Home » 2018 » September (Page 3)

Monthly Archives: September 2018

Hari-Hari Ziarah Haji (11)

Cerita 5

“Hajah, naon iyeu?” Si Bangladesh ngunjukan kana runtah hareupeun panto kamar hotel Hajah Epon bari molotot. Tetela runtah teh kayaning kertas, pastik, jeung calacah. Si Bangladesh teh petugas servis kamar (room service) di hotel eta. Asana mah ngarana si Salman, urang Bangladesh teh. Sabenerna Si Salman Bangladesh teh teu bisa basa Sunda. Ngan ku isyarah, komunikasi siga kitu bisa wae kaharti ku urang Sunda.

Lol Hajah Epon tina panto. “Teuing atuh.”

Salman Bangladesh angger haseum, “Hayoh ku maneh geura bereskeun. Sakalian piceun ka wadah runtah.”

“Ah, teuing atuh da lain uing.” Ceuk Hajjah Epon bari ngaleos asup deui ka kamar hotel.

Tungtungna bari jamedud si Salman Bangladesh nyokot sapu sikat jeung pengki. Sedot-sedot diberesan.

Puas siah. Padahal teu kudu tatannya, teu kudu ninitah. Hideng we beresan ku sorangan da lain pagawean batur. Eta mah pagawean sia nu purah meresan hotel.

Hari-Hari Ziarah Haji (10)

Berpindah Mazhab dalam Islam.

Syaikh Mahmud Syaltut, seorang mufti (pemberi fatwa) dari Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir dalam fatwanya membolehkan berpindah mazhab. Beliau juga membolehkan seorang muslim mengikuti mazhab Syiah itsna asyariyah (Syiah 12 imam). Mazhab Syiah diakui oleh Syaikh Mahmud Syaltut. Selain fatwa Syaikh Mahmud Syaltut, mazhab-mazhab juga ada dalam Deklarasi Amman, mazhab Syiah Itsna Asyariah diakui dan boleh diikuti oleh seorang muslim. Seorang muslim pun boleh berpindah dari satu mazhab ke mazhab lainnya yang diakui di dalam Islam.

Dengan begitu seseorang bebas berpindah mazhab sesuai dengan kebenaran yang diyakininya. Mungkin ia tidak boleh berpindah mazhab hanya karena suatu mazhab itu ringan atau mudah. Ia hanya bisa mengikuti suatu mazhab bila mazhab itu benar sesuai keyakinannya.

Di Mekah dan Madinah ini banyak sekali muslim dengan berbagai mazhabnya. Tak ada satu pun atau jarang sekali orang yang mempermasalahkan mazhab lain. Orang juga tidak mempermasalahkan mazhab syiah. Jarang ada orang yang mempermasalahkan irsal, niat, basmalah sir, atau perbedaan fikih lainnya.

Seandainya Wahabi adalah mazhab, maka seorang muslim dapat mengikuti mazhab Wahabi. Bila Syiah adalah sebuah mazhab, maka seeorang muslim dapat nengikuti nazhab Syiah. Seorang muslim dapat berpindah dari mazhab Wahabi ke mazhab Syiah, atau sebaliknya. Kepindahannya itu harus didasarkan pada keyakinan akan kebenaran mazhab yang diikutinya, bukan alasan kemudahan atau keringanan belaka.

Sebagian ulama di Indonesia mengatakan bahwa mazhab Syiah itu di luar Islam, misalnya Athian Ali Dai. Sebagian ulama lainnya mengakui Syiah sebagai mazhab misalnya Quraish Shihab, Said Aqil Shiradj, Gus Dur, Muhammad Natsir. Analogi mereka yang mengatakan Syiah di luar Islam adalah bahwa Syiah tidak mengakui Rukun Iman dan Rukun Islam. Syiah menganggap bahwa Rukun Iman dan Rukun Islam adalah hasil rumusan ulama teologi Asyariyah.

Ada pula yang mengatakan (menuduh) bahwa Syiah punya kitab suci selain Quran. Namun klaim ini tidak bisa dibuktikan oleh penuduh. Quran di Iran sama seperti Quran mushaf Utsmani. Dulu ketika Ali bin Abi Thalib ditanya tentang mushaf Utsman, Ali mengatakan cukup.

Anehnya Syiah Itsna Asariyah tidak menganggap mazhab-mazhab Sunni (Syafii, Maliki, Hambali, Hanafi) sebagai di luar Islam. Para imam Sunni (Syafii, Malik, Hambal, Abu Hanifah) merupakan murid langsung atau tidak langsung dari imam Syiah (Imam Jafar Shodiq bin Muhammad Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Asyahid bin Ali bin Abi Thalib). Sekalipun Syiah meyakini 12 imam, namun muslim yang tidak mengetahui atau tidak meyakini 12 imam tetap dianggap muslim oleh Syiah Itsna Asyariah. Hal ini terbukti di Mekah dan Madinah, Sunni Syii berbaur tanpa saling mempertanyakan akidah (usuludin) atau fikih (furuudin).

Saya melihat bahwa orang Syiah semacam terancam baik oleh mazhab Wahabi maupun oleh mazhab Sunni lainnya. Hal itu terlihat ketika jemaah haji Iran menjadi korban insiden di terowongan Mina. Pihak Saudi mengatakan bahwa jemaah Iran tidak disiplin dan menyebabkan terjadinya insiden. Iran pun diancam tidak diberi kuota haji. Iran marah dengan mengatakan pemerintahan Saudi tidak becus menyelenggarakan ibadah haji yang menyebabkan jatuhnya korban dari jemaah haji Iran. Iran merekomendasikan penelenggaraan ibadah haji dikelola oleh badan internasional. Iran juga menuntut dibuka rekaman CCTV berkaitan dengan tuduhan insiden itu. Pihak Saudi menolak tuntutan Iran. Demikianlah, jemaah Iran merasa terancam dalam ibadah haji. Keamanan jemaah mereka tidak terjamin. Saya melihat kegetiran di wajah mereka.

Perdebatan akidah dan fiqh menyebabkan perbedaan mazhab. Dalam akidah mazhab Sunni ada yang berpendapat bahwa Allah swt mempunyai wajah, mempunyai tangan, duduk di atas arasy, turun dari arasy, tidak boleh memikirkan zat Allah swt. Ada pula yang meyakini keterbatasan Nabi saw dalam kemaksuman seperti keliru dalam penyerbukan kurma, atau lupa dalam salat. Masalah akidah juga diperdebatkan di dalam Islam. Namun selama seseorang mengakui dua kalimat syahadat, seseorang tak boleh dikeluarkan dari Islam.

Seseorang masuk Islam karena dua kalimat syahadat.

Hari-Hari Ziarah Haji (9)

Mengkafirkan Syiah

Namanya Iskandar. Ia masih sangat muda untuk menjadi seorang ustaz namun ia semacam punya sekolah tingkat SMP-SMA yang program pesantrennya adalah tahfiz Quran (menghafal Quran sampai hafiz) di sebuah kampung Quran. Ia bertemu dengan saya pada hari-hari menjelang kepulangan saya ke tanah air. Kami bertemu di Masjid Nabawi, Madinah.

Ia mempunyai pengalaman yang istimewa yang kurang saya pahami. Ia ikut kloter Lampung padahal ia berdomisili di Sumedang. Ia juga tidak ikut program haji reguler pemerintah yang besarnya untuk tahun 2018 sekitar 35,5 juta termasuk 6 juta biaya hidup (living cost).

Menurutnya, biaya haji yang paling murah adalah haji reguler. Itu karena biaya makan di Mekah, Madinah relatif tinggi. Bila orang Indonesia harus makan nasi, maka satu kali makan tak kurang dari 10 riyal (sekitar 40 ribu), minumnya 5 riyal (sekitar 20 ribu). Bila orang indonesia beli roti saja, mungkin ia bisa beli roti itu dengan harga 5 riyal dan minumnya juga 5 riyal.

Biaya hotel tak kurang dari 1 juta semalam. Mungkin kamar hotel bisa digunakan oleh lima orang sehingga biayanya tidak terlalu besar. Ustaz Iskandar juga ikut menginap di jemaah reguler (dari Lampung) untuk menekan biaya hidup.

Ketika kami sedang berbincang-bincang, lewat seseorang dengan pakaian mullah (ulama Iran). Pakaian itu sangat khas dan tak pernah saya jumpai ulama negeri lain menggunakan pakaian itu. Saya langsung mengisyaratkan mullah itu kepadanya. Respons darinya sungguh mengejutkan (atau seharusnya begitu?).

Ia merespon dengan mengatakan bahwa syiah sesat. Lalu ia mengemukakan argumennya. Katanya Qurannya berbeda. Padahal tak mungkin Quran syiah itu dia temukan berbeda dengan Quran lainnya.

Ia juga mengatakan bahwa syiah meyakini 12 imam. Saya membenarkan bahwa syiah meyakini kemaksuman 12 imam. Namun kemaksuman itu harus terbukti, misalnya lewat sejarah, kumpulan ucapannya, dialognya, nasehatnya, perilakunya, dan sebagainya. Kemaksuman nabi saja ada yang mempertanyakan dan meragukannya. Jadi kemaksuman bukan masalah penting.

Isyarat saya kepadanya adalah bahwa orang Syiah juga bebas salat dan berhaji. Itu menandakan bahwa orang syiah adalah orang Islam. Banyak orang Iran bertebaran di Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Orang Syiah melakukan salat dan haji dengan bebas.

Bagi saya respon Ustaz Iskandar adalah tipikal respon orang Indonesia. Ia mengkafirkan Syiah. Ia mengatakan bahwa akidah syiah berbeda. Syiah bukan mazhab dari Islam melainkan keluar dari Islam. Ia akui juga di kawasan tempat tinggalnya juga banyak orang Syiah. Entah ancaman apa Syiah bagi Sunni menurut Ustaz Iskandar?

Saya tahu bahwa Syiah berhaji. Mereka juga salat di dalam barisan muslimin. Itu sudah cukup membuktikan bahwa Syiah adalah Islam.

Adapun orang yang teriak-teriak dan menuduh Syiah di luar Islam itu pasti orang bodoh. Dia tak tahu bahwa orang Syiah bebas beribadah di Masjidil Haram (Mekah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Atau dia akan menjadi ulama bodoh jika berhadapan dengan ulama Syiah. Karena eksistensinya terancam, itulah sebabnya ia berkoar mengkafirkan Syiah (?).

Ada beberapa contoh sederhana tentang kebodohan Sunni menurut saya yaitu umat mazhab Sunni tidak perhatian terhadap mazhab. Jika ditanya mazhab kamu apa? Ia akan bingung dan mengklaim bahwa dia Islam titik. Namun ketika melihat perbedaan akidah atau fikih, ia terkejut dan menolak perbedaan mazhab. Ini sebenarnya benih intoleransi di negeri ini. Ini kebodohan mazhab Sunni yang harus diberantas.

Bertahun-tahun saya mengikuti pengajian Sunni dan Syiah. Syiah sejak awal diperkenalkan sebagai mazhab, diperkenalkan kepada ulama yang saleh. Syiah juga didorong untuk toleran pada mazhab lain dan agama lain. Syiah juga mendorong umatnya untuk memghormati ulama lain, orang tua yang mungkin mazhabnya berbeda. Tidak ada dorongan untuk memaksakan mazhab kepada orang lain. Syiah juga mendorong umatnya untuk meninggalkan ulama yang buruk.

Menurut saya Ustaz Iskandar harus belajar tentang Syiah dari sumber yang otentik (asli, benar, sahih). Jangan belajar Syiah dari pembencinya. Sunni juga harus dipelajari dari sumber otentiknya (asli). Ia harus menggunakan akalnya untuk mempertimbangkan kebemaran. Kebencian harus didasarkan pada suatu alasan yang jelas. Menurur saya, Syiah tak pantas dibenci. Perbedaan mazhab dalam Islam tak bisa dihindari lagi. Lebih jauh para imam mazhab pun menghormati perbedaan ijtihad imam mazhab lain. Sayangnya di Indonesia masih ada yang menganggap Syiah sebagai sesat.

Saya sering bertemu dengan orang Iran. Video pertemuan saya dengan seorang ulama Iran adalah sebagai berikut.

Hari-Hari Ziarah Haji (6)

Kerajaan Saudi, Khilafah, dan Indonesia

Saya di sini tidak akan mempertanyakan legalitas Arab Saudi yang mengklaim dua masjid haram sebagai miliknya. Saya juga tidak akan mempertanyakan alasan pelarangan aspirasi di Saudi juga kritik terhadap pemerintah kerajaannya. Konon ponsel di Saudi mesti teregistrasi dengan ketat agar pemerintah dapat melacak informasi internet yang anti atau mengkritik pemerintah.

Hal ini juga dilakukan Indonesia belakangan ini karena hoaks yang bertebaran untuk memfitnah pemerintahan Jokowi ssbagai pemerintahan Cina, pro-Cina, pro-asing, pro-barat, pro-komunis, dan ssbagainya. Hoaks itu bahkan berlangsung sebelum pilpres hingga setelah pilpres. Wajar jika orang menduga bahwa hoaks itu ditebar untuk menjatuhkan Presiden Jokowi. Periode pemerintahan Gus Dur pun dijatuhkan dengan banyak hoaks di antaranya main perempuan.

Saudi adalah sebuah kerajaan. Rajanya naik tahta secara turun-temurun. Raja bisa berkuasa seumur hidup, baik rakyat suka atau tidak suka. Ini berbeda dengan Indonesia. Indonesia jenuh dengan pemerintahan Soeharto yang korup dan memperkaya kroninya. Selama 32 tahun Soeharto berkuasa, akhirnya masyarakat memilih presiden maksimal dua kali periode.

Saya berdialog dengan mahasiswa yang terindikasi simpatisan HTI. Jujur saja bahwa saya terkejut dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa Indonesia semestinya mencoba sistem kerajaan. Ketika ditanya siapa raja yang pantas naik, dia katakan salah satu calonnya adalah Tuan Guru Bajang.

Saya juga tak bisa membayangkan Indonesia dipimpin oleh raja seumur hidupnya. Lalu dia membuat peraturan untuk melarang warga mengkritik raja demi wibawa dan martabat raja. Itu juga yang terjadi di Saudi dan Thailand. Lalu raja bisa mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) dan menyalurkan keuntungan penjualan SDA-nya sesukanya seolah milik nenek moyangnya. Itu bukanlah cita-cita pendirian NKRI. Ini artinya sekelompok orang menguasai negara secara mutlak. Ini jugalah yang terjadi di Arab Saudi. Lalu kritik terhadap pemerintah pun dilarang sama sekali.

Jiwa mendukung kerajaan Saudi tanpa kritik adalah seperti TKW menerima hukuman pancung meski dalam keadaan tak bersalah. Apa bedanya mendukung kerajaan Saudi dengan mendukung kerajaan Thailand? Bedanya adalah Saudi mengklaim Islami sedangkan Thailand bukan kerajaan Islami.

Hari-Hari Ziarah Haji (8)

Pentingnya Belajar Bahasa Asing

**tulisan ini merupakan draft yang akan saya masukkan ke dalam tulisan ilmiah saya. Hal ini untuk mencegah potensi autoplagiat. (C) 18 Agustus 2018 Prana D. Iswara.

Peristiwa haji sangatlah menarik karena semua bangsa di dunia datang untuk berhaji. Sangat menarik bila kita bisa berkomunikasi dengan mereka. Tentu saja bila berkomunikasi dengan isyarat tentu kurang menarik, bahkan menggelikan dan kurang komunikatif. Kurang komunikatif berarti isyarat yang digunakan seseorang acap tidak dipahami orang lain. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa asing merupakan salah satu faktor penting dalam berkomunikasi. Saya telah melakukan penelitian belajar bahasa. Satu tesis yang saya temukan adalah belajar bahasa melalui lagu. Kemudian pembelajar menghafal dan menggunakan frasa yang acap kali digunakan.

Contoh kalimat (dan frasa) bahasa Jepang di antaranya, hajimemashite. Watashi wa Purana desu. Indonesia kara kimashita. Yoroshiku onegaishimasu. Kanojo wa watashi no koibito. Watashi wa sensei desu. Doko ni iru? Tokyo ni iru. Kalimat (dan frasa) bahasa Persia misalnya bebakhshid. Aya shoma Inglisi sohbad mikonid? Inglisi baladid? Ori, bale. Yek kami. Nah. Man Inglisi sohbad nadoran. Man Inglisi sohbad nemikonam. Tentu saja bahasa yang populer di dunia seperti bahasa Inggris, Spanyol, Prancis, Portugis mesti kita perhatikan. Contoh kalimat (dan frasa) bahasa bahasa Inggris di antaranya do you speak English? Where are you from? What is your nationality? I am Indonesian. Nice to meet you, asalamualaikum. Are you with your family here? Do you born as a moslem? Is there any Islamophobia by government there? How was Islamophobia there? Is it bad? I have heard something about that. Kalimat dan frasa bahasa Prancis misalnya bonjour, j’etend ton coeur. C’est la vie. C’est l’ego. Je suis malade. Jet’aime. Saya pun sedang belajar bahasa Spanyol, dan Jerman. Tentu saja ketertarikan secara personal kepada bahasa-bahasa itu dan budayanya merupakan motivasi (daya dorong) tersendiri. Yang penting adalah belajar mengidentifikasi bunyi bahasa dan berusaha memproduksi bunyi bahasa yang sama.

Di Arab seharusnya kita bisa berbahasa Arab. Namun pembelajar dan santri mendapati bahwa bahasa Arab ragam amieh (populer) lebih sering digunakan daripada ragam bahasa formal dalam keseharian. Ragam bahasa formal hanya digunakan pada situasi khusus seperti khutbah Jumat dan situasi formal lainnya.

Contoh percakapan bahasa Arab di antaranya marhaban ismi Ahmad, surirtu biliqoika, tasarraftu bima’rifatika, kaifa haluka, wadaan, maassalama, ilaliqoi qoriban, syukron jazilan, maa ismuka? Hal tatakalamunal inglisiyah? Na’am. Laa. Ana la natakalamul ingklisiyah. Hal bi imkanika atakalamu alinklisiyah? Kam umruki? Min aina anti? Ana min Indonesia. Man robuki? Man ummuki? Man abuki? Hal tasma’u? Aina taskunu? Maa hadzihi. Hadzihi aini. Man hadzihi? Hadzhihi habibi.

Tulisan ini bertujuan mendorong pembelajar untuk belajar bahasa. Apalagi teknologi internet dan telepon selular pintar (selpin) memungkinkan seseorang belajar kapanpun, di manapun, sambil duduk, berdiri, atau berbaring. Bahkan di sela waktu yang singkat. Tentu saja koneksi ke internet merupakan syarat penting. Sayangnya maktab (hotel) di sektor kami saat haji internetnya kurang bagus. Saya cuma mengambil hikmah saja dengan berfokus pada ibadah haji. Namun di luar ibadah khusus, kita perlu belajar bahasa asing.

Patut disyukuri bahwa Indonesia menerapkan bahasa Indonesia di seluruh propinsinya. Bahkan Timor Timur yang secara insidental terpisah dari Indonesia pun sebagian warganya berbahasa Indonesia. Timor Timur menggunakan bahasa Portugal. Jadi kita perlu juga belajar bahasa Portugal. Mungkin suatu saat bisa bertemu CR7 Ronaldo dan bercakap-cakap dengannya.

Tentu kita bisa bertukar informasi dengan orang asing berkenaan dengan keadaan negerinya dan peristiwa lain. Saya di Mekah ini bertemu dengan orang Palestina, Suriah, Irak, Iran, Mesir. Misalnya keadaan perang yang dikobarkan hegemoni barat terhada negeri-negeri itu. Bangsa negro lain juga ada di Mekah namun saya belum berani menyapa mereka karena acap saya tidak bisa menduga asal negeri mereka dan bahasa yang mereka gunakan. Secara mengejutkan, orang di dekat saya menyapa dua pemuda negro dan bercakap-cakap dengan sedikit bahasa dan banyak isyarat. Kami ternyata bisa saling memahami. Negro itu juga tidak kasar, bawel, atau cerewet seperti kesan orang India, Pakistan, Banglades.

Bercakap-cakap dengan orang Malaysia dan India menurut kabar cukup dengan bahasa Melayu dan Inggris. Banyak orang India yang mampu berbahasa Inggris. Orang India yang saya temui di Masjidil Haram adalah seorang pustakawan. Ia pun berbahasa Inggris. Orang Malaysia bisa berbahasa Melayu. Bahasa Melayu punya banyak kesamaan dengan bahasa Indonesia. Kebanyakan orang Malaysia pun bisa berbahasa Inggris. Akibatnya bahasa Melayu mereka tidak terlalu berkembang pesat, tidak terpelihara, terbina, terjaga seperti bahasa Infonesia. Tentu saja saya bisa berkomunikasi dengan orang Malaysia menggunakan bahasa Indonesia maupun Inggris. Saya pun bertemu orang Filipina di mall saat salat isya. Orang Filipina juga cemderung mampu berbahasa Inggris (?).

Penelitian pembelajaran bahasa telah saya lakukan. Penelitian ini pun terus dikembangkan. Saya pun mengembangkan tutor dengan sistem moving-asynchronous language laboratory, yaitu menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dalam belajar bahasa.

Begitu banyak lagu yang ada di internet. Pembelajar bisa meniru pelafalan bunyi bahasanya. Pembelajar menghafal kalimat atau frasa lagu untuk digunakan dan diganti secara analogi.