Home » 2018 » February (Page 5)

Monthly Archives: February 2018

SAJAK Khidmat dan Pengabdian

Alangkah indahnya
Jika khidmat dan pengabdian diberikan
Kepada Tuhan
Hanya kepada Tuhan
Dan tidak kepada selain-Nya

Suami bekerja
Sebagai pengabdian kepada Tuhan
Dan bukan mengumpulkan mateti
Sebagai tujuan
Ia tak akan bersedih
Jika kasabnya sedikit
Karena begitu luasnya
Rezeki Tuhan di dunia
Dan kebahagiaan
Bukanlah materi semata

Merugilah istri yang hanya meminta materi kepada suaminya
Sementara ia malas melakukan kewajiban-kewajibannya

Merugilah suami yang hanya mencari materi seumur hidupnya
Karena ketika materi itu ada, ia akan tetap memgejarnya
Sementara rezeki hanyalah makanan yang masuk ke dalam mulut dan dipakai di badan
Lalu kitika mati, tak ada harta benda yang dibawanya ke dalam kubur

Namun ia mengorbankan akhiratnya
Untuk menumpuk harta
Menipu sesama
Berebut harta
Berbagi dengan para pencuri
Bergayustambunan saat membayar pajak
Bersetnov di pengadilan
Berjonru dan berbuniyani di media sosial

Sajak PENJAGA AGAMA

Tuhan mempunyai banyak kekasih
Yaitu para nabi, rosul, dan wali-Nya
Sementara manusia biasa
Karena tidak mengenal-Nya
Maka tak bisa mencintainya
Seperti seharusnya
Manusia yang mencintai Tuhan
Dengan meniru nabi, rosul, atau wali
Bersama-sama mencintai-Nya
Dan memandang-Nya
Dengan solawat cinta

Bersolawatlah kepada Rasul dan keluarganya
Balaslah jasa Rasul dengan mencintai keluarganya
Cinta kepada Rasul
Akan membawamu kepada Tuhan
Cinta kepada Ali
Akan membawamu kepada Tuhan
Cinta kepada Fatimah
Akan membawamu kepada Tuhan
Cinta kepada Hasan
Akan membawamu kepada Tuhan
Cinta kepada Husain
Akan membawamu kepada Tuhan
Cinta kepada Imam Mahdi
Akan membawamu kepada Tuhan

Cinta kepada mereka semua
Akan membawamu kepada Tuhan Yang Satu
Dan bersolawat kepada Rasul adalah seperti bertasbih kepada-Nya

Mazhab dalam Islam

Jika saya seorang terpelajar, maka saya akan menggunakan rasio saya dalam menentukan agama dan mazhab yang saya anut.

Mazhab juga belum dikenal luas di masyarakat Indonesia.

Saya tidak akan terpengaruh dengan isu meliputi suatu agama dan mazhab.

Akidah berupa keyakinan akan ketuhanan harus secara rasional mengalahkan pemikiran ateisme.

Keyakinan akan klaim kerasulan Muhammad harus mengalahkan pendapat yang mendustakan kerasulannya.

Jokowi vs Prabowo: Rematch

Saya selalu bertanya, mengapa ada pendukung Prabowo dan Anies, alih-alih mendukung Jokowi. Saya menduga keras bahwa dukungan itu karena kesamaan visi dan ideologi. Pendukung Prabowo mempunyai visi yang sama dengan Prabowo. Pendukung Jokowi juga punya visi yang sama dengsn Jokowi. Simpulan ini saya renungkan setelah bertahun-tahun mengamati, berdialog dengan kedua pihak pendukung selama bertahun-tahun. Medua dialog dan komilunikasi yang digunakan di antaranya Facebook dan WhatsApp. Saya bahkan berdialog dengan saudara, teman, orang tua, murid, kolega kerja, teman daring. Pengamatan ini juga terjadi karena memang terjadi dialog baik antara saya dengan mereka maupun mereka dengan mereka.

Saya cenderung mengatakan bahwa visi atau ideologi kepemimpinan Jokowi adalah melayani rakyat. Jokowi adalah pelayan rakyat. Di oposisinya adalah Prabowo yang (menurut saya) visinya adalah pengusaha. Karena itu Prabowo cenderung memperlakukan negara sebagai perusahaan. Perusahaan itu akan membagi usaha kepada pihak-pihak lain. Ini sebenarnya eksploitasi terhadap negara dan sumber daya negara. Mungkin juga Jokowi melakukan eksploutasi yang sama, namun Jokowi melakukan eksploitasi untuk kemakmuran rakyat. Pendukung Prabowo tidak percaya bahwa eksploitasi Jokowi adalah untuk kemakmuran rakyat. Jokowi dianggap oleh pendukung Prabowo sebagai pemimpin yang planga-plongo, tidak tegas. Padahal Jokowi tegas terhadap pelsnggaran, misalnya pelanggaran pencurian ikan ditenggelankan, pengedar narkoba digukum mati, koruptor e-ktp ditersangkakan dan dipidanakan. Pendukung Prabowo menganggap tindakan Jokowi tidak tegas kepada aksi Trump dan Rogingnya. Sedangkan pendukung Jokowi mengatakan bahwa tindakan Jokowi sudah diplomatis dan tegas. Pendukung prabowo ingin Jokowi melakukan blunder untuk kasus Rohingnya dengan melakukan perang, pengusiran diplomat Myanmar. Padahal semua orang tahu bahwa tindakan blunder itu tidak boleh dilakukan. Saya melihat pendukung Praboeo ingin Jokowi jihad ke Myanmar. Padahal Prabowo atau pemimpin lain sebodoh apa pun tak mungkin melakukan jihad ke Myanmar sejauh ini. Diplomasi dan tetap berperan sebagai teman bagi Myanmar sangat penting karena dengan begitu Indonesia justru menyelamatkan Rohingnya, memberi bantuan kemanusiaan. Sesuatu yang sulit dilakukan bila Indonesia bermusuhan dengan Myanmar.

Di dalam negeri Jokowi justru keras dengan FPI dan HTI yang menyebabkan kedus ormas ini sepenuhnya terang-terangan anti-Jokowi (dan berpotensi mendukung Prabowo, Anies, Agus, Gatot). Mereka berharap kebijakan Anies akan lebih lunak terhadap mereka. Buktinya adalah ormas di DKI kembali berkuasa di jalanan. Semua ornas bisa mengais rezeki. Sebagian ornas adalah underbow partai. Anies didukung partai Gerindra.

Pendukung Prabowo tak percaya ada pemimpin pelayan. Mestinya mereka juga tidak percaya pada Dedi Mulyadi, Ganjar Pranowo, Tri Risma, bahkan Ridwan Kamil. Ridwan Kamil cukup politis dan populer dengan status dan kicauan segar di media sosial. Jadi bagi RK di Jawa Barat, kerja acap nomor dua. Pencitraan nomor satu. Rajyat Jawa Barat cenderung demikian (?).

Justru ormas semacam HTI dan FPI semestinya sadar, mengapa isu Khulafa Rasyidun itu hanya empat. Ini Quran dan hadis Nabi saw? Mengapa Hasan bin Ali dan katakanlah Muawiyah bin Abu Sufyan tidak termasuk Khulafa Rasyudun? Sekalipun kita tengok ada hadis keutamaan sahabat. Kita juga melihat ada ayat tentang solawat kepada ahl bait, mawadah fil kurba, dan keutamaan fatimah sebagai Alkautsar.

Dalam sejarah ada dua kubu yaitu Hasan bin Ali vs Muawiyah bi Abu Sufyan. Perselisihan Hasan vs Muawiyah ini kelanjutan dari perselisihan Ali bin Abi Thalib vs Muawiyah. Perselisihan ini bukan perselisihan biasa karena telah terjadi perang akibat fitnah di antara kaum muslimin. Muawiyah bahkan menyebarkan isu hoax dengan memgatakan Ali kafir, murtad, munafik, dan sebagainya.

Isu hoax ini juga bahkan terjadi sekarang. Alih-alih adu argumen fakta dan kerja, orang partai anu bahkan diduga menggosipkan isu hoax pada Jokowi macam kafir, munafik, murtad, Cina, PKI, Syiah, dan sebagainya.

Berbeda pendapat tentang suatu masalah itu biasa. Para nabi menyikapi beda akidah juga dengan bijak.
Memang benar, ada pejabat yang terbukti salah masih cengengesan, maju terus pantang mundur.

Agama kita melarang keras gibah. Agama kita menyuruh menutupi kesalahan orang lain. Kehormatan orang lain mesti sangat kita hargai karena Allah swt pun menutupi aib hamba-Nya. Allah swt Maha Pengampun.

Namun seperti diungkap tadi, ada pejabat yang salah namun masih cengengesan. Maju terus pantang mundur.

Jika ada pemimpin seperti ini apa yang harus kita lakukan? Warganet acap menpermalukan pejabat seperti ini hanya agar sifat sombongnya hilang dan berhenti menipu warga.

Logika mengatakan bahwa seseorang memilih agama. Munfkinkah agama dipilih tanpa logika? Mungkin saja agama dipilih dengan logika kebenaran namun sebagian manusia memih agama dengan logika keuntungan.

ARTIKEL PROSIDING Students’ Acceptance of Song Lyrics Containing National Characters in Elementary School

Judul artikel: “Students’ acceptance of song lyrics containing national characters”
Penulis: Prana Dwija Iswara, Sandie Gunara, Julia.
Issue: SHS Web of Conferences. Volume 42, 2018. Global Conference on Teaching, Assessment, and Learning in Education (GC-TALE 2017).
Article Number: 00096.
DOI: https://doi.org/10.1051/shsconf/20184200096
Published online: 29 January 2018
eISSN: 2261-2424.
Laman: https://www.shs-conferences.org/articles/shsconf/abs/2018/03/shsconf_gctale2018_00096/shsconf_gctale2018_00096.html

Artikel saya berjudul “Students’ acceptance of song lyrics containing national characters” di prosiding ada di alamat https://www.shs-conferences.org/articles/shsconf/abs/2018/03/shsconf_gctale2018_00096/shsconf_gctale2018_00096.html. Artikel lengkapnya (full paper) dapat diunduh dari situs ini. Artikel ini merupakan artikel untuk konerensi di Denpasar, Bali, 2017. Prosidingnya terbit tahun 2018.

Artikel lain ada di alamat https://www.shs-conferences.org/articles/shsconf/abs/2018/03/contents/contents.html