Perbedaan Pendapat di Media Sosial

Pengguna media sosial sekarang ini menjadi penguasa atas pendapatnya. Seseorang bisa saja berpendapat tentang suatu masalah. Jonru bisa berpendapat tentang suatu masalah. Felix Siau bisa berpendapat tentang suatu masalah. Politisi seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, atau Setya Novanto bisa berpendapat tentang suatu masalah. Namun, setiap individu harus yakin bahwa mereka dihadapkan pada perbedaan pendapat. Setiap indiviidu harus menghargai perbedaan pendapat. Orang bebasĀ  berpendapat di media sosialnya.

Wakil rakyat seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah, atau Setya Novanto mestinya berpendapat sesuai kapasitasnya sebagai wakil rakyat. Wakil rakyat mempunyai fungsi mengawasi anggaran eksekutif, membuat undang-undang. Undang-undang bisa diinisiasi oleh eksekutif (presiden) atau legislatif (wakil rakyat). Sedangkan anggaran negara sejauh ini harus dikembangkan sesuai dengan visi-misi presiden. Demikian pula dengan kabupaten, kota, dan propinsi. Semua bekerja menurut ranah dan kepentingannya. Mungkin saja wakil rakyat yang nakal tidak akan disukai masyarakat dan tidak akan dipilih kembali pada periode berikutnya. Sementara ini belum ada mekanisme dari rakyat untuk memberhentikan wakil rakyat yang dianggap nakal selama wakil rakyat itu tidak melanggar undang-undang.

Salah satu pendapat yang bertentangan adalah sebagian muslim berpendapat bahwa Ahok tidak menista Islam. Namun, sebagian muslim yang lain berpendapat bahwa Ahok menista Islam. Kedua pendapat ini ada di masyarakat. Namun, salah satu pihak mengecam pihak lain dengan alasan membahayakan negara, hingga pemunafikan, pengkafiran, pelaknatan neraka, dan sebagainya.

Setiap orang boleh saja berpendapat. Namun, ada pakarnya yang mesti menenentukan. Mesti diingat bahwa pakar ini bukan nabi atau Tuhan. Tuhan melalui lisan dan tindakan para nabinya tidak akan salah bila memberi putusan. Namun, selain para nabi, bisa saja salah dalam memutuskan suatu perkara. Kenyataannya di antara pakar hukum pun berbeda pendapat tentang Ahok. Ada pakar hukum yang mengatakan Ahok tidak menista agama, ada pakar hukum lain yang mengatakan Ahok menista agama.

Demikian pula dengan masalah bahasa. Mestinya, pakar bahasalah yang menentukan. Sekalipun pakar bahasa juga bisa berbeda pendapat, namun para ahli bahasa itu bisa memberikan argumen yang bisa dipertimbangkan masyarakat awam.

Demikian pula dengan masalah ekonomi, ekonomi bangsa, ekonomi rakyat. Mestinya para pakar ekonomilah yang lebih didengar suaranya. Jangan sampai malah orang awam memberikan opini sehingga opininya ngawur atau sempoyongan.

Masalah agama juga demikian. Semestinya orang awam berdiam saat pakar agama bicara tentang agama. Semestinya orang awam menghindari debat dengan pakar agama karena dikhawatirkan akan mempermalukan diri atau kelompok.

Kebenaran tidak akan hilang walaupun ditutupi dan tak ada yang medukungnya. Kejahatan akan tetap menjadi kejahatan walaupun orang-orang jahat menutupinya. Bangkai akan tetap tercium walau ditutup-tutupi.

Tuhan akan menyempurnakan ilmunya melalui hujah-Nya. Hujah di sini adalah wasiat Rasululah saw yaitu munculnya Imam Mahdi di tengah umat akhir zaman. Ia adalah Imam Mahdi min aali Muhammad saw ‘dari keluarga Muhammad saw’. Saat Imam Mahdi muncul, setiap orang akan puas dengan keputusannya. Tentu Imam Mahdi pun akan menjadi manusia sempurna yang paling pandai dan argumennya bernilai.

Leave a Reply