Home » 2018 » September (Page 2)

Monthly Archives: September 2018

Hari-Hari Ziarah Haji (16)

Kesigapan Pemerintah untuk Memenuhi Konsumsi Jemaah Haji

Pemerintah dinilai cukup sigap dalam memberi jemaah haji konsunsi. Hanya terhitung sekitar lima hari saja dari empat puluh hari yang tidak diberi konsumsi oleh pemerintah. Pada waktu lima hari itu, jemaah mesti sekedar wisata kuliner di sekitar Mekah. Sebagian jemaah lain masak sendiri untuk menghemat anggaran.

Jemaah dapat memilih jajan atau wisata kuliner. Makan di restoran Indonesia yang ada di Mekah atau Madinah sekali makan harganya tak kurang dari 11 real (sekitar 44 ribu rupiah), menu telur goreng, limun jeruk, bihun. Kebab, roti, nan, tortila, semacam martabak asin 1–5 real (4–20 ribu rupiah). Bubur kacang hijau 5 real. Bakso 10–15 real (40–60 ribu rupiah), nasi kebuli 15 real (60 ribu rupiah). Restoran itu menerima uang rupiah. Namun restoran merekomendasikan menggunakan real karena khawatir jemaah terkejut melihat mahalnya harga bila menggunakan rupiah.

Konsumsi untuk haji dari pemerintah selayaknya mempertimbangkan beberapa model penyediaan.

Ada beberapa model penyediaan makanan bagi para peziarah haji di antaranya model ziarah Karbala dan model ziarah haji. Pada model ziarah Karbala, warga menyelenggarakan prasmanan sepanjang jalan. Dari liputan perjalanan Karbala, peziarah mencicipi berbagai hidangan, kebab, nasi kebuli, minuman panas dan dingin, teh panas, susu, yoghurt, keju, kemah tempat istirahat dan tidur, plus hidangan pijit kaki bagi para peziarah, hingga menjahit baju atau tas jemaah, dan merekat sol sepatu peziarah yang rusak. Videonya bisa disaksikan di internet.

Pada model ziarah haji, di hotel Mekah jemaah haji tidak diberi prasmanan sebagaimana standar hotel. Seandainya jemaah diberi prasmanan, jemaah bisa memilih jenis menu, banyaknya, mau berapa kali. Saya terus terang bertanya mengapa jemaah haji tidak diberi prasmanan?

Teman berpendapat bahwa ada bahayanya orang Indonesia diberi prasmanan. orang Indonesia lazimnya (?) minta satu porsi namun cuma dicicipi dan tak akan dihabiskan. Acap kali cuma dimakan satu suap saja setelah itu jadi sampah. Jika seseorang diberi seporsi lontong sate, ia hanya mencicipi sekerat daging dan sekerat lontong. Sisanya termasuk saus sate akan disampahkan. Tetapi ia ingin mencicipi seluruh jenis makanan. Bila ada sepuluh jenis makanan, maka ia akan mencicipi sepulih jenis makanan itu. Jadi sepuluh piring itu hanya dicicipi satu sampai dua sendok saja. Jika ada kebab, ia juga akan ambil kebab. Tetapi kebab itu tidak akan dihabiskan melainkan hanya dicicipi satu dua gigit saja. Sisanya dibuang. Mengapa dibuang? Karena pengemis pun tak ada yang sudi menerima makanan sisa orang lain seperti itu.

Daripada jemaah membuang makanan mubazir, pemerintah sebaiknya memberi jemaah nasi kotak saja seperti sekarang.

Hari-Hari Ziarah Haji (15)

Ulama Tukang Maksa Fatwa

Ulama anu memberikan “fatwa” bahwa Islam nusantara salah dan pengikutnya kafir. Seorang kakak saya mengikuti fatwa ini. Konsekuensinya bila kakak saya membenarkan Islam nusantara dan mengikutinya maka ia kafir.

Ada ulama lain yang memberikan fatwa bahwa Islam nusantara itu benar dan mengikutinya tidak kafir. Fatwa ini membolehkan ikut atau tidak ikut Islam nusantara. Saya mengikuti fatwa ini. Konsekuensinya, bila saya mengikuti Islam nusantara, maka saya tidak kafir.

Perbedaan itu ada pada saya dan kakak saya karena mengikuti fatwa yang berbeda. Ulama tidak seharusnya memaksa. Umatlah (muqolid) yang mengikatkan diri dengan fatwa. Umat tidak ada urusan dengan umat lain yang mengikuti fatwa yang berbeda. Tentu akan aneh bila orang nonmuslim disuruh salat dan puasa. Anda ikut fatwa siapa?

Wahabi mengatakan bahwa ziarah kubur itu musyrik, kafir. Oleh karena itu pengikut Wahabi yang berziarah kubur akan menjadi musyrik, kafir. Wahabi juga menganggap doa tawasul kepada Rasulullah adalah musyrik, kafir. Oleh karena itu, pengikutnya yang melakukan doa tawasul berarti ia telah musyrik, kafir.

Mazhab lain, termasuk NU, Muhammadiyah (cq Haedar Nasir?) menganggap bahwa ziarah kubur dan tawasul boleh dilakukan. Orang yang melakukannya tidak berdosa, bahkan mungkin orang yang berziarah kubur dan berdoa tawasul akan mendapat pahala di sisi Allah swt.

Anda pilih yang mana? Anda ikut fatwa mana? Anda ikut fatwa siapa?

Masalahnya adalah ada orang yang memaksakan fatwa kepada orang lain. Contohnya rezim Wahabi memaksa kepada peziarah Rasulullah, keluarga Rasulullah (ahlul bait), sahabat, syuhada untuk tidak berziarah, berdoa. Mungkin rezim Wahabi merasa memiliki dua masjid suci (haramain) dengan begitu dia membuat aturan yang harus ditaati mazhab lain (?).

Di Indonesia, ada orang yang berfatwa bahwa Islam nusantara terlarang dan orang ini memaksakan orang lain mengikuti fatwanya. Padahal ulama tidak maksum. Bila ulama berbeda pendapat, ulama tidak boleh memaksakan pendapatnya kepada ulama lain (orang lain).

Rasulullah maksum, oleh karena itu segala ucapannya benar karena wala yantiqu anil hawa, in huwa illa wahyu yuha. Tidak ada ucapan Rasulullah yang berasal dari hawa nafsunya. Semua ucapan dan perbuatan Rasulullah itu adalah wahyu yang disampaikan Allah swt.

Di negeri anu, ada ulama yang berlagak maksum. Lalu ulama lain yang beda pendapat dengannya dihajar, dipaksa untuk ikut.

Wahai ulama tukang maksa fatwa, apa bukti bahwa kau maksum?

Hari-Hari Ziarah Haji (14)

Mazhab Intoleran dan Imam Mahdi

Sekitar 15 tahun terakhir, diperkirakan di Indonesia muncul mazhab (?) intoleran. Masa itu adalah masa peralihan antara Presiden Mega menjadi Presiden SBY. Mungkin bibit intoleran itu sudah ada sebelum itu. Contoh simpel dari intoleran ini adalah keyakinan tentang khilafah atau kerajaan Islam. Saya cukup terkejut melihat perkembangannya. Saya juga terkejut melihat rasio (akal) manusia yang terlepas dari tempatnya karena mengikuti kelompok ini.

Saya mempunyai banyak pengalaman dengan kelompok (mazhab?) intoleran ini. Contohnya pelarangan demokrasi (pemilu), pemaksaan sistem khilafah, pemaksaan sistem ahl hali wal aqdi (senacam MPR), pelarangan ziarah kubur, pelarangan asuransi, pelarangan menghormat simbol negara (presiden, bendera, Garuda Pancasila, undang-undang), perbedaan pandangan tentang akidah (usuludin) dan fikih (furu udin), pemaksaan pemilihan calon tertentu berdasar klaim agama, dan sebagainya.

Ada suatu mazhab (katakanlah mazhab) yang meyakini Islam hanya satu, tidak boleh ada mazhab, ulama selayaknya tak boleh berbeda pandangan, ulama juga bahkan semacam tak boleh berbeda orientasi politik. Ulama mereka tidak boleh memilih Ahok. Ulama lainnya menyatakan boleh memilih Ahok. Boleh di sini tentu bukan berarti harus memilih Ahok. Kini ada ulama yang terang-terangan membawa agama untuk menjatuhkan Presiden Jokowi lalu seolah menutup potensi orang boleh memilih atau mencoblos Presiden Jokowi.

Sebagai catatan, banyak fitnah ditujukan kepada Presiden Jokowi. Contoh fitnah itu di antaranya fitnah Cina, fitnah nonmuslim, fitnah konunis, fitnah syiah, fitnah mengkriminalisasi ulama. Padahal yang mengkriminalisasi itu bukan presiden, melainkan dua alat bukti yang digunakan institusi untuk menjadikannya tersangka pidana. Namun orang menyalahkan semata Presiden Jokowi sebagai dalang kriminalisasi.

Sekarang orang berani berkata di mimbar tentang orientasi politik yang menutup potensi perbedaan orientasi politik. Orang memang menyalahkan orang lain seperti fatwa kelompoknya adalah dari maksumin yang tak mungkin salah dan fatwa kelompok yang berbeda pasti salah. Kelompok ini juga meyakini bahwa khilafah dan kerajaan mesti benar dan harus dicobakan di Indonesia.

Saya katakan, Saudi juga mengklaim dua tanah haram sebagai miliknya, lalu klan (suku) Saudi ini juga menentukan siapa pejabat penting yang duduk di atas suatu posisi, klan ini juga mengklaim sumber daya alam sebagai miliknya, juga kritik terhadap klan ini dilarang. Apakah seperti ini khilafah yang ingin berdiri di Indonesia? Akankah bisa kita bayangkan raja Jawa yang menjadi rajanya? Raja Cirebon, raja Bugis, atau raja lainnya menjadi khalifah? Lalu raja dengan sesuka hatinya membagikan jabatan kepada kerabat dan kroninya? Lalu sumber daya alam dieksploitasi oleh keluarga raja ini? Lalu kritik terhadap raja terlarang?

Sistem seperti ini terjadi di Saudi, Thailand. Di Thailand juga kritik terhadap raja terlarang. Raja Thailand adalah penguasa tanah Thailand. Apakah Indonesia akan meninggalkan sistem demokrasi dan berubah (mundur) menjadi kerajaan? Perubahan dari demokrasi menjadi khilafah atau kerajaan adalah suatu kemunduran.

Saya tanyakan kepada kelompok ini, bagaimana cara khalifah dipilih? Apakah seperti pemilihan Abu Bakar? Penunjukan Umar? Perwakilan dalam pemilihan Utsman? Atau baiat beramai-ramai kepada Ali? Ataukah mengangkat diri sendiri seperti Albagdadi (ISIS) dan menyuruh orang lain baiat kepadanya? Apakah semacam ini?

Mereka mengatakan pemilihan khalifah dilakukan oleh ahl hali wal aqdi, yaitu semacam lembaga MPR. Saya katakan, itu adalah sistem demokrasi yaitu pemilihan perwakilan (bukan pemilihan langsung).

Bagaimana jika khalifah dianggap lalim? Khalifah mungkin lalim karena khalifah tidak maksum. Mungkinkah kita menahan diri untuk tidak mengkritiknya? Mungkinkah kita tidak menahan diri untuk menuntut kejatuhannya seperti orang intoleran mengharap kejatuhan Presiden Jokowi? Ini saya katakan intoleran karena kritik kepada Presiden Jokowi acap tidak berdasar. Setidaknya menurut sebagian orang, Prestasi Presiden Jokowi jauh lebih banyak daripada kekurangan Presiden Jokowi.

Saya lebih suka sistem demokrasi langsung (bukan perwakilan). Pada demokrasi seperti ini calon eksekutif (bupati, walikota, gubernur, presiden) bertemu dengan rakyat untuk meminta (mengemis?) dukungan. Calon legislatif (anggota DPRD kabupaten, kota, propinsi, DPR) juga bertemu dengan rakyat untuk meminta dukungan. Seandainya undang-undang yang berlaku adalah demokrasi perwakilan, tentu calon eksekutif dan calon legislatif tidak akan blusukan mencari dukungan rakyat, mereka akan cuma blusukan kepada perwakilan atau segelintir orang saja.

Meskipun saya tidak setuju dengan sistem kerajaan atau khilafah, saya juga mempunyai kekecualian. Kerajaan dengan pemimpin seorang yang maksum pasti akan menemui keadilan. Kerajaan itu juga akan muncul di akhir zaman. Kerajaan itu akan dipimpin oleh Imam Mahdi yang maksum dan mengatur segala urusan.

Ketika Imam Mahdi mengklaim sebagai khalifah Rasulullah min aali Muhammad saw maka beliau adalah khilafah Allah. Mungkin juga ada orang yang samar terhadap Imam Mahdi dan tidak mengakui Imam Mahdi dan tidak berbaiat kepadanya. Itu seperti ada orang yang tidak mengakui Abu Bakar sebagai khalifah karena itu tak mau mengeluarkan zakat kepadanya. Itu sama seperti ada orang yang tidak mengakui Ali sebagai khalifah lalu mengadakan pemilihan khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman), gubernur memberontak kepada Imam Ali (misalnya Muawiyah bin Abu Sufyan) bahkan membunuh Imam Ali (misalnya Ibnu Muljam). Potensi ketidaksetujuan atau perbedaan dalam khilafah juga sebenarnya hal yang biasa.

Imam Mahdi dan musuhnya yaitu Dajal ada dalam nas (Quran dan hadis). Dalam hadis diperintahkan agar umat taat kepada Imam Mahdi karena mempunyai nama dan sifat seperti Nabi Muhammad saw. Kesamaan sifat ini diyakini sebagai kesamaan kemaksuman. Jika Imam Mahdi maksum, maka ketaatan kepadanya adalah mutlak. Seandainya Imam Mahdi tidak maksum, maka perintah Nabi saw sia-sia karena mustahil Nabi saw memerintahkan umat taat (secara mutlak) kepada orang yang sekali-kali salah dan kadang-kadang benar.

Perbedaan ideologi adalah fitrah manusia. Orang bahkan bebas tidak mengakui Nabi Muhammad saw sebagai nabi. Orang bebas beragama karena ideologinya berbeda dengan orang lain. Orang juga bebas bermazhab karena ulama tidak sepakat tentang satu masalah (qunut, niat zahar, basmalah zahar, tawasul, ziarah, haul, tahlil, menggerakkan jari saat tasyahud).

Namun semua muslim yang berbeda pendapat tentang masalah ini tetaplah muslim, darahnya haram ditumpahkan, kehormatannya wajib dijaga. Seorang menjadi muslim karena mengakui dua kalimat syahadat, bukan karena mengakui khilafah.

Hari-Hari Ziarah Haji (13)

Cerita 7

Yang paling tidak sopan di negeri ini (Saudi atau Indonesia?) adalah raja dan pejabat. Mereka bisa memberi makan orang-orang seolah orang-orang itu adalah budaknya. Mereka juga memperlihatkan perilaku menjijikkan seperti mencukil gigi di depan orang lain.

Kusadari nilai yang dianut di tempat ini dan di tempatku berbeda. Di tempat ini, perilaku seperti itu dianggap perilaku tuan, putri, dan para raja. Di tempatku, nilai seperti itu bukan ciri khas raja. Orang memberi bukan hanya raja. Orang memberi bukan berarti raja.

Di tempatku orang enggan diketahui memberi. Bukan karena merasa aib, namun memberi adalah perbuatan yang bisa dilakukan semua orang, baik miskin atau kaya. Ada orang yang pakaian dan tampangnya ndeso, tetapi ia rajin dan tak segan memberi bila orang lain membutuhkan. Begitu pula orang kaya di tempatku segan dikenal sebagai orang dermawan meski ia biasa memberi. Mungkin ia merasa orang lain pemberiannya acap lebih sering dan lebih banyak.

Orang Indonesia yang berhaji kadang-kadang memberi sedekah kepada Si Salman Bangladesh, yang kerjanya sebagai petugas kebersihan hotel; juga kepada sopir bus solawat yang juga kadang-kadang minta sedekah lima real.

Hari-Hari Ziarah Haji (12)

Cerita 6

Di Mekah teh wareg tilu puluh dinten. Unggal dinten dipasihan tuang dua kali, pasisiang sareng wengi. Pakasaban sadidinten ukur ka Haram, tawaf, salat, ibadah, dikir, tafakur, sareng ngaji.

Saparantos tilu puluh dinten di Mekah, jamaah bade teras ka Madinah, ziarah ka Kanjeng Rosul.

Jamaah mupakat ngempelkeun 10 real sewang kanggo sedekah ka Si Salman Bangladesh sareng pagawe sanesna. Aya kirang langkung 200 jamaah di KBIH. Sarealna kirang langkung harita teh 4000 rupia. Janten 2000 real tah kirang langkung 8 juta rupia. Ku KBIH dibagikeun ka pagawe hotel nu purah tepang sareng jamaah.

Salman Bangladesh kacida bungaheun pisan dipasihan ku jamaah teh. Jamaah teh disalaman saurang-saurang. Nu lalaki mah dugi ka ditangkeupan sagala.