Android – Memasang GPS

Android dapat dilengkapi dengan GPS atau global positioning system. GPS ini akan berupa titik koordinat lokasi pengguna GPS yang ditentukan melalui satelit. Pada Android 2.2 dengan telepon selular Huawei Ideos Aha di Indonesia, GPS dapat dijalankan dengan program Maps atau Latitude atau Places atau Navigation yang sudah terinstal pada telepon selular. Hanya saja program ini belum bisa berjalan tanpa ada program GPS status. Program GPS status dapat diinstal gratis. Namun program GPS status ini tidak masuk ke Android market karena itu, seseorang harus mencarinya di luar market dan menginstalnya melalui program yang tak ada di Android market.

Program GPS status ini harus mengunci posisi koodinat pengguna melalui satelit. Pengguna harus menunggu sampai program GPS status mengunci posisi atau lokasi pengguna. Biasanya pengguna harus menyimpan telepon selularnya di atas bidang datar sehingga bola pada program GPS status tepat berada di tengah-tengah kompas. Akan lebih baik apabila pengguna menggunakan GPS status di luar ruangan yaitu di tempat terbuka. Dengan begitu, koneksi dengan satelit akan lebih baik. Kemudian pada layar telepon selular akan terlihat bola yang diupayakan tepat berada di tengah-tengah kompas. Sesaat kemudian akan terlihat sejumlah satelit yang terkoneksi dengan telepon selular Android itu. Jumlah satelit bervariasi, dimulai dari satu bahkan sampai sepuluh dapat terkoneksi dengan Android. Namun, sejauh pengalaman pengguna, beberapa satelit saja sudah cukup dapat mengunci posisi pengguna. Semakin banyak satelit yang terkoneksi akan semakin baik, atau semakin kuat sinyal satelit yang ditangkap oleh telepon selular akan semakin baik. Semakin baik ini berarti posisi telepon selular akan cepat terkunci oleh satelit. Hal itu berarti mungkin saja posisi telepon selular gagal dikunci oleh satelit karena telepon selular berada di dalam ruangan, atau posisinya terus bergoyang. Dalam beberapa pengalaman, posisi dapat terkunci sekalipun telepon sedang  berada di dalam mobil yang bergerak.

GPS status terkunci

GPS status terkunci

Setelah posisi pengguna atau posisi telepon selular terkunci, maka program Maps atau Latitude atau Places atau Navigation dapat dijalankan. Pada program Maps, pengguna bisa melihat peta yang bersih atau peta satelit. Peta yang bersih hanya menunjukkan jalan utama atau posisi seseorang di suatu tempat. Peta satelit dapat melihat sejumlah bangunan, rumah atau gunung dari atas. Peta ini juga dapat diperbesar (zoom) atau diperkecil. Ketika seseorang bergerak, terutama menggunakan kendaraan (motor atau mobil), posisi di GPS pun ikut bergerak. Perbesaran peta dapat menjangkau cukup besar sehingga seseorang yang mengenal daerahnya akan melihat sejumlah bangunan atau tempat yang dikenalnya melalui GPS.

Satu hal yang rentan dengan program GPS ini adalah adanya virus yang menyerang Android. Virus ini dapat mengirimkan lokasi pengguna telepon selular dan mengirimkan data pengguna telepon selular. Lokasi dan data pengguna telepon selular ini dikirimkan ke database server tertentu. Dengan begitu, privasi seseorang bisa saja akan terganggu. Keberadaan seseorang akan dapat diketahui oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Lebih jauh keberadaan seseorang akan dapat diketahui oleh orang-orang yang mungkin berpotensi meneror. Sekalipun hal ini masih bersifat kekhawatiran, tetapi kemungkinan terjadinya teror tetap ada. Hal ini perlu dijadikan perhatian agar masyarakat waspada. Di balik kecanggihan teknologi mungkin saja terdapat kemungkinan bagi kejahatan untuk menyalahgunakannya.

Sangatlah penting untuk menggunakan GPS untuk tujuan spesifik, seperti dalam perjalanan, menjelajah area yang baru, atau menjelajah ke gunung atau pantai. Pada akhirnya, GPS akan membantu manusia untuk menentukan posisinya sehingga tahu tujuan dan tahu tempat kembali.

Pada prinsipnya nalar manusia mempunyai gambaran untuk menentukan posisi, arah tujuan dan tempat kembali. Namun, GPS sangat fantastis untuk menjelajah daerah baru. Dalam pengalaman menggunakan GPS pada Android Huawei Aha, menjelajah daerah baru sangat terbantu dengan GPS. Terutama bila jalan-jalan yang dilalui ada dalam peta. Tentu saja, bila jalan tidak ada dalam peta, maka mencari jalan pintas seperti di hutan atau di gunung akan menjadi tantangan tersendiri. Pada sisi ini, GPS jelas akan membantu posisi sehingga kemungkinan untuk tersesat dapat dikurangi. Hanya saja, GPS terutama Andoid Huawei Aha sangat rentan dengan kelemahan habis baterai. Telepon Selular Huawei ini akan habis baterai dalam waktu paling cepat 4 jam dalam keadaan GPS menyala (terkoneksi dengan satelit). Karena itu penguna harus memanfaatkan waktu. Seandainya seseorang tersesat di hutan, ia dapat meminta bantuan GPS untuk menentukan posisi dirinya. Kemudian, ia harus mencari tempat yang paling cepat ia kunjungi, misalnya sebuah desa. Tempati itu mesti dapat dicapai dalam waktu kurang dari 4 jam. Jika dalam perjalanan habis baterai, maka tak ada panduan lain bagi orang ini selain kompas dan mungkin matahari (atau bintang).

Seandainya di dalam hutan ada seseorang yang tersesat. Ada kemungkinan di tengah hutan tidak ada layanan (roaming) internet dan / atau telepon selular. Dengan begitu, kemungkinan paling buruk dari penggunaan GPS ini adalah seseorang hanya akan mengetahui koordinat posisinya. Hal itu berarti ia tidak bisa mendapatkan gambar peta dan layanan telepon selular. Bila seseorang mendapatkan layanan telepon selular ia dapat mengirimkan lokasi koordinat posisinya kepada (tim SAR atau teman) serta arah gerakannya (ke timur, barat, utara atau selatan). Bisa mengirimkan lokasi posisinya dengan SMS. Dengan begitu, tim SAR diharapkan tidak kesulitan menemukan lokasi orang yang tersesat ini. Bila orang yang tersesat ini mendapatkan layanan internet, ia akan mendapatkan gambaran satelit dari alat GPS-nya. Dengan begitu, ia bisa memperkirakan jalan atau desa terdekat yang dapat ditempuh. Ia pun dapat mengirimkan pesan melalui layanan internet, misalnya melalui messenger kepada teman atau tim SAR berkaitan dengan posisinya dan arah tujuannya.

Program GPS yang dilengkapi dengan program Maps atau Latitude atau Places atau Navigation yang ada di telepon selular bekerja dengan dua hal yaitu satelit dan internet. Sesungguhnya program GPS dapat berjalan hanya dengan satelit. Dengan begitu, seseorang dapat mengetahui koordinat lokasinya (posisi lintang dan bujur). Ia akan tahu di lintang berapa ia berada di bujur berapa dia berada. Posisi ini akan sangat bermanfaat bagi pelaut atau pengguna pesawat terbang. Tetapi lebih menarik lagi karena program GPS ini dilengkapi dengan peta pada program Maps atau Latitude atau Places atau Navigation. Program Maps atau Latitude atau Places atau Navigation ini disediakan melalui jasa internet (di sini Esia Aha). Dengan begitu koordinat akan dipetakan pada gambar satelit atau jalan.

Pengalaman menjelajah di tempat yang tidak ada sinyal internet pun perlu dipertimbangkan. Jika tidak ada sinyal internet (dalam hal ini sinyal Esia Aha), maka posisi GPS tidak dapat dipetakan dalam map. Sekalipun posisi GPS masih dapat diketahui melalui satelit tetapi gambaran peta tidak dapat dikirimkan melalui internet. Sehingga tampilan dalam program Maps hanyalah kotak-kotak (grid) putih. Dengan begitu, tetap saja seseorang tidak bisa menentukan posisi dirinya. Pada sisi ini mungkin GPS seperti ini hanya dapat digunakan oleh pelaut saja. Seorang pelaut Nusa Tenggara  yang khawatir memasuki zona Australia dapat menentukan posisnya melalui GPS status tanpa perlu tahu gambaran petanya.

Dalam sebuah berita, pernah terjadi pelaut Indonesia yang memiliki GPS mengetahui posisi dirinya masih berada di lautan bebas atau masih dalam wilayah Indonesia. Tiba-tiba polisi Australia datang dan mengklaim bahwa pelaut Indonesia ini telah masuk ke wilayah Australia dan harus ditangkap. Tentu saja pelaut Indonesia ini menolak dan menunjukkan GPS yang ia miliki. Tetapi polisi Australia ini bersikeras menangkap dan bahkan merampas GPS pelaut Indonesia. Peristiwa ini merupakan insiden diplomatik yang ujungnya cuma satu: berebut wilayah penangkapan ikan. Tetapi semestinya jika pelaut Indonesia memiliki GPS, polisi Australia seharusnya tak boleh menjajah seperti itu. Jika tidak, maka polisi (polisi lautan?) kedua pihak harus berjaga disetiap perairan dan memastikan bahwa tidak ada yang melarang penangkapan ikan di laut bebas. Mungkin pula nelayan-nelayan Indonesia harus dilengkapi dengan polisi sehingga jika ada polisi Australia yang ngawur, mereka bisa balas mengklaim. Di antara nelayan-nelayan Indonsia, harus ada nelayan yang dilengkapi dengan polisi, sehingga jika salah seorang nelayan diklaim melanggar di tengah lautan, mereka bisa mengontak polisi yang ada di kapal lain untuk ikut membela. Hm….

Leave a Reply