Home » Artikel » Hari-Hari Ziarah Haji (21)

Hari-Hari Ziarah Haji (21)

Wukuf di Arafah

Wukuf di Arafah berarti diam di Arafah. Padang Arafah sekarang sudah banyak tenda dan pohon. Sebagian batang pohon itu masih kecil seukuran ibu jari kaki, atau 3/4 pergelangan manusia. Sebagian lagi sudah besar, batangnya sebesar paha manusia sehingga cukup rindang untuk menyejukkan suasana Arafah. Konon pohon yang ditanam di Arafah adalah Pohon Imba dari Nusa Tenggara Barat atau Pohon Soekarno (?). Ada lagi pohon yang berbuah coklat sebesar seperempat kelereng yang disebut Pohon Suharto (?). Saya tidak memetik buahnya karena akan terkena dam (hukuman) memotong seekor domba. Tanahnya pun bukan lagi pasir, melainkan tanah yang diimpor dari Indonesia (?) sehingga bisa ditanami.

Saya melihat ada seseorang menabur tanah tepat di bawah pohon di Padang Arafah. Tanah itu dibawanya dari Indonesia. Katanya, tanah itu untuk menolong pohon Soekarno agar bisa tumbuh di sini. Menurut seorang teman, salah satu pelanggaran berat lalu lintas adalah menabrak pohon. Hukumannya berat. Jauh lebih berat daripada menabrak trotoar, tiang listrik, atau fasilitas publik lainnya. Katanya, hukumannya bisa lima tahun penjara. Orang itu juga mengaku menabur tanah Indonesia di taman kota Mekah yang berpohon.

Memang negeri Mekah adalah negeri batu. Gunung yang ada di sekitar Mekah adalah gunung batu. Di setiap penjuru warga melihat gunung batu. Itu bukan gunung tanah seperti di Indonesia. Gunung tanah biasanya menyimpan air. Lalu pohon pun bisa bertahan hidup meski tidak disirami dalam waktu beberapa bulan. Gunung batu di Mekah benar-benar tidak ada tumbuhan atau pohon di atasnya. Namun dugaan saya, kian hari Mekah kian hijau dengan pepohonan dan tumbuhan.

Menurut pembimbing, ibadah haji itu dari batu ke batu. Kabah adalah batu. Hijir Ismail adalah batu. Makom Ibrahim adalah batu. Bukit Safa dan Marwah juga batu. Padang Arafah juga batu. Jumrah juga melempar batu dengan batu. Namun kini Arafah lebih asri dengan pohon dan taman. Seorang teman sangat terkesan dengan taman yang sudah asri dan hijau. Rumputnya hijau, batang pohonnya sudah besar, nyaman untuk duduk karena sudah disediakan tempat duduk di sana.

Kami tiba di Arafah pada tanggal 8 Dzulhijah bada duhur. Tenda sangat panas. Katanya Arafah sudah dikapling-kapling. Bahkan sebagian kaplingnya ada yang asri dengan taman dan kursi plastik putih. Bila pepohonannya besar dan rindang, tempat itu nyaman diduduki siang atau sore hari. Namun bila pohon-pohon di sekitarnya masih kecil, tempat itu nyaman diduduki malam hari, misalnya selepas tahajud. Pekerjaan selingan untuk wukuf di Arafah adalah menyiram pohon. Di Arafah sudah ada pipa, keran, dan selang. Kami cuma merebut pekerjaan para petugas dalam menyiram pohon.

Pekerjaan utama di Arafah adalah beribadah, zikir, tafakur, berdoa, baca Quran, baca doa Arafah. Pekerjaan lain juga harus diniatkan ibadah seperti makan, bahkan buang air, dan bersuci.

Pekerjaan lain di Arafah adalah mengeksplorasi kawasan. Saya juga mengeksplorasi kawasan Arafah ini dari kemungkinan bertemu dengan bangsa-bangsa lain. Jemaah Indonesia ada sekitar 220 ribu orang dan saya tidak melihat bangsa lain. Hanya bus jemaah negara lain yang saya lihat. Kebetulan jemaah Iran barusan lewat. Namun tendanya entah di mana. Ada banyak pekerja negro di sini yang bekerja siang malam: mengatur keairan, listrik, tenda, kipas tenda, sampah, penyediaan es batu untuk mendinginkan jemaah, masak masakan katering Indonesia, dan sebagainya. Ada dapur umum di sini. Selain itu ada pula pekerja dari etnis Arab. Kelihatan juga ada bos pengelola kapling Arafah melihat-lihat “usaha pelayanan tahunannya”. Ia menyapa kami dengan asalamualaikum. Namun ia tidak menggunakan kain ihram seperti kami. Saya jawab waalaikumsalam, haji. Warga sekitar Mekah menjadi haji saat mereka menjadi remaja. Pemerintah Saudi juga menebar petugas keamanan semacam satpam, asgar, dan petugas lain.

Konon salah satu ujian terberat di Arafah adalah giliran penggunaan WC. Biasanya yang kebelet ingin buang air kecil atau besar yang menjadi masalah antrian. Apalagi ada jemaah yang gedor-gedor pintu meski orang baru buka celana di WC. Saya jadi ingat bagaimana tertibnya antrian WC di Jepang. Orang Jepang juga menghargai orang tua dan orang yang terburu-buru.

Kami tiba waktu bada duhur. Tenda seperti oven yang sangat panas. Orang di dalamnya seperti mandi sauna, berkeringat. Mungkin itu baik untuk membakar lemak tubuh. Kami makan siang dan salat jama duhur dan asar. Setelah itu saya berkeliaran di sekitar Arafah untuk mencari udara dingin sambil mencari bangsa lain untuk disapa. Kadang-kadang saya duduk berteduh di pinggir tenda, di bawah pohon, di dekat pipa yang sedang diperbaiki pekerja negro, pulang pergi ke WC untuk mengguyur kepala. Namun saya tidak melihat bangsa lain di sektor ini. Di Mekah saya mudah bertemu bangsa-bangsa lain.

Menurut kabar, jaringan telepon dan internet juga sulit di sini.

Malam ini turun hujan selama sekitar setengah atau satu jam. Begitu saya keluar, tanah tidak ada yang becek. Biasa saja seperti tak ada hujan sebelumnya. Lalu malam ini juga angin sangat kencang sehingga debu masuk ke tenda dan mengotori rambut dan pakaian kami. Anehnya, tidak ada bau keringat. Malam ini juga terjadi mati lampu di tenda kami dan mungkin sebagian tenda lain. Untung ada lampu emergensi sehingga keadaan tidak gelap gulita. Lampu gang atau lampu jalan pun masih menyala sehingga malam serasa di kota. Kami bermalam di sini pada untuk hari Arafah tanggal 9 Dzulhijah besok.

Esok hari adalah hari Arafah. Akan ada khutbah Arafah pada waktu duhur. Setelah itu kami akan dinaikkan ke bus bergiliran untuk menuju Muzdalifah dan Mina. Kami berangkat bergiliran untuk mencegah lalu lintas menjadi macet. Jutaan jemaah bergerak dari Mekah menuju Arafah, lalu Muzdalifah, lalu Mina.

Saat jumrah adalah saat yang kerap terjadi insiden. Jemaah Iran sekaligus jadi korban pada insiden pada tahun itu. Jemaah Iran menuntut pemerintah Saudi menyerahkan penyelenggaraan haji pada masyarakat internasional. Jemaah Iran pun menuntut agar CCTV dipublikasikan agar para haji tahu penyebab insiden haji tersebut. Menurut Iran, Saudi menyebar isu bahwa jemaah Iran tidak tertib yang menyebabkan jatuhnya korban jemaah haji. Iran menduga keras adanya keterlibatan pihak Saudi yang membuat jemaah hajinya syahid demi kepentingan AS dan Zionis. Mayat para korban jemaah haji Iran disambut denga duka cita upacara kenegaraan yang dipimpin langsung oleh Sayid Ali Khamenei. Silakan cek beritanya di sini.


Leave a comment