Hari-Hari Ziarah Haji (2)

Berebut Rida Allah swt dan Rasulullah saw

Secara pribadi saya lebih senang tawaf sendiri. Saya merasa membawa beban jika harus bersama teman lelaki maupun perempuan. Apalagi bila tawaf sambil berpegangan tangan dengan teman dan seolah tak boleh ada yang menyela. Seolah terpisah dengan teman saat tawaf itu suatu bencana.

Saya sudah mendengar cerita haji, tawaf, sai, wukuf sejak saya masih bocah 10 tahun. Semoga orang-orang tua yang menceritakan kisah hikmah sabarnya beribadah haji itu mendapat ganjaran dari Allah swt. Kita bisa mengambil pelajaran dari ibadah haji. Bukan sekedar ingin cium Hajar Aswad, salat di saf terdepan, tawaf dan sai bergerombol, dan wukuf tanpa bersilaturahmi dengan bangsa lain.

Saya berpikir bahwa saat tawaf, seseorang harus berbagi tempat dengan orang lain. Beribadah itu tak boleh egois atau ingin orang lain sabar. Seseorang tak boleh merasa bahwa haknya diambil ketika orang lain menyusul, meminta jalur kiri/kanan, atau meminta memotong jalur.

Keadaan di sini lain. Orang salat pun ingin selalu paling dekat dengan kabah. Lalu jika orang lain mengambil tempatnya secara sah atau tidak, ia akan marah seolah terampas uang ratusan real. Kadang-kadang terjadi orang lain merampas tempat salat kita, tempat tawaf kita secara tidak sah. Dia pun melakukannya dengan sadar dan sengaja. Sesungguhnya, bila dia memberi orang lain hak miliknya, mungkin ganjaran Allah swt lebih besar daripada dia mempertahankan haknya salat di depan Kabah, tawaf, atau sai.

Sebagai orang Jepang, saat orang-orang mengantri sekitar 3 meter dari pintu WC, kami tak akan menggedor pintu, tak akan berteriak, tak akan klakson, tak akan memaksa, bahkan jika hak kami diambil pun, kami orang Jepang menyerahkannya kepada orang lain demi Tuhan. Ini bukan fiksi, ini fakta. Tautan artikel kunjungan ke Jepang adalah sebagai berikut.

Sebagai peziarah Tuhan, kita akan berkata, Ya, Tuhan, aku akan rida kapanpun engkau menjemput mautku. Apalagi bila makhluk-Mu berebut tempatku untuk menyembah-Mu, aku akan rida memberikan tempat itu untuknya. Demi dia mencapai ridomu dan aku pun mencapai ridomu. Bihaqi Muhammad wa aali Muhammad saw.

Leave a Reply