Home » Uncategorized » Hari-Hari Ziarah Haji (3)

Hari-Hari Ziarah Haji (3)

Mazhab-mazhab Islam dan Kesesatannya

Judul ini terlihat ekstrem karena acap demikianlah pemahaman picik penganutnya. Orang yang berada di luar mazhabnya dianggap sesat. Orang ini belum tahu mazhab lain lalu mazhab lain itu dianggapnya sesat.

Kali ini saya gembira ketika bertemu dengan sekurangnya lima muslim suni Iran. Saya melihat bendera di pita kalung mereka dan bertanya, “Aya shoma Inglisi sohbad mikonid? Inglisi baladid?” Kenanyakan orang Iran yang saya temui adalah orang syiah. Saya juga menyapa orang syiah ketika berziarah ke makam Khadijah, istri Nabi dan Jafar, paman Nabi. Namun kali ini kejutannya adalah saya menemui orang Iran mazhab Sunni Hanafi ketila hendak salat Jumat di masjidil Haram. Saya menemui mereka di pelataran tawaf tertutup. Mereka langsung mengatakan bahwa mereka Iran Sunni Hanafi. Bendera di pita kalung mereka adalah bendera Iran. Foto mereka adalah sebagai berikut.

Saya juga menemui seseorang dari Jawa Timur bersama orang Iran. Saya perkemalkan bahwa kepada orang Jawa Timur itu bahwa mereka orang Iran Sunni Hanafi. Dugaan saya, orang Jawa Timur ini cenderung ingin mengatakan bahwa syiah Iran sasat, menekan orang sunni, memaksa sunni menjadi syiah, membatasi masjid sunni, atau isu lainnya.

Sore harinya, saya juga mengunjungi pesantren NU di kawasan Mekah. Pada satu kesempatan saya berbincang-bincang dengan seorang santrinya. Kebetulan santri itu dari Sampang, Madura. Menurutnya kampung Tajul Muluk itu dekat dengan kampungnya. Saya tanyakan nasib Tajul Muluk. Ia kurang paham berita Tajul Muluk. Santri itu mengatakan bahwa syiah sesat dengan alasan mencaci sahabat, mencaci istri Nabi, Aisyah. Lalu ia menyinggung tentang akidah. Syiah pun banyak sekali mazhabnya.

Mesti dipahami bahwa Islam terdiri atas mazhab-mazhab. Yang patut disyukuri adalah semua menyembah Allah swt dan beriman kepada Muhammad Rasulullah saw. Semua mazhab Islam memuja Tuhan dan beriman kepada Rasulullah. Orang-orang berlomba menuju-Nya. Bahkan seorang muslim di Masjidil Haram memberikan tempat salat, tempat tawaf miliknya hanya agar sesama pemuja Tuhan lebih nyaman ibadahnya.

Di Indonesia pun organisasi HTI dilarang seperti konon di negeri lain. Namun, di kalangan penganutnya, paham HTI masih berkembang. Saya bertemu dengan mahasiswa S2 UPI yang ingin mencoba Indonesia menjadi kerajaan. Mungkin seperti kerajaan Saudi. Ada di antara dosen UPI, bahkan dosen PAI, yang beranggapan bahwa syariat Islam harus diterapkan melalui negara Islam. Hanya melalui negara Islam. Menurutnya itulah sunnah Nabi saw dan sunnah sahabat.

Menurut saya, berbeda pendapat tentang negara khilafah boleh saja. Ini juga berarti orang yang tidak suka sistem kerajaan Islam juga boleh berpemdapat. Orang yang berpendapat itu tidak boleh dikafirkan. Buktinya penganut HTI meski organisasinya dibubarkan, mereka masih hiduo dan kadang-kadang masih mencaci pemerintah sebagai pemerintah dzalim. Tidak hanya kepada pemerintah Jokowi, mereka sudah mentogutkan pemerintah SBY. Saya acap melawan pendapat mereka. Saya katakan saya tak suka sistem kerajaan. Mereka berbeda pendapat dengan saya.

Menurut Anda sistem kerajaan Saudi bagus untuk diterapkan di Indonesia? Bagaimana dengan kerajaan yang merampas hak orang lain, patutkah ditiru juga?


Leave a comment