Wajanbolic di UPI Kampus Sumedang

WAJANBOLIC DARI UPI KAMPUS SUMEDANG

Sejalan dengan digunakannya access point (hotspot) di UPI Kampus Sumedang, wajanbolic pun dapat digunakan bagi tempat-tempat yang ada di sekitar UPI Kampus Sumedang. Salah satu access point yang digunakan UPI Kampus Sumedang ialah antena omni. Dengan begitu, diharapkan jangkauan sinyalnya bisa melingkupi seluruh kampus bahkan sampai ke tempat-tempat di sekitarnya. Sekalipun begitu, tidak semua orang dapat menggunakan access point ini karena UPI menggunakan gerbang bagi setiap penggunanya. Orang yang tidak memiliki username dan password tidak dapat menggunakan fasilitas dengan access point ini. Sementara ini access point UPI Kampus Sumedang hanya ditujukan bagi sivitas akademikanya saja.

Bagi tempat-tempat yang agak jauh, sivitas akademika UPI Kampus Sumedang dapat menggunakan wajanbolic (dalam bahasa yang lebih familiar disebut parabola katel). Setelah melakukan studi serius dari web-web yang menyimpan dokumentasi parabola katel (wajanbolic), juga dengan bantuan teman online yang mendorong pembuatan parabola katel, akhirnya diputuskanlah untuk membuat parabola katel ini. Tentu saja, pembuatan parabola katel ini disebabkan ada area tertentu, kurang lebih sejauh 2km yang kurang baik menangkap sinyal access point ini. Setelah studi dilakukan, mulailah mengumpulkan bahan dan alat untuk membuat parabola katel ini.

Berikut ini adalah dokumentasi pembuatannya.

Pertama, bahan yang digunakan adalah katel (wajan). Menurut saran beberapa teman, semakin besar katel, semakin bagus penerimaan sinyalnya.


Kedua, bahan yang digunakan adalah mur panjang no.12, dengan baut dan ringnya. Pada proyek ini dipilih mur yang panjang. Mur nomor 12 ini diupayakan sepanjang mungkin, agar bisa menjadi dudukan alumunium penyangga USB dan dudukan tiang antena wajanbolic).


Ketiga, bahan yang digunakan adalah pipa paralon pvc 3 inci dengan 2 buah dopnya.
Panjang pipa paralon pvc ini disesuaikan dengan lebar dan kedalaman katel (ada rumusnya). Pada proyek ini digunakan paralon 3 inci, panjangnya kurang lebih 30 cm).
Panjang pipa paralon ini (30 cm) disesuaikan dengan titik fokus wajan. Cara mengetahui titik fokus wajan yaitu dari diameter wajan dan kedalaman wajan. Rumus fokus wajan adalah f=D*D/16d, dengan D sebagai diameter, dan d sebagai kedalaman wajan. Bila fokus wajan 10cm, maka panjang pipa pvc adalah 3x10cm = 30cm. Bagian dari wajan ke fokus 10cm. Bagian dari fokus ke ujung pvc (20 cm) dilapisi dengan kertas alumunium.

Keempat, bahan yang digunakan adalah USB WiFi. USB WiFi tipe N pada saat ini (01/2010) harganya Rp 160.000,00. Bentuknya sangat kecil, seperti USB flash disk yang berukuran kecil. Tipe N dipilih karena tipe ini diduga lebih sensitif dan menjangkau jarak yang lebih jauh. USB WiFi tipe N ini pun bisa digunakan sebagai access point juga sekalipun komputer yang menjadi access point itu harus sudah terhubung dengan internet.

Kelima, bahan yang digunakan adalah USB RJ45. Dengan menggunakan barang ini, pembuat antena parabola katel tidak perlu lagi menghubungkan dan menyolder kabel USB dengan UTP. Lagipula menurut informasi spesifikasinya, barang ini sanggup tersambung dengan kabel UTP sepanjang 150 feet (50 meter). Barang ini bisa dipesan melalui internet di jakartanotebook.com. Tinggal transfer uang dengan sms banking, lalu konfirm melalui internet, beres, tinggal tunggu barangnya datang. Barangnya bisa dilihat di http://www.jakartanotebook.com/detail_1234567_1036

Keenam, bahan yang digunakan adalah kabel UTP (pada proyek ini, panjang kabel 15 m). Kabel ini juga tersedia di toko internet. Kedua ujung kabel ini mesti dipasang dengan RJ45 yang sudah dikrimping menggunakan alat krimping (crimping tool).

Ketujuh, bahan yang digunakan adalah besi atau alumunium dudukan USB WiFi. Barang ini berdiameter seukuran kelingking, atau lebih tepatnya masuk ke skrup ukuran 12 yang sudah disiapkan. Barang ini ditempelkan di sekrup yang ada di tengah-tengah katel. Fungsinya untuk menahan / menyangga USB WiFi, yang akan diikat dengan isolasi. USB WiFi ini disimpan di dalam tabung agar tidak kehujanan dan kepanasan. Di sini digunakan alumunium bekas antena televisi.

Kedelapan, bahan yang digunakan adalah double tape. Double tape ini digunakan untuk menempelkan kertas alumunium dengan pipa paralon 3 inci.

Kesembilan, bahan yang digunakan adalah dudukan tiang dengan katel. Dudukan ini mesti disesuaikan dengan tiang penyangga katel. Karena itu mesti disiapkan dulu tiang penyangganya, barulah dudukan tiang dengan katel ini dibeli. Bila tiang penyangga berukuran satu inci, maka dudukan ini juga mesti yang dapat memuat tiang satu inci.

Kesepuluh, bahan yang digunakan adalah kertas alumunium. Barang ini diambil dari dapur untuk memasak. Kertas alumunium bisa dibeli di supermarket. Secara ekstrem, kertas alumunium ini bisa menggunakan yang bekas (recycle). Jika pipa pvc diganti kaleng, tentu kertas alumunium ini juga tidak diperlukan. Tetapi kaleng mesti dijaga dari karat agar penerimaan sinyal tetap stabil.

Setelah dikerjakan dan dipasang, hasilnya seperti ini.

Kekuatan penerimaan sinyal dengan wajanbolic ini sangat bagus. Dalam arti, tidak ada yang mesti dikeluhkan karena putusnya koneksi di cucaca panas dan hujan. Berikut ini adalah gambaran dari besar sinyal yang ditangkap oleh wajanbolic atau parabola katel ini.

Selanjutnya filmnya adalah sebagai berikut. http://youtu.be/YagW-ps3fgA

 

Pengabdian

Setelah berhasil membuat wajanbolik, kegiatan dilanjutkan dengan berbagi ilmu dalam kerangka pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini dilakukan setelah wajanbolik digunakan selama beberapa bulan. Pengabdian dilakukan kepada sejumlah mahasiswa non-TI yang mempunyai ketertarikan pada teknologi informasi (internet). Program pengabdian dilakukan dengan memberikan training berkaitan dengan fungsi wajanbolik, cara pembuatannya, biayanya, serta potensi pengembangannya.

Beberapa mahasiswa yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan teknologi informasi ternyata mempunyai ketertarikan pada wajanbolik. Pengembangan yang dapat dilakukan adalah menggunakan internet kampus dengan wajanbolik. Dengan begitu, tempat tinggal (kos) yang dekat dengan kampus dapat memperoleh akses dari internet kampus.

Setelah diadakan training wajanbolik, sejumlah mahasiswa memang mempunyai gambaran tentang teknologi ini: tentang fungsi wajanbolik, cara pembuatannya, biayanya, serta potensi pengembangannya. Ada salah seorang yang mencoba memasang wajanbolik, namun ternyata antene USB WiFi yang dimilikinya merupakan pinjaman dari seorang teman. Ternyata USB WiFi itu mati. Sampai sini belum ada lagi tindak lanjutnya.

Leave a Reply