Konferensi ke Jepang, Juli 2018

Perjalanan ini sebenarnya perjalanan spiritual dan ilmiah. Kami bertiga mengikuti konferensi internasional di Tokyo. Ternyata Tokyo adalah kota yang sangat ramai. Kota yang lebih tenang adalah Osaka ata Hokaido. Tokyo adalah kota metropolitan dengan banyal orang seperti Jakarta di Indonesia. Tautan karya ilmiah yang dibuat untuk acara ini ada di bawah ini. Kami ditemani dua orang pemandu dari Indonesia sekedar menjaga dari kebingungan di jalan. Sebenarnya tujuan tambahan dari perjalanan kami adalah kampanye kontra Islamophobia. Jepang memang bukan negara yang mengkampanyekan Islamophobia. Orang Jepang tidak takut pada orang muslim seperti yang dikampanyekan sejumlah pemerintah negara yang Islamophobia.

Foto di atas ada di lokasi Kuil Sensuji. Orang-orang Jepang tak akan peduli dengan pandangan orang yang seakan pandangan itu sinis dan mengurusi orang lain. Mereka seolah berkata, kami sedang memuja Tuhan dengan kerja yang kami lakukan dan beban yang kami bawa. Surga adalah harapan orang beriman. Tak perlu mengganggu kami dengan pandangan dan ucapan sinis.

Lalu seseorang seolah tidak terpesona melihat perempuan cantik yang hanya menggunakan jeans super pendek ataupun rok mini. Ini bukan kritik gender. Secara alami seseorang akan tertarik melihat lawan jenisnya, baik disembunyikan atau tidak. Rasanya, warga ini tidak pernah memperlihatkan tertarik pada lawan jenis. Mingkin mereka merasa malu atau tak sopan memperlihatkan perilaku alami ini. Semestinya perilaku seperti ini memang disembunyikan. Bahkan perilaku batin pun tak boleh jika bukan haknya.

Alam di sini pada bulan Juli mirip dengan di Indonesia. Suhunya juga mirip. Suhu lingkungan sekarang mudah didapat dengan selpin (selular pintar). Pergi dan kembali ke suatu tempat juga mudah dengan bantuan selpin. Bahkan berdialog atau berkomunikasi pun dipermudah dengan bantuan selpin dan internet. Warna dan penampakan hutan mirip dengan yang ada di Indonesia. Langit dan awannya pun mirip dengan yang ada di Indonesia. Namun Infonesia adalah negara tropis dengan dua iklim. Negara Jepang adalah negara subtropis (?) dengan empat musim.

Ada brankas penitipan koper yang harganya 500–1.000 yen. Tak ada petugas. Semua dijalankan dengan mesin. Mesin juga melayani pembelian minuman, nasi, burger, kentang. Namun, muslim harus berhati-hati dan menghindari makanan yang tidak halal. Tidak terlihat mesin kondom yang katanya bertebaran. Tak pernah terlihat. Mungkin ada di market yang dilayani penjualnya. Pada umumnya minuman di mesin Jepang tidak manis mungkin karena alasan kesehatan (?) atau kecendeungan (kesukaan). Orang jepang pun acap tidak paham ucapan orang asing, “beef ‘daging sapi'”, atau “coca cola”. Mereka akan paham bila kita mengatakan dengan istilah mereka, “gomoku inigiri & karaage”.

Di Jepang kami menyewa internet wifi portabel. Harga sewanya adalah 80ribu–110rb per hari. Lokasi penywaannya ada di bandara Soetta. Kami menyewa dua untuk berlima karena kami acap terbagi menjadi dua kelompok yang terpisah penginapannya. Kami menginap di apartemen sedangkan kelompok lain entah di mana. Stasiun yang kerap kali turun adalah Shibuya, SangenJaya, Shinjuku. Kami mendarat dan terbang dari Bandara Narita. Menurut kabar, ada bandara lain yang bisa digunakan untuk pergi dan datang ke Jepang.

Sebenarnya di apartemen disediakan wifi, namun kami tak akan bisa daring (online) bila keluar apartemen kecuali menggunakan wifi portabel. Itulah alasan kami menggunakan wifi portabel.

Warga Jepang menurut penilaian saya cukup mudah akrab dengan turis. Sekalipun mereka terlihat tidak peduli pada turis. Orang Indonesia acap melihat turis dan kagum pada perbedaannya. Namun orang Jepang terlihat tidak peduli dengan turis.

Suatu saat kami bertanya pada pemuda lokal di sekitar Gunung Fuji. Pemuda itu dengan senang hati mengantar kami berkilo meter jauhnya karena (seolah?) satu tujuan dengan kami. Kawasan Fuji adalah kawasan modern. Jalannya mulus, infrastruktur listrik, hotel, wisata kuliner, provider selular (internet) dan spot permainan danau juga ada di sana. Video kawasan danau di Gunung Fuji, Danau Kawaguchiko ada pada tautan youtube berikut dan berikut.

Tumbuhan yang ada di Jepang terlihat mirip dengan di Indonesia. Padahal negeri Jepang adalah negeri dengan empat musim. Ada waktu tertentu yang sebaiknya tidak mengunjungi Jepang karena adanya musim badai. Hutannya juga hijau. Pada perjalanan di atas bus menuju Gunung Fuji, terlihat sejumlah pesawahan. Namun pesawahan di kawasan Gunung Fuji tidak seluas pesawahan di Indonesia. Ketika melihat rumput yang menghijau saya selalu teringat untuk memiliki peternakan sapi. Pertenian, peternakan, perikanan adalah pekerjaan penting yang harus dilindungi pemerintah. Tanpa perlindungan pemerintah, sektor-sektor pertanian, peternakan, dan yang lainnya akan mati. Importir akan memasukkan produk luar yang harganya lebih murah daripada produk lokal: daging sapi Australia, garam, beras Vietnam, kedelai, susu.

Insiden di WC yang dialami teman adalah adanya antrian seperti di tempat-tempat lain. Seorang teman yang masuk ke wc untuk buang air kecil lalu melihat pintu di wc buang air besar tiba-tiba terbuka. Ia spontan masuk padahal ada orang yang sedang mengantri nun jauh di ujung wc. Ketika pintu wc ia ia tutup, ada ketuk dengan bahasa protesnya yang khas Jepang. Marah dalam kelembutan. Tidak menggedor pintu. Menurutnya gedorannya cukup lembut namun cukup mudah dipahami sebagai bahasa protes. Temanku keluar wc dengan wajah menyesal, “Gomen nasai.” Orang Jepang yang marah tadi tidak berkata sepatah kata pun. Sungguh berbeda ekspresinya dengan marah di negara lain yang bisa jadi ekspresinya lebih brutal atau kata-kata dengan nada tinggi dan ketus. Sungguh peristiwa ini seperti realitas yang disaksikan dari film.

Sopir bus di Jepang pun ramah dan tertib. Kami naik bus untuk menuju hotel bandara. Petugas terminal sangat tertib. Tak ada klakson, jeritan peluit, atau teriakan sopir. Transportasi yang bebas macet ini mungkin membuat warganya teratur dan nyaman. Ada banyak kereta api bisa menjelajah puluhan kilo, puluhan (?) jalur, dan berhenti di stasiun berikutnya dalam waktu beberapa menit. Bisa dibayangkan jika Bandung punya sistem transportasi bawah tanah atau atas tanah dengan jaringan trayek yang banyak menuju Padalarang, Jatinangor, Sumedang, Cicalengka, Cimahi, Padalarang, Lembang, Bale Endah. Presiden Jokowi sedang membuat kereta api cepat Jakarta–Bandung. Jakarta mungkin mempunyai stasiun hingga mencapai Depok, Sukabumi, Cianjur, Rangkas, Serang, Karawang, Bandung. Transportasi kereta api pun dilayani mesin. Sesekali petugas ada di sekitar stasiun dan dapat membantu wisatawan. Seseorang bisa bertanya tentang cara pembayaran dan arah tujuan. Seorang turis tanpa pemandu akan kesulitan bila tidak menemui petugas stasiun. Stasiun kereta ada di bawah tanah namun kami merasa stasiun itu ada di mall atau supermarket yang besar. Sebagian kereta juga berjalan di atas tanah.

Ucapan penting di Jepang di antaranya sumimasen ‘permisi’, gomen nasai ‘maaf’, arigatou gozaimasu ‘terima kasih’, yoroshiku onegaishimasu (bungkuk). Ucapan itu penting sebagai penghormatan terhadap budaya Jepang yang luhur. Tetapi jangan dieksploitasi menjadi buruk atau ejekan. Orang Jepang sangat menghargai orang yang berbicara tulus, “Yoroshiku onegaishimasu.” Saya bercakap-cakap dengan pemuda jepang dan minta izin memotret jas sepatunya.

Teman sempat tertinggal tas tentengan kecil di bus hotel ke arah bandara. Di antara isinya adalah wifi portabel yang kami sewa selama tujuh hari. Bisa ditebak, batangnya kembali dengan aman. Mulanya kami sempat cemas karena sopir bus mengklaim bahwa tas tersebut ada yang mengambil atau sopirnya memberikan kepada salah seorang penumpang yang mengaku pemilik tas tersebut. Teman kami protes dan menanyakan alasan sopir memberi tas kepada sembarang orang. Ternyata tas hilang tersebut telah diamankan dan kembali kepada kami di bandara. Japanesse manners is so excellent.

Sepanjang perjalanan saya bertemu dengan orang asing di negeri Jepang. Seperti pada umumnya, orang Indonesia senang bertemu dengan orang asing. Saya menyapa beberapa di antara mereka. Ada yang ramah, ada yang terkesan sedikit terganggu. Orang Austria di bus mampu berbahasa Inggris dan bercakap-cakap dengan ramah. Ada orang Inggris di danau sekitar Gunung Fuji terkesan kurang akrab.

“English?”

“Yeah. British. And what about you?”

“Indonesia.”

“I see.”

“Okay. Thank you very much.”

Anehnya saya merasa bicara dengan agem rahasia, bukan semata warga yang melancong. Itu mungkin karena orang Inggris tidak suka bertegur sapa dengan sembarang orang yang tidak dikenal (?).

Berkunjung ke Jepang sangat menarik. Namun, harus ada tujuan ketika berada di Jepang sekalipun untuk berlibur. Sebenarnya yang paling menarik dari negeri ini adalah manusia dengan budayanya. Tempat wisata alami ataupun permainan modern (Dysney Higland, misalnya) juga ada di Indonesia. Gunung, laut, danau, air terjun juga ada di Infonesia. Internet dan tempat tidur nyaman juga ada di Indonesia. Namun manusia Jepang dengan budayanya hanya ada di Jepang. Inilah yang paling menarik. Jadi jika ke Jepang, pastikan bisa berinteraksi dengan mereka, khususnya secara verbal.

Kalau pembaca berharap sambil ke Jepang saat di hotel bisa menonton tayangan Fox Sport, HBO dan semacamnya, niscaya pembaca akan kecewa. Kebanyakan tayangan tv yang disukai warga Jepang adalah live event, berita, atau talkshow. Jika sekarang di rumah kita ada internet, tentu tayangan televisi menjadi sangat kuno.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply