Hari-Hari Ziarah Haji (20)

Sanitasi di Armeina, Musolifa, Mizuno

*Cerita fiktif ini didasari keyakinan bahwa walau dikemukakan fakta sulitnya Armeina, Musolifa, Mizuno, jihad, perang, … umat tidak akan kurang niatnya untuk beribadah dan menempuh keridoan Allah swt. Yang penting adalah kesiapan dalam beribadah. Terutama kesiapan mental dalam menghadapi kesulitannya, ujiannya, atau kesabarannya. Bagi pemerintah (Indonesia dan pemerintah kota setempat) mestinya tulisan ini menjadi patokan untuk menambah fasilitas kemudahan bagi jemaah.

Di Mizuno saya mengeluh demam. Keluhan ini mungkin hanya saya sendiri karena saya yang agak demam pasca nafar awal (melempar setan). Padahal akan ada tiga hari nafar setelah hari ini. Mestinya demam ini karena saya kurang minum. Saya kurang minum karena khawatir buang air kecil. Ngantri untuk ke kamar kecil terutama di Mizuno luar biasa padatnya. Antrian WC di Armeina dan Musolifa justru tidak terlalu panjang.

Menurut petugas, penyebab antian yang luar biasa itu adalah WC maktab kami dipakai oleh dua maktab sekaligus sehingga kepadatannya luar biasa tinggi. WC maktab 54 digunakan pula oleh warga maktab tetangga. Ketua kelompok memutuskan untuk mempercepat kepulangan dari kemah Mizuno ke hotel mengingat resiko jemaah jatuh sakit yang tinggi jika bertahan di Mizuno. Resiko sakit bisa terjadi karena warga kesulitan buang air besar dan buang air kecil.

Karena sakit, saya pun tidak mengeksplorasi wilayah Mizuno ini dan WC lainnya. Namun saat saya agak sembuh, saya mengeksplorasi kawasan sekitar yang dibatasi jalan raya. Ternyata penggunaan semua WC kawasan ini harus mengantri. Saya tidak sempat menyeberang ke kemah seberang jalan untuk melihat keadaan sanitasinya. Namun kawasan kami yang kurang lebih sekian ratus meter persegi semuanya padat dan harus mengantri untuk ke WC. Anehnya, di seberang jalan ada jemaah yang menjemur pakaian di pagar. Sempat-sempatnya mereka mencuci baju, padahal WC maktab ngantri. Mungkin mereka punya semacam keran taman yang digunakan untuk mencuci baju.

Pada kepadatan tertinggi, untuk buang air kecil antrian bisa sampai lima orang. Itu juga hanya lima karena sudah mentok ke dinding keran wudu. Antrian terpadat untuk mandi dan buang air besar adalah sampai sepuluh orang. Itu juga jalanan digunakan untuk mengantri dan antrian mentok dari pintu WC sampai dinding tenda. WC lelaki digunakan pula oleh perempuan yang notabene perempuan cenderung lama di kamar mandi karena harus merapikan jilbab. Tak mungkin perempuan yang mandi keluar WC tanpa merapikan jilbab.

Mungkin sebagian warga terganggu kebiasaan mandinya sejak pergi ke Mizuno. Itu disebabkan WC di Armeina, Musolifa, Mizuno adalah WC umum, bukan WC kamar hotel. Namun WC di Mizuno saat itu jauh lebih buruk daripada di Armeina. Rasio WC dengan warga juga terlalu besar. Rasio WC di Mizuno jauh lebih buruk daripada di Armeina. Biasanya jemaah menganggap kesulitan ini sebagai ujian. Tentu saja jika warga menyadarinya sebagai ujian, mereka harus lulus dari ujian itu dengan baik. Ujian kesabaran ada di mana-mana. Manusia hanya harus terbiasa dengan keadaan itu dan berusaha mencapai perubahan yang lebih baik.

Karena warga kesulitan buang air dan mandi, potensi sakit jadi meningkat seperti yang saya alami. Pola hidup di hotel berbeda dengan di kemah Armeina, Musolifa, Mizuno. Di Armeina dua hari, di Musolifah semalam, di Mizuno satu atau dua malam. Entah berapa orang dari warga jemaah kami yang tidak mandi beberapa hari. Namun hal ini tidak mengurangi keinginan warga untuk beribadah ke luar negeri untuk ke dua atau ke sekian kalinya.

Ada warga yang ingin afdal dengan wudu di keran air. Sementara warga lain memilih wudu dengan air botol mineral. Ada pula yang memilih wudu hanafiah, syiah, dan tayamum. Botol air mineral pun berserakan di WC buang air kecil lelaki karena ada kalanya pipa rusak dan tidak bisa digunakan. Warga bersuci dari hadas kecil dengan air botol mineral. Saya jadi teringat ringannya wudu untuk mazhab syiah karena cukup mengusap kepala dan kaki. Yang wajib dibasuh hanya muka dan tangan masing-masing dua kali. Sebagian warga mungkin tetap ingin berwudu di WC umum. Untuk berwudu di Mizuno, saya tak pernah lagi pergi ke WC. Saya langsung wudu dengan air botol mineral.

Ada warga yang menyarankan buang air kecil di kantong plastik atau di botol air mineral. Itu sangat merepotkan. Di mana seseorang bisa pipis ke dalam botol? Di jalan atau di tenda? Bagaimana perempuan bisa pipis di kantong plastik? Alhamdulillah, saya tidak melakukannya. Ketika antrian padat, saya pulang dulu ke tenda dan berharap antrian agak sepi. Saya beberapa kali melakukan itu.

Mestinya pelayanan WC di Mizuno ditambah dengan beberapa mobil WC di sepanjang jalan. Pemerintah bisa menambah enam atau tujuh mobil WC di jalan. Tentu penambahan ini akan sangat membantu jemaah. Lalu resiko sakit juga bisa ditekan. Bila pemerintah daerah tidak bisa menyediakan mobil WC, pemerintah pusat di Indonesia mestinya bisa menyediakan mobil WC itu.

Saya sebenarnya sudah agak baikan untuk nafar ula, wusto, akobah. Saya sudah merasa agak sehat. Namun warga melarang saya memaksakan diri untuk mencegah jatuh sakit yang lebih parah. Saya pun beristirahat dan mewakilkan (badal) nafar kepada warga lain.

Memang tanpa Armeina, Musolifa, Mizuno tidaklah sah jemaah beribadah. Di Armeina ada pepohonan dan taman meski tenda hanya dilengkapi kipas. Di Mizuno, tidak ada pepohonan. WC di Mizuno buruk meski tenda dilengkapi AC.

Kemah di Mizuno jauh lebih baik daripada di Armeina. Kemah di Mizuno mempunyai instalasi pendingin AC sehingga nyaman untuk siang hari yang panas. Instalasi AC membuat kemah Mizuno cenderung permanen. Jemaah menjadi nyaman sekalipun tidur di lantai. Kemah di Armeina cenderung bukan permanen. Pendingin di Armeina hanya kipas besar dengan semburan percikan air. Jemaah yang dekat tentu kena cipratan air namun jemaah yang jauh dari kipas tidak merasa dingin. Mereka tetap merasa semacam di dalam oven. Suhu di bawah pohon besar acap lebih nyaman daripada di tenda Armeina. Jadi kemah Mizuno jauh lebih baik daripada kemah di Armeina.

Namun WC di Mizuno jauh lebih buruk daripada WC di Armeina. Mungkin itu karena rasio WC dengan warga terlalu besar. Akibatnya, jemaah harus mengantri untuk masuk WC. Antiran hampir sepanjang hari dan malam. Antrian terpendek adalah jam tidur yaitu bada isya pukul 20.30. Dua jam setelah isya diperkirakan WC mulai sepi. Namun tetap saja ada antrian.

Menurut teman, Armeina, Musolifa, Mizuno hanya digunakan pada musim ibadah tahunan mulai 7 sampai 15 di bulan itu. Sisanya, sepanjang tahun kawasan itu sepi dan tidak dihuni manusia. Meski demikian, kepadatan saat musim ibadah tahunan di tempat itu sangatlah tinggi. Jutaan jemaah dari seluruh dunia tumplek di Armeina, Musolifa, Mizuno. Kepadatan seperti itu mesti diimbangi dengan banyaknya WC. Kalau perlu pemerintah menyediakan mobil WC. Bila pemerintah daerah tidak melakukan, pemerintah pusat Indonesia harus menyediakan mobil WC tersebut.

Di tenda ada kakek-kakek yang ingin pulang. Miungkin dia pikun atau gejala serangan panas (heat stroke). Seharusnya ia disuruh minum dam disemprot air mukanya. Ternyata ketika dia diajak ngobrol, bercanda, diajak berjual beli, ditawari asesoris jam dan belanjaan lainnya, dia bisa tertawa-tawa. Ia harus dimanusiakan dan diperlakukan sewajarnya. Keluarganya pun ada yang mendampingi sehingga orang tua itu mendapatkan kasih sayang, perawatan, dan pengawasan yang cukup.

Menuliskan paragraf di bawah ini adalah dilema bagi saya. Di satu sisi saya ingin menutupi keburukan manusia, di sisi lain saya harus memperbaiki perilaku buruk manusia yang sama sekali tidak Islami. Jepang jauh lebih bersih meski bukan orang Islam. Bali mungkin lebih bersih meski bukan komunitas Islam. Jepang juga sangat baik dalam sanitasi. Bagaimana mungkin khilafah imam zaman bisa terwujud bila perilaku jemaah saat beribadah buruk.

Di Mizuno perilaku buruk orang Indonesia terlihat. Ini berarti saya tidak pernah melihat tenda negara lain dan saya tidak melihat perilakunya. Saya melihat ada orang sikat gigi di atas tempat sampah, sikat gigi di jalanan, kencing di sudut tenda orang lain di dekat WC, meludah di sudut dalam tenda, meludah di depan pintu tenda, membuang botol siraman kencing di WC tempat kencing sehingga ratusan botol kosong tertimbun di sana, menjemur pakaian di pagar. Memang aneh juga ada yang sempat mencuci pakaian. Dugaan saya, maktab itu tidak terlalu mengantri atau ada keran pancuran khusus untuk mencuci baju.

Konon kemah Mizuno adalah tempat dekat kerajaan setan yang dilempar jumrah itu. Oleh karena itu wajar saja jika kebersihan warga parah. Warga sangat jorok dan tidak Islami sama sekali.

Namun di sela buruknya kebiasaan jemaah, ada pula perilaku baiknya. Ketika sedang mengantri, muncul seseorang dengan kursi roda. Ia memelas setengah memerintah untuk meminta didahulukan. Ia mengisyaratkan bahwa “kerannya sudah dol.” Warga berkata bahwa pintu manapun yang terbuka boleh ia masuki. Dia masuk begitu salah satu dari pintu WC itu terbuka. Jemaah memang cukup baik untuk masalah ini. Namun, konon warga Jepang jauh lebih baik.

Seorang teman tafakur, rasanya di Mizuno itu seperti ayam negeri di dalam kandang. Pemilik ayam memberi makan, ayam berkotek berebut makan. Lalu ayam tumbuh dan menunggu ditawar bandar dan siap dipotong. Oleh karena itu pemilik ayam tafakur bahwa jamaah Mizuno itu seperti ayam negeri di dalam kandangnya. Ternak ayamnya ditawar murah oleh bandar, lalu pemilik ternak ayam berkata bahwa dia kurang modal untuk pakan ayam.

Leave a Reply