Home » Artikel » Hari-Hari Ziarah Haji (15)

Hari-Hari Ziarah Haji (15)

Ulama Tukang Maksa Fatwa

Ulama anu memberikan “fatwa” bahwa Islam nusantara salah dan pengikutnya kafir. Seorang kakak saya mengikuti fatwa ini. Konsekuensinya bila kakak saya membenarkan Islam nusantara dan mengikutinya maka ia kafir.

Ada ulama lain yang memberikan fatwa bahwa Islam nusantara itu benar dan mengikutinya tidak kafir. Fatwa ini membolehkan ikut atau tidak ikut Islam nusantara. Saya mengikuti fatwa ini. Konsekuensinya, bila saya mengikuti Islam nusantara, maka saya tidak kafir.

Perbedaan itu ada pada saya dan kakak saya karena mengikuti fatwa yang berbeda. Ulama tidak seharusnya memaksa. Umatlah (muqolid) yang mengikatkan diri dengan fatwa. Umat tidak ada urusan dengan umat lain yang mengikuti fatwa yang berbeda. Tentu akan aneh bila orang nonmuslim disuruh salat dan puasa. Anda ikut fatwa siapa?

Wahabi mengatakan bahwa ziarah kubur itu musyrik, kafir. Oleh karena itu pengikut Wahabi yang berziarah kubur akan menjadi musyrik, kafir. Wahabi juga menganggap doa tawasul kepada Rasulullah adalah musyrik, kafir. Oleh karena itu, pengikutnya yang melakukan doa tawasul berarti ia telah musyrik, kafir.

Mazhab lain, termasuk NU, Muhammadiyah (cq Haedar Nasir?) menganggap bahwa ziarah kubur dan tawasul boleh dilakukan. Orang yang melakukannya tidak berdosa, bahkan mungkin orang yang berziarah kubur dan berdoa tawasul akan mendapat pahala di sisi Allah swt.

Anda pilih yang mana? Anda ikut fatwa mana? Anda ikut fatwa siapa?

Masalahnya adalah ada orang yang memaksakan fatwa kepada orang lain. Contohnya rezim Wahabi memaksa kepada peziarah Rasulullah, keluarga Rasulullah (ahlul bait), sahabat, syuhada untuk tidak berziarah, berdoa. Mungkin rezim Wahabi merasa memiliki dua masjid suci (haramain) dengan begitu dia membuat aturan yang harus ditaati mazhab lain (?).

Di Indonesia, ada orang yang berfatwa bahwa Islam nusantara terlarang dan orang ini memaksakan orang lain mengikuti fatwanya. Padahal ulama tidak maksum. Bila ulama berbeda pendapat, ulama tidak boleh memaksakan pendapatnya kepada ulama lain (orang lain).

Rasulullah maksum, oleh karena itu segala ucapannya benar karena wala yantiqu anil hawa, in huwa illa wahyu yuha. Tidak ada ucapan Rasulullah yang berasal dari hawa nafsunya. Semua ucapan dan perbuatan Rasulullah itu adalah wahyu yang disampaikan Allah swt.

Di negeri anu, ada ulama yang berlagak maksum. Lalu ulama lain yang beda pendapat dengannya dihajar, dipaksa untuk ikut.

Wahai ulama tukang maksa fatwa, apa bukti bahwa kau maksum?


Leave a comment