Hari-Hari Ziarah Haji (18)

Cerita 2

*Cerita ini adalah cerita fiktif 2018. Tidak terkait dengan waktu dan tempat. Ini adalah ujian mental di dalam hati.

Ibu-ibu tengah mengantri di belakang WC. WC yang diantri ibu-ibu itu sudah termasuk WC lelaki. Sebagian WC lelaki sudah digunakan oleh ibu-ibu untuk hajat airnya.

Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu menor. Sedari jauh ia sudah tergesa-gesa. Begitu tiba di WC, ia langsung menyerobot di WC paling depan, tepat di depan pintu WC ia merebahkan badannya. Telungkup dan diam seribu bahasa. Sementara berbagai ungkapan protes ibu-ibu lain muncul dalam berbagai bentuk: bisikan, ejekan, ketawa, sinis, sindiran, cekikikan. Ibu menor tetap diam, telungkup di depan pintu WC.

Mental ibu-ibu protes sampai ke langit. Di sana, Allah swt pasti mendengar dan pasti mengabulkan. Allah swt pasti akan mengabulkan doa hamba-hambanya. Janji Allah swt pasti akan ditepati.

Namun ibu menor tadi tetap saja bagai batu telungkup di muka pintu. Sebagian ibu-ibu menduga bahwa ibu menor tadi kebelet.

“Kemarin juga dia menyerobot antrian seperti itu,” ucap seorang ibu kepada kawannya, “Masa setiap hari kebelet?”

“Mungkin dianggapnya kita tidak kebelet.”

Akhirnya WC terbuka dan ibu menor segera masuk ke dalam. Sementara orang masih ramai mengantri. Beberapa saat kemudian, Ibu Menor selesai dengan hajatnya. Pintu WC-nya terbuka dan ia melenggang-kangkung keluar dari WC dengan perasaan lega.

Ibu-ibu tak tahan lalu menyorakinya, “Aduhhh …. Ibu yang cantik sudah mandi ya?”

“Ibu yang manis, besok lagi juga tak usah mengantri ya?”

Ibu menor mengeloyor pulang.

Leave a Reply