Memperbaiki Iklim Investasi di Kampung Kita

Mungkin sekali waktu kita mendengar bahwa ada orang yang terdesak hutang karena mempunyai kredit macet di bank. Masyarakat yang berhutang kepada bank biasanya mengajukan jaminan seperti rumah atau tanah. Ketika kredit macet atau ia tak mampu membayar angsuran pinjaman kepada bank, bank akan menyita harta jaminannya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa bank merupakan lembaga keuangan yang beroperasi dengan mengambil riba. Sayangnya banyak masyarakat kita tidak bisa terlepas dari lembaga bank ini. Banyak orang yang pinjam uang ke bank. Pemerintah pun setidaknya sejak zaman Orde Baru (Soeharto) dianjurkan menyimpan uang di bank. Lembaga lain yang ditengarai riba adalah lembaga asuransi. Sebagian lembaga asuransi hanya menuntut nasabahnya untuk membayar premi, namun saat nasabahnya mengklaim atau mau mengambil uang asuransi, sulitnya bukan kepalang. Syarat mencairkan asuransi ialah harus melengkapi berkas persyaratan. Satu saja berkas syarat itu absen, asuransi terancam tak bisa dicairkan. Kasus seperti ini juga terjadi dan disimpan di internet.
Di sisi lain, sebagian masyarakat kita sebenarnya banyak yang memiliki modal atau telah menabung untuk mengumpulkan modal. Modal ini seperti modal yang dimiliki Siti Khadijah untuk berdagang. Nabi Muhammad saw melakukan jasa dari modal Khadijah dengan cara berdagang. Kelihatannya sederhana. Nabi saw beroleh keuntungan dan berbagi keuntungan itu dengan Khadijah.
Investasi di negeri kita dikeruhkan dengan kegagalan karena kerugian pedagang. Karena itu tak ada orang yang mau jadi investor yang beresiko rugi. Di sisi lain banyak pedagang atau penjual jasa yang meremehkan investor dengan memberi keuntungan yang kecil atau tak bisa dipercaya.
Seandainya penjual jasa atau pekerja jasa terpercaya, tentu iklim investasi di kampung kita akan lebih baik lagi. Tulisan ini tidak berbicara skop yang luas di negeri ini. Tulisan ini hanya merupakan potret kecil dari kampung yang kecil. Namun, mungkin saja sejumlah kampung lain punya masalah yang sama: potensi kerja masyarakat besar, membutuhkan investasi, namun kerjanya tak bisa dipercaya investor. Sebaliknya banyak investor yang duitnya nganggur, punya potensi untuk memberi investasi, namun tak menemukan pekerja jasa yang terpercaya untuk memberi keuntungan dari investasinya.
Para pekerja jasa harus merenungkan kejujuran pekerjaan. Sebaliknya investor harus berhati-hati dalam proses investasinya, jangan sampai bertemu dengan pekerja jasa yang curang atau tak memberi keuntungan.
Masyarakat kampung kita acap kali merupakan masyarakat yang membutuhkan modal kecil. Kisaran modal yang dibutuhkan sekitar puluhan juta.
Berbeda dengan pemodal asing yang bisa memberi investasi ratusan juta, milyaran, trilyunan seperti proyek jalan tol, kereta api cepat, tempat wisata waduk, dan sebagainya. Bahkan oknum bank sendirilah yang berinvestasi dengan menggunakan dana masyarakat.
Bapak bangsa kita, Muhammad Hatta, mengajukan sistem koperasi. Koperasi menggalang dana masyarakat untuk diinvestasikan. Dana bisa diinvestasikan di sesama anggota masyarakat anggota koperasi atau di luar anggota koperasi. Sekali lagi, jika usaha masyarakat macet, maka modal akan berkurang bahkan koperasi bisa bangkrut. Koperasi pun harus beroperasi dengan baik yaitu pemodal yang baik dan pekerja jasa yang baik (memberi keuntungan).
Mudah-mudahan iklim investasi di kampung kita menjadi lebih baik di masa datang.

Leave a Reply