Hari-Hari Ziarah Haji (25)

Insiden Rebutan Kemah di Mizuno

Insiden ini bisa diprediksi oleh pemerintah atau ketua kelompok. Bahkan insiden ini bisa dipresiksi setiap tahun karena adanya jemaah mandiri dan jemaah yang ikut pembimbing.

Di Armeina, Musalife, dan Mizuno, jutaan msnusia berkumpul. Jika mereka bergerak ke satu lokasi, mungkin saja jutaan manusia bergerak ke tujuan yang sama. Jutaan warga yang bergerak ini harus membawa berkah dan keselamatan, bukan membawa bencana.

Jemaah haji mandiri adalah jemaah yang tidak ikut pembimbing. Pembimbing membantu pemerintah dalam penyelenggaraan ibadah. Dengan begitu, jemaah yang rata-rata pertama kali beribadah mudah mendapatkan alat transportasi, mudah mendapatkan hotel, mudah mendapatkan tenda di Armeina, mudah mendapatkan transportasi ke Musalife, mudah mendapatkan bus ke Mizuno, mudah mendapatkan tenda di Mizuno, mudah mendapatkan waktu melontar nafar, mudah mendapatkan transportasi ke kembali ke hotel.

Sebenarnya tanggung jawab itu ada pada ketua kelompok. Namun tanggung jawab ketua kelompok yang membawahi 400 orang itu sangat berat. Yang dibawanya bukan pasukan yang selalu taat komandan. Yang dibawanya adalah orang yang kadang mempertanyakan, memprotes, memberi saran, meminta pelayanan, bahkan mungkin memerintah, memberi fatwa, mendebat fatwa, mempertanyakan akidah, …. Tidak selamanya 400 orang itu bisa berkumpul. Tidak selamanya 400 orang itu terhubung dengan media sosial. Tidak selamanya 400 orang itu terapdet (update) informasinya. Di pesawat saja, informasi dari ketua kelompok susah disebar. Dari sekitar 400 orang di kelompok kami ada beberapa orang jemaah mandiri.

Jemaah mandiri harus sering bertanya atau mencari info dari ketua kelompok: kapan bus Armeina–Musalife datang, kapan bus Musalife–Mizuno datang, kapan bus Mizuno–hotel datang, apa ada perubahan jadwal, apakah situasi aman dan terkendaki, apakah situasi padat atau macet, dan seterusnya.

Mungkin saja ketua kelompok dapat membuat grup medsos (whatsap) dan semua komando ada di bawahnya. Di bawahnya setiap pembimbing juga punya grup medsos sendiri yang mengatur jadwal dan program. Program pimpinan anu miqotnya 4–12 kali, ziarahnya sekian kali, ziarahnya tanggal sekian, program ke tawasulnya tanggal sekian, program wisatanya ke tempat anu pada tanggal dan jam anu, dan seterusnya.

Pada prinsipnya ibadah dengan dengan pimpinan adalah bertaklid kepada pimpinan. Kalau pimpinan berkata, jam sekian kita pergi ke ziarah karena anu. Maka jemaahnya tinggal mengikuti. Mungkin saja jemaah mandiri tidak mendapatkan kemudahan seperti itu.

Jemaah mandiri mengklaim, bahwa dengan pimpinan tak boleh mengklaim kemah Mizuno sebagai milik pribadi. Menurutnya, kemah dimiliki oleh orang yang lebih dulu ada di kemah itu saat kemah kosong. Siapa cepat, dia dapat.

Leave a Reply