Hari-Hari Ziarah Haji (16)

Kesigapan Pemerintah untuk Memenuhi Konsumsi Jemaah Haji

Pemerintah dinilai cukup sigap dalam memberi jemaah haji konsunsi. Hanya terhitung sekitar lima hari saja dari empat puluh hari yang tidak diberi konsumsi oleh pemerintah. Pada waktu lima hari itu, jemaah mesti sekedar wisata kuliner di sekitar Mekah. Sebagian jemaah lain masak sendiri untuk menghemat anggaran.

Jemaah dapat memilih jajan atau wisata kuliner. Makan di restoran Indonesia yang ada di Mekah atau Madinah sekali makan harganya tak kurang dari 11 real (sekitar 44 ribu rupiah), menu telur goreng, limun jeruk, bihun. Kebab, roti, nan, tortila, semacam martabak asin 1–5 real (4–20 ribu rupiah). Bubur kacang hijau 5 real. Bakso 10–15 real (40–60 ribu rupiah), nasi kebuli 15 real (60 ribu rupiah). Restoran itu menerima uang rupiah. Namun restoran merekomendasikan menggunakan real karena khawatir jemaah terkejut melihat mahalnya harga bila menggunakan rupiah.

Konsumsi untuk haji dari pemerintah selayaknya mempertimbangkan beberapa model penyediaan.

Ada beberapa model penyediaan makanan bagi para peziarah haji di antaranya model ziarah Karbala dan model ziarah haji. Pada model ziarah Karbala, warga menyelenggarakan prasmanan sepanjang jalan. Dari liputan perjalanan Karbala, peziarah mencicipi berbagai hidangan, kebab, nasi kebuli, minuman panas dan dingin, teh panas, susu, yoghurt, keju, kemah tempat istirahat dan tidur, plus hidangan pijit kaki bagi para peziarah, hingga menjahit baju atau tas jemaah, dan merekat sol sepatu peziarah yang rusak. Videonya bisa disaksikan di internet.

Pada model ziarah haji, di hotel Mekah jemaah haji tidak diberi prasmanan sebagaimana standar hotel. Seandainya jemaah diberi prasmanan, jemaah bisa memilih jenis menu, banyaknya, mau berapa kali. Saya terus terang bertanya mengapa jemaah haji tidak diberi prasmanan?

Teman berpendapat bahwa ada bahayanya orang Indonesia diberi prasmanan. orang Indonesia lazimnya (?) minta satu porsi namun cuma dicicipi dan tak akan dihabiskan. Acap kali cuma dimakan satu suap saja setelah itu jadi sampah. Jika seseorang diberi seporsi lontong sate, ia hanya mencicipi sekerat daging dan sekerat lontong. Sisanya termasuk saus sate akan disampahkan. Tetapi ia ingin mencicipi seluruh jenis makanan. Bila ada sepuluh jenis makanan, maka ia akan mencicipi sepulih jenis makanan itu. Jadi sepuluh piring itu hanya dicicipi satu sampai dua sendok saja. Jika ada kebab, ia juga akan ambil kebab. Tetapi kebab itu tidak akan dihabiskan melainkan hanya dicicipi satu dua gigit saja. Sisanya dibuang. Mengapa dibuang? Karena pengemis pun tak ada yang sudi menerima makanan sisa orang lain seperti itu.

Daripada jemaah membuang makanan mubazir, pemerintah sebaiknya memberi jemaah nasi kotak saja seperti sekarang.

Leave a Reply