Home » 2012

Yearly Archives: 2012

Simulasi Peternakan dengan Kebun Rumput

Dengan simulasi, jumlah lahan yang diperlukan untuk 100 atau 105 domba dapat dihitung. Penghitungan ini dilakukan dengan dua asumsi. Asumsi pertama satu ekor domba memerlukan satu meter persegi rumput per hari. Asumsi ke dua, rumput akan tumbuh dan dapat dipanen setelah berumur 40 hari. Bila seseorang mempunyai luas lahan kebun rumput 300 bata (300×14 = 4200 meter), maka 4200 dibagi 40 hari diperoleh 105 ekor domba. (more…)

Permainan Bagi Anak Sekolah

Anak sekolah memerlukan sejumlah permainan sebagai perantara pembelajarannya. Permainan itu akan meningkatkan kemampuan, kompetensi, pengetahuan pembelajar. Dengan permainan (bermain) anak akan belajar dengan lebih menyenangkan. Bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain, itu adalah dogma yang menyenangkan bagi pembelajar. Menurut sebagian orang, belajar sambil bermain tidak sama dengan belajar sambil bermain-main.

Ada banyak permainan yang ada di negeri Indonesia. Setidaknya ada seseorang yang mengumpulkan permainan itu dan melakukan studi yang mendalam terhadap permainan-permainan itu. Orang ini sekarang menjadi pimpinan Komunitas Hong, sebuah komunitas yang erat kaitannya dengan permainan, pengumpulan permainan, dan studi terhadap permainan itu.

Siswa sekolah dasar sebenarnya sangat erat kaitannya dengan bermain. Usia siswa sekolah dasar memang usia (masa) bermain. Sebagian pelajar yang tidak memenuhi kebutuhan bermainnya dan tidak menikmati pelajaran sebagai permainan akan mengalami kegagalan dalam belajar.

Berikut ini adalah foto-foto kegiatan mahasiswa PGSD UPI Kampus Sumedang di Komunitas Hong.

Permainan melempar sarung

Gambar permainan sorodot gaplok

Permainan sorodot gaplok
Permainan sorodot gaplok
Permainan Bebedilan (Senapan)
Permainan Bebedilan (Senapan)

Multimedia pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar

Multimedia pun dapat dibuat untuk jenjang sekolah dasar, sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Multimedia dapat dibuat untuk bermacam-macam pelajaran. Pada pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, pengajar dapat membuat multimedia untuk pembelajaran bercerita (sastra), pembelajaran puisi, pembelajaran membaca, pembelajaran membaca permulaan. Multimedia yang dibuat itu dapat berupa animasi baik dengan gambar, suara, film selain teks.

Pada pembuatan multimedia untuk pelajaran cerita, pengajar dapat memasukkan cerita dengan gambar (imej) tokoh yang berperan dalam cerita. Pengajar pun dapat membuat animasinya. Cerita yang dipilih pengajar dapat dijadikan bahan pelajaran membaca, mendengarkan atau berbicara (misalnya menanggapi). Dengan begitu pelajaran dapat menjadi pelajaran tematik.

Pembelajaran tematik sangat menarik bagi pengajar karena dengan bahan yang sama, dengan sedikit perubahan atau modifikasi, pengajar dapat mengaitkannya dengan kompetensi lain, atau dengan mata pelajaran lain (misalnya Matematika, IPA, atau IPS).

Pada pembelajaran puisi, pengajar dapat dengan cepat menampilkan puisi dengan proyektor LCD. Pengajar pun dapat pula menayangkan video pembacaan puisi. Penayangan video ini semestinya memperhatikan penambahan audio, misalnya dengan speaker atau radio-tape recorder agar suara lebih nyaring.

Pada pembelajaran membaca, pengajar dapat dengan cepat menampilkan wacana untuk dibaca pembelajar. Pada pembelajaran membaca cepat, wacana dapat ditayangkan dalam waktu yang singkat agar pembelajar berlatih membaca cepat. Penggunaan proyektor akan memudahkan pelajaran membaca karena acap kali suatu sekolah kesukaran untuk memiliki wacana yang sama cukup banyak untuk dibaca satu kelas. Pembelajar dapat melanjutkan pada penghitungan kemampuan membaca (kecepatan efektif membaca).

Pada pembelajaran membaca permulaan, pengajar dapat menampilkan huruf-huruf, menampilkan suku kata, menampilkan kata-kata pendek, menampilkan kalimat-kalimat pendek untuk dibaca bersama. Pengajar dapat mengeja atau membaca suku kata dan meminta siswa membeo (mengulang) bacaan.

Pembelajaran membaca permulaan biasanya terintegrasi dengan pelajaran menulis permulaan. Dengan begitu, pengajar dapat memberi contoh dengan menulis di papan tulis. Pengajar dapat menulis huruf-huruf, menampilkan suku kata, menampilkan kata-kata pendek, menampilkan kalimat-kalimat pendek untuk dibaca dan ditulis bersama. Dengan begini, tidak selamanya media atau multimedia digunakan. Pengajar harus menggunakan papan tulis dan menulis di atas papan tulis agar bisa dicontoh oleh siswa.

 

Penggunaan Multimedia di Sekolah Dasar

Penggunaan multimedia di sekolah dasar merupakan potensi yang menarik. Bukan tidak mungkin pembelajaran di sekolah dasar menggunakan multimedia. Pengajar dapat menayangkan multimedia dengan proyektor LCD. Sekalipun pada saat ini belum banyak sekolah yang menggunakan proyektor LCD, namun potensi penggunaannya di masa depan sangatlah besar.

Bukan tidak mungkin sekolah dasar mengembangkan multimedia. Hal itu terutama guru-guru sekolah dasar sangat berkepentingan untuk mengembangkan multimedia di sekolah dasar. Pada masalah ini, guru-guru sekolah dasar harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan multimedia. Tentu saja penggunaan multimedia diasumsikan lebih efisien dan lebih efektif bagi pembelajaran. Dengan kata lain, multimedia diasumsikan lebih hemat, lebih mudah (efisien) di dalam pembelajaran, multimedia pun memberikan manfaat (efektif) yang lebih besar di dalam pembelajaran.

Kemampuan guru-guru untuk mengembangkan multimedia sangatlah penting. Pembuatan multimedia dapat dibuat dengan program presentasi. Institusi pendidikan tenaga kependidikan semestinya mengembangkan alumnusnya untuk membuat media dan multimedia.

Penggunaan multimedia ini akan menjadi alternatif dari media alami lain. Penggunaan multimedia dapat digunakan bila media alami sulit didapatkan dengan begitu, guru dapat menampilkan gambar atau filmnya. Apabila seorang guru dapat menampilkan berbagai jenis alat transportasi (motor, mobil, kereta api, pesawat terbang, perahu, kapal laut), hal itu akan cukup inspiratif bagi pembelajar. Apabila pengajar dapat memberikan contoh bunyi bahasa, pengucapan (artikulasi) bahasa, pengajar dapat melengkapinya dengan gambar-gambar.

Biasanya proyektor disandingkan dengan sistem audio. Sistem audio yang ditambahkan bisa saja radio-tape recorder. Hal ini disebabkan komputer yang biasanya disandingkan dengan penggunaan proyektor hanya bisa mengeluarkan suara yang kecil. Dengan mengunakan radio-tape recorder suara yang keluar dari komputer (multimedia) akan cukup nyaring dan bisa diapresiasi oleh pembelajar dengan baik.

Dengan begitu, multimedia yang digunakan di antaranya adalah komputer laptop (portabel), proyektor LCD, dan radio-tape recorder. Laptop dapat menyimpan berkas-berkas (file) multimedia. Proyektor digunakan untuk menampilkan multimedia. Radio-tape recorder digunakan untuk mempernyaring bunyi dari komputer agar suara multimedia itu dapat didengar dan diapresiasi oleh para pembelajar di dalam kelas.

Multimedia dengan proyektor LCD tidak selamanya bisa menggantikan papan tulis dan media alami. Namun multimedia ini semestinya melengkapi papan tulis. Pada pembelajaran menulis permulaan, guru semestinya memberikan contoh menulis di papan tulis. Pada pembelajaran mengarang pun, guru dapat mengorganisasikan siswa untuk menulis kalimat di papan tulis dengan tema yang ditentukan. Namun multimedia sangat efektif untuk menampilkan puisi atau wacana. Dengan begitu, pengajar tidak usah menulis puisi di papan tulis atau membagikan wacana. Menulis puisi di papan tulis akan menghabiskan waktu, menguras tenaga. Multimedia seperti ini dapat digunakan dan disempurnakan di masa depan.

Contoh multimedia yang dibuat misalnya pembelajaran bercerita (sastra), pembelajaran puisi, pembelajaran membaca, pembelajaran membaca permulaan.

Multimedia Animasi dengan Program Presentasi

Animasi dapat dibuat dengan program presentasi seperti (Libre Office Presentation, Open Office Presentation atau Microsoft PowerPoint). Animasi dapat dibuat dengan menggambar karakter di satu slide kemudian menggesernya di slide lain. Karakter yang dibuat dapat berupa orang, binatang, pohon, pemandangan atau yang lainnya. Untuk membuat karakter bergerak, karakter dapat dipindahkan posisinya di slide lain atau diubah bentuknya di slide lain.

Contoh animasi yang dibuat oleh mahasiswa ada di situs http://file.upi.edu/browse.php?dir=Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/Tugas%20Kuliah/Dasar-dasar%20Teknologi%20Informasi%20dan%20Komunikasi/2011-animasi-presentasi-multimedia/