Apel yang Jatuh ke Sungai

Sebuah apel jatuh ke sungai lalu hanyut dan dipungut oleh seorang pemuda. Pemuda itu memakannya. Lalu pemuda ini ingat bahwa ia harus makan makanan yang halal. Ia pun mencari pemilik apel. Ia lalu menyusuri sungai itu hingga ia tiba di sebuah kebun apel. Ia pun berusaha menemui pemilik apel. Ia meminta pemilik apel meridokan apel yang telah dimakannya tanpa izin tersebut. Pemilik apel ini berkata bahwa ia akan meridokan apelnya dengan syarat si pemuda mau menggembalakan ternaknya. Maka mulailah pemuda ini menggembalakan ternak milik si pemilik apel itu.

Tujuh tahun pemuda ini menggembalakan ternaknya. Ia tak pernah berkeluh-kesah. Sebaliknya ia mendapati bahwa pemilik kebun dan ternak itu adalah orang yang sangat baik. Pemilik kebun dan ternak ini memberinya perlindungan, makanan, pakaian, peribadatan yang ia butuhkan tanpa kurang sedikit pun. Pemilik kebun dan ternak ini memberikan hak-hak si pemuda sehingga si pemuda merasa kagum terhadapnya.

Mungkin saja dalam cerita ini si pemuda sama sekali tidak mendapatkan bagian bagi hasil keuntungan atas pekerjaannya menggembalakan ternak. Mungkin juga sebaliknya, pemuda ini mendapatkan bagi hasil keuntungan atas pekerjaannya menggembalakan ternak. Yang pasti, pemuda ini melakukan kewajibannya menggembalakan ternak atas dasar menginginkan keridoan pemilik kebun atas apel yang dimakannya. Kekaguman pemilik kebun pada pemuda ini pun tumbuh dan menjadi kuat.

Buah dari kekaguman pemilik kebun ini kepada si pemuda ini ialah ia menawarkan putrinya untuk dinikahi oleh si pemuda ini. Si pemuda ini pun, karena melihat ketinggian akhlak pemilik kebun serta putrinya, akhirnya timbul rasa kagum dan hormatnya. Akhinya ia menerima dirinya untuk dinikahkan dengan putri pemilik apel.

Pemuda ini adalah Musa bin Imran. Nabi Allah dari Bani Israil yang melarikan diri setelah membela seorang Bani Israil dari kekejaman tentara Firaun. Musa as memukul tentara Firaun hingga mati dan lari dari istana Firaun.

Nabi Musa bin Imran as adalah seorang pemuda dari Bani Israil atau salah satu keturunan dari Nabi Yakub as. Musa adalah keturunan dari Nabi Yusuf as atau Bunyamin. Dua orang takwa keturunan Nabi Yakub. Sementara suku lain dari Nabi Yakub as adalah Bani Israil yang dulu pernah membuat makar untuk membunuh atau mencelakakan Nabi Yusuf as, memasukkannya ke dalam sumur, menjualnya sebagai budak, dan selama berpuluh tahun tidak mengakui kesalahannya dan tidak bertobat kepada ayahnya yaitu Nabi Yakub as. Akibatnya, Nabi Yakub as mengalami kesedihan sehingga matanya buta, rambutnya putih dan tubuhnya ringkih.

Nabi Musa as diperintahkan oleh Allah swt untuk menyelamatkan Bani Israil dari kekejaman Firaun. Padahal pada masa dahulu, Nabi Yusuf as dan Bani Israil menyelamatkan Mesir dari bencana kekeringan, dan memberi petunjuk warganya kepada keridaan Allah swt. Kekejaman Firaun dan rakyat Mesir saat itu sukar dicari bandingannya.

Foto peta dari internet

Foto peta dari internet

Pada masa sekarang, Zionis Israel yang mengakui dirinya sebagai keturunan Yakub as (Bani Israil) melakukan kekejaman yang tidak ada bandingannya. Zionis Israel membunuhi warga Palestina, menginjak-injak hak-hak warga, perempuan, anak-anak dan orang tua. Sudah saatnya kini masyarakat memahami kekejaman Zionis Israel.

Lebih parah lagi, Zionis Israel bersama AS dan negara-negara Eropa diam-diam mendukung ISIS untuk menjatuhkan Presiden Suriah, Bashar Assad. Kemudian Presiden Suriah, Bashar Assad dikampanyekan sebagai Syiah, pembunuh Suni, dan pembunuh warganya. Bagaimana mungkin kaum muslimin menolak ISIS dan membenci Bashar Assad padahal kaum muslimin tahu bahwa Bashar Assad memerangi ISIS? Tentu hanya bisa dicapai bila kaum muslimin hanya membaca berita fitnah yang diplot oleh ISIS dan pendukungnya saja.

Sebenarnya, Presiden Bashar Assad dan negaranya Suriah, adalah negara yang mendukung Palestina, yaitu dengan mendukung Libanon. Di Libanon terdapat Hamas (Sunni) dan Hizbullah (Syiah) yang bahu-membahu melawan kekejaman Zionis Israel. Libanon didukung penuh oleh Suriah, misalnya dengan kiriman obat-obatan, makanan, dan perdagangan lainnya.

Gambar Six Day War Territories dari internet

Gambar Six Day War Territories dari internet

Keadaan Libanon berbeda dengan Gaza. Walaupun Libanon dan Gaza sama-sama merupakan bagian dari Palestina, namun nasib keduanya berbeda. Libanon yang berada di utara selalu ditolong oleh Suriah dan Bashar Assad. Sedangkan Gaza, yang berada di pantai bagian selatan, nasibnya bagaikan penjara raksasa karena perbatasan Rafah, yaitu perbatasan Palestina dengan Mesir selalu ditutup oleh Mesir. Ditengarai Mesir lebih menuruti Israel dan takut terhadap ancaman Israel bila Mesir membantu Gaza.

Marilah kita bertabayun, yaitu mengecek kebenaran berita tentang ISIS dan seterunya yaitu Presiden Bashar Assad.

Leave a Reply