian orang mengira bahwa alam ini terjadi dengan sendirinya. Menurut saya, bila ada orang yang berpendapat seperti itu, orang itu adalah orang yang benar-benar gila.”

Mendengar penuturan terakhir dari muslim ini, orang-orang ateis ini tersadar dan mulai memahami teologi agama. Mereka mulai yakin akan adanya Tuhan. Tak mungkin alam ini tercipta dengan sendirinya. Akhirnya mereka memeluk agama Islam.

Tetapi mereka belum merasa yakin tentang adanya nabi. Sehingga muslim tadi harus mengajarinya. Maka muslim tadi pun mengajarinya tentang kenabian.

Muharam ORANG YANG DIAM KETIKA MENYAKSIKAN TRAGEDI KARBALA

ORANG YANG DIAM KETIKA MENYAKSIKAN TRAGEDI KARBALA
Disarikan dari Sayyid Ibnu Thawus

Ibnu Rabbah berkata, bahwa dia bertemu dengan seorang buta yang ikut menyaksikan pembantaian Imam Husain di Karbala. Kepadanya aku bertanya penyebab kebutaannya. Ia menjawab bahwa ia menyaksikan pembantaian Imam Husain dari dekat. Bahkan ia dekat dengan kesepuluh orang yang menginjak-injak Imam Husain dengan kuda. Hanya saja aku tidak ikut memukul atau melempar sesuatu kepada Imam Husain. Setelah beliau terbunuh, aku pulang ke rumahku dan menunaikan salat Isya kemudian tidur. Tiba-tiba aku melihat seseorang datang kepadaku dan berkata, “Jawablah pertanyaan Rasulullah saw!”

Aku berkata, “Ada apa sehingga aku harus menemui beliau?”

Tanpa menjawab, ia memagang tanganku dengan erat dan menyeretku. Aku melihat Rasulullah saw duduk di padang sahara. Kegelisahan tampak di wajahnya. Beliau bertopang dagu pada kedua tangannya. Sebuah senjata kecil ada di tangan beliau. Di sebelah Rasulullah saw ada seorang malaikat yang berdiri tegak dengan menghunus pedang yang terbuat dari api. Sembilan orang temanku telah tewas di tangannya. Setiap ia memukulkan pedangnya, api menyembur dari pedangnya itu dan menyambar tubuh mereka.

Aku mendekat ke tempat beliau berada dan bersimpuh di hadapannya. Aku sapa beliau, “Assalamu’alaika, ya Rasulullah.” Tak kudengar jawaban beliau. Lama beliau berdiam diri. Kemudian sambil mengangkat wajahnya, beliau bersabda, “Hai musuh Allah, kau telah menginjak-injak kehormatanku, membantai keluargaku, dan tidak mengindahkan hakku sama sekali. Bukankah demikian?”

Aku menjawab, “Ya, Rasulullah, demi Allah, aku tidak ikut andil dalam memukulkan pedang, menusukkan tombak, melemparkan anak panah sama sekali.”

“Benar.” jawab beliau. “Tetapi bukankah kau telah ikut andil dalam menambah jumlah mereka? Mendekatlah ke mari.”

Aku mendekat. Beliau menunjukkan kepadaku sebuah bejana yang dipenuhi darah seraya bersabda, “Ini adalah darah cucu kesayanganku Al Husain.” Lalu beliau memoles kedua mataku dengan darah itu. Ketika terjaga dari tidurku, mataku menjadi buta sampai sekarang.