UPI ITU RESEARCH-BASED UNIVERSITY?

Tulisan ini akan membahas tentang universitas berbasis riset (research-based university) dan kaitannya dengan kurikulum yang dikembangkan di universitas. Terutama munculnya pertanyaan mengapa universitas tidak mempunyai standardisasi kurikulum seperti di sekolah menengah.

Universitas berbasis riset (research-based university) berarti materi pelajaran dosen adalah hasil riset dosen sendiri. Saya mengajar membaca permulaan dengan metode membaca yang saya temukan. Sudah saya HKI-kan, saya simpan di YouTube, bisa dicari dengan kata kunci “membaca upi Sumedang”. Metode ini bisa diadu dengan metode lain dan diharapkan menjadi salah satu sumbangan bagi dunia pendidikan.

Demikian pula pakar lain dan pengajarannya berdasarkan riset yang ditemukannya. Pakar ekonomi mengajarkan ekonomi berdasarkan riset yang ditemukannya. Pakar media mengajarkan media berdasarkan riset yang ditemukannya. Pakar pendidikan mengajarkan teori pendidikan berdasarkan riset yang ditemukannya.

Dengan demikian, soerang dosen bukan sekedar berburu teori dari buku barat atau asing. Ia tidak boleh bangga hanya bermodal menyampaikan teori barat atau asing semata. Ia juga harus hati-hati mengajar teori orang tanpa menguji teori itu di kelas. Saya bisa membayangkan metode membaca permulaan yang dimiliki pakar lain, lalu saya ajarkan di kelas mahasiswa, tanpa pernah gunakan kepada siswa di kelas sekolah dasar. Kita menggunakan rujukan itu untuk penelitian kita.

Contoh temuan lain dari linguistik adalah Alisyahbana dengan hukum DM, dan Chaedar Alwasilah dengan language transfer. Habibie juga punya banyak temuan tentang dunia penerbangan. Oleh karena itu, Alisyahbana, Alwasilah, dan Habibie mengajarkan temuanya itu di kelas. Temuannya itu pun dipublikasikan di sejumlah jurnal dan didiseminasikan di berbagai forum. Mungkin pula didiseminasikan di sebuah proyek atau komunitas, atau di dalam industri.

Pada universitas berbasis riset, arah universitas lebih fokus ke penelitian, segala aspek aktivitas kampus diarahkan untuk mengenjot dan melekatkan budaya riset. Temuan-temuan yang didapat peneliti itu akan dijadikan landasan untuk pengajaran dan pengembangan universitas. Saat ini juga jaringan internet mungkin sedang dikembangkan, sinyal 4G mungkin saja akan dikembangkan menjadi sinyal yang lebih cepat lagi, keamanan jaringan juga dikembangkan. Universitas mesti jadi tempat lahirnya ilmuwan dan cendikiawan hebat, tidak lagi menghasilkan pengajar yg hebat. Namun hasil riset itu juga disosialisasikan kepada mahasiswa bahkan dikembangkan bersama mahasiswa.

Pernah saya dengar cerita di sebuah universitas, temuan itu acap kali tidak disengaja. Seperti ilham yang datang ketika saatnya tiba. Lalu pakar dan mahasiswa berlomba menjadi peka dan mengembangkan temuan itu menjadi bernilai dan berharga. Mungkin juga temuan itu bisa dijual dalam suatu industri. Dengan demikian, temuan juga tidak mesti selamanya mampir di jurnal. Acap kali rahasia temuan akan menjadi komoditas jual yang berorientasi semacam paten atau monopoli.

Pada universitas berbasis riset, dosen sebaiknya mengajarkan penelitian yang dilakukannya. Mungkin pula ada mahasiswa yang mempunyai ketertarikan riset di luar keahlian dosen. Dengan begitu, dosen dapat mengarahkannya untuk berdiskusi dengan dosen lain.

Selain hasil riset yang dimiliki dosen, mungkin pula dosen mampunyai sejumlah teori sebagai perbandingan. Dosen yang memiliki keahlian pada bidang membaca permulaan mesti mempunyai temuan pada bidang ini. Kemudian, ia pun mempunyai banyak temuan bandingan yang diperoleh oleh pakar-pakar lain di universitas lain di seluruh dunia. Dengan begitu, dosen ini selain mengajarkan temuanya, ia pun mengajarkan artikel-artikel jurnal yang biasa dikonsumsinya kepada mahasiswa. Ia pun bisa mengajarkan buku-buku teori yang menjadi landasan pada penelitiannya. Pada sisi ini laporan jurnal atau laporan bab dapat diberikan sebagai tugas perkuliahan. Tujuan tugas ini adalah pengembangan riset dan iptek.

KURIKULUM UNIVERSITAS
Mengapa kurikulum universitas tidak bisa dibakukan? Karena setiap universitas punya perisetnya. Riset juga mengembangkan industri. Periset mengajarkan hasil risetnya dengan periset lain di seluruh dunia. Habibie menemukan hukum, efek habibie. Alisyahbana menemukan hukum DM, Alwasilah menemukan language transfer. Itu diajarkan kepada mahasiswanya. Hasil riset ini pun dipublikasikan dan didiskusikan dengan pakar lain dari perguruan tinggi lain. Dengan begitu, seorang pakar bisa mengukur ketinggian langit pengetahuan ini. Periset pun dapat mengkomparasi temuan hasil risetnya dengan para periset lain. Jika ia merasa hasil risetnya masih rendah, ia bisa melangkah lebih cepat untuk mengikuti tren atau memotong tren yang ada.

Semakin banyak pengetahuan seorang pakar, semakin mungkin bagi dia untuk memperoleh pengetahuan yang baru.

TENTANG SUNNI-SYIAH

Saddam Husein adalah pembunuh rakyatnya sendiri. Banyak ulama dari kalangan Sunni dan Syiah yang dibunuh Saddam.

Ketika revolusi tahun 1979 Iran terbebas dari Shah Reza Pahlevi, Irak menginvasi Iran. Perang terjadi selama 8 tahun dan Irak tak mampu mengalahkan Iran.

Memang Irak dan Iran terdapat Syiah. Di negeri-negeri Timur Tengah lain pun ada Syiah. Dan Syiah dianggap satu mazhab Islam.

Contoh penerimaan, kesepakatan, dan pencegahan pertengkaran Sunni Syiah adalah Deklatasi Amman. Bisa digoogle dg kata kunci “deklarasi amman”.

Sebagai warga yang mempunyai saudara-saudara dari kalangan Sunni dan Syiah, saya adalah orang yang pernah masuk ke pengajian orang Syiah. Namun saya hanya sekali hadir di tempat Kang Jalal (tokoh Syiah). Saya kurang kenal Kang Jalal. Namun, banyak teman Syiah yang saya kenal.

Saya mendapat kesan kajian mereka luar biasa bagus. Seperti melengkapi puzzle keislaman saya yang selama ini kosong.

Saya jamin, syiah tidak berbahaya. Adapun jika ada oknumnya berbuat kriminal atau melanggar aturan, tak perlu digeneralisir karena kejahatan itu lintas mazhab. Kejahatan itu bisa terjadi di semua mazhab.

Perang 8 tahun Saddam ke Iran itu bukan semata haus kekuasaan, melainkan juga disponsori AS untuk membasmi Iran yang anti AS.

Sepengetahuan saya, Saddam itu membunuh penentangnya dari kalangan Sunni dan Syiah. Saddam itu diktator kejam, melakukan invasi ke Irak 8 tahun. Setelah gagal lalu Saddam mencaplok Kuwait tahun 1991 dan berhasil menjatuhkan Emir Kuwait. Tetapi Kuwait itu ladang minyak AS sehingga sehari setelah invasi Saddam, AS membebaskan Kuwait dengan Operasi Badai Gurun.

Melihat Saddam yang tak bisa lagi dikontrol untuk memerangi Iran, Saddam lalu disingkirkan AS. Saddam dihukum gantung karena kejahatan perang. Sebelum dieksekusi Saddam sempat sadar bahwa musuh sebenarnya adalah Israel. Kini Irak, Afganistan tidak stabil. Kedua negara ini mengepung Iran. Namun AS masih belum berani invasi ke Iran.

Suriah dan Irak diguncang oleh ISIS. ISIS adalah boneka AS untuk melemahkan kestabilam Irak dan Suriah.

Isu Sunni-Syiah dihembuskan untuk mengadu domba.

Sampang adalah salah satu contoh adu domba Sunni-Syiah di Indonesia. Pemerintah SBY melalui hakimnya memutuskan bahwa Tajul Muluk (TM) Syiah menista agama. Padahal konflik sebenarnya adalah konflik keluarga. Namun warga dan pengadilan menyeretnya ke ranah agama. TM dikambinghitamkan padahal TM adalah korban.

Ulama Irak dan Iran menyerukan, jika ada saudaramu Sunni membunuh Syiah di depanmu, jangan kau balas. Demikian pula sebaliknya. Mengapa? Karena, pembunuhan itu adalah proxy war. Yang sebenarnya membunuh adalah AS dan Israel, yang pinjam tangan radikalis ISIS.

Doktrin Syiah yang saya kenal tidak harus menguasai pimpinan atau berkuasa.

Bahkan Ali bin Abi Thalib tidak berkuasa selama tiga khalifah sebelumnya berkuasa.

Syiah yang meyakini Ali bin Abi Thalib sebagai pewaris Nabi saw tentu ikut pada teladan Ali. Bahkan Hasan, Husain dan sembilan putanya tidak dikenal sebagai khalifah namun dikenal sebagai imam.

Pelarangan Syiah harus disebabkan alasan urgen. Namun saya sendiri tidak melihat radikalisme Syiah. Bahkan syiah sering diserang oleh kebencian tak berdasar.

Seandainya ada pelanggaran penganut Syiah atau Sunni, mungkin ajarannya tidak mengajarkan pelanggaran itu.

Apa salah orang Syiah terhadap Islam, Oom?

Masalah Syiah yang meyakini Ali sebagai khalifah Rasulullah itu adalah masalah kekhilafahan dan sejarah. Sejarah itu bukan sejarah Syiah namun sejarah Islam, Oom. Para khalifah itu dipilih secara demokrasi. Tidak ada yang salah dalam demokrasi.

Sejarah demokrasi khalifah seperti itu diakui Sunni Syiah berdasarkan kitab-kitab terdahulu. Abu Bakar dipilih pada peristiwa Saqifah Bani Sadiah. Lalu Umar ditunjuk oleh Abu Bakar sebagai pengganti Abu Bakar. Utsman dipilih oleh enam perwakilan yang deadlock. Ali dibaiat warga setelah Utsman Syahid. Itu semua semacam demokrasi oleh rakyat.

Kalau kita lihat sekarang, sunni-syiah bisa berhaji. Di Iran, Iran, Suriah ada Sunni dan Syiah.

Barat yang mengadu domba.
Ketika perang Saddam Husain dengan Iran, orang menduga ini perang Sunni-Syiah. Padahal bukan.

Barat yang selalu memprovokasi agar Sunni-syiah bertengkar.

Apakah perang di Suriah juga perang Sunni-Syiah?

Apakah di Yaman juga perang Sunni-Syiah? Bukan. Semua itu bukan perang antarmazhab Sunni-Syiah.

Syiah tidak pura2 ketika salat, haji, ….

Syiah juga bisa afdol salat di belakang Sunni. Justru Hidayat Nurwahid PKS pernah salat di belakang Syiah dan mengatakan bahwa salatnya pura-pura. 😀 Beritanya ada di media nasional. Seharusnya HRN tidak berpikir haram salat di belakang Syiah dan tak boleh mengatakan salatnya pura-pura.

Perbedaan Pendapat di Media Sosial

Pengguna media sosial sekarang ini menjadi penguasa atas pendapatnya. Seseorang bisa saja berpendapat tentang suatu masalah. Jonru bisa berpendapat tentang suatu masalah. Felix Siau bisa berpendapat tentang suatu masalah. Politisi seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, atau Setya Novanto bisa berpendapat tentang suatu masalah. Namun, setiap individu harus yakin bahwa mereka dihadapkan pada perbedaan pendapat. Setiap indiviidu harus menghargai perbedaan pendapat. Orang bebasĀ  berpendapat di media sosialnya.

Wakil rakyat seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, atau Setya Novanto mestinya berpendapat sesuai kapasitasnya sebagai wakil rakyat. Wakil rakyat mempunyai fungsi mengawasi anggaran eksekutif, membuat undang-undang. Undang-undang bisa diinisiasi oleh eksekutif (presiden) atau legislatif (wakil rakyat). Sedangkan anggaran negara sejauh ini harus dikembangkan sesuai dengan visi-misi presiden. Demikian pula dengan kabupaten, kota, dan propinsi. Semua bekerja menurut ranah dan kepentingannya. Mungkin saja wakil rakyat yang nakal tidak akan disukai masyarakat dan tidak akan dipilih kembali pada periode berikutnya. Sementara ini belum ada mekanisme dari rakyat untuk memberhentikan wakil rakyat yang dianggap nakal selama wakil rakyat itu tidak melanggar undang-undang.

Salah satu pendapat yang bertentangan adalah sebagian muslim berpendapat bahwa Ahok tidak menista Islam. Namun, sebagian muslim yang lain berpendapat bahwa Ahok menista Islam. Kedua pendapat ini ada di masyarakat. Namun, salah satu pihak mengecam pihak lain dengan alasan membahayakan negara, hingga pemunafikan, pengkafiran, pelaknatan neraka, dan sebagainya.

Setiap orang boleh saja berpendapat. Namun, ada pakarnya yang mesti menenentukan. Mesti diingat bahwa pakar ini bukan nabi atau Tuhan. Tuhan melalui lisan dan tindakan para nabinya tidak akan salah bila memberi putusan. Namun, selain para nabi, bisa saja salah dalam memutuskan suatu perkara. Kenyataannya di antara pakar hukum pun berbeda pendapat tentang Ahok. Ada pakar hukum yang mengatakan Ahok tidak menista agama, ada pakar hukum lain yang mengatakan Ahok menista agama.

Demikian pula dengan masalah bahasa. Mestinya, pakar bahasalah yang menentukan. Sekalipun pakar bahasa juga bisa berbeda pendapat, namun para ahli bahasa itu bisa memberikan argumen yang bisa dipertimbangkan masyarakat awam.

Demikian pula dengan masalah ekonomi, ekonomi bangsa, ekonomi rakyat. Mestinya para pakar ekonomilah yang lebih didengar suaranya. Jangan sampai malah orang awam memberikan opini sehingga opininya ngawur atau sempoyongan.

Masalah agama juga demikian. Semestinya orang awam berdiam saat pakar agama bicara tentang agama. Semestinya orang awam menghindari debat dengan pakar agama karena dikhawatirkan akan mempermalukan diri atau kelompok.

Kebenaran tidak akan hilang walaupun ditutupi dan tak ada yang medukungnya. Kejahatan akan tetap menjadi kejahatan walaupun orang-orang jahat menutupinya. Bangkai akan tetap tercium walau ditutup-tutupi.

Tuhan akan menyempurnakan ilmunya melalui hujah-Nya. Hujah di sini adalah wasiat Rasululah saw yaitu munculnya Imam Mahdi di tengah umat akhir zaman. Ia adalah Imam Mahdi min aali Muhammad saw ‘dari keluarga Muhammad saw’. Saat Imam Mahdi muncul, setiap orang akan puas dengan keputusannya. Tentu Imam Mahdi pun akan menjadi manusia sempurna yang paling pandai dan argumennya bernilai.