Hari-Hari Ziarah Haji (17)

Cerita 1

*Cerita ini adalah cerita fiktif 2018. Tidak terkait dengan waktu dan tempat. Ini adalah ujian mental di dalam hati.

WC ini luar biasa antriannya. Perempuan yang memang biasanya lebih lama di WC, begitu melihat WC lelaki agak lowong, langsung mereka mengantri di WC laki-laki. Akibatnya, dari sekitar 15 WC lelaki, kini hanya tersisa 5 yang masih digunakan lelaki. Ada sekitar sepuluh orang mengantri di depan setiap pintu WC.

Antrian pun makin panjang.

Suatu saat, seorang lelaki tiba di WC. Melihat gelagatnya, ia juga ada urusan dengan WC dan ingin menggunakannya. Tatkala melihat antrian perempuan di depan WC lelaki, ia pun geleng-geleng kepala.

“Ibu-ibu, WC ini dengan tanda orang yang tidak ada baju roknya adalah WC untuk lelaki. WC itu dengan tanda orang yang ada baju roknya berarti WC perempuan. Itu berarti ibu-ibu salah mengantri, Bu. Ibu-ibu seharusnya mengantri di sana, bukan di sini.”

Senyap. Seolah hanya ada derik jangkrik yang berbunyi. Ibu-ibu tetap tidak bergeming dari tempatnya. Pasti bukan karena ibu-ibu itu tidak paham jeritan orang tadi atau tidak mendengar teriakan orang tadi.

“Ibu-ibu, kalau cuma masalah dunia saja ibu berani berbuat dosa, bagaimana jika ibu berurusan dengan masalah akhirat? Apa Ibu-ibu juga berani berbuat dosa? Silakan ibu-ibu mengantri di WC wanita yang disediakan!”

Tetap saja ibu-ibu tidak bergeming.

“Kalau Ibu-ibu tidak mau pindah, biar saja saya mengantri di belakang Ibu-ibu supaya Ibu-ibu tahu bahwa Ibu-ibu mengantri di WC lelaki.” Lalu orang itu mengantri di belakang antrian ibu-ibu dan mengajak beberapa lelaki lain untuk mengantri di sampingnya.

Beberapa saat berlalu. WC ibu-ibu masih tetap mengantri. Sementara WC lelaki sudah berkali-kali hilir mudik berganti giliran. Rupanya WC ibu-ibu lama antriannya.

“Ibu, coba dilihat, ibu siapa di dalam WC itu! Pasti dia sedang tidur di dalamnya.” Orang-orang saling pandang tetapi tak ada yang mengetuk atau menggedor pintu.

Akhirnya tanpa bersuara lelaki tadi pindah lagi ke barisan lelaki karena memang WC antrian lelaki jauh lebih cepat daripada antrian WC perempuan. Ibu-ibu di sekitarnya memandang lelaki tadi dengan sudut mata sambil menahan geli.

Rupanya WC ibu-ibu lama karena mereka buang air besar, mandi serta harus melepas dan merapikan jilbab. Keluar WC ibu-ibu sudah rapi berjilbab, dan WC-nya langsung dimasuki ibu-ibu lain. Lelaki tadi makin tidak sabar.

Catatan

Bila muslim merasa tertib dengan antrian seperti itu, antrian di Jepang jauh lebih tertib daripada itu dengan lebih menghormati orang tua, orang sakit, dan sebagainya. Antrian di Jepang jauh dari pintu WC. Pintu manapun yang terbuka, maka yang antri paling depan berhak masuk.

Leave a Reply