ANAK-ANAK TOTTO-CHAN

Resensi / review buku Anak-anak Totto-chan: Perjalanan Kemanusiaan untuk anak-anak Dunia

Buku ini merupakan terjemahan dari buku Totto-Chan’s Children: A Goodwill Journey to the Children of the World. Buku ini menunjukkan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh anak-anak di seluruh dunia. Bila seseorang membaca buku ini, niscaya orang itu akan menangis. Pembaca akan melihat penderitaan anak-anak di dunia yang memilukan. Ternyata penderitaan bangsa Indonesia bisa dikatakan sangat ringan. Walaupun saat ini bangsa atau negara Indonesia pun mengalami berbagai goncangan dan gangguan, gangguan dan goncangan itu masih kecil untuk dapat menggoyahkan kesatuan negara Indonesia.

Beberapa negara yang diceritakan oleh Totto-chan (nama kecil Tetsuko Kuronayagi, pengarang buku ini) bersama tahun kunjugannnya di antaranya Tanzania (1984), Nigeria (1985), India (1986), Mozambik (1987), Kamboja dan Vietnam (1988), Angola (1989), Bangladesh (1990), Irak (1991), Etiopia (1992), Sudan (1993), Rwanda (1994), Haiti (1995) dan Bosnia-Herzegovina (1996). Pembaca dapat mencari lokasi negara itu di peta google (maps.goggle.com).

Dalam buku ini diceritakan kesedihan dan duka yang dialami anak-anak di dunia. Walau duka cita itu sebenarnya bukan hanya dialami anak-anak melainkan juga orang dewasa. Contoh duka cita itu adalah sebagai berikut.

Angola pada mulanya selama dua belas tahun mengalami keberhasilan dalam pemerintahannya. Tetapi tak lama setelah itu, negara tetangganya yaitu Afrika Selatan (negara apartheid) menganggap kesuksesan pemerintahan kulit hitam sebagai anaman. Maka Afrika Selatan mulai mendukung tentara gerilya antipemerintah dan menyuplai mereka dengan senjata dan uang. Tentara gerilya itu menghancurkan negeri dengan merusak rumah sakit, sekolah, rel kereta api (sarana perhubungan). Keadaan seperti itu membuat roda ekonomi lumpuh karena jual beli terancam oleh gerilya dan perampokan.

Mungkin saja tentara gerilya ingin untuk mengambil alih kekuasaan. Oleh karena itu pemerintah melakukan perlawanan terhadap tentara gerilya antipemerintah itu. Perang saudara pun tak bisa dielakkan. Ketika pemerintah disibukkan untuk menangani tentara gerilya antipemerintah, upaya untuk membangun negeri pun sangat sulit dilakukan (h.129).

Jangan lupa, negara aparteid bukan hanya Afrika Selatan melainkan juga negara Zionis-Israel. Kedua negara itu merupakan negara yang ilegal dan merupakan penyakit kangker bagi negara-negara di sekitarnya.

Hal ini mengingatkan Indonesia pada aksi-aksi teror (bom bunuh diri) yang mengatakan diri sebagai muslim dan ikut membunuh serta mengorbankan warga tak berdosa. Selain itu, pertengkaran antara demonstrasi mahasiswa dengan polisi dan pamong praja (pemerintah) selalu tidak bersifat damai dan simpatik. Mahasiswa satu fakultas berkelahi dengan mahasiswa fakultas lain hanya karena masalah-masalah pribadi yang sepele. Orang-orang korup menyibukkan diri dengan menimbun harta dan menyelamatkan diri sedang orang lain tak henti-hentinya menghinanya. Belum tentu orang yang menghinanya itu orang yang baik dan bersih. Mungkin saja orang yang menghinanya itu bila berkuasa atau ada pada posisi korup, ia akan melakukan kejahatan yang lebih berat dan melakukan pencurian lebih banyak lagi. Sebagian orang-orang secara tidak sadar bahwa mereka mengikuti agenda Zionis dan mementingkan diri sendiri. Bahkan orang-orang korup ini memerangi orang-orang yang baik dan memfitnah mereka.

Dari banyak cerita duka yang diuraikan di dalam buku ini, ada pula cerita yang indah dan mengesankan. Salah satunya adalah ketika Totto-chan bertemu dengan seorang ibu dari Mozambik. Ibu ini adalah seorang pengungsi. Totto-chan bertanya berapa anak dari ibu ini. Mendengar pertanyaan ini, ibu ini menghitung dan berpikir. Ia tidak langsung menjawab hingga Totto-chan heran dan geli melihatnya. Kemudian ibu ini menjawab bahwa anaknya ada 10. Banyak sekali, pikir Totto-chan. Kemudian ibu ini menjelaskan bahwa anak kandungnya ada lima. Tetapi dalam perjalanan mengungsi ia melihat lima anak lain terlantar. Karena ia menduga keras bahwa orang tua anak terlantar ini tidak ada, maka spontan ia membawa juga kelima anak terlantar ini. Mereka melarikan diri dari tentara gerilya yang membunuhi warga. Totto-chan terkesan dengan cerita itu. Kemudian ia bertanya lagi, “Bila engkau mempunyai sepotong roti, engkau akan membaginya menjadi berapa bagian?” Mendengar pertanyaan ini, spontan ibu ini menjawab, “Tentu saja sepuluh bagian.” Di Jepang, bila ada seorang ibu melihat anak terlantar dan kelaparan di depannya ia akan meminta maaf dan berkata, “Maaf, tetapi anakku lapar sekali.” (h.92).

Kengerian lainnya adalah perilaku tentara gerilya yang membunuh warga dan menculik anak-anak untuk dijadikan tentara dan pelayan tentara gerilya (h.85). Dapatkah seorang manusia membayangkan anak-anak yatim, tak mempunyai pekerjaan, tak mempunyai orang tua, bersembunyi di semak-semak karena takut kepada tentara gerilya. Peristiwa yang sangat mengerikan.

Tak heran jika Presiden Ahmadinejad memanjatkan doa sebelum berpidato di PBB (sumber: http://kabarnet.wordpress.com/2010/09/26/teks-lengkap-pidato-ahmadinejad-di-pbb/), “Al-Hamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Wassalamu ‘ala Sayyidina wa Nabiyyina Muhammad, wa Alihi at-Thahirina wa Shahbihi al-Muntajabina wa ‘ala Jami’i al-Anbiya wa al-Mursalin…

Salam dan shalawat kepada para Nabi Ilahi, khususnya Nabi Muhammad Saw, Ahlul Bayt yang suci, para sahabat terpilihnya dan kepada seluruh para Nabi Ilahi…

Allahumma ‘Ajjil li Waliyyika al-Faraj, wal’afiata wa an-Nashr. Waj’alna min Khairi Ansharihi wa A’awanihi, wal Mustasyhadina baina Yadaih…

Wahai Allah Yang Maha Besar! Percepat kemunculan Wali-Mu disertai dengan keselamatan dan kemenangan. Jadikan kami sebagai penolong dan pendukung terbaiknya dan senantiasa berkorban di jalannya…”

Ya Allah kami sudah tidak tahan dengan kekejaman dan kesombongan mereka.

Leave a Reply