Mahasiswa Asing di UPI Kampus Sumedang: Kota Sumedang sebagai Alternatif Tujuan bagi Pertukaran Pelajar Asing

Tulisan ini didedikasikan bagi civitas akademika UPI Kampus Sumedang (http://kd-sumedang.upi.edu, http://www.upi.edu) khususnya dan warga Sumedang umumnya. UPI Kampus Sumedang belajar menjadi tuan rumah yang baik bagi pelajar asing pada acara pertukaran pelajar (student exchange). Saat ini pelajar yang hadir dari University of Sydney (http://sydney.edu.au). Ada lima mahasiswa yang hadir di UPI Kampus Sumedang. Mereka akan memulai programnya pada hari Senin, 24 November 2014 hingga Jumat, 28 November 2014.

Senin, 24 November 2014
Pada hari Senin, 24 November 2014, UPI Kampus Sumedang menerima mahasiswa University of Sydney sebagai bagian dari program pertukaran pelajar. Ke mana sajakah tujuan pengembaraan pelajar asing ini? Tentu saja sebagian waktu mereka digunakan untuk mengunjungi institusi pendidikan (sekolah-sekolah dan perguruan tinggi), dan sebagian waktu sisanya digunakan untuk melancong menikmati wisata di Kota Sumedang.

Ternyata hari Senin mereka habiskan untuk berkeliling kota Bandung sehingga hari Senin malam, mahasiswa asing baru tiba di Sumedang. Padahal civitas akademika UPI Kampus Sumedang sudah menunggu mereka sejak siang hari. Rencananya mereka akan dibawa untuk penerimaan resmi oleh pimpinan UPI Kampus Sumedang beserta setidaknya sebagian dosen dan mahasiswa yang hadir. Namun mereka tiba di UPI Kampus Sumedang malam hari. Oleh karena itu, penerimaan tidak jadi di kampus melainkan mereka langsung menemui orang tua asuh mereka di Sumedang, di rumah tempat mereka menginap.

UPI Kampus Sumedang dipilih oleh UPI karena memang sebagian dari mahasiswa asing tersebut memang kuliah di program studi pendidikan guru sekolah dasar. Begitu diantar kepada orang tua asuh mereka di Sumedang, mereka memperkenalkan diri dan segera malam ini mereka beristirahat. Ternyata mahasiswa asal Australia ini sangat minim sekali kemampuan berbahasa Indonesianya. Mungkin benar demikian karena mereka tak pernah sekali pun mengucapkan kosakata bahasa Indonesia. Di lain waktu ada orang-orang yang mengucapkan kosakata bahasa Indonesia seperti ketika ada kesempatan mengajar di depan kelas. “Selamat pagi ….”, “Selamat (melihat jam) siang ….”, “Nama saya ….” Namun, di luar itu mereka sering kali tidak berkata-kata dengan bahasa Indonesia seolah-olah mereka tidak akan menggunakan bahasa Indonesia sama sekali di masa depan. Malam ini mereka harus beristirahat untuk jadwal esok hari. Esok mereka dijadwalkan untuk bertemu dengan civitas akademika UPI Kampus Sumedang dan mengunjungi sekolah bila memungkinkan pada kesempatan lain.

Memang bisa dipahami bila ada kebiasaan yang berbeda di antara kedua etnis, Indonesia dan Australia. Salah seorang mahasiswa asing ini bertanya di mana ia harus menggosok gigi. Hal ini disebabkan rumah tempatnya tinggal tidak mempunyai wastafel. Tuan rumah menunjukkan kamar mandi dan lubang tempat membuang busa pasta gigi. Tentu saja lubang itu adalah lubang yang sama dengan lubang pembuangan air kamar mandi. Yah, bagaimanapun mahasiswa asing sedikit banyak harus menyesuaikan perbedaan-perbedaan yang ada di antara kedua etnis. Kuat dugaan, mahasiswa asing ini mempunyai standar rumah seperti kamar mandi shower (mungkin dengan air panas), toilet duduk, wastafel untuk menyikat gigi. Tentu saja masyarakat kita harus punya toilet yang bersih. Jangan sampai kita mempunyai toilet kotor dan mereka akan keluar dari toilet dengan muka hitam dan masam seolah mereka berkata, “Kamu punya toilet yang menjijikkan, mengerikan.”

Mungkin saja udara malam terlalu panas atau terlalu dingin bagi sebagian orang. Mungkin orang asing merasakan suhu yang berbeda. Namun ada kalanya negeri-negeri mempunyai beberapa musim yang suhunya sama. Di suatu negeri bisa saja ada cuaca atau musim yang suhunya ekstrem dingin dan di waktu lain ekstrem panas.

Selasa, 25 November 2014
Pada hari Selasa, 25 November 2014, para mahasiswa asing mengunjungi UPI Kampus Sumedang. Sebelum pergi, mahasiswa asing sarapan dulu. Menurut mereka, mahasiswa asing ini tidak terbiasa dengan sarapan besar. Masyarakat Indonesia juga sebetulnya tidak melakukan sarapan besar. Sarapan besar atau kecil itu ditentukan oleh ukuran atau jumlah yang dimakan, bukan dari jenis yang dimakan. Jika hanya makan setengah piring nasi untuk sarapan dengan satu atau dua jenis lauk tentu ini hanya bisa disebut sarapan kecil. Namun bila sarapan dengan beberapa piring nasi juga beberapa jenis lauk pauk tentu ini bisa disebut sarapan besar. Tidak selamanya sarapan itu anti nasi karena hotel internasional juga menyuguhkan sarapan nasi goreng. Yang jelas sarapan itu biasanya tidak terlalu banyak karena seseorang akan makan siang untuk menambah tenaganya di siang hari. Orang Australia menurut mahasiswa asing ini biasa makan siang salad dalam jumlah yang besar.

Acara pada hari Selasa, 25 November 2014, adalah bertemu dengan civitas akademika UPI Kampus Sumedang yaitu dosen, karyawan dan mahasiswa. Mahasiswa asing diajak berkeliling UPI Kampus Sumedang. Mereka diperkenalkan dengan ruang dosen, ruang direktur, ruang program studi, ruang pelayanan akademik dan kemahasiswaan, lokasi kelas, laboratorium internet, kantin, fasilitas olah raga, masjid dan aktivitas kesenian. Mahasiswa asing ini masuk ke beberapa kelas untuk perkenalan. Mahasiswa asing yang hadir di UPI Kampus Sumedang terdiri atas lima orang yaitu Isabelle Khaichy, Hannah Morton, Troy Wong, Laura Griffiths, dan Erini Limnatites. Mahasiswa UPI Kampus Sumedang pada prinsipnya antusias dengan kehadiaran mahasiswa asing ini. Hanya saja mereka agak grogi ketika harus bertanya atau berkomunikasi kepada mahasiswa asing ini karena mereka cenderung harus menggunakan dengan bahasa Inggris. Dengan begitu, komunikasi pun kurang bisa terjalin. Tentu saja akan kurang pas bila seluruh komunikasi harus diinterpretasi oleh penerjemah.

Pada kunjungan ke ruang kesenian, ruang ini diisi oleh instrumen musik tradisional dan ada sebagian mahasiswa yang melakukan kegiatan harian di sana. Di ruang itu biasanya ada mahasiswa yang melakukan kegiatan atau sekedar menunggu kegiatan. Seperti biasa, mahasiswa ini diperkenalkan kepada sivitas akademika di sana dan dilakukan tanya jawab di antara mereka. Ternyata di ruangan itu pada pukul 15.30 ada acara latihan unit kegiatan mahasiswa Lokahyang. Latihan itu dilakukan untuk kegiatan Seminar Nasional Pendidikan Dasar pada tanggal 30 November 2014. Para mahasiswa asing diprogramkan untuk menyaksikan latihan ini.

Kemudian mahasiswa asing ini diajak oleh teman mereka (buddies, teman mahasiswa dari UPI Kampus Sumedang) untuk mengunjungi museum. Museum yang dikunjungi adalah satu-satunya museum di Sumedang. Museum ini adalah museum bersejarah tentang sejarah Sumedang. Di dalam museum ini disimpan peninggalan kerajaan Sumedang. Kerajaan Sumedang diyakini sebagai kerajaan pelanjut dari Pajajaran dan Galuh. Catatan di sini ialah bahwa kerajaan Islam Cirebon juga adalah pelanjut dari kerajaan Pajajaran dan Galuh. Para sultan Cirebon diyakini sebagai keturunan dari Prabu Siliwangi.

Beberapa benda kerajaan yang tersimpan di dalam museum di antaranya mahkota kerajaan, pakaian kerajaan, serta senjata-senjata kerajaan. Benda-benda ini merupakan bukti bahwa kerajaan Sumedang adalah penerus dari kerajaan Pajajaran dan Galuh. Hubungan Sumedang dengan Cirebon di antaranya juga ada pada peristiwa Ratu Harisbaya. Makam Ratu Harisbaya ini ada di kawasan Dayeuhluhur, yaitu sebuah puncak gunung di Kecamatan Ganeas. Kunjungan ke museum ini diharapkan dapat juga memberi wawasan bagi mahasiswa asing untuk lebih mengenal kota Sumedang khususnya dan Jawa Barat serta Indonesia pada umumnya.

Pada pukul 15.30 para mahasiswa asing itu hadir pada acara latihan Lokahyang. Kebetulan dosen pembimbing unit kegiatan mahasiswa (UKM) Lokahyang juga hadir untuk membimbing latihan. Mahasiswa asing pun turut serta dalam latihan dan mereka mencoba memainkan instrumen angklung. Mereka memainkan lagu “Just The Way You Are” dari Bruno Mars diiringi ensemble angklung. Videonya dapat disaksikan di youtube dengan alamat (dengan lirik) https://www.youtube.com/watch?v=5ZoI0OPBhTY atau yang tanpa lirik https://www.youtube.com/watch?v=7892yBXskGY. Video itu dapat dicari dengan kata kunci “just the way you are”, “angklung”, “upi kampus sumedang”, “prana badrun”.

mahasiswa australia main angklung di UPI Kampus Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia main angklung di UPI Kampus Sumedang

Sejumlah mahasiswa asing tersebut sangat tertarik dengan instrumen tradisional angklung. Mereka mengatakan bahwa angklung mempunyai suara yang sangat indah dan alami. Mungkin saja demikian karena angklung terbuat dari bambu dan bukan dari logam. Lokahyang memainkan sejumlah lagu di antaranya lagu-lagu daerah, lagu dangdut dan lagu pop barat. Mahasiswa asing menikmati lagu-lagu yang dimainkan Pada saat lagu dangdut dimainkan, mereka turun berjoged sesuai tradisi musik dangdut.

Pada malam harinya, mahasiswa asing mampir ke rumah salah seorang dosen pembimbing. Salah seorang dosen pembimbing mahasiswa asing ini membawa beberapa keranjang buah-buahan. Ada jambu air, mangga, markisa, konyal, salak. Memang buah-buahan sangat menarik untuk diperkenalkan kepada mahasiswa asing karena negeri Indonesia sangat kaya dengan buah-buahan. Buah mangga mempunyai banyak jenis dan setiap jenis mempunyai rasa yang khas. Para mahasiswa asing ini dipersilakan untuk mencicipinya. Menurut mahasiswa Australia ini, buah mangga sangat mahal harganya di Australia. Harganya jauh melebihi buah apel atau jeruk. Di Indonesia, apel atau jeruk impor tidak bisa dijual terlalu mahal karena bila dijual terlalu mahal, maka ia tidak bisa bersaing dengan buah-buahan lain. Masyarakat akan memilih buah mangga daripada apel bila harga apel jauh lebih mahal. Di samping itu, mungkin saja ada apel lokal yang punya rasa yang khas dan bisa diolah menjadi barbagai panganan. Di internet ada banyak video pengolahan buah-buahan menjadi berbagai panganan: sirup, jus, puree, makanan bayi dan lain-lain. Pada hari lain, dilakukan pula peristiwa jual beli buah-buahan. Mahasiswa asing dibelikan buah sawo dan melon.

Di Bandung, Troy menemukan avocado in my life ‘alpukat dalam hidupku’. Dari fotonya, alpukat ini penampakannya lebih besar dari telapak tangan manusia sehingga bila digenggam dengan satu tangan, niscaya tangan hanya menutupi kurang dari setengah alpukat itu. Menurutnya, alpukat ini diperoleh dari pohon yang ada di rumah tempat ia tinggal di Bandung. Ada sekitar 20 buah lagi dengan ukuran yang sama menggantung di pohon itu. Troy tentu saja belum menikmati buah mangga dari rumah pembimbingnya di Sumedang. Padahal buah mangga di sana sangat enak karena tanah tempat pohon mangga itu ditanam adalah tanah bekas kandang domba sehingga sangat subur dan baik untuk tumbuhan. Buah mangga yang tumbuh di sana sangat manis dan menyegarkan.

Rabu, 26 November 2014
Pada hari Rabu, 26 November 2014, para mahasiswa asing mengunjungi SD Situraja dan SMP Situraja. Mereka sangat antusias melihat pemandangan berupa pesawahan di kanan-kiri jalan. Mereka juga antusias melihat lalu-lalang motor. Rupanya kepemilikan motor di Australia dibatasi. Sebagai gantinya, pemerintah menyediakan transportasi yang memadai bagi masyarakat. Masyarakat Indonesia yang terbiasa dengan motor mungkin akan berpikir, sangat repot juga bila mereka harus bepergian tanpa motor dan hanya naik angkutan kota (angkot). Padahal mereka mungkin saja membawa sejumlah barang atau harus berganti angkot beberapa kali.

02-smp-situraja

Mahasiswa asing dari Australia sedang mengajar di SMPN Situraja, Sumedang

Kebetulan lokasi SD Situraja dan SMP Situraja berdekatan sehingga para mahasiswa asing pun dibagi dua. Sebagian masuk ke SD Situraja dan sebagian lagi masuk ke SMP Situraja. Kepala sekolah dan guru yang mewakilinya dengan sangat senang hati menerima mahasiswa-mahasiswa asing ini. Perwakilan kepala sekolah yang menerima mahasiswa asing ini ternyata pernah mengunjungi Australia. Dengan begitu, ia tidak merasa segan untuk bercakap-cakap dengan mahasiswa asing dan berbicara tentang hal-hal terkait dengan program mahasiswa asing ini di sekolah Indonesia.

Memang praktik mengajar merupakan salah satu yang sedikit banyak menjadi kendala bagi mahasiswa asing, karena perbedaan kultur belajar di antara kedua negara (Indonesia dan Australia). Indonesia rata-rata mempunyai kelas gemuk di sekolah-sekolahnya. Kelas-kelas gemuk di Indonesia memiliki rata-rata 40 orang siswa. Sedangkan di Australia, kelas yang ideal tidak melebihi 25 siswa. Di samping itu, ternyata rata-rata mahasiswa asing yang mengunjungi Indonesia ini sangat kurang kemampuan berbahasa Indonesianya. Walhasil, mereka mengajar menggunakan bahasa Inggris Australia sepenuhnya. Hanya beberapa patah kata seperti “Selamat pagi.” atau “Nama saya ….” Namun mereka masih bisa berkomunikasi dengan siswa-siswa karena mereka mengucapkan kata-kata berbahasa Inggris dengan perlahan dan dengan dibantu bahasa tubuh (gerak, mimik, ekspresi). Materi pelajaran yang mereka persiapkan sederhana saja: pengenalan tempat umum (public places), pengenalan nama anggota tubuh dalam bahasa Inggris.

Perjalanan dari dan ke Situraja terdapat pesawahan di sepanjang jalan.

Kegiatan wisata lain yang dapat dilakukan di Sumedang adalah wisata kuliner. Memang Sumedang tidak sebesar Bandung, tetapi wisata kulinernya pun masih bisa diharapkan, asal ada informasi yang mendukung ke sana. Beberapa tempat wisata kuliner yang bisa masuk ke dalam iklan ini adalah rumah makan Kartikasari, Saung Teko, Orchid, Sate Iting, Sate Oon. Ada banyak lagi tempat wisata kuliner yang cukup pantas dikunjungi. Namun karena biaya iklannya minim, terpaksa iklan juga mesti dibatasi :D.

Potensi Pariwisata
Sebenarnya ada banyak tempat lagi yang pantas dikunjungi si Sumedang, di antaranya wisata pembuatan batik kasumedangan di Kaum, wisata Waduk Jatigede dan wisata paralayang di Situraja, meninjau pembuatan angklung di Situraja, wisata ke air terjun di Curug Gorobog, Curug Pasirwangi, Curug Ciputrawangi, hiking ke Gunung Tampomas atau kebun teh di Citengah. Wisata paralayang memang menarik dan menantang, namun di antara mahasiswa dan dosen UPI Kampus Sumedang tidak ada mempunyai sertifikat terbang paralayang dan belum ada di antara mereka yang mempunyai pengalaman terbang paralayang sehingga wisata paralayang ini belum bisa dilaksanakan. Padahal lokasi paralayang di Situraja merupakan lokasi standar internasional dan akan dijadikan tempat olah raga paralayang pada peristiwa Pekan Olah Raga Nasional (PON) 2015 nanti. Pada PON itu, provinsi Jawa Barat ditunjuk menjadi tuan rumah.

Pada malam hari mereka sempat pentas di panggung UPI Kampus Sumedang disaksikan oleh warganya. Pementasan ini juga didukung oleh sejumlah pemusik dan pemain band yang ada di Sumedang. Selesai pentas, Kru Parahiangan TV (ParTV) pun mewawancarai mahasiswa-mahasiswa asing. Wawancara dilakukan berkaitan dengan pementasan mereka, maupun keberadaan mereka di Sumedang.

Kamis, 27 November 2014
Program pada hari Kamis, 27 November 2014 adalah mengunjungi SD di Sumedang Utara. Merka juga punya program untuk saling berkunjung ke rumah tempat tinggal kawan-kawannya. Ayam-ayam berkeliaran di sekitar perumahan. Mungkin ada di antara mereka yang punya ketertarikan untuk melihat sebuah peternakan ayam kecil di belakang rumah. Biasanya ayam atau unggas yang dipelihara masyarakat dibiarkan begitu saja berkeliaran. Mungkin saja ada pertanyaan tidakkah takut ayam-ayam itu hilang atau dicuri orang? Berpuluh tahun yang lalu ada seorang masyarakat yang memelihara ayam. Pada suatu senja, para pemuda iseng menangkap ayam yang saat itu telah dibutakan oleh gelapnya senja. Ayam itu dimasak sebagai perayaan iseng para pemuda kampung.

Materi pelajaran yang mereka persiapkan sederhana saja: pengenalan nama anggota tubuh dalam bahasa Inggris, pengenalan tempat-tempat di Australia, pengenalan binatang-binatang khas Australia, bercerita, tebak nama tempat, bermain drama. Permainan tebak-tebakan ini cukup menarik. Guru memberi tebakan berupa beberapa slot huruf kosong. Siswa diminta menebak huruf yang menjadi bagian nama tempat yang harus ditebak. Bila huruf selalu keliru maka guru menggambar orang digantung setahap demi setahap. Selanjutnya, guru memberi kesempatan kepada siswa untuk bergantian memberi tebakan dan guru menebak nama tempat yang dimaksud siswa.

03-sdn-sindang

Mahasiswa asing dari Australia sedang mengajar di SDN Sindang, Sumedang

 

04-sdn-sindang

Mahasiswa asing dari Australia sedang mengajar di SDN Sindang, Sumedang

05-sdn-sindang

Mahasiswa asing dari Australia mengajar di SDN Sindang, Sumedang

Pada hari ini mereka dikunjungi oleh Assoc. Prof. Lesley Harbon, Ph.D. dan Kate Smyth, M.Ed., B.A. Saat ini Mrs. Lesley Harbon adalah pejabat Associate Dean, International Curriculum Coordinator. Semestinya mereka berdua berkeliling untuk memeriksa pelaksanaan program yang dilakukan para mahasiswanya. Mrs. Harbon dan Mrs. Smyth tidak mempunyai banyak waktu di Sumedang. Mereka hanya mempunyai jadwal tiga jam untuk kunjungan di Sumedang karena mereka harus melakukan pekerjaan lain. Agaknya, mereka harus memeriksa program mahasiswanya di tempat lain.

06-sdn-sindang

Mahasiswa asing bersama Mrs. Harbon dan Mrs. Smyth dari Australia sedang bersama Kepala SDN Sindang, Sumedang

Pada Kamis malam, mahasiswa asing diajak memasak di rumah salah satu dosen pembimbing Sumedang. Sejumlah bahan dan peralatan disediakan. Mungkin saja pilihan masakan bisa ala Australia atau ala Indonesia. Yang jelas hasil masakan harus lezat dan bisa dinikmati oleh warga yang hadir pada acara ini. Semestinya acara ini didukung penuh oleh mahasiswa, baik mahasiswa asing maupun mahasiswa tuan rumah. Dengan begitu, acara memasak bisa sangat menyenangkan untuk diprogramkan.

Jumat, 28 November 2014
Jumat ini adalah hari terakhir mahasiswa asing ini berada di Sumedang. Pada hari ini Troy memberikan cenderamata untuk perpisahan. Cenderamata ini untuk anak-anak. Memang tradisi pertukaran cenderamata sangat baik untuk dilakukan. Namun tuan rumah tidak bisa memberi apa-apa. Tuan rumah hanya mempunyai sebuah buku untuk diberikan sebagai mata. Akhirnya diputuskan bahwa buku itu diberikan untuk pembimbing mereka dari Australia yaitu Mrs. Lesley Harbon. Review buku itu dapat disaksikan pula di youtube dengan alamat https://www.youtube.com/watch?v=6J04Bwo1NNc. Pemberian buku lebih cenderung pada penguatan kedua institusi sebagai institusi yang tertarik pada pendidikan. Mungkin kerja sama bidang pendidikan lainnya dapat dilakukan pada masa yang akan datang.

Jumat pagi ini, setelah upacara pemberian cenderamata selesai, Troy mencuci baju. Hal yang biasa bagi mereka untuk mencuci baju. Itu bisa saja disebabkan mereka tidak menemukan jasa laundry di sekitar mereka. Namun peristiwa ini harus menjadi catatan sebagai contoh perbuatan baik. Anak-anak harus belajar mencuci pakaian mereka. Mungkin saja anak kecil belajar mencuci pakaian dalam mereka dulu. Mereka juga bisa belajar mencuci dengan mesin cuci. Ini adalah contoh tanggung jawab. Anak-anak harus belajar mencuci, memasak, menyapu, mengepel, membuang sampah, mencabuti rumput liar, menanam dan merawat tanaman, merawat ternak atau hewan peliharaan, …. Wah ternyata banyak juga yang harus dipelajari anak-anak. Namun tentu saja mereka hanya mempelajari satu hal di satu kesempatan. Bukankah kewajiban manusia juga hanya satu pada satu kesempatan? Manusia tidak melakukan salat sambil makan, atau salat sambil menyapu, atau menyapu sambil mengepel, atau membaca (belajar) sambil mengepel, atau menonton tv sambil mengepel. Kita hanya melakukan satu kewajiban pada satu kesempatan.

07-mahasiswa asing mencuci baju

Mahasiswa asing dari Australia sedang menjemur baju di Sumedang

Semestinya mahasiswa asing ini menikmati program olah raga di UPI Kampus Sumeedang karena hari Jumat adalah hari olah raga bagi civitas akademika UPI Kampus Sumedang. UPI Kampus Sumedang mempunyai program olah raga fitnes di hari Jumat. UPI Kampus Sumedang mempunyai peralatan dan ruangan fitnes yang tak ada tandingannya di Sumedang –paling tidak sampai saat ini. UPI Kampus Sumedang juga menyelenggarakan tenis lapangan, panahan, tenis meja dan bulu tangkis di hari Jumat. Semestinya mahasiswa asing itu memanfaatkan fasilitas dan program olah raga di UPI Kampus Sumedang, mungkin fitnes, tenis, panahan, joging atau tenis meja.

Hari Jumat, ketika menjelang siang, mereka mengunjungi SMAN 1 Sumedang untuk melakukan observasi dan berbicara dengan guru dan siswa di sana. Seperti biasa mereka disambut dengan hangat oleh guru. Para siswa berseru-seru seolah mereka alien dari planet mars dan venus. Mungkin juga mereka bagaikan selebritis. Para siswa pun tidak ada ada yang melewatkan pandangan kepada mereka walau sepintas. Para mahasiswa asing pun dipandu oleh pembimbingnya melambai ke kiri-ke kanan sebagai tanda keakraban dan persahabatan. Sebagaimana biasa, acap kali mereka serasa mempunyai keinginan untuk mendekat, menyapa, berbicara atau berkenalan. Namun, mereka mempunyai keterbatasan untuk berkomunikasi atau mereka menahan diri karena tak ada kesempatan baik untuk itu.

08-sman-1-sumedang

Mahasiswa asing dari Australia di SMAN 1 Sumedang

SMAN 1 Sumedang adalah sekolah menengah atas yang dulunya merupakan salah satu sekolah berstandar internasional yang ada di Sumedang. Oleh karena itu, pada masa lalu ada program sekolah untuk mengunjungi negara lain sebagai bagian dari tur studi mereka. Sudah beberapa angkatan dari siswa menikmati tur ke luar negeri. Tentu saja guru pun turut menikmati tur ke luar negeri ini. Namun akhirnya “kasta” sekolah standar internasional ini dihapuskan oleh pemerintah karena dianggap terlalu merentang kesenjangan dengan sekolah standar nasional atau di bawahnya. Tentu saja ada guru-guru bahasa Inggris dan guru lainnya serta siswa-siswa yang mampu berkomunikasi dengan bahasa Inggris.

Kebetulan guru bahasa Inggris sedang mengadakan tes harian di kelasnya. Maka mahasiswa asing pun mengunjungi kelas itu dan berkomunikasi dengan para siswa. Komunikasi ini mungkin saja memberi informasi bagi para mahasiswa asing atau para siswa. Komunikasi ini juga mungkin memberi motivasi bagi para siswa untuk belajar lebih baik lagi. Kunjungan ke SMAN 1 Sumedang ini hanya sebatas observasi padahal mungkin saja pengajaran sangat menarik untuk dilakukan.

Kunjungan dilakukan sampai waktu salat Jumat. Ketika salat Jumat masuk waktunya, kaum lelaki pun pergi untuk mendirikan salat Jumat. Sementara pembimbing lelaki jumatan, mereka melakukan pekerjaan membatik di Kaum. Batik yang dibuat dikenal sebagai batik kasumedangan. Setelah itu mereka mengunjungi restoran karaoke untuk menikmati makanan ringan sambil berkaraoke. Lagu-lagu yang dipilih bervariasi dari lagu pop, pop barat hingga dangdut. Mereka dipesankan hanya makan makanan ringan agar mereka bisa makan besar di kawasan pedesaan di pinggir kolam.

Sorenya program mereka mengunjungi desa pinggiran kota Sumedang. Di desa itu mahasiswa akan menemui sawah dan kolam. Mereka menuju desa itu dengan menggunakan delman (keretek). Delman ini adalah alat transportasi tradisional yang menggunakan kuda. Kusir kuda mengendalikan kuda supaya baik jalannya (wah, seperti lagu anak-anak). Untuk transportasi modern, orang-orang menggunakan motor dan mobil sebagai alat transportasi. Dengan alat transportasi modern, tanjakan yang curam tidak menjadi masalah untuk didaki. Ternyata delman tidak bisa mendaki tanjakan yang terlalu curam. Sedikit saja tanjakan di atas 45 derajat membuat delman diragukan untuk mampu mengangkut penumpang. Memang kekuatan kuda ini luar biasa dibandingkan dengan manusia biasa. Ia mampu menarik empat atau lima orang dengan kecepatan konstan tanpa kesulitan yang berarti. Di sebuah tanjakan curam, terpaksa penumpang harus turun dulu karena tanjakannya terlalu curam. Rute yang diambil memang bukan rute umum bagi transportasi delman melainkan menuju pegunungan yang agak tinggi. Di pegunungan itu terdapat pesawahan dan kolam yang dimiliki penduduk.

mahasiswa asing dari australia naik delman di sumedang

Mahasiswa asing dari Australia naik delman di Sumedang

Tiba di rumah tujuan, mereka disuguhi oleh makanan ringan khas daerah. Lalu mereka pun melanjutkan ke program inti yaitu menangkap ikan di kolam. Ikan yang ditangkap ini nantinya akan dimasak (dibakar) untuk santapan besar. Cuaca saat itu agak gerimis. Namun para mahasiswa asing ini sama sekali tidak takut demam bila mereka hujan-hujanan. Mereka tidak ragu untuk turun ke kolam dan mencoba menangkap ikan seperti dicontohkan oleh mahasiswa pemandu mereka. Menangkap ikan dengan tangan dalam bahasa Sunda disebut ngagogo. Bagi sebagian orang bahkan ngagogo bukanlah pekerjaan sehari-hari sehingga peristiwa ini adalah peristiwa istimewa. Betapa gembiranya mereka melakukan hal itu. Apalagi ketika mereka memang bisa mendapatkan ikan dengan tangan mereka sendiri. Ikan-ikan itu dikumpulkan di dalam sebuah wadah.

mahasiswa asing dari australia ngagogo di sumedang

Mahasiswa asing dari Australia ngagogo di Sumedang

Seperti sudah diuraikan di atas, pada beberapa peristiwa hujan, teman-teman mahasiswa Australia sangat antusias untuk hujan-hujanan. Rupanya mereka tidak pernah mengalami hujan-hujanan semasa kecil mereka padahal kebanyakan anak-anak di sini melakukan main hujan-hujanan ketika mereka masih kecil. Beberapa orang lokal menasehati mereka untuk tidak hujan-hujanan. Khawatir mereka sakit atau demam di malam harinya. Tetapi turis-turis ini merasa yakin bahwa mereka tidak akan sakit hanya karena hujan-hujanan.

Selesai mereka menangkap ikan dengan tangan mereka, mereka pun pergi ke sungai untuk mencuci ikan. Sebenarnya air sungai agak pasang, sehingga airnya cukup deras dan agak berbahaya. Tetapi karena ini kesempatan langka, dengan pertimbangan tidak ada bahaya, mereka mengambil resiko masuk ke sungai yang agak deras itu. Ceritanya mereka sekedar mandi dan membersihkan ikan untuk dimasak nanti. Padahal tentu mereka akan kotor lagi karena harus kembali melalui jalan sawah. Pemandangan di pesawahan ini sebenarnya sangat indah, juga dengan latar belakang pegunungan yang asri. Pemandangan rasanya hijau dan sejuk. Tetapi keindahan itu seolah biasa saja bagi masyarakat yang sudah biasa. Selesai mencuci ikan, mereka pulang dan mencuci kaki di sumur.

Mahasiswa asing dari Australia di sawah Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia di sawah Sumedang

 

Mahasiswa asing dari Australia di sungai Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia di sungai Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia di kaki bukit Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia di kaki bukit Sumedang

13-mahasiswa asing di kaki bukit sumedang 2

Mahasiswa asing dari Australia di kaki bukit Sumedang

Memang, makan nasi dengan ikan bakar tidak ada tandingannya di desa. Ikan-ikan dadakan dan beras dadakan yang dimasak benar-benar santapan yang lezat. Tentu saja bagi masyarakat Jawa Barat hidangan ini tidak lengkap tanpa sambal dan kerupuk. Hanya saja, mahasiswa asing ini tidak menyentuh sambal. Mereka tahu sambal dan mereka hanya mencicipinya. Mereka tahu bahwa sambal adalah “obat” untuk segera buang air besar dan sering buang air besar. Sekali makan sambal, bisa jadi sehari tiga kali buang air besar. Mungkin karena itulah mereka menghindarinya. Tentu saja sangat merepotkan bila sedang melancong tiba-tiba harus berhenti dan mencari tempat untuk buang air besar di tengah jalan. Mudah-mudahan saja mereka menghindari sambal bukan karena sambal itu seolah tidak higienis. Selain itu, tentu saja masyarakat Jawa Barat senang akan lalapan, jengkol dan petai. Pada saat itu ada lalapan berupa timun dan jengkol. Akan menjadi upacara yang menarik bila mahasiswa asing ini akhirnya senang makan jengkol saat mencicipinya. Tentu saja jengkol akan membuat aroma mulut menjadi menyeramkan. Mereka harus tidak banyak bicara setelah banyak makan jengkol. Untung saja, yang akan menikmati aroma mulut jengkol adalah para petugas hotel di Bandung karena mahasiswa asing ini malam ini akan pulang ke Bandung.

Mahasiswa asing dari Australia makan ikan bakar di balong sawah Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia makan ikan bakar di balong sawah Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia minum air kelapa muda di Sumedang

Mahasiswa asing dari Australia minum air kelapa muda di Sumedang

Malam ini mereka pulang ke Bandung. Jemputan sudah tiba di depan rumah. Mahasiswa asing pun berpamitan untuk melanjutkan program mereka di Bandung. Mereka harus mengakhiri program mereka sebagai pembicara dan melakukan presentasi di depan hadirin.

Pada prinsipnya pertukaran pelajar adalah memperkenalkan kultur belajar. Tak kurang penting dari program pertukaran pelajar ini adalah kegiatan berwisata.

Leave a Reply