PETERNAKAN ITIK DENGAN SISTEM BAGI HASIL

Penghitungan peternakan itik dengan sistem bagi hasil dapat diperhitungkan dengan cara berikut.

Modal harga itik siap telur diasumsikan Rp85.000, 00 per ekor. Bila membeli 10 ekor, modal adalah Rp850.000, 00.

Setiap hari itik bertelur diasumsikan 80% dari jumlah itik. Jadi dari 10 ekor, akan didapat maksimal 8 butir per hari. Sistem bagi hasil sebenarnya tidak mempedulikan kurang atau lebih dari 8 karena setiap harinya telur akan dibagi dua untuk pemodal dan peternak. Penghitungan 8 butir per hari digunakan untuk menghitung waktu balik modal (WBM, break event point, BEP).

Bila diasumsikan harga telur adalah Rp2.000, 00 per butir maka diperoleh maksimal (8×2000) Rp14.000, 00 per hari.

Dengan demikian, WBM akan didapat (850.000/14.000) 60, 71 atau sekitar 61 hari.

Penghitungan lain adalah peternak meminta satu hari dari seminggu diambil telur untuk beli pakan. Berarti pakan adalah (8×2000) Rp16.000 per minggu.

Bagi hasil biasanya dilakukan per minggu. Peternak bisa mentransfer sejumlah uang kepada pemodal setiap minggu. Bila diasumsikan 8 butir per hari, harga telur Rp2.000, 00 per butir, akan didapat setiap minggu (8*2000*7 hari) Rp112.000, 00 per minggu. Keuntungan Rp112.000, 00 ini dikurangi pakan Rp16.000, 00 didapat 96.000, 00.

Dengan begitu WBM akan didapat selama (850.000/96.000) 8, 85 minggu. Pemodal dan peternak bisa sepakat untuk flat 9 minggu peternak mentransfer penuh (full) sebelum bagi hasil. Hal ini juga karena ada flat satu hari dalam seminggu diambil untuk pakan. Peternak bisa mengambil untung dari selisih pakan, pemodal bisa mengambil untung dari pembulatan.

Jadi asumsi penghitungan untuk 9 minggu adalah sebagai berikut. Ada 7 hari dikali 9 minggu adalah 63 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 63 didapat Rp1.008.000, 00. Bila satu hari dalam seminggu telur digunakan untuk membeli pakan (flat) berarti keuntungan hanya 6 hari per minggu. Diperoleh 6 hari x 9 minggu adalah 54 hari. Modal akan kembali sekitar 8 butir x Rp2.000, 00 x 54 didapat Rp864.000, 00. Jadi modal untuk pakan selama 9 minggu adalah 1.008.000, 00-864.000, 00 yaitu Rp144.000, 00.

Apabila itik sudah tidak produktif, maka itik dijual per ekor. Harganya akan jatuh dari Rp85.000, 00. Ini juga dibagi dua antara pemodal dan peternak.

Sebenarnya penghitungan di atas adalah penghitungan kasar untuk sistem bagi hasil karena bagi hasil harus dihitung dari telur yang dihasilkan per hari. Peternak harus menulis jumlah telur yang dihasilkan setiap hari dan menyetor kepada pemodal sebelum WBM. Setelah WBM, peternak dan pemodal berbagi hasil dan tetap peternak mencatat telur yang dihasilkan per hari. Peternak bisa mengirim SMS setiap jam 6 pagi atau jam 6 sore untuk melaporkan jumlah telur kepada pemodal. Setiap peternak menulis jumlah telur, ia harus mengirim SMS kepada pemodal. Modal SMS dihitung 200×7 hari yaitu Rp1.400.

Zaman sekarang penghitungan bagi hasil bisa dilakukan dengan mudah menggunakan program spreadsheet (misalnya Libre Office Calc di Linux Mint atau Linux Ubuntu). Dengan begitu, Penghitungan bisa eksak dan menekan kerugian pemodal serta peternak. Jadi, bila variabel berubah, orang bisa menghitung dengan cepat, misalnya variabel harga itik atau telur berubah.

Itik akan produktif selama 1, 5 sampai 2 tahun. Setelah itu itik tidak produktif dan dijual dengan harga jatuh dari Rp80.000–Rp85.000 menjadi Rp45.000–Rp50.000, 00. Ini juga bagi hasil saja karena modal sudah kembali dalam waktu 9 minggu.

Leave a Reply