Hari-Hari Ziarah Haji (21)

Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah berarti diam di Arafah. Padang Arafah sekarang sudah banyak tenda dan pohon. Sebagian batang pohon itu masih kecil seukuran ibu jari kaki, atau 3/4 pergelangan manusia. Sebagian lagi sudah besar, batangnya sebesar paha manusia sehingga cukup rindang untuk menyejukkan suasana Arafah. Konon pohon yang ditanam di Arafah adalah Pohon Imba dari Nusa Tenggara Barat atau Pohon Soekarno (?). Ada lagi pohon yang berbuah coklat sebesar seperempat kelereng yang disebut Pohon Suharto (?). Saya tidak memetik buahnya karena akan terkena dam (hukuman) memotong seekor domba. Tanahnya pun bukan lagi pasir, melainkan tanah yang diimpor dari Indonesia (?) sehingga bisa ditanami.

Saya melihat ada seseorang menabur tanah tepat di bawah pohon di Padang Arafah. Tanah itu dibawanya dari Indonesia. Katanya, tanah itu untuk menolong pohon Soekarno agar bisa tumbuh di sini. Menurut seorang teman, salah satu pelanggaran berat lalu lintas adalah menabrak pohon. Hukumannya berat. Jauh lebih berat daripada menabrak trotoar, tiang listrik, atau fasilitas publik lainnya. Katanya, hukumannya bisa lima tahun penjara. Orang itu juga mengaku menabur tanah Indonesia di taman kota Mekah yang berpohon.

Memang negeri Mekah adalah negeri batu. Gunung yang ada di sekitar Mekah adalah gunung batu. Di setiap penjuru warga melihat gunung batu. Itu bukan gunung tanah seperti di Indonesia. Gunung tanah biasanya menyimpan air. Lalu pohon pun bisa bertahan hidup meski tidak disirami dalam waktu beberapa bulan. Gunung batu di Mekah benar-benar tidak ada tumbuhan atau pohon di atasnya. Namun dugaan saya, kian hari Mekah kian hijau dengan pepohonan dan tumbuhan.

Menurut pembimbing, ibadah haji itu dari batu ke batu. Kabah adalah batu. Hijir Ismail adalah batu. Makom Ibrahim adalah batu. Bukit Safa dan Marwah juga batu. Padang Arafah juga batu. Jumrah juga melempar batu dengan batu. Namun kini Arafah lebih asri dengan pohon dan taman. Seorang teman sangat terkesan dengan taman yang sudah asri dan hijau. Rumputnya hijau, batang pohonnya sudah besar, nyaman untuk duduk karena sudah disediakan tempat duduk di sana.

Kami tiba di Arafah pada tanggal 8 Dzulhijah bada duhur. Tenda sangat panas. Katanya Arafah sudah dikapling-kapling. Bahkan sebagian kaplingnya ada yang asri dengan taman dan kursi plastik putih. Bila pepohonannya besar dan rindang, tempat itu nyaman diduduki siang atau sore hari. Namun bila pohon-pohon di sekitarnya masih kecil, tempat itu nyaman diduduki malam hari, misalnya selepas tahajud. Pekerjaan selingan untuk wukuf di Arafah adalah menyiram pohon. Di Arafah sudah ada pipa, keran, dan selang. Kami cuma merebut pekerjaan para petugas dalam menyiram pohon.

Pekerjaan utama di Arafah adalah beribadah, zikir, tafakur, berdoa, baca Quran, baca doa Arafah. Pekerjaan lain juga harus diniatkan ibadah seperti makan, bahkan buang air, dan bersuci.

Pekerjaan lain di Arafah adalah mengeksplorasi kawasan. Saya juga mengeksplorasi kawasan Arafah ini dari kemungkinan bertemu dengan bangsa-bangsa lain. Jemaah Indonesia ada sekitar 220 ribu orang dan saya tidak melihat bangsa lain. Hanya bus jemaah negara lain yang saya lihat. Kebetulan jemaah Iran barusan lewat. Namun tendanya entah di mana. Ada banyak pekerja negro di sini yang bekerja siang malam: mengatur keairan, listrik, tenda, kipas tenda, sampah, penyediaan es batu untuk mendinginkan jemaah, masak masakan katering Indonesia, dan sebagainya. Ada dapur umum di sini. Selain itu ada pula pekerja dari etnis Arab. Kelihatan juga ada bos pengelola kapling Arafah melihat-lihat “usaha pelayanan tahunannya”. Ia menyapa kami dengan asalamualaikum. Namun ia tidak menggunakan kain ihram seperti kami. Saya jawab waalaikumsalam, haji. Warga sekitar Mekah menjadi haji saat mereka menjadi remaja. Pemerintah Saudi juga menebar petugas keamanan semacam satpam, asgar, dan petugas lain.

Konon salah satu ujian terberat di Arafah adalah giliran penggunaan WC. Biasanya yang kebelet ingin buang air kecil atau besar yang menjadi masalah antrian. Apalagi ada jemaah yang gedor-gedor pintu meski orang baru buka celana di WC. Saya jadi ingat bagaimana tertibnya antrian WC di Jepang. Orang Jepang juga menghargai orang tua dan orang yang terburu-buru.

Kami tiba waktu bada duhur. Tenda seperti oven yang sangat panas. Orang di dalamnya seperti mandi sauna, berkeringat. Mungkin itu baik untuk membakar lemak tubuh. Kami makan siang dan salat jama duhur dan asar. Setelah itu saya berkeliaran di sekitar Arafah untuk mencari udara dingin sambil mencari bangsa lain untuk disapa. Kadang-kadang saya duduk berteduh di pinggir tenda, di bawah pohon, di dekat pipa yang sedang diperbaiki pekerja negro, pulang pergi ke WC untuk mengguyur kepala. Namun saya tidak melihat bangsa lain di sektor ini. Di Mekah saya mudah bertemu bangsa-bangsa lain.

Menurut kabar, jaringan telepon dan internet juga sulit di sini.

Malam ini turun hujan selama sekitar setengah atau satu jam. Begitu saya keluar, tanah tidak ada yang becek. Biasa saja seperti tak ada hujan sebelumnya. Lalu malam ini juga angin sangat kencang sehingga debu masuk ke tenda dan mengotori rambut dan pakaian kami. Anehnya, tidak ada bau keringat. Malam ini juga terjadi mati lampu di tenda kami dan mungkin sebagian tenda lain. Untung ada lampu emergensi sehingga keadaan tidak gelap gulita. Lampu gang atau lampu jalan pun masih menyala sehingga malam serasa di kota. Kami bermalam di sini pada untuk hari Arafah tanggal 9 Dzulhijah besok.

Esok hari adalah hari Arafah. Akan ada khutbah Arafah pada waktu duhur. Setelah itu kami akan dinaikkan ke bus bergiliran untuk menuju Muzdalifah dan Mina. Kami berangkat bergiliran untuk mencegah lalu lintas menjadi macet. Jutaan jemaah bergerak dari Mekah menuju Arafah, lalu Muzdalifah, lalu Mina.

Saat jumrah adalah saat yang kerap terjadi insiden. Jemaah Iran sekaligus jadi korban pada insiden pada tahun itu. Jemaah Iran menuntut pemerintah Saudi menyerahkan penyelenggaraan haji pada masyarakat internasional. Jemaah Iran pun menuntut agar CCTV dipublikasikan agar para haji tahu penyebab insiden haji tersebut. Menurut Iran, Saudi menyebar isu bahwa jemaah Iran tidak tertib yang menyebabkan jatuhnya korban jemaah haji. Iran menduga keras adanya keterlibatan pihak Saudi yang membuat jemaah hajinya syahid demi kepentingan AS dan Zionis. Mayat para korban jemaah haji Iran disambut denga duka cita upacara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Sayid Ali Khamenei. Silakan cek beritanya di sini.

Hari-Hari Ziarah Haji (20)

Sanitasi di Armeina, Musolifa, Mizuno

*Cerita fiktif ini didasari keyakinan bahwa walau dikemukakan fakta sulitnya Armeina, Musolifa, Mizuno, jihad, perang, … umat tidak akan kurang niatnya untuk beribadah dan menempuh keridoan Allah swt. Yang penting adalah kesiapan dalam beribadah. Terutama kesiapan mental dalam menghadapi kesulitannya, ujiannya, atau kesabarannya. Bagi pemerintah (Indonesia dan pemerintah kota setempat) mestinya tulisan ini menjadi patokan untuk menambah fasilitas kemudahan bagi jemaah.

Di Mizuno saya mengeluh demam. Keluhan ini mungkin hanya saya sendiri karena saya yang agak demam pasca nafar awal (melempar setan). Padahal akan ada tiga hari nafar setelah hari ini. Mestinya demam ini karena saya kurang minum. Saya kurang minum karena khawatir buang air kecil. Ngantri untuk ke kamar kecil terutama di Mizuno luar biasa padatnya. Antrian WC di Armeina dan Musolifa justru tidak terlalu panjang.

Menurut petugas, penyebab antian yang luar biasa itu adalah WC maktab kami dipakai oleh dua maktab sekaligus sehingga kepadatannya luar biasa tinggi. WC maktab 54 digunakan pula oleh warga maktab tetangga. Ketua kelompok memutuskan untuk mempercepat kepulangan dari kemah Mizuno ke hotel mengingat resiko jemaah jatuh sakit yang tinggi jika bertahan di Mizuno. Resiko sakit bisa terjadi karena warga kesulitan buang air besar dan buang air kecil.

Karena sakit, saya pun tidak mengeksplorasi wilayah Mizuno ini dan WC lainnya. Namun saat saya agak sembuh, saya mengeksplorasi kawasan sekitar yang dibatasi jalan raya. Ternyata penggunaan semua WC kawasan ini harus mengantri. Saya tidak sempat menyeberang ke kemah seberang jalan untuk melihat keadaan sanitasinya. Namun kawasan kami yang kurang lebih sekian ratus meter persegi semuanya padat dan harus mengantri untuk ke WC. Anehnya, di seberang jalan ada jemaah yang menjemur pakaian di pagar. Sempat-sempatnya mereka mencuci baju, padahal WC maktab ngantri. Mungkin mereka punya semacam keran taman yang digunakan untuk mencuci baju.

Pada kepadatan tertinggi, untuk buang air kecil antrian bisa sampai lima orang. Itu juga hanya lima karena sudah mentok ke dinding keran wudu. Antrian terpadat untuk mandi dan buang air besar adalah sampai sepuluh orang. Itu juga jalanan digunakan untuk mengantri dan antrian mentok dari pintu WC sampai dinding tenda. WC lelaki digunakan pula oleh perempuan yang notabene perempuan cenderung lama di kamar mandi karena harus merapikan jilbab. Tak mungkin perempuan yang mandi keluar WC tanpa merapikan jilbab.

Mungkin sebagian warga terganggu kebiasaan mandinya sejak pergi ke Mizuno. Itu disebabkan WC di Armeina, Musolifa, Mizuno adalah WC umum, bukan WC kamar hotel. Namun WC di Mizuno saat itu jauh lebih buruk daripada di Armeina. Rasio WC dengan warga juga terlalu besar. Rasio WC di Mizuno jauh lebih buruk daripada di Armeina. Biasanya jemaah menganggap kesulitan ini sebagai ujian. Tentu saja jika warga menyadarinya sebagai ujian, mereka harus lulus dari ujian itu dengan baik. Ujian kesabaran ada di mana-mana. Manusia hanya harus terbiasa dengan keadaan itu dan berusaha mencapai perubahan yang lebih baik.

Karena warga kesulitan buang air dan mandi, potensi sakit jadi meningkat seperti yang saya alami. Pola hidup di hotel berbeda dengan di kemah Armeina, Musolifa, Mizuno. Di Armeina dua hari, di Musolifah semalam, di Mizuno satu atau dua malam. Entah berapa orang dari warga jemaah kami yang tidak mandi beberapa hari. Namun hal ini tidak mengurangi keinginan warga untuk beribadah ke luar negeri untuk ke dua atau ke sekian kalinya.

Ada warga yang ingin afdal dengan wudu di keran air. Sementara warga lain memilih wudu dengan air botol mineral. Ada pula yang memilih wudu hanafiah, syiah, dan tayamum. Botol air mineral pun berserakan di WC buang air kecil lelaki karena ada kalanya pipa rusak dan tidak bisa digunakan. Warga bersuci dari hadas kecil dengan air botol mineral. Saya jadi teringat ringannya wudu untuk mazhab syiah karena cukup mengusap kepala dan kaki. Yang wajib dibasuh hanya muka dan tangan masing-masing dua kali. Sebagian warga mungkin tetap ingin berwudu di WC umum. Untuk berwudu di Mizuno, saya tak pernah lagi pergi ke WC. Saya langsung wudu dengan air botol mineral.

Ada warga yang menyarankan buang air kecil di kantong plastik atau di botol air mineral. Itu sangat merepotkan. Di mana seseorang bisa pipis ke dalam botol? Di jalan atau di tenda? Bagaimana perempuan bisa pipis di kantong plastik? Alhamdulillah, saya tidak melakukannya. Ketika antrian padat, saya pulang dulu ke tenda dan berharap antrian agak sepi. Saya beberapa kali melakukan itu.

Mestinya pelayanan WC di Mizuno ditambah dengan beberapa mobil WC di sepanjang jalan. Pemerintah bisa menambah enam atau tujuh mobil WC di jalan. Tentu penambahan ini akan sangat membantu jemaah. Lalu resiko sakit juga bisa ditekan. Bila pemerintah daerah tidak bisa menyediakan mobil WC, pemerintah pusat di Indonesia mestinya bisa menyediakan mobil WC itu.

Saya sebenarnya sudah agak baikan untuk nafar ula, wusto, akobah. Saya sudah merasa agak sehat. Namun warga melarang saya memaksakan diri untuk mencegah jatuh sakit yang lebih parah. Saya pun beristirahat dan mewakilkan (badal) nafar kepada warga lain.

Memang tanpa Armeina, Musolifa, Mizuno tidaklah sah jemaah beribadah. Di Armeina ada pepohonan dan taman meski tenda hanya dilengkapi kipas. Di Mizuno, tidak ada pepohonan. WC di Mizuno buruk meski tenda dilengkapi AC.

Kemah di Mizuno jauh lebih baik daripada di Armeina. Kemah di Mizuno mempunyai instalasi pendingin AC sehingga nyaman untuk siang hari yang panas. Instalasi AC membuat kemah Mizuno cenderung permanen. Jemaah menjadi nyaman sekalipun tidur di lantai. Kemah di Armeina cenderung bukan permanen. Pendingin di Armeina hanya kipas besar dengan semburan percikan air. Jemaah yang dekat tentu kena cipratan air namun jemaah yang jauh dari kipas tidak merasa dingin. Mereka tetap merasa semacam di dalam oven. Suhu di bawah pohon besar acap lebih nyaman daripada di tenda Armeina. Jadi kemah Mizuno jauh lebih baik daripada kemah di Armeina.

Namun WC di Mizuno jauh lebih buruk daripada WC di Armeina. Mungkin itu karena rasio WC dengan warga terlalu besar. Akibatnya, jemaah harus mengantri untuk masuk WC. Antiran hampir sepanjang hari dan malam. Antrian terpendek adalah jam tidur yaitu bada isya pukul 20.30. Dua jam setelah isya diperkirakan WC mulai sepi. Namun tetap saja ada antrian.

Menurut teman, Armeina, Musolifa, Mizuno hanya digunakan pada musim ibadah tahunan mulai 7 sampai 15 di bulan itu. Sisanya, sepanjang tahun kawasan itu sepi dan tidak dihuni manusia. Meski demikian, kepadatan saat musim ibadah tahunan di tempat itu sangatlah tinggi. Jutaan jemaah dari seluruh dunia tumplek di Armeina, Musolifa, Mizuno. Kepadatan seperti itu mesti diimbangi dengan banyaknya WC. Kalau perlu pemerintah menyediakan mobil WC. Bila pemerintah daerah tidak melakukan, pemerintah pusat Indonesia harus menyediakan mobil WC tersebut.

Di tenda ada kakek-kakek yang ingin pulang. Miungkin dia pikun atau gejala serangan panas (heat stroke). Seharusnya ia disuruh minum dam disemprot air mukanya. Ternyata ketika dia diajak ngobrol, bercanda, diajak berjual beli, ditawari asesoris jam dan belanjaan lainnya, dia bisa tertawa-tawa. Ia harus dimanusiakan dan diperlakukan sewajarnya. Keluarganya pun ada yang mendampingi sehingga orang tua itu mendapatkan kasih sayang, perawatan, dan pengawasan yang cukup.

Menuliskan paragraf di bawah ini adalah dilema bagi saya. Di satu sisi saya ingin menutupi keburukan manusia, di sisi lain saya harus memperbaiki perilaku buruk manusia yang sama sekali tidak Islami. Jepang jauh lebih bersih meski bukan orang Islam. Bali mungkin lebih bersih meski bukan komunitas Islam. Jepang juga sangat baik dalam sanitasi. Bagaimana mungkin khilafah imam zaman bisa terwujud bila perilaku jemaah saat beribadah buruk.

Di Mizuno perilaku buruk orang Indonesia terlihat. Ini berarti saya tidak pernah melihat tenda negara lain dan saya tidak melihat perilakunya. Saya melihat ada orang sikat gigi di atas tempat sampah, sikat gigi di jalanan, kencing di sudut tenda orang lain di dekat WC, meludah di sudut dalam tenda, meludah di depan pintu tenda, membuang botol siraman kencing di WC tempat kencing sehingga ratusan botol kosong tertimbun di sana, menjemur pakaian di pagar. Memang aneh juga ada yang sempat mencuci pakaian. Dugaan saya, maktab itu tidak terlalu mengantri atau ada keran pancuran khusus untuk mencuci baju.

Konon kemah Mizuno adalah tempat dekat kerajaan setan yang dilempar jumrah itu. Oleh karena itu wajar saja jika kebersihan warga parah. Warga sangat jorok dan tidak Islami sama sekali.

Namun di sela buruknya kebiasaan jemaah, ada pula perilaku baiknya. Ketika sedang mengantri, muncul seseorang dengan kursi roda. Ia memelas setengah memerintah untuk meminta didahulukan. Ia mengisyaratkan bahwa “kerannya sudah dol.” Warga berkata bahwa pintu manapun yang terbuka boleh ia masuki. Dia masuk begitu salah satu dari pintu WC itu terbuka. Jemaah memang cukup baik untuk masalah ini. Namun, konon warga Jepang jauh lebih baik.

Seorang teman tafakur, rasanya di Mizuno itu seperti ayam negeri di dalam kandang. Pemilik ayam memberi makan, ayam berkotek berebut makan. Lalu ayam tumbuh dan menunggu ditawar bandar dan siap dipotong. Oleh karena itu pemilik ayam tafakur bahwa jamaah Mizuno itu seperti ayam negeri di dalam kandangnya. Ternak ayamnya ditawar murah oleh bandar, lalu pemilik ternak ayam berkata bahwa dia kurang modal untuk pakan ayam.

Hari-Hari Ziarah Haji (19)

Cerita 3

*Cerita ini adalah cerita fiktif 2018. Tidak terkait dengan waktu dan tempat. Ini adalah ujian mental di dalam hati.

Bapak-bapak sedang mengantri di depan pintu WC. Jarak dari pintu ke antrian sekitar satu meter karena dibatasi tangga.

Tiba-tiba ada remaja negro menyalip semua antrian dan berdiri di depan pintu. Remaja negro itu bukan orang Indonesia. Namun WC ini ada di sekitar tenda orang-orang Indonesia. Mungkin dia lewat di tenda-tenda orang Ibdonesia karena ada urusan atau pekerjaan.

Bapak yang paling depan tentu saja tersinggung. Dengan isyarat ia menepuk remaja negro dan menyuruhnya antri di belakang. Ia mengisyaratkan bahwa yang lain juga banyak yang menunggu. Remaja negro tadi berbicara entah dengan bahasa apa dan memberi isyarat ke mukanya. Dari isyaratnya, kelihatannya dia mengaku hanya mau cuci muka. Ia bertanya relakah orang bila hanya mengizinkan dia cuci muka?

Rupanya orang Indonesia dikenal ramah atau dianggap remeh (?).

Pembaca silakan tebak akhir ceritanya.

Hari-Hari Ziarah Haji (18)

Cerita 2

*Cerita ini adalah cerita fiktif 2018. Tidak terkait dengan waktu dan tempat. Ini adalah ujian mental di dalam hati.

Ibu-ibu tengah mengantri di belakang WC. WC yang diantri ibu-ibu itu sudah termasuk WC lelaki. Sebagian WC lelaki sudah digunakan oleh ibu-ibu untuk hajat airnya.

Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu menor. Sedari jauh ia sudah tergesa-gesa. Begitu tiba di WC, ia langsung menyerobot di WC paling depan, tepat di depan pintu WC ia merebahkan badannya. Telungkup dan diam seribu bahasa. Sementara berbagai ungkapan protes ibu-ibu lain muncul dalam berbagai bentuk: bisikan, ejekan, ketawa, sinis, sindiran, cekikikan. Ibu menor tetap diam, telungkup di depan pintu WC.

Mental ibu-ibu protes sampai ke langit. Di sana, Allah swt pasti mendengar dan pasti mengabulkan. Allah swt pasti akan mengabulkan doa hamba-hambanya. Janji Allah swt pasti akan ditepati.

Namun ibu menor tadi tetap saja bagai batu telungkup di muka pintu. Sebagian ibu-ibu menduga bahwa ibu menor tadi kebelet.

“Kemarin juga dia menyerobot antrian seperti itu,” ucap seorang ibu kepada kawannya, “Masa setiap hari kebelet?”

“Mungkin dianggapnya kita tidak kebelet.”

Akhirnya WC terbuka dan ibu menor segera masuk ke dalam. Sementara orang masih ramai mengantri. Beberapa saat kemudian, Ibu Menor selesai dengan hajatnya. Pintu WC-nya terbuka dan ia melenggang-kangkung keluar dari WC dengan perasaan lega.

Ibu-ibu tak tahan lalu menyorakinya, “Aduhhh …. Ibu yang cantik sudah mandi ya?”

“Ibu yang manis, besok lagi juga tak usah mengantri ya?”

Ibu menor mengeloyor pulang.

Hari-Hari Ziarah Haji (17)

Cerita 1

*Cerita ini adalah cerita fiktif 2018. Tidak terkait dengan waktu dan tempat. Ini adalah ujian mental di dalam hati.

WC ini luar biasa antriannya. Perempuan yang memang biasanya lebih lama di WC, begitu melihat WC lelaki agak lowong, langsung mereka mengantri di WC laki-laki. Akibatnya, dari sekitar 15 WC lelaki, kini hanya tersisa 5 yang masih digunakan lelaki. Ada sekitar sepuluh orang mengantri di depan setiap pintu WC.

Antrian pun makin panjang.

Suatu saat, seorang lelaki tiba di WC. Melihat gelagatnya, ia juga ada urusan dengan WC dan ingin menggunakannya. Tatkala melihat antrian perempuan di depan WC lelaki, ia pun geleng-geleng kepala.

“Ibu-ibu, WC ini dengan tanda orang yang tidak ada baju roknya adalah WC untuk lelaki. WC itu dengan tanda orang yang ada baju roknya berarti WC perempuan. Itu berarti ibu-ibu salah mengantri, Bu. Ibu-ibu seharusnya mengantri di sana, bukan di sini.”

Senyap. Seolah hanya ada derik jangkrik yang berbunyi. Ibu-ibu tetap tidak bergeming dari tempatnya. Pasti bukan karena ibu-ibu itu tidak paham jeritan orang tadi atau tidak mendengar teriakan orang tadi.

“Ibu-ibu, kalau cuma masalah dunia saja ibu berani berbuat dosa, bagaimana jika ibu berurusan dengan masalah akhirat? Apa Ibu-ibu juga berani berbuat dosa? Silakan ibu-ibu mengantri di WC wanita yang disediakan!”

Tetap saja ibu-ibu tidak bergeming.

“Kalau Ibu-ibu tidak mau pindah, biar saja saya mengantri di belakang Ibu-ibu supaya Ibu-ibu tahu bahwa Ibu-ibu mengantri di WC lelaki.” Lalu orang itu mengantri di belakang antrian ibu-ibu dan mengajak beberapa lelaki lain untuk mengantri di sampingnya.

Beberapa saat berlalu. WC ibu-ibu masih tetap mengantri. Sementara WC lelaki sudah berkali-kali hilir mudik berganti giliran. Rupanya WC ibu-ibu lama antriannya.

“Ibu, coba dilihat, ibu siapa di dalam WC itu! Pasti dia sedang tidur di dalamnya.” Orang-orang saling pandang tetapi tak ada yang mengetuk atau menggedor pintu.

Akhirnya tanpa bersuara lelaki tadi pindah lagi ke barisan lelaki karena memang WC antrian lelaki jauh lebih cepat daripada antrian WC perempuan. Ibu-ibu di sekitarnya memandang lelaki tadi dengan sudut mata sambil menahan geli.

Rupanya WC ibu-ibu lama karena mereka buang air besar, mandi serta harus melepas dan merapikan jilbab. Keluar WC ibu-ibu sudah rapi berjilbab, dan WC-nya langsung dimasuki ibu-ibu lain. Lelaki tadi makin tidak sabar.

Catatan

Bila muslim merasa tertib dengan antrian seperti itu, antrian di Jepang jauh lebih tertib daripada itu dengan lebih menghormati orang tua, orang sakit, dan sebagainya. Antrian di Jepang jauh dari pintu WC. Pintu manapun yang terbuka, maka yang antri paling depan berhak masuk.