Potensi Investasi Pariwisata di Jatigede, Sumedang

Catatan: Investasi dan Bukan Pinjaman

Perkembangan Waduk Jatigede, terlepas dari kontroversi sejak digulirkan pada pemerintahan SBY lalu hingga diselesaikan oleh pemerintahan Jokowi-JK, sangat menarik untuk dicermati. Terlebih lagi melihat berbagai potensi pariwisata yang mungkin bisa dikembangkan di sana. Mungkin saja pariwisata Waduk Jatigede dapat bercermin pada pariwisata yang sudah ada di Jawa Barat seperti Floating Market di Lembang (Bandung), Jatim Park di Jawa Timur, atau wisata arung jeram di Jambi, Taman Safari di Bogor, Sea World di Jakarta, Danau Toba di Medan. Di sisi ini perlu dukungan masyarakat dan pemerintah untuk mengembangkan potensi wisata di Waduk Jatigede.
Sangat menarik bila melihat Sea World yang dikembangkan di Jakarta adalah sistem investasi. Investor meminjam aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta selama 20 tahun dengan sistem bagi hasil. Setelah 20 tahun, wisata Sea World telah stabil, wisata ini dikembalikan menjadi milik Pemprov Jakarta. Sekarang ini, Pemprov Jakarta tinggal mengelola wisata Sea World agar memberi keuntungan maksimal bagi warga, pemerintah, dan pengelola. Video tentang pengelolaan Sea World dapat dilihat melalui uraian Ahok sebagai gubernur Jakarta.
Bila dilihat, Waduk Jatigede pada saat artikel ini diposkan (7 September 2015), masih sangat kering. Minim sekali jalan akses yang merupakan aset wisata. Pepohonan belum ditata. Perumahan, area kuliner, atau area wisata masih belum ditata. Mestinya Pemkab Sumedang membangun jalan di pinggiran waduk dan mengalokasikan tempat-tempat warga untuk bermukim di sana. Sampai sekarang, ada warga yang belum mendapatkan tanah menetap setelah berpindah dari area waduk. Jalan di pinggiran waduk seharusnya terus berputar mengelilingi waduk dan kembali ke area masuk (karcis). Jadi harus ada jembatan yang menyebrangi sungai tempat muara waduk ini.

Berbagai Usaha bagi Penerima Investasi
Masyarakat yang diproyeksikan menerima investasi adalah masyarakat sekitar. Atau sekurangnya masyarakat Sumedang. Dengan begitu, pengelolaan waduk akan memberi lapangan kerja bagi masyarakat di sekitarnya. Perputaran uang pun akan lancar mengalir di masyarakat. Masyarakat akan mendaat bagian kesejahteraan dari adanya waduk ini.

1. Paralayang
Pengguna paralayang dapat mulai terbang dari gunung di Kecamatan Cisitu. Selanjutnya ia dapat mendarat salah satunya di sekitar Waduk Jatigede. Untuk mengembalikan parasit paralayang, dapat disediakan ojeg yang dapat dihubungi via telepon atau sms. Ojeg yang canggih (go-jek?) mungkin dapat mengetahui lokasi pengguna paralayang dengan koordinat GPS. Dengan demikian, pengguna paralayang yang mendarat di sawah atau tempat yang jauh dari jalur transportasi dapat mudah dijemput.
Paralayang dapat digunakan secara tandem, terutama bagi para pengguna yang belum belajar (kursus), belum mendapat sertifikat terbang, atau belum mempunyai alat paralayang. Pengembangan paralayang pun perlu investasi yang cukup besar. Di samping itu, harus ada avonturir yang bekerja untuk pariwisata ini seperti untuk wisata arung jeram.

2. Kereta air
Salah satu model kereta air yang bagus adalah di Floating Market, Lembang, Bandung. Para wisatawan dapat mengelilingi area waduk dengan kereta air ini. Kereta air ini akan mengurangi beban wisatawan yang akan berkeliling. Bila beberapa orang wisatawan menggunakan satu perahu, maka beban sewa perahu jadi relatif mahal. Bila lebih banyak wisatawan menyewa satu perahu (atau kereta air) maka biaya sewa perahu akan lebih murah. Di Floating Market, Lembang, para penyewa kereta air ini menggunakan pelengkap seperti pelampung untuk mencegah insiden tenggelam, atau insiden lain yang tidak diharapkan. Kereta air melaju dengan kecepatan yang relatif tidak ngebut. Dengan begitu, kereta air bisa digunakan untuk wisatawan yang umurnya sudah relatif lanjut.

3. Aquaskipper
Aquaskipper adalah alat semacam sepeda air. Gambar dan penggunaan alat ini mungkin bisa dicari di internet. Tentu diperlukan investasi membeli beberapa aquaskipper. Belum ada analisis juga untuk menghitung berapa lama seseorang bisa menggenjot aquaskipper. Investor dapat mencariĀ  bentuk dan produsen aquaskipper. Dengan aquaskipper seseorang akan mengambang di air seperti bersepeda di jalan raya. Hanya saja tentu jika penggenjot lelah, ia akan tenggelam. Oleh karena itu ia harus tetap pada area tertentu yang memudahkannya kembali ke darat. Ia harus bisa mendarat di beberapa pangkalan misalnya pangkalan pasar (market), pangkalan perikanan, pangkalan peternakan, pangkalan berkuda, pangkalan motor listrik, dan lain-lain. Mungkin area aquaskipper ini mesti berada dekat dengan area renang, atau permainan air lain.

4. Wisata renang
Mungkin saja ada area waduk yang dikembangkan sebagai wisata renang. Namun harus diperhatikan karena tidak semua area waduk memungkinkan untuk wisata renang. Mungkin saja ada area waduk yang dalam sehingga insiden wisatawan tenggelam bisa saja terjadi. Mungkin saja wisata renang ini wajib dilengkapi dengan pelampung, seperti yang digunakan pada perahu pisang (banana boat). Di samping itu di area ini pun harus ada tim penolong (semacam baywatch). Mungkin tim penolong ini harus dilengkapi dengan alat seperti motor air. Hal ini termasuk investasi untuk pengembangan wisata renang. Wisatawan membayar dan penyelengara menjamin keselamatan wisatawan.

5. Wisata permainan air anak dan akuatik
Wisata permainan air anak dan akuatik dapat dikembangkan. Mungkin saja ada kolam arus, papan luncur, alat guyur, air rintik-rintik, air mancur, dan permainan akuatik, wisata lainnya.

6. Wisata permainan darat anak
Wisata permainan darat juga dapat dikembangkan. Tentu saja wisata permainan darat ini jangan sama dengan permainan yang ada di taman kanak-kanak. Permainan darat di tempat wisata harus memberikan nilai lebih dari yang ada di taman kanak-kanak. Permainan harus lebih bervariasi dan lebih banyak.

7. Wisata kuliner
Tentu wisata kuliner ini mesti bervariasi. Salah satu contoh wisata kuliner yang menarik di antaranya adalah Floating Market di Lembang, Bandung. Masyarakat harus mempunyai modal untuk mengembangkan wisata kuliner. Masyarakat juga harus menata warung-warung yang layak serta menjaga kebersihan. Tempat pembanding lain adalah tempat istirahat (rest area) di jalan tol. Di area tol ditata tempat istirahat (rest area) yang bersih dan asri. Pelancong dapat beribadah, berbelanja dan menikmati taman-taman. Tentu saja keamanan pun harus dijaga.
Kuliner yang disediakan mesti bervariasi misalnya dari daging: ayam, kambing, sapi, itik. Kuliner yang dibakar dan digoreng. Kuliner dengan berbagai cara memasak. Kuliner yang tradisional (keripik singkong yang gurih atau manis), modern, dan kuliner mancanegara (kebab, pizza, roti gandum, roti maryam).
Di Floating Market digunakan uang lokal yang khusus. Dengan begitu, wisatawan mengalokasikan sejumlah uangnya untuk dihabiskan di tempat wisata ini. Sebagai contoh, seorang wisatawan mengalokasikan uangnya sebanyak 100 ribu. Wisatawan lain mengalokasikan uangnya untuk dihabiskan sebanyak 300 ribu, dan seterusnya. Uang lokal ini digunakan agar pasar (market) tidak menerima uang sungguhan dan menggelapkannya di luar pengetahuan pengelola. Dengan begitu bagi hasil antara pengelola dengan pekerja pun akan aman dari kecurangan. Wisatawan pun dipaksa untuk mengalokasikan uangnya dan belanja di Floating Market.

8. Wisata berkuda
Wisata kuda ini bisa dikembangkan dari kuda tunggang dan kereta kuda. Kereta kuda dapat dinaiki oleh lebih banyak orang (enam orang termasuk kusir). Sementara kuda tunggang hanya bisa dinaiki oleh seorang penunggang atau hanya ditambah seorang anak saja. Namun tujuan keduanya bisa berbeda. Kuda tunggang dapat menyusuri tempat pesanan dan tidak hanya tempat rutin. Kereta kuda hanya melalui jalur yang telah dibakukan misalnya berkeliling atau pulang pergi.
Wisata berkuda ini juga sangat menarik. Mungkin saja wisata berkuda ini bisa dikembangkan menjadi pelatihan berkuda, dan penyewaan kuda per jam. Area lokasi wisata mungkin menjadi lebih luas di sekeliling waduk. Mungkin saja wisata kuda bisa merambah hutan atau sekitar pemukiman warga. Yang jelas, wisata berkuda ini memungkinkan wisatawan untuk menyusuri seluruh area waduk.
Wisata berkuda ini harus mencegah adanya polusi yang disebabkan oleh kotoran kuda. Bila polusi ini tidak dicegah, maka polusi ini akan menggangu kenyamanan wisatawan. Gangguan itu dapat berupa gangguan pemandangan, penciuman, bahkan sumber penyakit. Oleh karena itu setiap pengembang wisata berkuda harus bertanggung jawab dalam mencegah polusi ini ada di area wisata. Para pengawas wisata dan pengelola wisata lain pun bisa turut mengawasi masalah ini.

9. Mobil keliling
Di tempat wisata Taman Safari, Bogor, ada mobil yang berkeliling untuk mengantar wisatawan berkeliling area wisata. Di wisata waduk juga mestinya ada fasilitas bagi wisatawan untuk berkeliling. Bila ini dilakukan, mesti ada gerbang masuk wisata waduk dengan tiket masuk tertentu. Bila wisatawan masuk ke lokasi waduk, ia dapat menikmati berbagai fasilitas yang ada di sana. Kondisi ini sama dengan Floating Market di Lembang.
Dengan mobil keliling, wisatawan bisa mengelilingi area wisata waduk atau singgah di tempat-tempat yang diinginkan. Mungkin ada halte-halte tempat pemberhentian dengan penurunan dan penaikan penumpang. Mungkin halte-halte ini dapat dibangun per sekian kilometer atau per pusat wisata. Mungkin wisatawan dapat berjalan dari halte ke kompleks wisata tempat sejumlah wisata ada.
Peta wisata harus diberikan sesaat setelah membeli tiket. Peta wisata pasti sangat diperlukan. Dengan peta wisata, wisatawan dapat singgah di banyak tempat. Mungkin ada tempat yang belum dikembangkan potensinya. Bila wisatawan dapat berkeliling, ia dapat memilih area wisata yang diinginaknnya, misalnya ia ingin berenang, melihat area perikanan, melihat arena peternakan, menikmati area arung jeram, menikmati area kuliner, dan lain-lain.

10. Wisata outbond
Contoh wisata outbond adalah flying fox. Wisata flying fox biasanya tidak memerlukan modal besar, terutama untuk operasional sehari-hari. Mungkin hanya dibutuhkan orang-orang yang bekerja untuk menjamin berjalannya wisata ini. Alat-alat wisata flying fox ini mesti menjamin keselamatan wisatawan. Wisata outbond ini bisa bekerja sama dengan aktivis pencinta alam, pembuat tas, dan pembuat kerajinan paracord. Kerajinan paracord dapat dilihat di youtube.

11. Wisata motor listrik
Motor listrik ini bisa digunakan oleh anak-anak. Bentuk motor listrik ini adalah seperti skateboard atau otoped. Kecepatan motor listrik ini mungkin sekitar 20 atau 30 km per jam. Anak-anak menyewa motor listrik dan ia bisa bermain di sekitar area waduk. Aturannya, ialah area permainan berupa area parkir yang berputar sehingga ia selalu kembali ke pangkalan. Bila waktu sewanya habis, ia harus mengembalikan motor listriknya kepada pengusaha.

12. Wisata perikanan
Mungkin warga dapat mengembangkan jaring atau bagang di tengah danau. Dengan begitu, wisatawan juga dapat melihat perikanan yang dikembangkan warga. Wisatawan dapat menikmati wisata kuliner di bagang dan melihat suasana danau selama tiga puluh menit sampai satu jam. Setelah itu ia bisa kembali ke pinggir danau. Tentu harus ada aturan yang disampaikan kepada wisatawan agar mereka melakukan atau menghindari tindakan tertentu yang dapat merusak perikanan.

13. Wisata peternakan
Mungkin saja ada area peternakan terpadu yang bisa dikembangkan. Peternakan yang ada di area wisata ini mungkin ada peternakan sapi, domba, ayam, itik, ikan mujair, dan ikan lele. Mungkin saja area peternakan ini juga ada di sebuah lapangan seluas setengah hektar sampai satu hektar. Tempat yang digunakan dapat berupa tempat yang miring (semacam jurang). Peternakan di bagi tiga tingkat. Tingkat pertama yaitu tempat yang paling atas digunakan untuk wisatawan, pepohonan, kebun rumput dan jerami, kolam mujair di arus deras, selokan, air terjun, dan warung kuliner. Tempat kedua di bawahnya dapat dihuni sapi, domba, ayam. Ternak sapi, domba, ayam yang tinggal di tempat ini bisa sampai puluhan. Jumlah ini juga untuk memanjakan pemandangan wisatawan. Wisatawan akan kecewa bila ternak hanya beberapa ekor saja. Ternak sapi, domba, dan ayam bisa ditempatkan di kandang atau ada area tertentu yang terbuka. Tempat ke tiga di bawahnya dapat dihuni itik, dan lele. Itik dan lele ini mungkin sebagai binatang yang membersihkan kotoran-kotoran yang ada di air.
Wisata ini pun dapat dipanen secara periodik. Ayam negeri, bisa dipanen secara cepat. Ayam kampung, sapi dan domba bisa dipanen per tahun. Ayam juga dapat dipanen dari telur dan dagingnya. Ikan dapat dipanen secara periodik. Itik dapat dipanen dari telur dan dagingnya. Lele juga dapat dipanen secara periodik untuk nutrisi pakan ternak.
Wisata peternakan dapat terintegrasi dengan penanaman rerumputan. Rerumputan di sini digunakan sebagai makanan alami ternak. Sejumlah tanaman yang digunakan untuk pakan ternak dan ikan ditanam. Dengan begitu, kompleks ini akan menjadi menarik dan terintegrasi.
Wisata peternakan dapat mendorong wisatawan belajar menyayangi binatang atau belajar mengembangkan peternakan terpadu. Wisatawan ini dapat mengajari anak-anak mereka untuk mengembangkan potensi peternakan di wilayah mereka.
Wisata peternakan ini juga harus dicegah dari polusi, misalnya polusi pandangan, dan penciuman. Polusi seperti ini bila dibiarkan dapat berkembang menjadi sumber penyakit yang berbahaya bagi wisatawan dan masyarakat.
Bila di Bogor ada taman safari, maka mungkin di tempat wisata ini dapat dikembangkan peternakan yang dapat diamati wisatawan.
Wisata peternakan ini juga perlu investasi yang cukup besar kurang lebih 300 juta. Mungkin pada tahun-tahun awal belum bisa laba atau dipanen karena masih mengembangkan infrastruktur. Namun, diperkirakan dari tahun ke tahun akan semakin baik dan memberi profit yang menjanjikan.

14. Bumi perkemahan
Bumi perkemahan dapat dikembangkan. Bumi peternakan juga harus dilengkapi dengan fasilitas yang memadai seperti air, kakus, hutan, dan posko pertolongan pertama. Mungkin saja perkemahan ini dilakukan oleh anak-anak sekolah seperti siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, atau mahasiswa perguruan tinggi. Mungkin saja saat berkemah mereka memerlukan pertolongan untuk melancarkan kegiatan perkemahan mereka seperti penyediaan kayu bakar, penyediaan bahan makanan dan minuman (warung), penyediaan makanan atau minuman matang (mie, teh manis, atau kopi susu). Kegiatan yang dilakukan di bumi perkemahan mungkin bisa banyak: belajar, pramuka, pengamatan lingkungan, pengamatan pemeliharaan ikan, pengamatan peternakan, memancing, pengamatan perkebunan, pengamatan investasi, pengamatan kerja.

15. Arung jeram
Wisata arung jeram mungkin saja dikembangkan bila memang ada. Mungkin saja panjang sungai yang dipakai bisa 5-10 km untuk arung jeram sekitar 15 sampai 30 menit. Mungkin saja wisata arung jeram ini hanya diperbolehkan tatkala air pasang. Artikel perbandingan tentang arung jeram, dapat dilihat pada tautan berikut (klik).

16. Motor air
Motor air mungki akan menarik bila ada wisatawan yang senang soliter (menyendiri) dan menjelajahi sudut atau menyusuri danau. Motor air akan cepat mencapai tempat itu atau kembali ke tempat asalnya. Mungkin juga bisa diselenggarakan lomba-lomba atau pertandingan berkaitan dengan motor air ini. Motor air akan menjadi alternatif dari perahu (boat), atau kereta air. Motor air hanya ditunggangi satu atau dua orang. Perahu (boat) mungkin hanya bisa ditunggangi sepuluh orang. Kereta air mungkin dapat ditunggangi sampai dua puluh orang.

17. Perahu pisang (banana boat)
Wisata perahu pisang mungkin tidak lebih menarik daripada kereta air. Hal ini mungkin disebabkan perahu pisang lebih mahal daripada kereta air. Hanya saja sensasinya jelas berbeda dengan kereta air. Perahu pisang cenderung memacu adrenalin karena melaju lebih ngebut daripada kereta air. Kereta air mungkin akan cocok untuk semua kalangan. Sebaliknya perahu pisang mungkin tidak cocok untuk orang-orang tua.

18. Wisata pementasan musik, teater atau film
Mungkin juga dapat dikembagnkan wisata musik, teater atau film. Musik yang dipertontonkan bisa berupa musik tradisional seperti angklung, calung atau karinding. Pementasan drama pun bisa dikembangkan bersama universitas, atau sekolah di sekitar Sumedang. Sekolah itu menyelenggarakan pementasan dan pementasan dilaksanakan di lokasi wisata Jatigede.
Wisata pementasan ini mungkin bisa bekerja sama dengan wisata bumi perkemahan. Wisata seperti ini bisa bekerja sama dengan sekolah, mulai sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Mungkin dengan begini pun wisata ini dapat memberikan profit dan pengalaman bagi siswa, sekolah. Mungkin wisata waduk dapat memberikan bayaran atau potongan (diskon wisata) bagi sekolah yang aktif dalam pementasan.

Pengembangan Hotel dan Bungalow
Bila jenis wisata di Waduk Jatigede cukup kompleks maka mungkin bisa dikembangkan hotel. Bila tadi telah disebutkan wisata bumi perkemahan, mungkin hotel atau bungalow menjadi pilihan bagi wisatawan lain. Pengembangan hotel ini mungkin melihat contoh yang akan dikembangkan di Danau Toba, Medan.

Investasi ataukah Pinjaman?
Potensi ini memerlukan investasi yang lumayan besar.
Warga pada umumnya senang untuk berusaha atau berikhtiar dalam memajukan roda ekonomi keluarga. Namun kendala warga di antaranya adalah modal. Tidak semua warga mempunyai modal untuk mengembangkan usaha mereka. Modal yang dibutuhkan tentu bisa dihitung. Untuk mendirikan sebuah rumah makan, modal diperlukan. Di samping itu, mereka harus menangani modal yang hilang karena tidak ada pembeli. Dengan demikian, mereka juga harus siap jika ada hari-hari dalam investasi mereka tidak memperoleh laba.
Bila dilihat dari sisi Islam, investasi memang berbeda dengan pinjaman. Investasi itu adalah pemberian modal. Bila seseorang memberi seorang peternak modal sepuluh ekor domba yang harga satu ekornya adalah 7 ratus ribu rupiah, maka ia berarti harus menginvestasikan uangnya sebanyak 7 juta rupiah. Keuntungan dari investasi ini menurut Islam adalah bagi hasil. Bila harga satu ekor domba rata-rata 2 juta rupiah. Diperoleh untuk sepuluh ekor domba keuntungan (laba) kotor sebesar 20 juta rupiah. Keuntungan kotor ini dikurangi modal awal sehingga keuntungan bersih sebesar 13 juta rupiah. Laba bersih 13 juta ini dibagi dua antara pemodal dengan peternak tergantung perjanjian, misalnya 50:50 atau 60:40.
Investasi ini diterapkan pada semua sektor termasuk sektor pariwisata. Hanya saja, salah satu kunci keberhasilan sistem apa pun adalah kejujuran para pelakunya. Mungkin ada saja (atau tidak jarang) peternak yang bermain curang seperti mengaku keuntungannya rendah dan sebagainya. Kecurangan seperti ini menjadikan iklim investasi kurang berkembang. Akhirnya orang lebih suka sistem pinjaman yang notabene adalah sistem rentenir.
Sistem pinjaman ala rentenir ini memungkinkan warga yang mau mengembangkan pariwisata mendapatkan modal. Hanya saja, jika ada insiden atau kerugian, kerugian itu ditimpakan kepada peminjam. Pemberi pinjaman sama sekali tidak mau tahu. Pemberi pinjaman tetap berhak untuk menagih uangnya kembali (plus bunga ribanya).

Bagi Investor
Tentu saja tulisan ini bukan hanya untuk pekerja (pedagang, pemberi sewa, pengelola). Tulisan ini juga buat investor. Investor mungkin harus mempunyai sekelompok orang lokal yang terpercaya. Orang lokal ini tentu yang menjalankan bisnisnya secara jujur.

Peran Pemkab Sumedang
Di satu sisi, perizinan dari Pemkab Sumedang untuk pengembangan wisata ini harus dipermudah. Mesti ada pemikiran untuk mengembangkan potensi ekonomi warga. Keliru jika pemerintah ingin semata menguasai potensi wisata ini. Keliru juga bila hanya pejabat atau kapitalis (orang yang mempunyai modal besar) yang bisa mengembangkan wisata di Waduk Jatigede. Bahkan semestinya Pemkab harus memberikan iklim investasi yang baik bagi masyarakat dan investor.
Mungkin saja Pemkab dapat memberikan uang investasi yang cukup besar bagi wisata di Jatigede. Hal ini diproyeksikan dengan asumsi warga juga senang dengan wisata air seperti ini. Jangan sampai waduk ini tidak berkembang potensinya seperti Waduk Jatiluhur atau Waduk Darma. Bila banyak warga yang berwisata ke Jatigede, maka perputaran uang pun akan lancar. Ekonomi masyarakat pun berkembang.
Kota Sumedang memang kota yang kurang dari sisi tujuan wisata. Mungkin saja pengembangan Waduk Jatigede ini akan memusatkan pariwisata warga. Hanya saja akses jalan menuju ke tempat wisata ini juga harus dijamin. Selain itu harus ada peritungan tentang jumlah wisatawan yang berpotensi mampir di Waduk Jatigede. Sekalipun begitu, potensi wisata Waduk Jatigede memang sangat besar. Hanya saja, apakah akan berkembang, atau stagnan seperti Waduk Jatiluhur atau Waduk Darma.
Bila investasi diberikan oleh Pemkab, maka uang investasi itu harus diberikan kepada orang yang tepat. Jangan sampai uang investasi itu dimiliki oleh orang yang tertutup dan mementingkan kelompoknya sendiri. Di sisi lain, mungkin warga juga memerlukan bimbingan dalam berinvestasi karena seringnya terjadi kecurangan, penipuan dalam investasi. Penipuan dan kecurangan ini mungkin dilakukan oleh investor ataupun pekerja.

Catatan Kehati-hatian
Salah satu yang mesti dicermati adalah bahwa kehati-hatian dalam menyelenggarakan potensi wisata di waduk ini agar tidak terjadi kecelakaan yang mengakibatkan matinya potensi wisata warga. Kecelakaan itu bisa berupa tenggelam, hilang, luka, atau kematian. Bila terlalu banyak insiden yang terjadi, maka warga akan enggan untuk berwisata ke tempat itu. Potensi wisata pun akan mati. Modal yang masuk tidak akan memberikan untung. Masyarakat pun tidak akan mendapatkan pekerjaan dari potensi wisata yang ada.

Leave a Reply