Home » Artikel » Hari-Hari Ziarah Haji (7)

Hari-Hari Ziarah Haji (7)

Cerita 4

A: Oom, kenapa kamu amalan fikinya, salat dan bacaannya beda denganku?

B: Mengapa harus sama? Apa kamu guruku?

Tamat

Pembahasan
Sebagian (atau kebanyakan?) orang Indonesia ingin orang lain sama fikih furunya. Padahal ia bukan guru, bukan mujtahid, bukan mufti.

Saya juga melihat beberapa kali orang India, Bangladesh, atau Pakistan (maaf) menyuruh orang lain, memperbaiki (gerakan) ibadah orang lain. Mungkin ia berpikir bahwa ia memurnikan agama, ia mensucikan agama. Padahal seorang marja pun tidak boleh bertindak memperbaiki orang yang bukan di bawah kuasanya.

Muslim beribadah sesuai Quran, hadis. Kita sebahai muslim merasa yakin bahwa fatwa ulama bersumber dari Quran dan hadis. Ulama dari MUI, ulama NU, ulama Muhammadiyah, dan lain-lain akan merujuk pada Quran dan hadis saat membuat fatwa.

Namun mengapa fatwa bisa berbeda-beda? Mengapa fatwa NU, Muhammadiyah, MUI berbeda-beda tentang suatu masalah? Mengapa tidak sama?

Itulah realitas ulama. Kenyataannya ulama tidak sepakat tentang suatu masalah. NU fatwanya A, Muhammadiyah fatwanya B, dan seterusnya.

Mungkinkah dipaksakan sama? Mungkin tetapi sulit. Buya Hamka ketika menjabat sebagai pimpinan MUI diminta fatwa oleh Presiden Soeharto tentang bolehnya mengucapkan srlamat natal. Setelah Buya Hamka pelajari, dikekuarkanlah fatwanya yaitu tidak boleh mengucapkan selamat natal. Konon Pak Harto mendesak agar dikeluarkan fatwa yang berbeda. Buya Hamka mengatakan bahwa sekali fatwa dikeluarkan, tak boleh dicabut lagi. Tekanan Pak Harto kepada MUI mendorong Buya Hamka mengundurkan diri dari MUI.

Mazhab-mazhab dalam Islam pun berbeda-beda fatwanya. Mereka pun tidak bisa diseragamkan.

Fatwa tidak seragam karena ulama tidak maksum. Seandainya ulama maksum, tentu hanya ada satu fatwa yang keluar. Umat tidak akan bingung dengan perbedaan fatwa. Siapakah yang maksum pada masa sekarang? Konon Imam Mahdi maksum. Kemaksuman ini tetiwayatkan dalam dalil nakli dan akli. Dalil naklinya yaitu hadis yang menyebutkan bahwa sifat Imam Mahdi seperti sifat Nabi Muhammad saw. Dalil aklinya juga bersumber dari hadis tentang perintah Nabi Muhammad saw agar umat taat kepada Imam Mahdi. Akal mengatakan bahwa perintah taat kepada orang yang tidak maksum bukanlah taat secara mutlak. Oleh karena perintah Nabi Muhammad tanpa kecuali, berarti perintahnya mutlak dan ketaatan manusia juga harus kepada sosok yang maksum.

Realitas ketaatan kita kepada fatwa ulama merupakan contoh ketaatan kita kepada orang yang tidak maksum. Tidak mutlak. Bukti dari ketidakmaksuman adalah fatwa para ulama yang berbeda-beda.

Umat pun tidak boleh menutup kemungkinan kebenaran dari fatwa ulama lain. Umat harus toleran pada perbedaan fatwa, misalnya fatwa tentang khilafah, demokrasi, nonmuslim menjadi gubernur, MLM, asuransi, salat, waktu puasa, dan sebagainya.


Leave a comment