Potensi Pemeliharaan Domba dan Sapi

Artikel ini dibuat sebagai bagian dari program pengabdian yang dilakukan bagi masyarakat. Proposal pengabdian ini telah diluncurkan. Program pengabdian ini sementara ini telah berjalan didasarkan pada pengalaman tahun-tahun sebelum pengabdian ini dilakukan.

 

Kebiasaan Peternak di Jawa Barat

Kebiasaan peternak di Jawa Barat adalah mereka rata-rata tidak memiliki banyak domba atau sapi. Bila mereka memiliki 15 domba, mereka sudah merasa kaya. Bila mereka memiliki 5 sapi, mereka sudah merasa kaya. Padahal jumlah 15 domba atau 5 sapi adalah jumlah yang sedikit. Mengapa mereka hanya memiliki sedikit ternak seperti itu?

Mereka memiliki jumlah ternak yang sedikit karena mereka terbiasa untuk menyabit rumput (ngarit). Ngarit itu berarti mencari rumput dengan sabit (arit). Mereka menyimpan ternak di kandang, dan pemelihara mencari rumput. Pemelihara bisa saja ngarit dari jam 7 sampai jam 9. Ngarit dan mendapatkan satu karung rumput cukup untuk pakan 5 ekor domba. Karena itu, peternak itu biasanya tidak mempunyai domba yang banyak. Jumlah 15 adalah banyak bagi pemilik domba. Ketika ditanyakan kepada pemilik domba, mengapa mereka tidak menggembala (ngangon), mereka menjawab, “Kesel, kalau harus ngangon sepanjang hari. Lebih baik ngarit, jam 9 sudah pulang dan membawa satu karung rumput.”

Lain halnya dengan di Timur Tengah atau di negara-negara barat (bahkan Australia atau New Zealand). Peternak biasanya memiliki domba atau sapi yang banyak. Mereka bisa memiliki puluhan hingga ratusan domba atau sapi. Bahkan ada yang mencapai ribuan. Mereka menempati area peternakan yang luas dengan padang rumput yang hijau. Sapi atau domba dibiarkan untuk mencari rumput sendiri sepanjang hari.

Area di Jawa Barat pun sesungguhnya banyak hutan dan gunung. Area hutan dan gunung ini perlu dipilih karena akan bermasalah bila ternak masuk ke kebun atau sawah orang lain. Mereka akan merusak kebun atau sawah orang lain. Oleh karena itu, perlu diperhatikan agar ternak tidak masuk ke kebun atau sawah orang. Peternak harus pergi ke gunung (atau padang rumput) yang tidak mengganggu kebun atau sawah orang lain.

Ada suatu cerita tentang seorang dari Timur Tengah datang ke Jawa Barat, Indonesia. Ia merasa heran karena di Indonesia tidak banyak orang yang menggembalakan ternak. Padahal rumput di Indonesia begitu melimpah dan hijau. Ia berkata, di Timur Tengah yang rumputnya relatif sedikit pun orang menggembalakan ternak. Ternak bahkan dibawa menyebrang jalan atau terlihat di sekitar jalan raya. Ternak yang dibawa penggembala itu jumlahnya puluhan, ratusan atau ribuan.

Masyarakat peternak di Jawa Barat hanya menggembalakan ternak bila terjadi musim kemarau. Di musim kemarau, rumput susah didapat sehingga peternak merasa kesukaran untuk mencari rumput (ngarit). Oleh karena itu, di musim kemarau biasanya peternak melepaskan ternaknya dari kandang dan menggembalakan ternaknya (ngangon).

Bila peternak di Jawa Barat terbiasa ngarit, tentu harus dipertimbangkan antara kemampuan peternak itu ngarit dengan kebutuhan pakan ternak. Satu ekor sapi yang besarnya sedang, akan mengeluarkan feses (podol) sebanyak 20 kilogram. Oleh karena itu, pakannya pun tidak akan kurang dari 21 sampai 25 kilogram sehari. Pertumbuhan sapi per hari adalah 1 sampai 2 kilogram. Karena itu bila berat awal sapi lepas sapih adalah 300 kilogram, dalam 100 hari beratnya harus 400 – 500 kilogram.

Bila satu ekor sapi setara dengan 10 ekor domba, maka kebutuhan pakan dapat dihitung. Biasanya peternak akan kelelahan bila ia harus mencari rumput untuk 10 ekor domba. Karena itu, peternak perlu mempertimbangkan untuk tidak mencari rumput (ngarit), melainkan menggembala (ngangon) atau membuat jerami probiotik. Dengan catatan, jerami probiotik di sini sementara ini hanya cocok untuk sapi, bukan untuk domba.

Bagi kebanyakan masyarakat di Jawa Barat, beternak merupakan pekerjaan sampingan dari bertani. Karena ia harus menggarap sawah atau kebun, ia tidak akan sanggup untuk memelihara banyak ternyak. Jarang seorang petani mempunyai ternak yang banyak. Hal itu disebabkan makanan utama masyarakat Indonesia adalah dari beras (tanaman). Masyarakat di Jawa Barat bahkan banyak yang beranggapan bahwa makan dengan daging (ikan, ayam, telur, daging sapi) merupakan makanan mewah. Makanan masyarakat di Jawa Barat yang sederhana adalah peda, ikan asin, tahu, tempe, perkedel, kerupuk, sayur (kangkung, selada, katuk, daun singkong), sambel (sambel oncom, terasi) dan mungkin telur. Sekalipun begitu, budaya makan gurame, ikan mas, mujair, telur asin, sate ayam, sate kambing, daging sapi pun sudah banyak dilakukan warga. Budaya makan “mewah” ini tidak hanya dalam hajatan saja, tetapi sering kali dikonsumsi sebagai menu mingguan atau menu tiga-empat harian.

Sangat menarik mempertimbangkan tempe dan tahu sebagai makanan sederhana. Artikel ini tidak akan mebahas tentang itu karena ada artikel lain yang membahas tentangnya.

Seandainya kebiasaan makan masyarkat Jawa Barat bukan daging, semestinya pemeliharaan domba atau sapi pun tidak harus pesat.

 

Beternak Ratusan Domba atau Puluhan Sapi

Perlu diorientasikan agar peternak memiliki banyak ternak (di atas 10 sapi atau di atas 20 domba). Oleh karena itu, peternak harus menggembalakan ternaknya. Perhitungan keuntungan dapat dihitung di atas kertas (dengan program spreadsheet atau kalkulator).

Memiliki puluhan domba atau sapi mendorong masyarakat memiliki keuntungan yang besar. Bila masyarakat hanya memiliki 5 domba atau sapi, keuntungan tidak akan terlalu besar. Namun salah satu kendalanya adalah modal. Masyarakat perlu pemodal yang bisa memberi modal berupa domba atau sapi yang bisa dipelihara masyarakat. Masyarakat pemelihara dan pemodal dapat berbagi keuntungan. Biasanya, keuntungan dibagi dua. Ini disebut nengah. Dalam sistem ini, pemelihara mendapatkan 50% dari laba bersih dan pemodal pun mendapatkan 50% dari laba bersih. Laba bersih ini ialah keuntungan dikurangi modal. Bila satu ekor sapi dibeli dengan harga Rp 6.000.000,00 (modal), dan dalam waktu satu tahun dijual dengan harga Rp 13.000.000,00 (laba kotor), maka laba bersih adalah 13 juta dikurangi 6 juta. Dengan begitu, laba bersih adalah laba kotor dikurangi modal yaitu 7 juta. Tujuh juta ini dibagi dua (50%) antara pemelihara dan pemodal. Dengan begitu, pemelihara dan pemodal masing-masing mendapatkan 3,5 juta dari satu ekor sapi ini.

Satu ekor sapi ini setara dengan sepuluh ekor domba. Bila satu ekor anak sapi kurang lebih seharga 6 juta, maka satu ekor anak domba kurang lebih seharga enam ratus ribu rupiah. Setelah satu tahun, domba pun kurang lebih dijual dengan harga satu juta tiga ratus ribu rupiah per ekor.

Keuntungan 3,5 juta adalah kecil bila dibandingkan dengan kerja selama satu tahun. Oleh karena itu perlu dipikirkan untuk mendapatkan keuntungan yang berlipat yaitu dengan cara menambah jumlah sapi. Jika ada dua ekor sapi yang dipelihara, maka keuntungan per tahun musim adalah 7 juta. Demikian seterusnya, keuntungan itu dapat dikalkukasi dengan program spreadsheet atau kalkulator.

 

Pemodal

Dalam survey terbatas, banyak masyarakat yang mengeluh saat bank memberi modal. Hal itu karena prosedur bank yang rumit dan beresiko. Peminjaman kepada bank mengharuskan ada jaminan (borg). Bank biasanya tidak terlalu tertarik pada jaminan yang kurang komersil seperti lahan di pedalaman atau rumah di pedalaman. Karena itu, prosedur peminjaman di bank sering kali dianggap rumit.

Selain dari bank, dalam survey terbatas pun tak jarang pemerintah memberikan bantuan untuk pemeliharaan domba atau sapi. Namun bantuan pemerintah itu pun kurang menguntungkan bagi pemelihara karena keuntungan (laba bersih) dikenakan banyak potongan sehingga keuntungan bagi pemelihara tidak signifikan. Potongan itu terjadi karena banyak pihak yang ingin memperoleh keuntungan karena merasa memberi andil dalam pencairan dana. Pemelihara hanya mendapatkan keuntungan yang kecil dari jerih payah memelihara satu tahun atau satu musim. Keuntungan yang kecil itu adalah keuntungan yang teu kaharti atau tidak bermakna dibandingkan kerja keras yang dilakukan peternak.

 

Kejujuran

Pemodal semestinya memberikan modal kepada peternak. Di sisi lain peternak pun harus jujur dalam memelihara ternak. Dalam suatu kasus bisa saja terjadi, peternak menjual ternak milik pemodal tanpa memberi tahu pemodal. Pemelihara mengaku menjual dengan harga yang rendah sehingga pemodal mendapatkan keuntungan yang minim. Pemelihara menujual saat ternak masih kecil sehingga keuntungan minim.

Aturan yang biasanya diberlakukan adalah peternak tidak bolah menjual ternak tanpa sepengetahuan pemodal. Peternak pun tidak boleh menjual dengan harga yang tidak disetujui pemodal. Apabila peternak berbohong, maka kebohongan ini biasanya berlipat-lipat untuk menutupi kebohongan-kebohongan selanjutnya. Sebaliknya bisa saja peternak di tengah musim memerlukan uang. Ia bisa meminjam uang kepada pemodal dan pemodal dapat memotong keuntungan pemelihara sesuai besar pinjamannya itu.

Seandainya kepercayaan pemodal kepada pemelihara ini hilang, maka akan hilang pula kesempatan kepada pemelihara untuk mendapatkan modal lagi. Akan hilang pula kesempatan bagi pemelihara untuk mendapatkan untung dari hasil peternakan. Kehilangan kepercayaan ini bisa jadi akan diingat seumur hidup. Kehilangan kepercayaan ini akan bisa diungkit dalam waktu 15 atau 20 tahun dari waktu kesalahan ini dilakukan. Oleh karena itu, pemelihara atau pemodal harus berhati-hati jangan sampai mengkhianati kesepakatan.

Kejujuran sangatlah penting. Di setiap aspek kehidupan, kejujuran merupakan modal dasar. Seorang pemilik toko akan mempekerjakan penjaga toko yang jujur. Seorang pembeli ikan membutuhkan penjual ikan yang jujur. Seorang pemimpin memerlukan bawahan yang jujur. Seorang pemilik pabrik membutuhkan pekerja pabrik yang jujur. Jika saja para pekerja tidak jujur, pemilik modal akan memberhentikan pekerja itu dan menggantinya dengan pekerja yang lain.

 

Gembala (Ngangon)

Bila peternak memutuskan untuk menggembalakan ternaknya, maka ia akan menjadi peternak profesional. Beternak domba dan sapi tidak akan lagi menjadi penghasilan tambahan, melainkan menjadi penghasilan yang signifikan. Peternak harus mencoba memiliki ternak dalam jumlah besar. Mungkin ia akan terpaksa migrasi ke daerah gunung yaitu tempat yang tidak ada kebun atau sawah orang. Mendirikan gubuk (saung). Mungkin ia bisa setiap hari diantar makanan oleh istri atau anaknya. Makanan bisa dia bawa sebagai bekal karena ia akan ngangon sampai sore. Malam hari ia kembali ke gubuk dan mungkin juga harus makan malam di sana. Hal itu harus dia lakukan selama kurang lebih satu tahun, sampai ternak cukup besar dan siap untuk dijual.

 

Konsentrat

Ada makanan tambahan berupa konsentrat yang secara teratur bisa ditambahkan untuk ternak. Pada saat ini ada pula probiotik yang dapat digunakan untuk mengawetkan jerami sehingga dapat dijadikan stok makanan untuk satu tahun. Dengan begitu, mungkin saja seorang peternak tidak perlu lahan yang luas untuk menggembalakan ternaknya. Ia cukup mengolah jerami dengan probiotik dan menyimpan olahan jerami itu untuk stok pakan ternak selama satu tahun.

Penggunaan jerami probiotik dipertimbangkan sangat menguntungkan karena peternak tidak perlu menunggui ternaknya seharian, tidak perlu menggembalakan (ngangon). Peternak pun tidak perlu memiliki lahan yang luas untuk menggembalakan ternaknya. Di samping itu, limbah jerami yang dulu membusuk, dibakar atau tidak terpakai, kini dapat diawetkan sehingga dapat dijadikan stok pakan untuk satu tahun.

 

Pompa Hidram

Pompa hidram mungkin sangat penting bagi peternakan. Pompa hidram digunakan untuk memompa air ke kandang atau peternakan. Air dapat digunakan untuk membersihkan kandang. Air pun sangat penting bagi ternak bila ternak harus minum. Ternak sangat membutuhkan minum terutama ternak yang sedang menyusui. Oleh karena itu, aliran air yang terus-menerus sangat pentig bagi peternakan.

Pompa hidram tidak akan diulas di artikel ini karena telah ada artikel lain yang membahasnya di situs ini.

 

Gangguan Anjing Hutan dalam Menggembalakan Ternak

Beberapa gangguan yang mungkin terjadi saat menggembalakan ternak adalah gangguan anjing hutan atau ajag. Tetapi di Jawa Barat kini sudah jarang sekali terdengar ada anjing hutan, ajag atau harimau. Yang mungkin terjadi adalah gangguan dari ular yang mungkin bisa menggigit ternak. Hal itu mungkin hanya insiden, tetapi kemungkinannya bisa saja terjadi. Gangguan anjing hutan, harimau atau ular mungkin sangat jarang terjadi di Jawa Barat.

 

Ketersediaan Rumput di Jawa Barat

Rumput di Indonesia sangat subur. Hal ini disebabkan Indonesia berada di wilayah khatulistiwa. Rumput di Indonesia bisa dibandingkan dengan rumput di Eropa atau Timur Tengah. Di Timur Tengah pun masyarakat menggembalakan domba atau sapi. Mengapa di Timur Tengah orang tidak ngarit? Karena memang sukar sekali bagi peternak untuk ngarit karena sedikitnya rumput. Masyarakat di Jawa Barat pun ketika musim kemarau datang, tidak akan ngarit karena sedikitnya rumput. Mereka akan menggembalakan ternak mereka di musim kemarau.

 

Jaket Kulit

Sebagian masyarakat di Jawa Barat sudah bisa membuat jaket kulit yang kualitasnya nomor satu di dunia. Kualitas ini dilihat dari halusnya atau lemasnya jaket kulit. Jaket kulit pun merupakan busana yang memiliki pasar sendiri. Kesan eksklusif jaket kulit akan muncul. Jaket kulit merupakan pakaian yang cukup mewah walaupun dihasilkan oleh industri rumah seperti yang ada di Sukaregang, Garut atau industri rumahan lain di Jawa Barat.

Jaket kulit dari domba jauh lebih bagus daripada jaket kulit dari sapi. Jaket kulit dari domba tidak terlalu panas bila digunakan di iklim khatulistiwa. Jaket kulit dari sapi akan lebih baik dalam menghalau dingin.

 

Wol

Biasanya ada jenis domba tertentu yang menghasilkan banyak bulu. Bulu wol dari domba di Jawa Barat biasanya tidak banyak. Selain itu, belum banyak pula permintaan bulu wol. Wol biasanya dapat digunakan sebagai kain wol.

Potensi wol memang belum banyak dikembangkan di Indonesia. Wol biasanya dihasilkan dari domba. Ternak domba tradisional di Jawa Barat biasanya dicukur oleh pemeliharanya karena dengan begitu, ternak cenderung cepat besar. Hanya saja, rambut wolnya tak pernah ditampung atau dijual.

 

Pengembangbiakan

Pengembangbiakan dapat dengan menyuntikkan sperma ke tubuh betina. Penyuntikan ini dapat dilakukan dengan bantuan dinas atau penyuluh peternakan. Biaya penyuntikan ini sekitar Rp 75.000,00 sekali suntik. Peternak dapat meminta jenis sapi yang akan disuntikkan misalnya sapi siemental (metal), limousine atau brahman (sapi jawa).

 

Penghitungan Keuntungan Ternak Domba

(Asumsikan harga anak domba Rp 600.000,00 per ekor)

body, div, table, thead, tbody, tfoot, tr, th, td, p { font-family: “Calibri”; font-size: x-small; }

No. Anggaran Jumlah Harga jual Laba kotor Laba bersih 50% Pemelihara 50% Pemodal
1 6,000,000 10 1,300,000 13,000,000 7,000,000 3,500,000 3,500,000
2 12,000,000 20 1,300,000 26,000,000 14,000,000 7,000,000 7,000,000
3 24,000,000 40 1,300,000 52,000,000 28,000,000 14,000,000 14,000,000
4 30,000,000 50 1,300,000 65,000,000 35,000,000 17,500,000 17,500,000
5 60,000,000 100 1,300,000 130,000,000 70,000,000 35,000,000 35,000,000
6 120,000,000 200 1,300,000 260,000,000 140,000,000 70,000,000 70,000,000
7 240,000,000 400 1,300,000 520,000,000 280,000,000 140,000,000 140,000,000
8 480,000,000 800 1,300,000 1,040,000,000 560,000,000 280,000,000 280,000,000









972,000,000 1,620
2,106,000,000 1,134,000,000 567,000,000 567,000,000

Penghitungan Keuntungan Ternak Sapi

(Asumsikan harga anak sapi Rp 6000.000,00 per ekor)

body, div, table, thead, tbody, tfoot, tr, th, td, p { font-family: “Calibri”; font-size: x-small; }

No. Anggaran Jumlah Harga jual Laba kotor Laba bersih 50% Pemelihara 50% Pemodal
1 6,000,000 1 13,000,000 13,000,000 7,000,000 3,500,000 3,500,000
2 12,000,000 2 13,000,000 26,000,000 14,000,000 7,000,000 7,000,000
3 24,000,000 4 13,000,000 52,000,000 28,000,000 14,000,000 14,000,000
4 30,000,000 5 13,000,000 65,000,000 35,000,000 17,500,000 17,500,000
5 60,000,000 10 13,000,000 130,000,000 70,000,000 35,000,000 35,000,000
6 120,000,000 20 13,000,000 260,000,000 140,000,000 70,000,000 70,000,000
7 240,000,000 40 13,000,000 520,000,000 280,000,000 140,000,000 140,000,000
8 480,000,000 80 13,000,000 1,040,000,000 560,000,000 280,000,000 280,000,000









972,000,000 162
2,106,000,000 1,134,000,000 567,000,000 567,000,000

Cacing

Program cacing dapat dilakukan sebagai tambahan antara lain bila podol (feses) sapi atau domba dianggap sebagai masalah. Cacing dengan jenis redworm (cacing merah) dapat diternakkan untuk menangani masalah podol. Cacing ini bahkan dapat mengkonsumsi podol sapi dan domba. Bila podol seekor sapi kurang lebih 20 kilogram, maka podol ini dapat menjadi pakan untuk cacing. Podol yang telah dimakan oleh cacing dapat digunakan sebagai pupuk kascing. Di samping itu, cacing yang telah makin banyak dapat dijadikan pakan bagi bebek atau ikan.

Program ini memungkinkan kandang mempunyai sistem pembuangan podol ke sebuah tempat di sekitar kandang. Podol sapi dapat disemprot dari kandang sehingga mengalir ke tempat pembuangan podol. Di tempat pembuangan podol itu ditanam cacing. Tempat pembuangan akhir podol itu bisa saja hanya berupa galian tanah. Penyemprotan dapat dilakukan dengan memasang pompa hidram. Hanya saja tekanan atau volume air yang disemprotkan harus besar.

Pupuk kascing nanti akan berupa gumpalan tanah yang kering. Gumpalan ini dapat dihancurkan atau diremukkan untuk memudahkan pengepakan. Tetapi bila suplay podol sapi ada setiap hari, maka air akan tetap membanjiri tempat pembuangan podol.

Leave a Reply