Toleransi ketika Beda Akidah, Beda Mazhab atau Beda Pendapat (Tidak Toleransi untuk Kejahatan atau Kriminal)

Setidaknya sebagian masyarakat Indonesia sekarang ini merasa terancam dengan situasi intoleransi, misalnya ketika mencoblos si anu maka dikatakan kafir, munafik, tidak boleh disolatkan dan sebagainya. Lebih jauh, bahkan salah seorang pemenang pilkada DKI mengatakan dalam acara para pengacara di televisi bahwa fitnah dalam pemilihan adalah biasa. Naudzubillah ‘Aku berlindung kepada Allah dari situasi demikian’.

Kapankah kita toleran? Apakah kita akan toleran ketika melihat orang lain berbeda akidahnya? Tentu saja kita harus toleran. Jika ada orang lain yang berbeda, bahkan “ngawur” akidahnya, kita harus bisa toleran. Bila ada yang mengatakan bahwa tuhan punya agen (bapa, anak), tuhan tidak adil, tidak memperhatikan hambanya, tuhan sudah mati (naudzubillah); semua ini setidaknya menurut sebagian orang adalah pandangan “ngawur” tentang Tuhan. Beda pandangan tentang akidah, bisa kita toleransi karena para nabi juga toleran terhadap perbedaan akidah. Akidah yang pertama adalah ketuhanan. Bila orang-orang berbeda-beda keyakinannya tentang ketuhanan, perbedaan ini mesti bisa kita toleransi.

Akidah yang ke dua adalah kenabian. Bila orang berbeda keyakinannya tentang kenabian, apakah perbedaan ini bisa kita toleransi? Tentu saja kita harus bisa toleran. Ada sebagian muslim yang mengatakan bahwa nabi tidak maksum, pernah melakukan kesalahan, sekali-kali melakukan kesalahan, pernah lupa dalam salatnya (naudzubillah); perbedaan seperti ini juga mesti bisa kita toleransi. Sebagian muslim lagi berpendapat bahwa nabi harus maksum karena manusia tidak mungkin mengikuti teladan yang tidak maksum. Kemaksuman pun sebenarnya bisa dicapai oleh seluruh manusia.

Selain perbedaan akidah, ada pun fikih. Bila perbedaan akidah menyebabkan perbedaan agama, perbedaan fikih menyebabkan perbedaan mazhab. Contoh perbedaan fikih adalah ada sebagian muslim yang tahlilan, solawatan, muludan, tawasulan, ziarah kubur, kunut, niatnya dizaharkan, telunjuknya digerak-gerakkan, salam yang mengakhiri salatnya hanya satu kali, penentuan tanggal 1 Ramadan, dan sebagainya.

Perbedaan fikih ini disebabkan fatwa yang berbeda-beda dari ulama. Ulama tidak bisa memaksa orang awam untuk ikut pada fatwanya. Kenyataannya tak ada satu pun ulama yang memaksakan fatwanya untuk diikuti. Termasuk MUI tak pernah memaksakan fatwanya untuk diikuti, ataupun bila meninggalkan fatwa MUI, MUI akan mengancam masuk neraka. Ini karena fatwa juga berbeda-beda antara satu ulama dengan ulama lain.

Yang biasa kita alami adalah perbedaan menentukan tanggal 1 Ramadan. Nahdatul Ulama (NU) menentukan tanggal 1 Ramadan dengan melihat hilal (bulan), sedangkan Muhammadiyah biasanya menentukan tanggal 1 Ramadan dengan hisab (menghitung). Namun keduanya toleran. NU tak pernah memaksakan fatwanya kepada Muhammadiyah, sebaliknya Muhammadiyah pun tak pernah memaksakan fatwanya kepada NU. Sekalipun lembaga negara ini biasanya menggunakan metode yang digunakan oleh NU, namun negara juga tidak memaksa warganya untuk mengikuti metode NU. Perbedaan ini harus bisa ditoleransi.

Kapankah kita tidak toleransi? Kita tidak toleransi pada kejahatan seperti pencurian, pembunuhan, pemukulan, pemaksaan, atau gangguan yang di luar batas. Ketika kita melihat pencurian, tidak boleh kita toleran. Ketika rakyat, wakil rakyat, atau penguasa melakukan korupsi, kita tidak boleh toleran. Sangat aneh apabila kita toleran pada kejahatan seperti ini.

Masalah toleransi ini juga mesti diajarkan kepada anak-anak kita sejak di sekolah dasar bahkan hingga perguruan tinggi. Ada juga seorang peneliti yang meneliti penciptaan dan pementasan lagu anak-anak yang salah satunya bertema toleransi. Sangat penting untuk mengkampanyekan toleransi dalam masyarakat.

Sayangnya ada ormas dan kelompok Islam yang tidak toleran dengan memukul orang yang berbeda, mengancam, mencaci perbedaan. Kelompok ini harus diwaspadai bahkan harus dibubarkan karena kelompok ini melakukan tindak kriminal (kejahatan), memukul, tidak menerima perbedaan, dan mengancam manusia lain. Negara mestinya menindak ormas dan kelompok Islam intoleran seperti itu.

Jual Rumah di Margahayu Raya, Bandung

Status: dijual atas perintah pemilik (orang tua saya)
Alamat: Kompleks Margahayu Raya, Jalan Pluto Utara VIII No. 11A. (blok FF).

Luas tanah (sertifikat): 264m persegi. Luas bangunan: sekitar 150m persegi. Seluruh dinding rumah sudah dikeramik untuk mencegah keropos akibat lembab. Lebar muka kurang lebih 12m.

Peta lokasi ada di google map (beserta foto bangunan di bawah).

Harga rumah: 1,7m (nego) (Juli 2017). Rumah ini hanya untuk dijual, tidak untuk disewakan.

Peminat dapat menghubungi WA/sms 0888-234-6669, 0821-1522-5333, +62 813-2244-4153.

Rumah ini dekat dengan Griya Margahayu (sekitar 0,5km) dan Masjid Almuhajirin (sekitar 100m). Akses masuk ke rumah ini bisa melalui dua arah. Arah yang paling dekat adalah dari Jalan Ciwastra (sekitar 1km) dan dari Jalan Soekarno-Hatta, masuk dari Metro (sekitar 3km).

Rumah ini berada di kawasan sekitar 3km ke arah selatan dari Metro Margahayu Raya, Soekarno-Hatta, Bandung.

Terima kasih.

Tambahan. Di belakang rumah saya ada sawah sekitar kurang dari satu hektar yang saya dengar juga akan dijual.

Foto rumah, tampak luar dan tampak dalam.

Continue reading