Jenis Olahraga Outdoor yang Dapat Dikembangkan di Jatigede

Menurut Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Jatigede,_Sumedang), luas waduk Jatigede sekitar 1.711 hektar. Seandainya waduk ini berbentuk persegi, maka kelilingnya adalah 4,5 kilometer kali 4 sisi atau 18 km. Jadi seandainya ada orang yang hendak mengelilingi waduk ini, jaraknya cukup jauh. Jarak yang relatif dekat bagi hiking atau pejalan adalah 4 km.

Mungkin ada investor yang bersedia mengembangkan pariwisata di Jatigede. Hal ini karena orang yang terkena dampak (OTD) Jatigede bukanlah sedikit. Mereka kehilangan mata pencaharian mereka sebagai petani dan peternak. Mungkin saja warga OTD Jatigede harus beralih profesi dan mengembangkan pariwisata di sana. Namun, mesti ada modal untuk mengembangkan potensi ini. Semestinya pemerintahlah, dalam hal ini pemerintah pusat, pemerintah propinsi, dan pemerintah kabupaten yang bertanggung jawab untuk mengembagkan potensi masyarakat dan memberdayakannya setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut dengan proyek Waduk Jatigede.

Di sisi lain, masyarakat perlu diberikan pelatihan guna mengembangkan potensi mereka. Potensi baru setelah potensi mata pencaharian mereka tercerabut tadi. Salah satu pilihannya adalah mengembagkan potensi wisata. Potensi wisata apa yang dapat dikembangkan di area Waduk Jatigede? Berikut sejumlah ulasannya.

  1. Susur danau
  2. Mounteneering (Gunung Hutan)
  3. Rafting dan Riverboarding
  4. Perkemahan
  5. Wisata kuliner
  6. Selam dangkal (snorkeling)
  7. Free diving
  8. SCUBA diving
  9. Berkuda

Susur Danau

Kegiatan susur danau bisa dilakukan misalnya sepanjang 4 km dari keseluruhan kurang lebih 18 km keliling danau. Kegiatan ini bisa dilakukan terutama bila sekeliling danau belum berupa area aspal yang dapat dijelajahi, belum ada sarana listrik di sekitar pinggir danau. Kegiatan ini bisa dilakukan dari satu situs menuju situs lainnya. Pelaku kegiatan dapat mulai dari satu situs (area), kemudian berjalan menuju situs lain lain. Di situs tujuan ini mereka bisa menikmati wisata (wisata darat misalnya wisata kuliner, ATV atau wisata air misalnya jetski). Kemudian mereka dapat pulang tanpa kembali ke tempat situs pertama.

 

Mounteneering (Gunung Hutan)

Kegiatan mounteneering ini juga dilakukan di situs awal menuju situs tujuan. dilakukan untuk menyusuri hutan, misalnya ada sungai yang dapat dijadikan tempat berenang, ada air terjun yang bisa digunakan untuk berenang, ada kolam kecil yang bisa digunakan untuk tempat berenang, ada tempat kemping yang memiliki pemandangan yang indah, dan sebagainya. Mungkin saja di daerah tujuan ada angkutan (alat transportasi) sehingga pelaku kegiatan ini bisa langsung pulang tanpa harus kembali ke situs awal.

 

Rafting dan Riverboarding

Rafting dapat diterjemahkan sebagai arung jeram. Pengarungan sungai dilakukan dengan perahu karet,  kayak, kano dan dayung. Selain rafting dapat pula dikembangkan potensi riverboarding, yaitu mengarungi jeram seorang demi seorang. Namun potensi ini harus digali lebih lanjut. Bila potensi ini ada, maka tidak ada salahnya untuk dikembangkan.

 

Perkemahan

Perkemahan dapat dikembangkan bila ada potensi situs yang dapat dikembangkan menjadi bumi perkemahan. Perkemahan dapat dilakukan oleh sekolah yang mengadakan acara alami atau pramuka. Perkemahan ini dapat terintegrasi dengan sejumlah wisata kuliner di sekitar bumi perkemahan. Perkemahan juga mungkin mengusung tema seperti mengenal potensi wisata, mengenal kekayaan alam, atau pelajaran lainnya.

 

Wisata Kuliner

Wisata kuliner sangat penting untuk dikembangkan di berbagai situs. Kuliner yang dikembangkan bisa saja makanan ringan hingga makanan berat. Kuliner juga bisa mengembangkan potensi waduk seperti kuliner yang berasal dari ikan dan pengolahannya. Kuliner juga bisa dikembagkan dari potensi peternakan atau perkebunan yang dikembangkan masyarakat. Mungkin saja ada pengembangan kuliner sayuran, buah-buahan, ternak ayam, ternak itik, telur, domba, sapi, susu sapi, kerbau, dan sebagainya.

Di wilayah ini, kerbau biasa digembalakan (bahasa Sunda: diangon, ngangon). Ternak kerbau mungkin tidak diberi pakan dengan ngarit (bahasa Sunda, ngarit ‘mengambil rumput dengan arit’). Dengan begitu, jumlah kerbau yang diangon bisa saja banyak, yaitu lebih dari tiga ekor. Bila peternak itu ngarit, ia hanya mampu memelihara dua atau tiga ekor kerbau saja.

Di Pangalengan, Kabupaten Bandung, susu sapi telah diolah menjadi berbagai produk olahan makanan seperti susu segar, yogurt, bolu susu, permen susu, keju, dodol susu, susu bubuk, dan sebagainya. Produk ini pun diputar di masyarakat dan menjadi konsumsi masyarakat sehari-hari. Tentu saja kegiatan ini akan memutar ekonomi masyarakat.

 

Selam Dangkal (Snorkeling), Free diving, dan SCUBA diving

Proyek selam dangkal, free diving dan scuba diving memerlukan investasi yang lumayan. Ini juga dipertimbangkan ada konsumen yang mau membeli sewanya. Jika masyarakat masih asing dengan olahraga ini, maka mungkin saja olahraga ini tidak perlu dikembangkan. Masyarakat dapat mengembangkan olahraga yang berpotensi disukai masyarakat.

Selam dangkal dilakukan bila air jernih dan cahaya matahari dapat menerangi sampai ke dasar waduk. Saat ini dasar waduk tentu saja diperkirakan tidak terlalu menarik karena mungkin pada umumnya hanya ada bekas sawah. Kalau pun ada situs bawah air yang menarik, pemandu wisata harus memahami lokasinya secara pasti dan mengukur kedalamannya. Dengan begitu, wisatawan tidak akan dirugikan dengan paket wisata yang tidak jelas. Pada kegiatan selam dangkal biasanya penyelam mengambang di permukaan air dan melihat ke dasar waduk menggunakan kaca mata selam.

Free diving dilakukan dengan cara menahan nafas. Berbeda dengan selam dangkal, pada kegiatan free diving, penyelam dapat menyelam lebih dalam untuk melihat bawah air dan dasar waduk. Scuba diving dilakukan dengan menggunakan tabung oksigen.

 

Berkuda

Olah raga berkuda dapat dilakukan sebagai rekreasi. Tentu saja para wisatawan tidak selamanya mahir berkuda. Oleh karena itu, wisatawan dapat diberi pilihan untuk mengendarai kuda sendiri atau sekedar berkeliling dan dibimbing oleh tukang kudanya. Potensi ini mesti bisa dimiliki oleh masyarakat kecil. Mereka bisa beternak kuda dan pada hari yang ramai dikunjungi wisata, mereka dapat menyewakan kuda mereka untuk wisata kuda.

Leave a Reply