Multimedia pada Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah Dasar

Multimedia pun dapat dibuat untuk jenjang sekolah dasar, sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Multimedia dapat dibuat untuk bermacam-macam pelajaran. Pada pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, pengajar dapat membuat multimedia untuk pembelajaran bercerita (sastra), pembelajaran puisi, pembelajaran membaca, pembelajaran membaca permulaan. Multimedia yang dibuat itu dapat berupa animasi baik dengan gambar, suara, film selain teks.

Pada pembuatan multimedia untuk pelajaran cerita, pengajar dapat memasukkan cerita dengan gambar (imej) tokoh yang berperan dalam cerita. Pengajar pun dapat membuat animasinya. Cerita yang dipilih pengajar dapat dijadikan bahan pelajaran membaca, mendengarkan atau berbicara (misalnya menanggapi). Dengan begitu pelajaran dapat menjadi pelajaran tematik.

Pembelajaran tematik sangat menarik bagi pengajar karena dengan bahan yang sama, dengan sedikit perubahan atau modifikasi, pengajar dapat mengaitkannya dengan kompetensi lain, atau dengan mata pelajaran lain (misalnya Matematika, IPA, atau IPS).

Pada pembelajaran puisi, pengajar dapat dengan cepat menampilkan puisi dengan proyektor LCD. Pengajar pun dapat pula menayangkan video pembacaan puisi. Penayangan video ini semestinya memperhatikan penambahan audio, misalnya dengan speaker atau radio-tape recorder agar suara lebih nyaring.

Pada pembelajaran membaca, pengajar dapat dengan cepat menampilkan wacana untuk dibaca pembelajar. Pada pembelajaran membaca cepat, wacana dapat ditayangkan dalam waktu yang singkat agar pembelajar berlatih membaca cepat. Penggunaan proyektor akan memudahkan pelajaran membaca karena acap kali suatu sekolah kesukaran untuk memiliki wacana yang sama cukup banyak untuk dibaca satu kelas. Pembelajar dapat melanjutkan pada penghitungan kemampuan membaca (kecepatan efektif membaca).

Pada pembelajaran membaca permulaan, pengajar dapat menampilkan huruf-huruf, menampilkan suku kata, menampilkan kata-kata pendek, menampilkan kalimat-kalimat pendek untuk dibaca bersama. Pengajar dapat mengeja atau membaca suku kata dan meminta siswa membeo (mengulang) bacaan.

Pembelajaran membaca permulaan biasanya terintegrasi dengan pelajaran menulis permulaan. Dengan begitu, pengajar dapat memberi contoh dengan menulis di papan tulis. Pengajar dapat menulis huruf-huruf, menampilkan suku kata, menampilkan kata-kata pendek, menampilkan kalimat-kalimat pendek untuk dibaca dan ditulis bersama. Dengan begini, tidak selamanya media atau multimedia digunakan. Pengajar harus menggunakan papan tulis dan menulis di atas papan tulis agar bisa dicontoh oleh siswa.

 

Leave a Reply