Arung Jeram di Kabupaten Bangko, Propinsi Jambi

Pada hari Rabu, tanggal 22 Juli 2015, saya berkesempatan untuk menikmati wisata arung jeram di sungai Manau atau Merangin, Kabupaten Bangko, Propinsi Jambi. Lokasi arung jeramnya dikenal sebagai Merangin Geopark, Muara Jambi. Lokasi ini bisa dicari dengan mesin pencari seperti google atau duck duck go. Saya memulai petualangan ini.

Lestarikan Alam Jambi Sungai Manau

Lestarikan Alam Jambi Sungai Manau

20150722_170947-ok

Kabupaten Bangko adalah kabupaten yang baru saya kenal. Oleh karena itu saya tidak mengetahui lokasi barat dan timur, atau hal-hal kecil lain yang penting bagi seorang yang eksis. Saya mengikuti tur dengan tiga orang teman yang merangkap sebagi pemandu. Kami berempat memasuki lokasi arung jeram dari jalan utama. Lokasi arung jeram ini terbilang terpencil dan tersembunyi karena tidak ada papan-papan informasi yang cukup jelas untuk mengantar ke sana. Untung saja teman yang menjadi pemandu kami sudah hafal lokasinya. Dengan begitu, kami tidak tersesat dari lokasi atau lokasi itu tidak terlewat dari perjalanan kami.

Dari jalan utama, rasanya cukup jauh juga. Sekurangnya kami menempuh dua, tiga, atau empat kilo. Entah perasaan lama ini hanya perasaan saja. Jalan yang dilalui pun cukup off road dan menantang. Jalan ini hanya cukup untuk satu mobil saja sehingga bila ada mobil lain yang berpapasan, terpaksa ban kedua mobil yang berpapasan harus mepet ke luar jalan. Menurut informasi pengelola wisata arung jeram, pemerintah kabupaten kurang perhatian dalam masalah jalan ini. Selain itu sebagian jalan rusak dan tidak memadai bagi promosi daerah tujuan wisata. Teman saya pernah mencapai tempat ini dengan motor, karena itu mungkin bisa lebih cepat atau tidak ada masalah tentang sempitnya jalan.

Ketika saya tanyakan lebih lanjut, tentang keterlibatan pengelolaan wisata ini, pengelola menjawab, bahwa wisata ini sepenuhnya dikelola oleh warga atau pemuda (mungkin karang taruna atau taruna karya) di lingkungan itu. Dengan begitu, uang pendapatan pun dikelola secara mandiri dan dibagikan sesuai kesepakatan organisasi. Hal ini menarik menurut saya karena wisata tidak dikelola oleh swasta, kapitalis atau pemerintah. Warga sendirilah yang mengembangkan tempat wisata ini. Menurut pengakuan pengelola, mereka mendapat satu perahu dari (pemerintah atau individu?) Bandung. Bisa dibayangkan bila pengelolaan tempat wisata ini dilakukan oleh kapitalis swasta, warga tentu tidak akan banyak terlibat atau warga tidak akan banyak memperoleh profit dari potensi wisata ini. Warga tidak dapat mengatur tempat wisatanya atau mengupayakan peningkatan laba. Hanya saja tentu warga pada umumnya tidak mempunyai kapital (modal) yang besar untuk mengembangkan potensi wisata secara maksimal. Hal inilah yang perlu diperhatikan oleh pemerintah. Mungkin saja konsep Mohamad Hatta tentang koperasi bisa menjawab masalah ini. Tentu saja koperasi yang adil dan terbuka.

Mungkin ada potensi pariwisata di kota atau kabupaten di sekitar pembaca seperti air terjun, danau, danau buatan (waduk), sungai untuk arung jeram, bumi perkemahan, wisata paralayang, wisata peternakan, wisata kuliner, taman kota, wisata permainan, wisata tematik, … dan sebagainya. Mungkin potensi itu sebaiknya dikembangkan oleh masyarakat sendiri. Jangan sampai potensi itu nanti hanya dikuasai oleh kapitalis (orang yang bermodal besar), atau segelintir pejabat, tanpa melibatkan peran signifikan dari warga. Keuntungan warga pun seharusnya harus menjadi maksimal karena merekalah yang mengelola aset wisata ini.

Sebagai perbandingan, menurut info dari videonya di internet, Ahok mendapati bahwa sebuah tempat wisata di Jakarta (di Ancol, Seaworld, atau Dunia Fantasi?) dikembangkan oleh swasta dengan cara sewa selama kurun waktu tertentu (misalnya 20 tahun) oleh pimpinan daerah sebelumnya. Selama itu juga swasta ini bebas (atau mangkir?) dari pembayaran pajak karena merasa membangun aset daerah. Namun, pada saat masa pengembalian aset (setelah 20 tahun) mereka melakukan upaya privatisasi (?) atau mangkir dari kewajiban-kewajiban tertentu. Aspek-aspek ini yang dapat dijadikan pelajaran dalam pengelolaan tempat wisata atau aset daerah di kota dan kabupaten lain. Di sisi lain, justru ada oknum pejabat daerah (atau wakil rakyat) yang melakukan privatisasi pada aset daerah ini dan menghilangkan potensi masyarakat untuk memanfaatkan potensi wisata ini bagi kesejahteraan masyarakat.

Jadi, kapan cerita tentang arung jeramnya? Sabar ….

Biaya untuk arung jeram ini adalah Rp600 ribu untuk sekali sewa perahu. Jarak tempuh perahu adalah 13km dalam waktu kurang lebih 2–3 jam. Perahu bisa ditunggangi oleh 5 penumpang ditambah 3 orang pengelola sebagai pemandu. Jadi jumlah orang yang ada dalam perahu adalah 8 orang. Saya tidak tahu apakah harga Rp600 ribu itu termasuk murah atau mahal. Kami berempat akan naik perahu maka anggaran 600 ribu dibagi 4 didapat iuran per orang adalah Rp150 ribu. Kami bertujuh (dengan pengelola/pemandu) memutuskan untuk arung jeram. Bila perahu ditunggangi lima turis maka iuran per orang adalah Rp120 ribu. Kami juga tentu harus menyiapkan anggaran untuk makan dan jajan.

Setelah turun dari mobil, kami berganti pakaian sesuai dengan keperluan arung jeram. Kami dipandu oleh tiga orang pemandu arung jeram yang bernama Badri, Sabri dan Fauzi. Nama mereka tidak terlalu asing, juga wajah mereka. Namun ketika mereka berbicara nampaknya ucapan mereka sangat asing di telinga saya karena mereka berbicara dengan intonasi daerah Jambi. Saya adalah warga Jawa Barat yang menjadi turis di Jambi ini. Namun mereka cukup ramah. Mungkinkah juga mereka pernah ke Jawa Barat?

Saya menggunakan kaos. Mulanya saya khawatir tangan akan berbenturan dengan batu atau kayu karena saya hanya menggunakan kaos lengan pendek dan celana pendek. Tetapi ternyata kekhawatiran itu tidak terjadi. Bahkan segarnya air lebih terasa bila menggunakan kaos tangan pendek dan celana pendek. Saya justru bersyukur menggunakan kaos tangan pendek dan celana pendek karena cipratan air dari terjunan yang curam lebih terasa. Justru badan tidak terasa lengket karena celana panjang atau kaos tangan panjang yang basah. Pergerakan tidak tangan dan kaki pun tidak terhambat oleh oleh kaos lengan panjang dan celana panjang.

Kami berjalan kaki dari posko pemberangkatan sekitar 0.5km ke sungai. Perahu akan mulai mengarungi sungai dari Desa Air Batu, Kecamatan Renah Pembarap dan berakhir di Kecamatan Bangko Barat. Kami menggunakan perlengkapan standar: pelampung dan helm. Ada sekitar enam dayung yang disediakan untuk mendayung di arung jeram. Dengan begitu ada seorang di antara teman kami yang tidak memegang dayung. Kami sempat berfoto dulu menggunakan perlengkapan ini. Lalu kami pun memulai perjalanan arung jeram. Ternyata, teman-teman tidak ada yang membawa telapon selular (ponsel).

Semua ponsel mereka disimpan di mobil. Saya sempat bertanya, apakah ponsel bisa selamat bila dibawa selama arung jeram. Pengelola mengatakan tidak masalah. Kamera mesti dimasukkan ke kantong plastik. Hanya saja kantong plastiknya mesti diperiksa dari kebocoran. Bila plastik bocor dan air memasuki ponsel, maka ponsel bisa jadi rusak dan tinggal kenangan. Saya tentu punya kekhawatiran tentang itu. Menikmati arung jeram dengan dibayar ponsel rusak adalah pengalaman yang buruk. Ponsel saya dimasukkan plastik, diikat dan dimasukkan ke dalam saku dengan retsleting rapat. Baju dan celana basah selama arung jeram, tetapi ponsel saya selamat dari kemasukan air. Saya pun sempat nekad memotret teman selama di atas air dalam keadaan ponsel tertutup plastik transparan. Ternyata hasil jepretan saya blur. Tetapi ponsel saya selamat, tidak kemasukan air. Alhamdulillah. Tetapi lain kali, saya tidak akan nekad membawa ponsel untuk acara seperti ini.

Persiapan Arung Jeram di Jambi

Air di sungai ini terbilang cukup tenang. Laju perahu pun acap kali perlahan. Tentu saja ini saya rasakan dengan membandingkan ruti 13 kilo ditempuh dengan motor. Motor bisa melaju dengan kecepatan 40km/jam. Laju perahu ini tidak lebih dari 30km/jam. Dengan begitu, saya merasa perjalanan sangat aman, kecuali saat memasuki jeram. Memasuki jeram adalah tantangan yang menyenangkan. Kalau motor mungkin seperti bermanuver menikung, standing, atau jumping. Ini adalah momen istimewa saat berarung jeram. Memasuki jeram berarti perahu mengalami akselerasi serta manuver yang mengejutkan. Kami harus menjaga agar perahu tetap seimbang dan tak ada orang yang jatuh ke sungai. Ternyata, arung jeram di sini tidak terlalu berbahaya.

Lebar sungai ini bervariasi sekitar 8 sampai 12 meter. Saat kami berarung jeram ini adalah mulai musim kemarau sehingga permukaan air cenderung surut. Kami pun melihat ada batas air pasang di bebatuan sekitar pinggir sungai. Di beberapa kesempatan air terasa tenang sehingga saya sempat memutuskan untuk memotret teman-teman di atas perahu yang hasilnya blur tadi. Sungai ini terbilang lebar karena dugaan saya sungai-sungai di Jawa Barat cenderung lebih sempit daripada sungai-sungai di Sumatera.

Sepanjang perjalanan awal, pemandu bercerita tentang situasi di sekitar sungai tempat wisata. Sesekali kami menimpali dan bertanya tentang situasi wisata ini. Di sekitar sungai ini terdapat beberapa kawasan di antaranya hutan, kebun sawit, dan pemukiman warga. Memang sungai ini masih terlihat alami. Selain itu yang cukup penting adalah sungai ini tidak ada limbah plastik. Tentu saja akan sangat menjijikkan bila ada limbah plastik. Pengelola wisata pun saya kira akan kerepotan untuk mengatasi limbah plastik. Ini tentu harus didukung dengan kampanye membuang sampah secara tepat. Warga tidak boleh membuang sampah ke sungai atau buang air di sungai seperti yang mungkin terjadi di banyak tempat di Jawa Barat.

Dalam perjalanan arung jeram, saya justru menyukai jeram-jeram yang cukup tinggi. Jeram-jeram di sini memang tidak terlalu tinggi. Ketinggiannya paling satu meter. Terjun satu meter membuat cipratan air liar dan membuat baju kami basah. Saya merasakan air itu segar sehingga saya ingin banyak mendapatkan cipratan. Saya menghitung ada sekitar 7 atau 10 jeram yang menarik dan cukup tinggi. Kami berarung jeram pada pukul sekitar pukul 14.00 dan nanti akan berakhir sekitar puku 16.00 lebih.

Saya memandang ke sekeliling sungai. Ada hutan-hutan di pinggir sungai. Menurut pemandu, hutan di sekitar sungai masih asli. Saya sempat melihat beberapa monyet di pepohonan di sekitar sungai. Monyet ini berwarna abu-abu. Monyet-monyet itu sedikit berbeda dengan monyet-monyet yang saya temukan di sekitar kebun sawit. Monyet di sekitar kebun sawit berwarna coklat emas dengan bulu hitam di sekitar mata. Monyet abu-abu sangat kecil, hanya sedikit lebih besar dari kucing, saya kira. Sedangkan monyet coklat emas dugaan saya lebih besar, yaitu sebesar anak berumur dua, tiga atau empat tahun.

Menurut pemandu, hutan di pinggir sungai juga ada yang dijadikan wisata perkemahan. Saya katakan wisata perkemahan itu tentu bagus untuk anak sekolah. Pemandu mengatakan bahwa di tempat wisata perkemahan itu aman artinya tidak ada binatang buas yang diberitakan menyerang orang-orang yang berkemah. Menarik juga.

Menurut pemandu, wisata ini dinamakan geopark karena memang tempat ini terdapat kekayaan geologi yang menarik menurut para ilmuwan. Mungkin di sini terdapat batu, pasir atau material yang bermanfaat bagi masyarakat. Suatu saat pemandu menunjuk ke pinggir sungai dan mengatakan bahwa batu-batu yang ditunjuknya itu adalah bahan akik khas dari tempat ini. Saya tanya, apa warnanya, mereka mengatakan bermacam-macam warna: putih, hijau, coklat, merah, dan warna lainnya. Saya pikir, kalau ada zamrud, rubi, safir, atau berlian tentu sangat menarik. Saya melihat di posko keberangkatan ada spanduk untuk mengkriminalisasi penambangan emas liar di sungai ini. Berarti mungkin sungai ini juga berpotensi mengandung emas.

Di pinggir sungai, saya juga melihat ada sebongkah pohon yang tumbang. Ternyata itu bukan pohon melainkan batu yang berasal dari pohon yang tumbang. Saya cukup heran karena bentuk pohonnya masih amat jelas. Pemandu dan kawan saya juga meyakinkan bahwa itu adalah batu bukan kayu. Sayangnya saya tak sempat menyentuh batu itu. Batu itu terlihat sangat keras dan berkilau. Tidak banyak lumut yang menempel di sana. Mungkin batu itu mengeras setelah tertanam selama ratusan tahun. Di posko pemberangkatan, saya melihat foto-foto ilmuwan dunia meneliti kandungan materi dari tanah dan batu di tempat ini. Tempat ini disebut geopark dan diusulkan menjadi tempat wisata di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Lalu apa sumbangan lembaga dunia itu bagi tempat geopark ini? Mungkin saja lembaga itu bisa memberi anggaran dengan tuntutan macam-macam persyaratan dan pelestarian. Saya jadi ingat film di youtube tentang Richard Gere yang memarahi pejabat kabupaten yang membiarkan penanaman sawit dan karet. Orang asing maunya mengatur kita agar tidak membuat banyak ladang sawit dan karet, namun saya kira mereka harus membayar setiap jengkal hutan kita dengan harga sangat mahal, tentu untuk mata pencaharian kita, warga Indonesia, sebagai kompensasi dari tuntutan mereka. Jika mereka tak mampu membayar, janganlah sok mengatur urusan orang, haha.

Ketika di pinggir sungai, seorang pemandu mengatakan bahwa sebagian dari batu pinggir sungai berasal dari lava, semburan atau bekas letusan dari gunung api. Tetapi saya tidak tahu gunung api yang mana. Mungkin saja ilmuwan lokal juga berpotensi meneliti hal-hal yang menarik tentang geologi di sini. Mungkin mereka bisa memanfaatkannya sebagaimana ilmuwan lain memanfaatkan kekayaan geologi di tempat ini.

Mestinya jika ada gunung meletus, maka tanah di sekitarnya akan menjadi subur. Tetapi saya melihat tanah di sekitar Propinsi Jambi ini amat berbeda dengan tanah di Pulau Jawa. Ini tentu saja pengamatan dari orang yang awam tentang geologi seperti saya. Saya melihat bahwa tanah di sekitar ini adalah rawa-rawa. Dengan begitu, tanah ini sebenarnya tidak menyerap air melainkan menampung air di atas tanah. Menurut seorang saudara, sungai dan rawa di sekitar Jambi menjadi kering karena tanaman sawit. Rupanya tanaman sawit ini cepat mengeringkan rawa dan sungai. Tanaman sawit cepat mengeringkan sawit melebihi kecepatan tanaman eceng gondok, kata saudara saya tadi.

Sepanjang perjalanan arung jeram acap kali saya melihat ke sekitar sungai. Saya senang dengan pemandangan alami. Jika sungai ini ada di Jawa Barat, tentu sungai ini akan menjadi sumber bagi pertanian warga. Namun, saya melihat bahwa warga di sekitar Jambi ini masih jarang penduduknya.

Kota Jambi juga merupakan kota yang tidak macet seperti di Jawa. Kota-kota di Jawa mengalami kemacetan yang parah. Jakarta macet. Bandung macet. Kota-kota lain juga macet. Saya berkesimpulan bahwa kemacetan ini disebabkan padatnya penduduk. Masyarakat di sini juga mampu membeli motor atau mobil. Namun karena penduduknya masih jarang, jalan di kota-kota di Jambi tidak macet dan lengang.

Di Kabupaten Jambi sebenarnya ada juga candi yang terkenal. Saya mungkin akan membuat tulisan tentangnya bila saya telah mengunjunginya. Menurut pendapat seorang teman, Mungkin lokasi kerajaan Sriwijaya adalah di Jambi karena peninggalan-peninggalan penting yang berkaitan dengan kerajaan ada di Jambi. Mungkin kerajaan Sriwijaya bukanlah berlokasi di Palembang.

Selama arung jeram sebenarnya ada dua atau tiga tempat persinggahan. Saya melihat ada tempat-tempat persinggahan itu. Pinggir sungai yang asri, air terjun, atau tempat pemandian. Namun ternyat hanya satu tempat persinggahan saja yang kami singgahi yaitu air terjun Muara Karing. Dari namanya saya menduga Muara Karing berarti ‘muara kering’. Jika tempat ini berada di Jawa Barat maka tempat ini akan dinamai cigaring, atau cikaracak, Air terjun ini menurut saya sangat indah. Ada bagian air terjun yang miring dan ada yang berundak-undak. Mungkin bagi saya semua air terjun yang ada di dunia ini memang indah. Kami singgah dan berfoto di sana.

Air Terjun Muara Karing Jambi

Air Terjun Muara Karing Jambi

Air Terjun Muara Karing Jambi

Menurut pemandu, kami bisa jajan makanan dan minuman di area wisata air terjun Muara Karing ini. Ternyata  area wisata air terjun Muara Karing ini dipenuhi oleh wisatawan yang bukan berasal dari wisata arung jeram. Terlihat ada sekitar 50 sampai 100 wisatawan. Dengan begitu, suasana tempat wisata tidak terlalu hiruk-pikuk, namun juga tidak terasa sepi. Bahkan saya lihat ada wisatawan yang berpacaran di sekitar sungai. O, ya, tanggal 22 Juni saat kami berwisata itu adalah hari Rabu, bukan akhir pekan.

Pada saat hampir sampai di garis finis, saya dipersilakan oleh pemandu untuk berenang. Teman-teman melompat ke dalam air. Saya melompat dengan cara punggung terlebih dahulu menyentuh air. Akibatnya, air memasuki hidung saya. Tetapi ternyata berenang di sini sangat menyenangkan karena kami mengambag berkat pelampung yang kami gunakan. Teman saya berkata bahwa kedalaman sungai ini sekarang adalah 8m. Dalam hati saya sempat berpikir tentang kemungkinan adanya binatang buas seperti ular, ular besar, buaya atau bawak. Tetapi semua yang berenang saya kira tidak berpikir demikian. Pemandu pun tidak pernah mengingatkan saya soal binatang buas. Jadi dugaan saya tempat ini aman dari binatang buas.

Sungai Manau

Saya berenang dengan berbagai gaya: terlentang dan tengkurap. Namun saya tidak berenang ke berbagai arah. Saya hanya mengikuti arus sungai. Gaya terlentang merupakan gaya yang menarik. Saya melihat langit biru musim kemarau dengan awan putih yang cerah. Ini membuat saya rileks. Arus sungai membawa saya mengikuti ke hilir. Gaya telungkup membuat saya bisa melihat ke sekitar saya. Berulang kali saya berganti-ganti posisi: tengkurap dan terlentang. Saya melihat teman-teman telah terlebih dahulu ada di depan. Saya segera menyusul mereka. Ternyata kami sudah sampai di garis finis. Kami segera menepi. Saya melepas baju dan memerasnya agar segera kering.

Pemandu mengangkut perahu ke atas dan mengempiskan perahu di dekat mobil pick-up. Perahu karet yang telah kempis dinaikkan ke atas mobil pick-up. Kami pulang ke posko pemberangkatan dengan mobil pick-up.

Demikian, mudah-mudahan tulisan ini cukup memberi informasi tentang arung jeram di Kabupaten Bangko, Propinsi Jambi. Mudah-mudahan bermanfaat.

Leave a Reply