Meningkatkan Sitasi Publikasi dalam Tradisi Ilmiah di Perguruan Tinggi

Pada saat ini, salah satu kemampuan yang bergengsi bagi dosen adalah kemampuan membuat karya yang disitasi oleh orang lain. Karya itu bisa saja berupa temuan ilmiah, artikel, buku, hak kekayaan ilmiah, maupun paten. Tingginya tingkat sitasi ini membuat dosen yang bersangkutan dianggap bergengsi.

Di sisi lain, tingkat sitasi ini juga harus disertai dengan publikasi bagi orang yang melakukan sitasi. Sebagai contoh, bila mahasiswa melakukan sitasi pada karya dosen, maka sitasi mahasiswa ini tidak akan diketahui sampai mahasiswa ini mempublikasikan karyanya juga. Dengan demikian, dosen harus terlebih dahulu mempublikasikan karya ilmiahnya di internet. Mahasiswa atau orang lain yang melakukan sitasi pun harus mempublikasikan karya ilmiahnya juga.

Yang harus diperhatikan adalah tingkat sitasi ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa di perguruan tinggi yang sama. Tingkat sitasi yang baik adalah karya ilmiah yang disitasi itu harus disitasi oleh sejumlah perguruan tinggi lain atau dari institusi lain. Semakin banyak orang yang melakukan sitasi, semakin baik tingkat sitasinya.

Pengukuran sitasi yang paling mudah adalah dengan google scholar dengan h-index-nya. Sayangnya, google tidak menyediakan ruang untuk mempublikasikan karya ilmiah. Dengan begitu, seseorang dapat mempublikasikan karya ilmiahnya misalnya di jurnal online atau di situs research gate. Situs research gate dan semacamnya merupakan situs yang memberikan ruang (space) gratis bagi orang yang ingin mempublikasikan karya ilmiahnya. Tentu saja research gate juga mendapatkan keuntungan dari publikasi ini, misalnya bila publikasi karya ilmiah ini bisa dikembangkan menjadi proyek paten yang dijual.

Contoh sitasi google scholar ada pada laman https://scholar.google.co.id/citations?user=8qipIqIAAAAJ&hl=en. Kemudian seseorang dapat melihat artikelnya adalah di research gate seperti pada laman https://www.researchgate.net/profile/Prana_Iswara/publications. Contoh artikel yang dipublikasikan di jurnal misalnya jurnal online dengan basis OJS (Open Journal system). Ada jurnal online Mimbar Sekolah Dasar yang memuat artikel yang dipublikasikan pada laman http://ejournal.upi.edu/index.php/mimbar/article/view/859. Artikel ini telah terkait dengan google scholar. Bila pengutip artikel ini mempublikasikan artikelnya juga, maka tingkat sitasi penulis artikel ini meningkat. Beberapa artikel juga dapat dipublikasikan di situs perguruan tinggi (file direktori) seperti pada laman http://file.upi.edu/Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/penelitian/2014/PEMBELAJARAN%20PEMENTASAN%20DRAMA%20KOMEDI%20SUNDA%20%93JURAGAN%20HAJAT%94%20BAGI%20MAHASISWA%20UPI%20KAMPUS%20SUMEDANG.pdf

Salah satu pertanyaan yang menarik adalah, “Apakah artikel yang tidak dipubikasikan di jurnal online sebaiknya dipublikasikan di situs gratis seperti research gate ataukah di direktory file (http://file.upi.edu/Direktori/KD-SUMEDANG/197212262005011002-PRANA_DWIJA_ISWARA/penelitian). Mungkin orang berpikir bahwa di research gate, orang akan melihat indeks sitasinya (h-index). Yang menarik adalah apabila situs direktory file juga mampu menghitung tingkat sitasi. Tentu saja cara penghitungan tingkat sitasi ini mesti boleh diketahui umum.

Tingkat sitasi ini merupakan langkah alternatif daripada langkah pragmatis seperti mengusahakan temuan yang berorientasi hak kekayaan intelektual (HKI) atau paten.

AHOK, REKLAMASI, DAN JATIGEDE

Malam ini saya menyimak wawancara Ahok di televisi. Ahok mengemukakan persyaratan uang muka (down payment, DP) reklamasi teluk Jakarta adalah pengembang harus membangun infrastruktur seperti jalan inspeksi, bendungan, rumah pompa untuk mencegah banjir, rusun. DP itu bukan anggaran CSR dari perusahaan melainkan kewajiban perusahaan pelaksana reklamasi kepada DKI yang tertuang dalam kontrak kerja.

Saya juga mendengar berita bahwa di Jatigede akan dibangun hotel. Saya berpikir agar bupati juga memberikan kontrak yang menguntungkan bagi pemerintah kabupaten (pemkab) dan Warga Sumedang, khususnya. Pemkab dapat meminta perusahaan pengembang hotel untuk memberi 15% dari NJOP bangunan untuk membangun jalan, rusun, sesuai rencana Pemkab Sumedang. Ini seperti Ahok meminta DP berupa kewajiban membangun jalan dan sebagainya. Tanpa melakukan DP ini, pengembang tidak boleh membangun hotel atau reklamasi.

Hukum dasar Islam mengatakan bahwa ada ada tiga kepemilikan dalam Islam. Pertama, kepemilikan pribadi misalnya tanah, rumah, telepon selular. Ke dua, kepemilikan umum misalnya sungai, danau, waduk, laut, hutan, jalan. Di sini tak boleh ada orang yang mengklaim bahwa sungai atau waduk ini milik pribadi. Ke tiga, milik negara atau imam misalnya tambang. Negara dapat mengizinkan warga untuk memperoleh manfaat dari tambang.

Beberapa permasalahan di Waduk Jatigede bisa dipecahkan misalnya dengan membangun jalan di sekeliling waduk seperti jalan inspeksi di area reklamasi DKI, pembangunan rusun, pembangunan spot wisata, wisata kuliner, wisata perkemahan, wisata perikanan dan pemancingan, wisata peternakan. Spot wisata ini akan menguntungkan warga Jatigede yang digusur sawahnya sehingga mereka mingkin tidak punya profesi lagi sebagai petani, peternak.

Di sisi ini Pemkab juga harus mengawasi agar tidak ada bangunan yang menutup sungai, waduk, pantai yang akan merugikan warga dan menjadikan sungai, waduk, pantai itu sebagai milik pribadi. Ini bertentangan dengan hukum Islam di atas. Kepemilikan pribadi pada sungai, waduk, pantai itu akan mencegah orang lain mengambil manfaat dari sungai, waduk, pantai, hutan itu.

Beberapa pelanggaran yang pernah terjadi di negeri ini misalnya banyal warga yang mendirikan bangunan di pinggir sungai. Di Anyer bahkan sejak zamam rezim Orde Baru pantainya tertutup oleh bangunan hotel. Akibatnya, warga tidak bisa mengambil manfaat dari pantai ini. Keadaan Pantai Anyer yang memprihatinkan ini juga dikemukalan oleh novelis Gola Gong. Di Kuningan terdapat Waduk Darma, yang sebagian pinggir pantainya terdapat bangunan rumah warga. Akibatnya warga lain tidak bisa mengambil manfaat dari sisi waduk itu. Kini seandainya Pemprov Banten mau merelokasi hotel tentu akan mengundang kontroversi. Pemkab Kuningan pun seandainya mau merelokasi rumah di sekitar Waduk Darma tentu akan mengundang kontroversi. Sama ketika Ahok merelokasi pinggiran sungai di wilayah DKI Jakarta.

Mudah-mudahan pembangunan waduk di Jatigede bisa bermanfaat bagi warga Jatigede khususnya, bagi warga Sumedang umumnya.

MUDAH DAN SUKAR

Apakah mudah itu? Mudah adalah pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa berpikir terlebih dahulu. Sayidina Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang berbagai masalah dan beliau bisa menjawabnya. Sahabat heran dan bertanya kepada beliau, mengapa beliau bisa mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Ali bin Abi Thalib lalu menujukkan telapak tangannya dan bertanya, “Berapa jumlah jari di tangan ini?” Sahabat menjawab, “Lima.”
Sayidina Ali bin Abi Thalib bertanya lagi, “Mengapa engkau begitu mudah menjawab pertanyaan itu?” Sahabat menjawab, “Karena telah terbiasa.”
Sayidina Ali bin Abi Thalib berkata, “Demikian pula aku terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan itu sehingga bagiku pertanyaan itu mudah.”

Contoh hal mudah lainnya adalah membuat perabotan bagi tukang kayu adalah pekerjaan mudah. Ia tinggal mengukur, memotong dan mengerjakan segalanya seolah tanpa dihitung atau dipikir lagi. Demikian pula dokter yang merawat pasien atau guru mengajar anak membaca. Bagi dokter merawat pasien adalah pekerjaan mudah. Bagi guru mengajar anak membaca adalah pekerjaan mudah. Sebaliknya bila dokter disuruh membuat perabotan atau mengajar membaca, dokter akan merasa kesulitan. Pekerjaan itu adalah pekerjaan yang sulit baginya. Dokter bisa membuat perabotan namun ia harus memikirkan dulu atau memperhitungkan dulu. Ada kemungkinan dokter salah dalam perhitungan atau pemikirannha sehingga hasil kerjanya jelek. Perabotan yang dibuat dokter jelek. Demikian pula, dokter bisa keliru dalam mengajar membaca.

Definisi susah, sukar, sulit, masalah berat adalah pekerjaan yang mesti dihitung dulu. Kalau orang ditanya berapa 2×3, ia bisa dengan cepat menjawab. Namun bila ia ditanya berapa 27×3, tidak semua orang bisa dengan cepat menjawabnya. Setidaknya sebagian orang harus menghitung atau berpikir dulu untuk menjawabnya. Pekerjaan sukar bukan berarti tak tahu jalan keluarnya. Ia mungkin tahu jalan keluarnya namun harus dihitung terlebih dulu.

Ada orang yang berkata bahwa masalah agama adalah masalah yang berat. Ada orang yang berkata bahwa masalah ekonomi adalah masalah yang berat. Ada orang yang berkata bahwa masalah politik adalah masalah yang berat. Namun tidak semua orang berpendapat sama. Tentu ada pula orang yang berkata bahwa masalah agama, ekonomi, politik adalah masalah sepele.

Belajarlah selagi ada kesempatan karena berilmu adalah kesempurnaan. Puncak kesempurnaan adalah Allah swt. Sedangkan kebodohan adalah tidak adanya ilmu. Ilmu adalah cahaya dan kegelapan adalah tidak adanya cahaya.