Home » Artikel » Hari-Hari Ziarah Haji (5)

Hari-Hari Ziarah Haji (5)

Makan secara Teratur

Jemaah haji Indonesia diuntungkan dengan sejumlah fasilitas dari pemerintah. Jemaah diberi sekarung perlengkapan berisi obat-obatan, oralit, obat gosok untuk pegal-pegal, masker, semprotan, kaca mata hitam, payung, dan tas gendong tali. Sebagian lagi diberi secara bertahap.

Tentu fasilitas ini hasil kerja pemerintah mulai pemerintah pusat hingga pekerja lapangannya. Semua harus bekerja dengan rapi.

Makan untuk jemaah dijamin. Jemaah tidak perlu kerepotan mencari kebab turki atau roti india untuk makan sehari-hari. Mungkin warga tidak suka wisata kuliner ala Saudi dan perut Indonesianya tetap menuntut nasi dan goreng-gorengan.

Saya sebenarnya biasa mencicipi kebab, burger, martabak. Oleh karena itu saya ingin mencicipi masakan warga Saudi sebagai wisata kuliner. Saya juga melihat di internet dan mendapat info dari teman bahwa makanan utama orang Arab adalah roti, nan, tortila, dan semacamnya. Karena itu saya bersiap dari kemungkinan perbedaan selera masakan. Saya membeli dua jenis kebab pada dua kesempatan yang berbeda, sayangnya kebabnya kurang panas dibandingkan dengan yang dipanggang di Indonesia. Yang dipanggang matang adalah roti semacam martabak telur yang digoreng dengan minyak zaitun (?). Saya yakin itu bukan minyak kelapa atau minyak sawit. Saya sering mendengar bahwa masakan Arab berbeda cita rasanya dengan masakan Indonesia sehingga mungkin dikatakan hambar.

Karena mendapat nasi kotak dari pemerintah, jemaah haji tak perlu sering wisata kuliner, tak perlu wisata kuliner setiap hari.

Pemerintah menyediakan nasi kotak dua kali sehari. Nasi dan lauknya disimpan di atas wadah alumunium dan ditutup kertas plastik. Perusahaan penyedia makanannya adalah perusahaan Saudi yang cukup mengerti selera orang Indonesia. Nama perusahaannya tertera di label kertas tutup makan. Sekalipun menunya cukup enak, sebagian jemaah bosan dengan menunya: semur daging kambing atau sapi, ayam goreng, orak-arik telur, ikan. Tentu saja pemerintah tak bisa mengakomodasi keinginan setiap individu. Tentu pemerintah memilih menu yang menurut sebagian jemaah enak. Tetap saja jemaah bosan. Sebagian jemaah membawa abon, teri, tempe kering, kerupuk, sambal untuk memenuhi selera makannya.

Ada yang memberi saran agar pemerintah memberi menu sate madura, sayur kacang merah, pepes ikan, garang asem, soto, sop buntut, sop kaki, gule, ikan bumbu kecap, ikan cobek, sup ikan, dan makanan berkuah lainnya. Namun biasanya jemaah yang rata-rata berumur di atas 50 tahun menu serba daging mesti serba dikurangi.

Jemaah yang tahu keadaan makanan haji akan membawa berbagai macam sambal dalam bentuk saset. Hal ini untuk menjaga jemaah dari bosan dengan menu masakan yang kurang cocok di lidah.


Leave a comment